Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.38 Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

"Oh iya, hampir lupa..!" Devilito menepuk jidatnya, Ia mau menyelidiki data perusahaan Silver Corp. Ia bangun dari tidur pura² nya menegakkan jok mobil.


"Kenapa yank ?" tanya Lorena heran.


"Aku mau menyelidiki profil perusahaan yang tadi mau ngajak kerjasama ke Giring" jawab Devilito sambil mengedipkan matanya pada istrinya. Ia mengecek email yang tadi sempat di kirim oleh Hendra.


"Trus, kenapa menyelidikinya lewat kak Giring?, ngga mungkin dong perusahaan kamu ngga punya datanya?" tanya Lorena selanjutnya, mukanya tetap mengarah ke depan menyetir mobil.


"Yank, untuk mengetahui siapa yang akan bekerjasama dengan kita, kita harus mencari data yang tidak tertulis. Gunanya, biar kita tahu apakah calon mitra kita itu licik atau jujur" Lorena mendengar penjelasan suaminya hanya ber O ria tanpa suara.


"Itulah kenapa kamu susah di kalahkan yah..?" sahut Lorena kemudian memuji suaminya itu.


"Karna saat ini aku punya tim yang solid" Devilito menjawab sambil mengotak - atik Hp nya, dan mengirimkan surel pada Giring.


***


Mereka sampai di area pelataran parkir kampus. Lorena menjalankan kendaraannya pelan² mencari parkir yang kosong, kebetulan hari ini lumayan penuh. Ia mendapatkan tempat yang kosong di pojok dekat kerumunan mahasiswa yang sedang nongkrong, karena area tersebut terhubung dengan kantin luar kampus.


"Yank, kalo kamu ketauan udah nikah sama mereka, gimana?" tanya Devilito memberi kode dengan mukanya ke arah kerumunan mahasiswa yang sedang melihat ke arah mobil mereka.


"Ya biarin aja sih, emang kenapa mereka kalo tau?" jawab Lorena menoleh ke arah tatapan suaminya.


"Kirain gitu, kamu masih ingin menutup status kamu, kan masih status mahasiswi" Devilito tersenyum meledek. "Kan biasanya banyak yang nutupin biar ada drama² dikit".


"Dihh..ngapain harus drama² sih, aku mah bodo amat mereka tau, emang udah nikah, dan aku banggaaa..!" Ia ketawa meregangkan tangannya lalu menepuk pelan bahu suaminya. "Dah ah aku mau masuk, kamu mau langsung ke kantor, yank?" tanyanya bersiap membuka pintu.


"Aku mau lihat² kampus kamu dulu, boleh kan?" Devilito pun bersiap turun. Ia baru seminggu yang lalu meng-akuisisi yayasan dari tangan mertuanya, Alexander. Ia ingin melihat-lihat sekeliling kampus yang sekarang sudah di bawah kepemilikannya.


"Tumben..?, mau nyari brondong yaa?, awas aja kalo macem², sebulan puasa!", Lorena melotot, Ia sendiri belum mengetahui kalau kampus nya sekarang sudah berganti kepemilikan, milik suaminya.


"Hahaha ancaman nya begitu..!" Devilito tertawa geli lihat mimik muka istri nya seperti anak remaja, "Ya ngga laah, ini kan punya kita, aku udah ambil alih.." jawabnya cuek.


"Hah..!? seriusan?, kamu ambil alih dari siapa yank ?".


"Ya ampun Rena, kamu juga ngga tau siapa pemilik sebelumnya..?", gantian suaminya yang kaget. Lorena mengangkat bahunya, Ia memang tidak pernah tahu tentang masalah bisnis papanya, "Yaa, aku kan cuma kuliah disini, ngga ngurusin siapa yang punya". Ia masih bingung, masih tak percaya.


"Kamu beneran yank..?, ngga becanda kan?".


"Ckckck", suaminya geleng² kepala, "ntar deh di rumah aku ceritain!" jawab Devilito, lalu turun dari mobil.


Berarti, sekarang ini gue kuliah di kampus milik sendiri?.


Lorena pun ikut turun dari mobil, Ia tak menghiraukan godaan nakal dari mulut beberapa mahasiswa melihat bersama dengan seorang pria berpenampilan eksekutif. Wajar, Lorena termasuk primadona dikampus, tapi sulit untuk di dapatkan. Banyak kaum hawa gigit jari yang mencoba untuk mendekatinya, Ia bukan sombong, humble justru, terkesan cuek, tapi ketika ada sinyal² yang mulai di lancarkan untuk menjadikannya kekasih, Ia akan menjauh.

__ADS_1


Tiba - tiba Hp Devilito berbunyi, Giring menghubungi,


"Cek email lo sob, gue barusan kirim data orang yang tadi lo kirim!" Giring tak butuh waktu lama untuk melacaknya.


Lorena yang lihat suaminya terima telpon, memberi kode kalau Ia duluan pergi karna kelas sudah mau mulai. Devilito melambaikan tangannya meng-iya kan.


"Ok bro, makasih" Devilito menutup pembicaraan. Ia membuka email yang dikirim di Hp, tapi hanya membaca sebagian,


Nanti ajalah..gue mau liat² sekeliling dulu..


"Selamat siang pak, maaf ada yang kira² bisa kami bantu? saya lihat Anda sepertinya sedang ada keperluan di kampus ini?", seorang pria berpakaian rapi melihat Devilito yang berjalan pelan sambil memperhatikan area kampus. "Saya dengan Sandi Ardian salah satu staf TU di kampus ini" lanjutnya kemudian mengulurkan tangannya.


Devilito memperhatikan sejenak pria yang mungkin masih seusia dengannya, lalu, "oh ya, saya baru mengantarkan istri saya kesini, saya dengan Devilito, bisa di panggil Dev aja" jawab Devilito menyambut jabat tangan staf TU itu.


"Istrinya dosen disini pak Dev?.."


"Bukan, istri saya salah seorang mahasiswi disini, ah ya..saya bisa bertemu dengan Rektor nya, pak Heru Prakoso?" entah datang dari mana, tiba² terlintas di pikiran Devilito untuk bertemu dengan Rektor kampus miliknya ini.


"Maaf pak Dev, sebelumnya sudah ada janji dengan pak Heru?, karna mungkin hari ini beliau sedang banyak tamu" jawab Sandi heran, baru kali ini ada orang mau bertemu pimpinan kampus tapi seperti ngga niat.


"Anda bilang saja Devilito ingin bertemu, bisa ?" Devilito memperhatikan manik mata lawan bicaranya.


"Baik kalau begitu, kita bisa ke dalam?", ajak Sandi mempersilahkan Devilito mengikuti langkahnya, Ia jadi tertarik siapa sebenarnya orang ini.


"Ehh..bu Shania, mau masuk kelas bu..?", mereka berpapasan dengan seorang dosen yang baru keluar dari ruang guru.


"Siang pak Sandi, iya pak siang ini saya ada kelas" bu Shania tersenyum ramah membalas sapaan Sandi, tapi itu hanya sesaat, selanjutnya dia tertegun ketika melirik orang yang berjalan di sebelah Sandi. Devi..? kok dia disini? bergumam pelan, namun masih kedengaran oleh Sandi, "bu Shania kenal orang itu..?" tanyanya sepelan mungkin. "ng..ngga tau pasti juga sih , mungkin hanya mirip, permisi saya masuk kelas" katanya sedikit membungkukkan badan, tapi matanya tetap melirik Devilito yang ternyata terhenti menunggu Sandi.


Tatapan keduanya sejenak bertemu, tapi Devilito mengganti pandangannya ke Sandi. Ia tidak ingat siapa dosen itu, tapi kenapa dia melihat kayak kenal gue..? wajahnya familiar sih, siapa yah? Ia mengernyitkan keningnya tanda berpikir.


Di ujung sana, ada seseorang sedang memperhatikan interaksi mereka bertiga, Ia menyipitkan mata, tadinya ingin menghampiri tetapi tidak jadi, Ia berbalik kembali masuk kelas


"Mari pak Dev, nah..itu ada pak Kadep, bapak Dodit Mulyadi, bisa di bantu dengan beliau selain Rektor, gimana pak?" Sandi mengarahkan jempolnya mengarah ke seseorang yang berjalan ke arah mereka.


"Loh, pak Devilito..?tumben kesini pak?", pak Dodit menyambut hangat tangan Devilito dengan kedua tangannya. "lagi sidak atau ada apa nih pak Dev?", lanjutnya kemudian mencairkan suasana.


Sandi melongo, ternyata orang ini bukan orang sembarangan, buktinya pak Kadep aja hormat banget!


"Oh..tadi saya anter istri saya, mahasiswi disini, jadi sekalian saya pikir bertemu pak Heru, ada..?"


"Ada pak, mari saya antar" jawab pak Dodit mempersilahkan Devilito mengikutinya ke ruang Rektor.


Sandi garuk² kepala, Ia sekarang merasa di abaikan, Ia berbalik ke ruangannya kemudian, Siapa sih istrinya yang mahasiswi sini..?

__ADS_1


***


Tidak seperti biasanya, Shania lebih banyak diam dari pada menerangkan pelajarannya, kali ini Ia hanya memberikan tugas pencatatan. Ia duduk di mejanya dengan raut muka berpikir, pulpen di ketuk²an pelan ke meja. Ahh Devilito...kenapa kita bertemu lagi? tapi dia kayak ngga ingat deh? segitu berubahnya wajah aku yah?


Dulu dia meninggalkan Devilito tepatnya disuruh pergi oleh Cerlotta, setelah memergokinya berselingkuh dengan lelaki berkebangsaan Inggris, waktu itu Cerlotta menyuruhnya menghilang, jika tidak nyawanya yang akan melayang jika Devilito tahu perselingkuhannya. Ya, Devilito saat itu sedang di puncak² kekejamannya.


Tapi tadi dia ngga seperti seorang gangster..? apa dia mau memaafkan aku sekarang ini? Ia bermonolog sendiri dengan dirinya. *Coba aku temui aja sekarang, bagaimana reaksinya, mudah²an mau memaafkan aku*..Ia berdiri, lalu meninggalkan ruang kelas.


Sepasang mata Lorena dari tadi memperhatikan gerak gerik dosennya tersebut, Ia tidak konsentrasi belajar, Ia melihat interaksi tadi di lorong dekat ruang guru. Hmm..pasti dia mau menemui suami gue sekarang!


"Gue mau ke toilet dulu" ujarnya berdiri tanpa menunggu jawaban Dita dan pergi keluar ruangan kelas. "Tunggu, gue ikut!", Dita tak mau kalah, Ia berlari kecil agar tak ketinggalan.


***


Hari ini, Devilito mendapat informasi mengenai seluk beluk universitas dari pak Heru dan pak Dodit. Mereka berbincang² hampir satu jam lamanya di ruangan rektor tersebut. Pak Heru ingin mengantarkan Devilito sebenarnya berkeliling kampus, tapi di tolak secara halus karena Devilito, karena Ia hanya ingin melihat-lihat saja sebelum kembali ke kantornya.


Mereka berpisah di pintu ruangan pak rektor, pak Dodit yang tadinya ingin menemaninya kembali ke ruangannya dan Devilito sendiri berjalan menuju arah kantin yang di tunjukan oleh pak Dodit. Dari belakang, terlihat Sandi berlari kecil mengejar langkah Devilito, Ia ingin minta maaf, barusan dia di beritahu oleh pak Dodit bahwa pria yang di temuinya tadi adalah pemilik yayasan yang menaungi kampus mereka ini.


"Pak Dev..maaf pak", nafasnya memburu karna mengejar langkah Devilito yang kemudian berhenti dan berbalik menatap pak Sandi. Keningnya mengkerut kenapa dia lari² ?..


"Maaf pak, saya tadi tidak tahu bahwa pak Dev pemilik kampus ini, saya baru di kasih tahu pak Dodit barusan" katanya sambil meraih tangan Devilito.


"Ya, gpp..kan pak Sandi juga ngga ada salah tadi?" Ia menarik tangannya jengah di liatin mahasiswa yang beberapa orang masih berada di luar kelas.


"Ya saya tetap minta maaf pak Dev, karna saya pikir tadi bapak siapa, bagaimana kalo saya temani pak Devi berkeliling?"


"O yaudah, kalo gitu temani saya ke kantin, mau?"


"Siap pak Devi, ayo pak.."


Dari arah lorong samping kiri, ibu Shania muncul,


"Devi..?" Ia memanggil, berjalan anggun sambil menyilangkan tangannya di dada. Yah..ini siapa lagi sih? Devilito mengernyitkan dahinya, matanya menyipit berusaha mengingat wanita yang berjalan menuju arah mereka berdua.


"Lupa..?" tanya Shania mengulurkan tangannya.


"Siapa yah..?" Devilito masih berpikir. "Ini Ibu Shania, dosen yang menggantikan pak Aksan, Sandi berkata pelan.


"Hmm..ternyata kamu bener ngga ingat aku lagi??" ulang Shania dengan raut muka agak sedih. Seketika Devilito tergugu mematung, Ia baru ingat dengan suara wanita itu. "Kamu Sha-sha, kok sekarang berubah ??"


"Pak Sandi, mohon maaf boleh saya menemani pak Devi sebentar?" wajahnya memohon. Sandi melirik Devilito meminta persetujuan, tapi yang di lirik hanya diam menatap tajam ke arah Shania.


"### Mas, please..?" , Sandi akhirnya mengangguk sambil berbalik badan. Waah sepertinya ada sesuatu di masa lalu dengan mereka berdua, lalu istrinya siapa disini? Sandi kepo dalam hati. Ia cemburu!

__ADS_1


-


Lanjut....


__ADS_2