
Donita terkejut.. sedikit membutuhkan waktu agak lama baginya untuk mencerna maksud dari omongan yang di di lontarkan pria barusan.
"M-maksud kamu apa..? bisa kamu ulang ?" Ia ingin meyakinkan bahwa pendengaran nya tidak salah.
"Aku ingin menikahi Lorena", Devilito mengulang kalimat dengan sedikit memperlambat tempo seperti mengeja kata. Ia menangkap perubahan mimik wajah Donita, sedikit pucat dan tidak siap mendengar kalimat itu.
"Kamu ingin menikahi adikku ?, ada motif apa di balik itu?" Donita sedikit memajukan tubuhnya ke depan, intonasi mulai meninggi.
Lorena kaget tidak menduga melihat perubahan wajah kakaknya, sepertinya sudah tidak ada lagi kecanggungan disini, akan berganti menjadi hawa panas, pikirnya.
"Kak, maks.. ", Lorena belum menyelesaikan kalimatnya, Donita sudah mengangkat tangan kiri menyuruh diam, tetapi muka nya tetap mengarah ke mata Devilito, tegas!
"Kamu sudah menjelaskan tentang diri kamu siapa sebenarnya kepada adikku ini?.."
"Rena..kamu udah seberapa jauh mengenal pria ini ?" Donita tidak memberi ruang jawab pada Devilito dan Lorena. Kedua nya seperti di hadapkan dengan persidangan istri yang menangkap basah suami nya bermain serong.
"Kira, tungg..." juga, Devilito mendapat hak yang sama seperti Lorena dari Donita bahwa kalimatnya belum selesai sudah di potong dengan tangan kanan diangkatnya untuk menyuruh diam.
"Kamu ingin mempermainkan adikku?, bagaimana dengan Cerlotta !?"
"Ya Allah kakaak!", Lorena akhirnya terpancing, Ia sedikit berteriak. Matanya sudah berlinang air mata, Ia tergugu.
"Cukup Kira !!" Devilito ambil kendali, aura penguasa nya kembali ke raga nya yang sempat pergi dari tadi. Ia tak tahan melihat Lorena mengeluarkan air mata.
"Rena..kamu bisa ke belakang dulu?" Lorena mengangguk, entah kenapa Ia melihat sorot mata elang Devilito menghipnotis nya. Dingin!
Ia perlahan berjalan beranjak dari situ.
"Kenapa kamu suruh pergi?, dia adikku, dia harus dengar!" tak ada lagi Kirana yang dulu begitu tenang, lembut dan penurut yang Devilito kenal.
__ADS_1
"Dia calon istriku " Devilito menjawab dingin.
"Tidak semudah itu Devilito Arkansa, si Klabang Mentari...kamu pikir Cerlotta akan tinggal diam?"
Lorena terusik mendengar kalimat kakaknya, Ia tidak jadi pergi, Ia diam mematung di ujung dekat lampu hias.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Cerlotta, Kira !, dan aku tidak punya hubungan spesial dengannya, kecuali partner! "
"Tetapi kamu orang yang di cintai Cerlotta kan ?, dan kamu tidak tau 3 tahun yang lalu aku pernah di ancam orang suruhan Cerlotta?" Donita bicara sarkas lalu berdiri mencondongkan badan ke arah Devilito yang sedang duduk.
"Dan kamu menghilang ??, itu lah kesalahan kamu, harusnya kamu bicara sama aku, tetapi tidak , kamu tertutup !, kamu mengambil kesimpulan sendiri yang akhirnya menerima perjodohan kamu...ada yang salah dengan kalimat itu Kirana ?"
"Aku sudah mengintrogasi Cerlotta, dia bersumpah tidak terlibat apapun dengan kamu" Devilito melanjutkan kalimatnya, Ia sedikit terpancing dengan sikap Donita yang tiba - tiba mengambil kesimpulan tanpa tau kebenarannya.
"Dia bisa aja ngga ngakui kalo dia menyuruh orang meneror aku" sekarang, Donita yang merasa diri nya terpojok, Ia sedikit mengakui dalam hati bahwa kalimat itu benar.
"Cerlotta memang kejam, tapi dia bukan pembohong Kirana..dan, kalo dia memang ingin menyingkirkan kamu, percayalah, kamu tidak akan berdiri di depanku saat ini, kamu sudah tidak ada dari 3 tahun yang lalu, andai dulu kamu terbuka padaku Kira.."
"Aku ingin menikahi Lorena, aku cinta sama dia, aku ingin melindungi dia, dan..aku tidak akan mau kehilangan untuk yang kedua kali nya!" lanjutnya tanpa peduli lagi dengan ego sentrisnya laki - laki.
"Dan, aku tidak ada motif yang buruk"
"Papanya Cerlotta memang ingin menjodohkan aku dengan Cerlotta, tapi aku sudah menolaknya, jika ada gangguan, aku harap nanti Lorena tidak mengulang hal yang sama, terbukalah padaku, bicaralah. Aku akan mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku!" Devilito bicara seakan - akan tertuju pada Lorena, yang di jawab dengan anggukan pelan.
Donita terduduk di sofa, Ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, Ia menyerah sekarang. Devilito bicara seperti melampiaskan kesalnya penantian yang berakhir kekecewaan.
Lorena menangis sesenggukan, banyak hal yang tidak di ketahuinya, menjadi PR tersendiri. Ia kemudian menghampiri kakaknya yang juga menangis dalam diam. Mereka berpelukan.
Suasana hening beberapa saat setelah menumpahkan ganjalan hati yang terpendam selama 3 tahun.
__ADS_1
***
Aksan sedang membujuk Istrinya yang sedang histeris meronta dalam pelukannya.
"Mih, udah..kita akan berusaha menemukan keberadaan papa, percaya sama aku, papa akan baik - baik saja" Ia mengusap - usap punggung Donita menenangkan.
Aksan mengutuk dirinya sendiri yang seharusnya tidak memberitahukan dulu bahwa papa Alex tiba - tiba menghilang atau tepatnya ada yang menculik.
Pagi itu, seharusnya Ia mendengar omongan Donita yang ingin membicarakan sesuatu yang penting lebih dahulu di kamar mereka.
Tapi, kedatangan Hensly dan Melvin pagi itu, Ia memilih menunda dan menemui dua tangan kanan andalan papa Alex itu. Dengan wajah yang tegang sedikit terlihat panik melaporkan bahwa Mr.Big di culik dari rumah sakit dini hari tadi.
Parahnya, Aksan yang juga terlihat kalut tak mampu mengelak ketika Donita sudah menuruni tangga dan menanyakan ada apa yang terjadi. Ia jujur menceritakan.
Sedangkan Donita sendiri, Ia belum siap menerima kembali sebuah masalah. Tujuan tadinya ingin menceritakan bahwa Lorena telah kembali, pertemuan dengan Devilito kemarin siang, serta ingin membahas keinginan pria yang akan menikahi Lorena.
Semua buyar, Ia harus menghadapi kenyataan lain bahwa papa nya telah di culik dalam perawatan di rumah sakit dan belum di temukan. Badannya lemas, lututnya gemetar tak mampu menahan beban tubuhnya, Ia duduk tak berdaya di lantai, tapi masih dalam keadaan sadar. Ia menangis dalam pelukan suaminya.
Pukulan beruntun bagi batin, tadinya terobati dengan kembalinya sang adik yang menghilang sekian lama, tapi kembali dengan berita yang juga memukul perasaan. Setelah semalaman Donita berusaha mendamaikan hati nya untuk merelakan Devilito, Ia tidak boleh egois, Ia harus meng-ikhlaskan seperti Devilito meng-ikhlaskan dirinya. Toh, Aksan juga mencintainya, penyabar dan Ia selama ini berdua baik - baik saja.
Kini, Ia tak mampu untuk berpikir, Ia lebih memilih untuk menutup cerita yang tadi ingin di sampaikan pada suaminya.
Setelah di rasa tenang, Ia hanya ingin tidur, Ia menyerahkan sepenuhnya pada suami. Sekilas Ia melihat Melvin pergi karena mendapat telepon dari Om Raymond.
Om Ray..ah dia sudah tidak percaya dengan pamannya itu, Ia sudah curiga dari awal kematian mama nya adalah akibat perbuatan adik tiri papa nya, di tambah omongan Devilito kemarin makin menambah keyakinannya bahwa pamannya...pengkhianat!.
Tapi, sekali lagi Ia tidak ingin memikirkan apa - apa saat ini, Ia memilih meng istirahatkan pikirannya di pulau kapuk, kasur!
-
__ADS_1
Bersambung...