
Setelah di rasa cukup mendengar paparan keterangan dari Robert, Devilito lalu mengajaknya untuk bergabung dengan Cerlotta dan yang lainnya yang tengah berada di balkon depan.
Cerlotta dan Giring terlihat sedang bicara serius berdua ketika Devilito sampai di balkon, di sudut lain Marcel dan Dominique. Melihat Devilito datang, Giring memberi kode pada gadisnya untuk bergabung. Ia merasa tak enak hati, walau Cerlotta sebenarnya biasa aja.
Melihat Giring menghampirinya, Devilito justru beri kode untuk mengikutinya menjauh dari situ. "Lo kenapa sih bro ?, keliatan canggung banget ada gue ?", Devilito kesal lihat sahabatnya ini merasa tidak nyaman jika terlihat berduaan dengan Cerlotta, Ia tunjuk dada Giring. "Kalau begini, justru elo ngga memberi ruang pada Cerry. Elo cinta dia kan ?, dan ngga ingin dia merasa kehilangan karna gue ?", Giring gelengkan kepalanya, baru kali ini dia melihat sorot mata tajam kawannya itu bicara dengannya, berarti sangat serius.
"Nah, kalo ngga pengen begitu, udah..lo ngga usah pikirin ngga enak hati sama gue, kan gue sama Cerry ngga pacaran, disini tugas lo ambil hatinya dia biar 100% buat lo, ngerti ngga..!?, gue jitak juga lo !", Devilito menjeda kalimatnya, intonasi suara pelan tapi penuh penekanan kembali melanjutkan,
"Lo ngga liat, dia berjuang memindahkan perasaannya ke elo ?, lo ngga liat dia bersikap manis sama elo di depan gue ?, itu tandanya dia benar-benar cinta sama elo !", Devilito kembali menjeda kalimatnya, telunjuknya menekan dada Giring. Pria itu hanya mampu garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Cerry itu bertipe terbuka, ekspresif, dan ngga pura-pura, jadi kalau dia sudah mampu bersikap manis di depan gue ke elo, tandanya dia sudah mampu mengubur rasanya pada gue, dan ini saatnya lo menunjukkan sikap gimana mestinya jadi laki-laki, gue ngga apa-apa !", Devilito memukul bahu sahabatnya itu.
Serangan kalimat yang beruntun dari Devilito, hanya mampu di jawab Giring, "Iya - iya...sorry, gue belum terbiasa soalnya, apa lagi ada elo", Giring membenarkan semua perkataan sahabatnya itu, Ia masih canggung di depan Devilito untuk bersikap.
"Iya - iya..gue gedik juga lo !". Devilito melototkan matanya sambil mengepalkan tinjunya. "Kayak nenek-nenek lo, ngomel mulu !", balas Giring dengan cengiran konyolnya.
"Ini ada apa.., hm ?", suara Cerlotta membuyarkan semuanya. Giring harus berterima kasih pada gadis itu, dewi penyelamatnya. "Ehmm..ituu, Giring berencana mau melamar kamu", jawaban spontan Devilito membuat dua orang di depannya tersebut bersikap berbeda, "Serius..honey?", Cerlotta mengarahkan pandangan pada Giring yang berdiri kaku, kamp**t lo ! kira - kira itu kata yang Ia lontarkan lewat sorot matanya pada Devilito.
"Iy-iya, nanti kita bicarakan setelah kita kembali ke Indonesia ya", Giring tergagap, dan bingung entah dari mana datangnya ide kalimat pendek itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulutnya.
Drrt drrt drrt... ponsel Devilito bergetar di kantong celananya, di lihat ratunya menelpon, tepat video call. "Sana lo !", usir Giring yang juga sangat berterima kasih mungkin dengan yang menelpon Devilito, sekilas Ia dapat melihat nama dan foto yang tertera hubungi sahabatnya itu. Devilito pamit pada Cerlotta dengan gerakan tangan.
Saatnya istri mau tidur...
"Sayang..", ucap Devilito setelah tersambung, terlihat Lorena di layar sedang memeluk baju kemeja kerjanya yang belum di cuci. Sedih rasanya.
"Kok lama ngangkat telponnya yank?, masih ribet ?".
__ADS_1
"Ngga kok, cuma tadi lagi ngobrolin rencana besok aja sama yang lainnya, kamu telpon aku pindah tempat dulu".
"Owh, kalo masih sibuk nanti aja telpon aku balik".
"Ngga udah selesai, tadi kalo aku jawab video call kamu, takutnya kamu lagi ngga pake baju hehehe, keliatan ama yang lain ntar", ucap Devilito garing.
"Aiishhh...mau aku buka bajunya sekarang ??", dibalas nakal oleh Lorena, mukanya di bikin menggoda.
"Eitss jangan..jangan, kasian ntar aku disini" muka Devilito memerah.
"Gimana, tidur di tempat papa, nyaman ?", Ya, Lorena selama kepergian Devilito akan tidur di rumah papa Alexander, Ia kangen dengan papanya dan kakak, Donita. Sekaligus memberitahukan kabar kehamilannya.
"Nyaman yank, barusan kak Nita disini nemenin, tapi sekarang udah balik ke kamarnya, salam katanya sama kamu, oh ya kamu disana,gimana ?".
"Ciee ciee..yang dapat salam dari mantannya". Devilito belum sempat menjawab, istrinya sudah memotong dengan kalimat menggoda.
Obrolan mereka berdua berlanjut, sampai akhirnya Lorena memejamkan mata, layar ponsel berubah hitam karena tertangkup jatuh di bantal, Lorena tertidur dengan memeluk baju kemeja kerja.
***
Pagi hari...
Devilito dan Robert bersiap pergi, berangkat menuju sebuah hotel tempat Hendra, Linggar dan Indri menginap. Hari ini mereka meeting mengenai proyek Apartement dan sekaligus meninjau lokasi. Target Devilito, hari ini minimal 80% dari rencana tersebut sudah deal agar konsentrasi bisa berlanjut untuk operasi malamnya.
Cerlotta masih tertidur di kamarnya, karena Ia dan Giring ngobrol sampai jam 1 dini hari. Dominique dan yang lainnya melakukan kegiatan olahraga pagi, sekaligus latihan persiapan olah tubuh di ruang latihan bawah tanah milik Robert.
Tetapi, Giring sudah bangun. Ia sedang di balkon sebelah utara mansion bersama Marcel, menikmati kopi sambil menikmati hawa perbukitan rendah di hadapan mereka.
__ADS_1
"Lo ngobrol sampe jam berapa semalam sama Cerry ?", tanya Marcel buka percakapan. Tadinya dia ikut bergabung, cuma matanya ngantuk, Ia tinggal sepasang kekasih baru itu berdua ngobrol.
Giring menyeruput kopinya, lalu "Sampe jam berapa yah, jam 1 mungkin", jawabnya santai, dia menjeda kalimatnya, "S**l*n si Klabang, gegara dia bilang gue mau nikahi Cerry semalam, Cerry nanggepin serius, dia nanya kapan ke Italia temuin papanya", Giring menggerutu. "Kira - kira, papanya Cerry kaget ngga yah ?, kok jadinya gue yang ngelamar ?", Giring kemudian melayangkan pandangan ke langit, menerawang. Marcel masih mendengar dengan serius curhatan temannya. "Yang di harapin papa Ludwig kan Devilito, dan tiba-tiba gue gitu ?", katanya sambil menunjuk dadanya, badannya di sandarkan ke kursi. Rasa keraguan dan tak percaya dirinya timbul.
"Ciee papa Ludwig...hahaha ,biasanya juga Tuan Ludwig", Spontan Marcel menunjuk muka Giring dengan tampang konyol.
"Issh..kam***t emang lo berdua, sama aja. Gue udah serius elo becanda !, gue sleding ntar lo !", Giring kesel.
"Maap tuan Geriii..saya hanya bercanda, biar ide keluar dari otak gue nih !". Kemudian Marcel melanjutkan kalimatnya,
"Tapi, bagus juga sih bro...kalo Cerry langsung nanyain elo, secara tak langsung dia menanyakan keseriusan lo sama dia, jangan gentar dong...Cerry itu ngga main-main orangnya, berarti masa lalu hatinya sudah bisa dia kendalikan. Elo sekarang, maju...", Marcel menepuk bahu sahabatnya itu. "Udah waktunya juga elo berumah-tangga", lanjutnya.
"Gue serius banget, nah..elo kapan sama Dita temannya Lorena ?", Giring balik bertanya. Gantian Marcel yang tergagap mendapat pertanyaan itu,
"Elo juga udah waktunya kan ?, jangan pacaran muluu, dosaa !, liat temen lo noh, udah mau punya bayik", imbuh Giring kemudian.
"Ehh..kita barengin aja yuk, biar rame..kan seru tuh !".
"Etdeh..becanda mulu lo !", Giring memukul bahu Marcel dengan telapak tangan. "Gue serius Gerii...lo kira nikah atau rencana nikah buat main-main apa ?".
"Yaudah yuk ..tapi ntar angpao nya gimana baginya ?", kali ini Giring guyon. "Yaelaah, elo udah kayaa brader !, masih mikirin angpao, malu !".
Di balik pintu, seorang gadis mendengarkan pembicaraan dua sahabat kental itu, hatinya terharu..
-
-
__ADS_1
Bersambung...