
Hari sudah menjelang malam ketika Marcel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dari rumah Dita. Hatinya lega, sore tadi Ia terlibat pembicaraan serius dengan orang tua gadisnya tersebut tentang peningkatan hubungan dirinya dan Dita menjadi pengikatan perkawinan. Ibunya Dita sangat senang, beliau memang menginginkan hubungan jangan terlalu lama berpacaran, tidak baik katanya. Dan, sekarang tinggal menunggu lamaran dari pihak Marcel.
Malam ini, Marcel mengajak Dita jalan - jalan setelah minta izin lebih dahulu. Marcel bercerita banyak tentang asal usul dirinya yang sekarang ini sebatang kara. Senasib dengan Devilito dan Giring, kedua orang tua nya sudah lama meninggal dan tidak mempunyai saudara kandung.
Sampai akhirnya mereka bertiga yaitu, Marcel, Giring dan Devilito berikrar bersaudara semenjak bersekolah di bangku SMP di hadapan Luigi Roberto, sebagai ayah angkat Devilito. Tidak tanggung-tanggung, mereka melakukan cap jempol berdarah. Artinya, tidak akan terpisahkan, dan menganggap diri mereka bersaudara kandung. Dan, Devilito sebagai kakak tertua.
Dita yang mendengar cerita itu dengan perasaan sedih bercampur kagum. Bagaimana tidak menurutnya, tiga orang yang kehilangan kedua orang tua mereka sedari kecil, tanpa sanak saudara, tumbuh menjadi tiga orang manusia hebat, berpendidikan tinggi dan menjadi orang yang berhasil dalam kehidupan. Itu berarti mereka punya kemauan yang sangat tinggi. Petarung kehidupan.
Devilito seorang pengusaha sangat sukses, sekaligus namanya yang menggetarkan dunia jaringan bawah tanah, bukan hanya di dalam negeri tapi sampai pelosok benua Amerika dan Eropa. Marcel yang juga seorang pengusaha sekaligus dokter yang mempunyai beberapa Rumah Sakit, serta Giring yang juga pengusaha dan seorang master dalam bidang IT.
Uniknya, ketiganya selalu terhubung dalam berbisnis, bahu membahu. Luar biasa persaudaraan mereka ini, pikir Dita.
Dita mengusap-usap lengan Marcel yang bercerita sambil memegang kemudi mobil, Ia sangat mengagumi pria di sebelahnya ini. Tak salah pilihan orang tuanya.
Marcel berbelok masuk ke sebuah resto ikan bakar, suasananya terlihat sejuk dan tak begitu ramai, mungkin karena sore hari tadi hujan deras mengguyur ibu kota.
"Kita makan dulu yuk, kamu suka ikan bakar kan dek ?", tanya Marcel sambil mematikan mesin mobil. Dita mengangguk, "suka dong, yuk". Dita kemudian turun terlebih dahulu. "Aku mau ke toilet dulu kak, kebelet...", ujar Dita cengengesan sambil buru - buru ketika pas turun mobil Ia melihat plang gambar dan tulisan toilet di samping resto itu. Marcel hanya gelengkan kepala sambil tersenyum lihat tingkah imut Dita.
Marcel masuk ke dalam resto, lalu memesan ikan yang disukainya dan mencari tempat yang kosong. Beberapa menit berlalu, namun Dita belum kelihatan kembali dari toilet. Sampai akhirnya Ia mendongak melihat beberapa orang berkumpul di depan pintu masuk, sepertinya ada satu kejadian. Marcel berdiri, entah kenapa Ia tertarik melihat beberapa orang menunjuk, seperti arah parkir mobil.
__ADS_1
Ia tak ingin tahu sebenarnya, tapi kini jiwa kepo nya terusik, mungkin karena Dita belum kembali. Perlahan berjalan menuju luar resto, terdengar obrolan beberapa orang yang menyebut bahwa ada cewek di tampar pacarnya, dan ada juga yang bilang di tampar suaminya, mungkin selingkuh.
Dan setelah sampai di luar, Marcel terpana, terlihat Dita sedang di cengkram lengannya oleh seorang pria memakai kemeja kantor, seperti pulang kerja. Jiwa nya terusik, berarti yang katanya cewek di tampar itu...Dita ?
"Lepasin !!...kurang ajar kamu", dengan terisak Dita berteriak menarik dirinya dari cengkraman lelaki itu. "Kamu dasar l*nte, kenapa menghilang, Hah !?", lelaki itu mengeluarkan kata-kata kotornya, menghardik Dita. "Kita sudah putus !!, ngapain kamu masih ngejar aku !", lengkingan suara Dita naik satu oktaf lagi, Ia masih berusaha melepaskan tangannya. Setiap yang ingin melerai mereka tadinya, kena bentakan oleh lelaki yang memang berbadan cukup atletis itu, akhirnya mereka mundur.
Lelaki itu ingin menampar satu kali lagi, tangan kirinya sudah terangkat, tiba - tiba...
Buggh..bugghh !
Marcel melompat dan melakukan double kick terbang memutarnya. Mengenai leher dan kepala. Lelaki itu tersungkur ke samping, cengkraman tangannya di tangan Dita terlepas, tetapi Dita ikut terhuyung karena daya tarikan tangan lelaki tersebut sebelum jatuh.
Lelaki itu bangkit, walaupun bukan ahli, tapi dia sudah terbiasa berkelahi, "Bangs*t kau !", dia berdiri langsung melayangkan pukulan hook ke arah rahang Marcel dengan tenaga penuh. Marcel tidak mundur, justru Ia maju lebih cepat sambil menunduk sedikit, hingga hook lelaki itu lolos disamping kepalanya, dan Marcel langsung menghantam rusuk lelaki itu dengan tangan kiri dan tinju kanan ke bawah perut. Lelaki itu menjerit tertahan, Ia terjajar mundur sambil menunduk memegang perut, kesakitan.
Berhentikah Marcel, tidak !
Entah kenapa Ia ingin menghabisinya, Marcel berniat ingin mematahkan tangan kanan lelaki itu, tapi Dita sang wanitanya langsung menubruk ketika kedua tangannya sudah memegang tangan dan bahu lelaki tersebut. Tinggal di putarnya sedikit, akan patah.
"Kaakk..udaaahh !!", Dita menangis sambil mendorong memeluk tubuh Marcel. Nafasnya masih tak beraturan, nafsu menghabisinya pun masih tersisa. Namun perlahan menurun karena pelukan gadisnya makin erat. Tangannya terangkat, dan mengusap kepala Dita lembut. "Udah dek, aku udah tenang", ucapnya sedikit terbata. Namun Dita masih belum melepaskan pelukannya. Ia masih terisak.
__ADS_1
Hampir satu jam lamanya pengurusan masalah itu, dan Marcel menghubungi pihak rumah sakit nya untuk menjemput lelaki yang ternyata bernama Rubino, mantan pacar Dita.
Rubino tak terima di putuskan hubungan oleh Dita setelah ketahuan selingkuh dengan karyawan kantor tempat Rubino bekerja. Dita memutus dan mem-block semua komunikasi yang berhubungan dengan Rubino, dari semua sosial media sampai nomor kontak. Hingga Rubino kehilangan jejak walaupun beberapa kali mendatangi kampus Dita, tetapi keberuntungan tak berpihak padanya.
***
Marcel mengompres pipi Dita yang terlihat sedikit bengkak bekas tamparan Rubino tadi. Tak terlalu keras, tapi cukup meninggalkan bekas. "Udah kak, ini malah dingin", ucap Dita memegang pipinya dan melihat di kaca dalam mobil. Untung salep dingin nan mahal tak meninggalkan bekas itu selalu tersedia di boks mobilnya Marcel, jadi tingkat kesembuhan nya jadi lebih cepat.
"Berapa lama kamu sama dia dulu ?", selisik pertanyaan dari Marcel. "Ngga lama kok, kalo ngga salah tiga bulan deh", jawab Dita sambil mengusap-usap pipinya, melihat di kaca spion dalam.
"Sering berduaan dengan pria kasar itu ?", Marcel melontarkan pertanyaan itu, walaupun dia tak siap sebenarnya dengan prediksi jawaban yang akan diterimanya. Dita menoleh, Ia menautkan alisnya, "maksud kamu nanya gitu, kemana arah pertanyaannya ?", jawab Dita seperti tak suka dengan pertanyaan Marcel. "Kamu mengira aku sering berduaan trus 'begitu-begitu' sama dia, hm ?", Dita mengangkat tangan membentuk tanda kutip, "Kalo itu yang kamu maksud, kakak salah menilai aku !", tuturnya menatap tajam ke arah mata Marcel, "aku bukan wanita gampangan !", lanjutnya kemudian.
Ya ampun deek..nanya nya satu jawabnya beruntun... , gumam Marcel dalam hati. Walaupun sebenarnya, Ia membenarkan maksud jawaban Dita itu.
"Bukan sayang...maksud aku itu, kalo kamu berduaan, dengan sifat kasarnya itu, takutnya kamu sering di tamparnya, gitu loh..", Marcel geli sendiri dalam hati dengan silat lidahnya, memutar pembicaraan.
Dita bengong, baru kali ini dia dengar calon suaminya ini memanggil sayang, "tumben manggil sayang?...ulu ulu..", Dita mencubit pipi Marcel, gemes.
"### Udah yuk ah, aku antar kamu pulang, ngga jadi makan deh", ucap Marcel sambil men-starter mobil lalu pergi dari situ.
__ADS_1
-
Bersambung