
Note: Ada Adegan Dewasa!
Malam itu, Devilito dan Lorena baru pulang ke rumah, setelah akad pernikahan mereka yang kilat dan jauh dari kata mewah. Tak ada pesta, ucapan selamat, atau pun kiriman kado dari kerabat, hanya saudara terdekat yang menandakan mereka sudah sah sebagai suami istri.
Tak mengapa, toh bagi Devilito itu urusan belakangan, masalah gampang untuk mengumumkan ke publik. Saat ini, yang penting bagaimana kemunculan mereka tidak di ketahui orang banyak dulu.
"Lucu ngga sih kita kak ?" tanya Lorena senyum - senyum begitu mereka masuk rumah, berjalan beriringan menaiki tangga menuju kamar.
"Lucu apanya" jawab Devilito datar, justru Ia merasa ada kelegaan dalam hal ini.
"Yaa.. ngga ada persiapan sama sekali haha" sampai di ujung tangga, Lorena beda arah,
"Eh kamu mau kemana? kenapa masuk kamar situ?, kita satu kamar sekarang" Lorena tanpa sadar menuju arah kamar tamu yang biasa Ia tiduri.
"Oh ehh iya, hehe lupa aku, kita udah nikah yah?" katanya garuk - garuk kepala, lalu ikuti langkah Devilito.
Masuk kamar Devilito, Lorena tertegun. Kamar luas, perpaduan minimalis modern, dominasi monokrom hadir disitu. menariknya, dinding belakang ranjang di beri wallpaper peta bola dunia berukuran sangat besar, di bagian kanan sebuah lukisan hitam putih besar badan pria sedang membelakangi memperlihatkan tato Kelabang di punggungnya. Sedangkan di bagian kiri ada satu buah sofa bed dekat kaca jendela besar menghadap ke sebuah televisi ukuran 60 inch.
Fix, kamar yang bikin nyaman.
***
Setelah selesai mandi,
"Ayo duduk sini, aku ingin ngobrol - ngobrol sama kamu sebentar.." Devilito menepuk sofa panjang dekat kaca jendela besar.
"Aku mau tidur aja yaa.." Lorena sebenarnya grogi, perubahan status mereka yang kilat buat dia merasa sedikit aneh.
"Mmm..tapi gpp deh aku temani"
"Kenapa kamu kikuk gitu sih?, udah biasa juga berduaan, aku ingin mengenang masa di pulau, sini.." muka Lorena bersemu merah, tapi Ia menurut.
Devilito memeluk Lorena, erat. Ia mencium rambut istri nya dan mengusap, salah satu kesenangan baru yang sering Ia lakukan waktu di pulau.
Lorena pun jadi nyaman, Ia merebahkan kepalanya di dagu pria yang sekarang sudah jadi suaminya. Sejenak mereka tanpa berbicara, menikmati.
"Kak, papa gpp kita tinggal disana , kak Nita kan pulang juga, aku jadi kepikiran deh" Lorena memecahkan keheningan mereka, membuka percakapan.
"Gpp, penjagaan disana ketat, ada Giring juga disana, kamu tenang aja" Devilito mencium pelipis istrinya kemudian.
"Kak, makasih ya udah selamatkan dan mengobati papa"
"Udah tugas aku Rena, melindungi kamu dan papa kamu"
"Tadi ngomongin apa sama papa berdua di kamar?"
"Cuma dengarin nasehat papa untuk menjaga kamu , dan minta cucu dan.."
"Isshh..kamu mah gituu" Ia menepuk paha suaminya.
"Kak, mau ngga nanti suatu saat kita balik ke pulau itu lagi, kita ajak kak Nita dan suaminya"
"Boleh, nanti kalau masalah udah beres, kita kesana ya" Devilito lalu mencium pipi istri nya gemes, sekilas menggigit kuping Lorena.
"Kak..ngapain??"
"Hmm..?, ngga ngapa-ngapain" ciuman Devilito sudah berubah menjadi jilatan ke belakang kuping.
"Kkaaak..tangan kamuu" Ia mulai merasakan sensasi lain, hawa mulai panas ketika tangan devilito sudah masuk ke dalam daster tidurnya merambat naik.
"Kaakkk..a-aku takuutt" tapi Ia tak tahan juga, Ia pun membalasnya menjilat leher suaminya, walaupun belum berpengalaman, toh itu sebuah insting yang tanpa harus di tuntun.
"Kaakk...shhhh" Ia melambung tinggi rasanya ketika sebuah jari tangan masuk mengusap area sensitifnya.
__ADS_1
Dan, malam pun merambat naik memasuki waktu dini hari menjadi saksi sepasang suami istri yang sedang melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan di atas sofa bed untuk pertama kalinya dan berlanjut di atas ranjang.
***
Lorena membuka matanya, di sela - sela gorden terlihat cahaya matahari sudah merangsek masuk, Ia kesiangan.
Ia mencoba menggerakkan badan untuk bangun, sakit semua rasanya, terutama area sensitif nya, perih.
Dilihat nya suaminya di samping masih tidur, terlihat nyenyak. Ia mencoba untuk mengganggunya dengan menarik selimut, tetap diam. Ih tidur kayak mayat... Ia lalu mengguncang bahu,
"Kak..kakk..", Ia berbisik ke telinga Devilito masih tidak terusik, lalu memencet hidung mancungnya kemudian, baru bereaksi.
"Hmm..", tapi matanya tetap tertutup.
"Sakit kak..."
"Apanya?" Devilito bersuara serak namun masih enggan membuka matanya.
"Anu..ini aku", Ia memberitahu dengan matanya.
"Lama - lama juga biasa, enak malah" Devilito menjawab santai, sambil meregangkan kedua otot tangannya ke atas, lalu memeluk tubuh polos Lorena.
"Ahh kamu maahh..., aku mau mandi aja!" Ia mencoba untuk bangun, namun...
"Auuhh..." badannya berasa rontok semua, Devilito lalu bangun dan langsung menggendong istrinya ala bridel, menuju kamar mandi.
"Ehh ehh ngapaiinn??" Lorena kaget, tiba - tiba badannya serasa melayang.
"Kamu ngga kuat jalan kan?, sini sekalian aku mandiin"
"Ehh ngga mauu...aku bisa mandi sendiri!"
"Gpp, aku juga mau mandi, sekalian aja"
Devilito menyalakan shower,
"Kamu mau sembuh ngga?, harus di ulang biar sakitnya berkurang"
"Aiishhh..."
***
Siang itu, Hendra Wijaya dan Indri sekretaris sedang menunggu di ruang tamu. dua jam yang lalu mereka di telpon oleh sang bos untuk datang kerumah memberi laporan.
Mereka datang dengan beberapa bindel map yang berisi laporan - laporan operasional kantor yang di tadi di minta bosnya.
"Kalian sudah lama?" Devilito menuruni anak tangga masih berpakaian santai.
"Baru beberapa menit yang lalu pak Dev" yang menyahut pak Hendra sambil berdiri memberi hormat di ikuti pula oleh Indri, yang disambut oleh Devilito kode mempersilahkan mereka duduk kembali.
Sebenarnya, mereka sudah mengetahui bahwa pimpinan mereka ini di beritakan hilang, sekarang mereka terkejut bahwa sang bos sudah ada di depan mereka.
"Maaf pak Dev, berita yang beredar itu benar adanya?" pak Hendra mencoba bertanya dengan keraguan.
"Benar, cuma kalian ngga usah cemas, saya cuma pergi ada keperluan yang tidak ingin di ketahui orang"
"Yaudah, langsung ke laporan, bagaimana situasi kantor, ada masalah ?" Devilito bertanya mengarahkan pandangan ke pak Hendra. Ia mengambil salah satu map.
"Sampai saat ini terkendali pak Dev, cuma awal berita mengenai diri pak Devi agak mempengaruhi terhadap pergerakan saham, namun sekarang sudah mulai stabil kembali" pak Hendra yang di tanya menjelaskan sebuah laporan dalam map biru.
Satu jam lamanya kedua orang kepercayaan di kantor nya itu memberi laporan perusahaan. Setelah dirasa cukup, Devilito menutup pertemuan itu lalu memanggil bi Tukini untuk memanggil istri nya di kamar.
Di kamar, sang nyonya sedang tiduran di sofa bed sambil menonton televisi, Ia hari ini sedang malas bergerak, badannya pegal - pegal.
Tok tok tok...
__ADS_1
"Masuk!"
"Maaf nyonya, tuan muda mengharapkan nyonya untuk ke bawah" bi Tukini membuka pintu dan cuma menongolkan kepalanya.
"Oh ya, ada apa bi?"
"Seperti nya tuan muda ada tamu kantornya nyonya"
"Yaudah bi, nanti saya kebawah, makasih ya"
"Iya nyonya, saya permisi" bi Tukini lalu menutup pintu, Ia senang dengan nyonya baru mereka ini, orang nya ramah.
Lorena mengganti daster nya dengan baju putih kaos lengan panjang yang di padu rok A-line, merapikan rambutnya sejenak lalu menemui suaminya di bawah. Ia berjalan agak pelan, ada yang perih di rasakan, namun Ia berusaha tersenyum semanis mungkin.
"Kenalin, ini istri saya Lorena" Devilito memperkenalkan istri nya yang sedang menuruni tangga.
Sejenak Devilito bingung menyebut panggilan istri untuk di perkenalkan. Ah..biasa ajalah
"Rena, ini asisten ku pak Hendra dan ini sekretaris Indriana.
Cantiknyaa...tapi kok pak Dev ngga ada romantisnya sih, cuma panggil nama aja sama istrinya, yank kek, hubby kek apa kek gitu, Indri membatin dalam hati, Ia juga sudah menerima kekalahannya.
"Hallo, saya Lorena" lalu mengulurkan jabat tangan secara bergantian pada pak Hendra dan Indri.
Ooh ternyata bos gue udah nikah, kok ngga ada pemberitahuannya yah?
Yaahh..patah hati deh gue!
Ungkapan batin pak Hendra dan Indri bersamaan.
Berbincang - bincang sebentar lalu kedua staf pamit kembali ke kantor.
"Oh ya, saya ada pesan khusus pada kalian berdua, pertama jangan beritahu saya sudah kembali pada siapapun, kedua saya mungkin dalam beberapa hari ke depan masih belum aktif, cuma nanti saya minta laporan dari kalian berdua via zoom, Hp kalian posisi aktif terus ya, saya sewaktu - waktu akan menghubungi kalian, saya rasa cukup di mengerti kan ya"
"Siap bos, di mengerti" jawab mereka serempak. Ya, mereka sangat mengerti bahwa kalau melanggar titah itu, mereka belum tentu akan bisa melihat matahari terbit esok hari.
***
1 jam kemudian, Donita datang ke rumah Devilito seorang diri tanpa suaminya, Aksan. Ia sedang menunggu pengantin baru yang sedang bersiap di kamar. Hari ini mereka janjian akan pergi ke markas untuk menjenguk papa Alex.
Tadinya Aksan sudah berencana ikut serta, tetapi karna hari ini ada mengisi mata kuliah di kampus dan lanjut sore nya ada urusan penting, Ia batal berangkat.
Devilito menggandeng tangan istri nya turun tangga menemui Donita yang sudah menunggu dibawah. Bukan mesra sih sebenarnya, cuma Lorena nya memang saat ini tak bisa berjalan cepat walau Ia sudah memakai sepatu kets putih masih dengan pakaian tadi.
"Maaf kak nunggu lama"
"Gpp dek, ngerti kok hehe" Donita memaklumi pengantin baru, yang
sudah lumrah kalau serba telat. Walau senyumnya di paksakan.
"Loh, kak Aksan ngga ikut kak " Lorena melihat Aksan tidak ada disitu.
"Ohh..Aksan lagi ngajar trus sore nya ada meeting, jadi ngga ikut" jawab Donita.
Mendengar kata ngajar, Lorena jadi kangen kampus nya,
"Kak, kapan aku bisa masuk kuliah, aku udah banyak ketinggalan jauh nih?'
"Sebentar lagi, sabar yaa.." Devilito mengusap bahu istrinya.
hmmm... hanya itu yang bisa Donita sahut dalam hatinya.
"Yaudah, kalo gitu kita berangkat sekarang , kita satu mobil aja...Kira, mobil kamu tinggal sini aja" Donita justru melirik adiknya seolah minta ijin.
"### Iya kak , mendingan kita satu mobil" jawab sang adik seolah membaca pikiran kakaknya.
__ADS_1
-
Bersambung....