Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.62 Aksan yang Misterius.


__ADS_3

Tepat pukul lima pagi,


Setelah berhasil melumpuhkan jaringan Triad H pimpinan Fan Bo, Devilito dan kawan-kawan kembali ke mansion milik Robert di selatan kota Melbourne. Kelelahan terlihat jelas di wajah mereka, Devilito memutuskan untuk hari ini mereka istirahat seharian penuh, dan Robert mengajak pada malamnya untuk berkumpul kembali sambil menikmati kopi di rooftop sebuah hotel tempat Hendra dan Indri check in.


Namun, ada yang aneh di rasa oleh Devilito dan Marcel. Sejak dalam mobil di perjalanan menuju mansion, Cerlotta minta berganti tempat duduk, gadis itu ingin duduk di belakang, berdekatan dengan Giring, Marcel pindah di kursi tengah, di sebelah Devilito. Dan, terlihat kemudian Cerlotta menyandarkan kepalanya di bahu Giring.


Marcel dan Devilito saling berpandangan, mereka berdua mengulum senyum, "Mungkin mereka lelah ", ujar Marcel ketika Devilito meliriknya penuh arti.


"Apaan sih lo berdua ?sirik aja !", Giring yang mulai membiasakan diri dengan komitmennya dengan Cerlotta, Ia merangkul gadisnya yang bersandar nyaman di bahunya. Sedangkan Robert, mengambil sikap tak peduli dengan kejadian di belakangnya, baginya sekarang ini ingin buru - buru sampai, tubuhnya perlu pembersihan, dan istirahat.


"Wuiihh..udah berani dia bos !", Marcel memasang muka konyol sambil mencolek lengan Devilito, Ia masih berceloteh meledek karibnya itu. "Padahal , kamu sebenarnya sedang rindu kekasihmu kan ?", kali ini Cerlotta memberikan komentar menohok. "Hahaha...rasain lo !", Giring tak mampu menahan ketawanya menyambung kalimat Cerlotta.


Ucapan spontan Cerlotta berhasil membuat Marcel blingsatan, Ia membenarkan perkataan gadis itu, Ia sedang rindu Dita. Devilito mengulum senyum melirik Marcel, "telpon makanya..", lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan.


Entah kenapa, Ia mengamini ucapan Cerlotta itu, bahwa Ia juga sedang merindukan istrinya, kangen dengan bawelnya istri. Tiba - tiba, seperti orang yang tersengat listrik, Devilito kaget. Ponselnya !..ya, Ia meminta ponselnya pada Robert, yang dia simpan ketika akan beroperasi tadi malam. Istrinya pasti menghubunginya, Devilito melirik jam tangan, pukul setengah enam pagi. Berarti sudah jam setengah sepuluh siang waktu Jakarta. "Mati gue !", seperti biasa Ia menepuk keningnya sendiri. Ia menghidupkan gawai nya itu.


Cerlotta heran, gadis itu mengernyitkan dahinya lihat perubahan wajah Devilito yang memucat, apa lagi Robert. Tetapi Marcel dan Giring sudah paham akan sikap itu.


"Pasti Lorena menelpon ya ?", Giring menebak, yang di jawabnya dengan anggukan kepala. Setelah ponselnya menyala, Devilito garuk-garuk kepala nya yang tak gatal serta mengusap mukanya dengan kasar melihat 25x panggilan Video Call!.


Segitunya kalau sama istri ! Cerlotta membatin. Ya Tuhan, ketua seperti itu ? batin Robert pun angkat bicara.


Devilito menghubungi balik, dua kali panggilannya belum di jawab istrinya. "Ckk..kemana sih !", wah jangan-jangan ngambek nih ..sambungnya membatin. Devilito tak peduli tanggapan yang lain di dalam mobil itu, baginya marahnya sang istri berarti gempa bumi nya.

__ADS_1


Tiba-tiba panggilan video call tertampang di layar, sang istri menghubungi balik.


"Ya ampun yaaaannkk...kenapa hape nya ngga aktif sih dari tadi ?, kamu kemana aja ? emang baru bangun ? ehh..tapi itu kok kayak rame, dalam mobil yah ?", pertanyaan beruntun Lorena membuat Devilito bingung mana yang harus di jawab terlebih dahulu.


Marcel cekikikan menutup mulutnya, Giring menepuk kening, sedangkan Robert mengernyitkan dahi, karena belum terbiasa melihat kehidupan tuannya itu, kecuali Cerlotta yang hanya tersenyum.


"Kok kamu diem sih ?", intonasi sang ratu agak naik, karena Devilito hanya menatapnya di layar tanpa bersuara, seperti terpesona. "Aku kangen sama kamu !", hanya itu yang terlontar dari mulut Devilito. "Maaf yank, aku baru pulang, sema...".


"Hah..!?, baru pulang ?, emang dari mana kamu, emang meeting mulainya tengah malam sampai pagi gitu ?", omelan suara jenis mezzo sopran istrinya memotong kalimat Devilito yang belum selesai terucap. "Maksud aku, semalam aku ada kerjaan, bisanya dilakukan tengah malam, jadi ini baru selesai", ujar Devilito sambil menendang betis Marcel yang terlihat sedang cekikikan tertahan, menutup mulut. Ia tak berbohong, cuma men-samarkan maksud.


"Masa sih ?", Lorena tak percaya.


"Oh ya, kamu lagi dimana itu yank ?, di kampus ?", tanyanya semerdu mungkin, sekaligus ingin menutup pertanyaan yang nanti akan membuatnya terjebak sendiri.


"Owh, pembimbing kamu Shania ?", Devilito sedikit kaget, tak menyangka Lorena dan Shania bisa akrab. "Trus, kamu sama siapa ke kampus ?". "Ya..sendiri lah, masa takut, percuma punya suami jagoan, ya kan kak ?", jawab Lorena lugas meminta persetujuan jawaban ke Shania.


Marcel, Giring serta Cerlotta terkesima melihat keakraban Lorena. Entah apa yang terpikir di benak mereka bertiga, sedangkan Robert bengong tak mengerti apa yang terjadi. Tetapi dia mengagumi perlakuan tuannya itu terhadap istrinya.


"Ya udah yank, aku mau lanjut lagi bimbingannya, nanti aku kabari kalo udah selesai, dah sayang...", Devilito melambaikan tangannya, kemudian Lorena memutus sambungan.


***


Malam hari ...

__ADS_1


Rasakan nuansa Alice in Wonderland di lorong jalanan kota Melbourne yang ramai. Anda tidak akan pernah tahu apa yang tersembunyi pada sudut berikutnya. mungkin Anda akan menjumpai tukang sepatu yang sedang menciptakan sepatu pesanannya, atau seorang Chef yang membuat hidangan istimewa berikutnya untuk di nikmati. Satu hal yang pasti, Anda tidak akan pernah tahu hal baru apa yang terjadi jika Anda memutuskan kembali melewati jalan itu.


Dan, yang tidak berubah adalah, kopi. Ya, penduduk setempat sangat menyukai kopi dan menyajikannya dengan berlimpah di kafe - kafe yang nyaman. Selalu ada kemeriahan disini, penikmat kopi akan selalu datang. Kopi yang di pasok oleh roaster kopi rumahan dari segala penjuru dunia.


Seperti sekarang ini, mereka tengah berkumpul di Rooftop sebuah hotel penginapan. Hendra, Indri dan Linggar ikut bergabung atas ajakan Devilito. Masing-masing orang terlibat pembicaraan ringan disitu. Melvin, Hensly, Tito dan Dasmond duduk disatu meja, juga Dominique serta Donny.


Sedangkan di sebelahnya, para ketua dipimpin Devilito sedang membicarakan sepak terjang Raymond yang sekarang berada dalam ruang tahanan bawah tanah Robert.


"Cuma yang agak ganjil disini, peranan Aksan", ujar Devilito yang kemudian mengalihkan pandangannya pada Robert. Karena setelah di kepung tadi malam di kediaman yang dilacak, ternyata Aksan sudah pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa di ketahui oleh mata-mata Robert.


"Satu - satunya cara saat ini, kita harus menekan Raymond, pakai shock therapy", ucap Cerlotta pada Devilito. "Benar, kita harus buat Raymond buka suara, ada hubungan apa sebenarnya dengan Aksan", Marcel angkat bicara, sementara Devilito manggut kepala menyimak. "Dan, sejauh mana keterlibatannya dalam organisasi Raymond" Giring menambahkan.


"Tapi saya curiga ketua, jangan-jangan mereka berdua ada hubungan keluarga", sahut Robert kemudian, Cerlotta memajukan tubuhnya kedepan. "Aku sependapat, bisa jadi ini bapak dan anak". katanya kemudian.


"Iya juga sih, coba besok introgasi Raymond !", Devilito menautkan jari - jarinya dan sikut bertumpu pada kursi, punggungnya bersandar.


Lalu, percakapan beralih ke masalah lain, sedikit menyinggung tentang organisasi Lidah Api.


Selanjutnya, Devilito kemudian mengajak Indri, Hendra, Linggar dan Robert untuk membicarakan masalah meeting besok, itu meeting terakhir sebelum mereka memutuskan kembali ke Indonesia.


-


-

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2