Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.44 Menyelesaikan Masa Lalu


__ADS_3

Hensly mencekik leher seorang tawanan yang mereka cegat semalam di jalanan dari hotel H di atas matras. Ia sedikit kerepotan menghadapi tawanan yang ternyata Linggar. Ya, Linggar juga punya kemampuan bela diri yang cukup, dia pemegang sabuk hitam Aikido. Tapi, dia belum cukup tangguh untuk menghadapi Hensly dan Tito yang memang sudah sangat terlatih khusus bertarung bebas.


Linggar menyerah setelah sebuah kuncian 'maestro choke' di leher membuatnya tak bisa bernafas, Ia menepuk tangan Hensly tanda tidak bisa bernafas.


Tito tertawa, lalu menyeruput kopi hitamnya menyaksikan pertarungan sportif ala lelaki itu. Tito yang mengusulkan pada Linggar untuk memilih lawan salah satu dari mereka berdua. Mereka mendapat perintah dari Devilito, untuk tidak melakukan tindakan penganiayaan, tetapi Linggar adalah tipe pemberontak, Ia menantang Hensly dan Tito untuk bertarung secara jantan.


Sedangkan di ruang sebelah yang masih terhubung dengan aula, Shania duduk di sofa, tangan kanan di borgol ke tiang, terpancang tegak kokoh di sampingnya. Ia masih tersedu-sedu, matanya sembab, setelah menangis semalaman.


--Dua Jam Sebelumnya--


"Yank, kok tumben pagi begini udah rapi, ada meeting lagi?" Lorena masih dengan muka bantal bertanya pada suaminya yang sudah bersiap berangkat kantor. Ia melirik ke arah jam dinding digital, masih jam 06.00.


"Iya, aku ada meeting tapi di luar kantor, takut traffic , soalnya arahnya berlawanan dengan kantor" jawab Devilito menghampiri istrinya yang masih dalam selimut. "Kamu kuliah jam berapa hari ini?" lanjutnya sambil berusaha menyibakkan selimut. "Ihh..jangan!, sana..ntar ngga jadi berangkat loh, kalo dibuka selimutnya" Lorena mengerling nakal, Ia memang sedang tidak pake apa-apa di dalam itu. Gara-gara semalam.


"Aku ngga ada jadwal hari ini, aku mau di rumah aja seharian..tidur!" Ia membalikkan badannya pura-pura memejamkan matanya.


"Oh ya, akhir pekan ini kita ke Bali ya"


"Hah..?serius..?, mau mau, Sabtu ini?" Lorena terlonjak bangun dari tidur nya, Ia lupa selimut tersibak ke bawah, Ia masih belum sadar ketika sang suami mendekat melihat pemandangan vulgar terpampang depan matanya. Ia tak memakai apa-apa.


"Iya, nanti sekalian kita liburan 3-4 hari disana" suaminya duduk di ranjang. Lorena baru menyadari bahwa mata suaminya bukan ke wajahnya. "Ehh..lupa aku hihi".


***


Sebuah mobil Hammer H2 memasuki area belakang markas, Devilito turun langsung menuju aula, dia disambut Tito.


"Gimana, udah beres..?" tanyanya melangkah masuk. "Beres ketua" jawab Tito sambil menutup pintu aula.


"Hmm..sepertinya, saya melewatkan sesuatukah?" Devilito melihat Hensly menyonsongnya sambil mengelap keringat dengan handuk kecil. "Orangnya keras kepala ketua, jadi penyelesaian harus begini" jawab Hensly yang mengerti arti tatapan bos nya itu.


"Hmm, saya cuma mau shock terapy aja, tapi..ya sudah" Ia mengibaskan tangannya, "Yang perempuannya, dimana?"

__ADS_1


"Di ruang sebelah ketua, aman dan sudah dikasih sarapan" jawab Tito meyakinkan.


"Saya lupa, Hensly..tolong ambilin bundelan map di jok belakang, yang warna bíru" Devilito melemparkan kunci mobilnya ke arah Hensly. "Bawa yang cewek ke aula" perintahnya selanjutnya ke arah Tito, Ia lalu menyingsingkan lengan kemeja panjangnya, menggulung sampai siku. Menghampiri Linggar.


"Pak Devi...??" Linggar kaget melihat siapa yang datang, Ia baru menyadari situasi sebenarnya. "Pagi, pak Linggar...gimana, sudah paham kenapa Anda disini, hm..?" Devilito memberikan senyuman dan tatapan mematikan ke arah Linggar, kedua tangannya bertumpu di meja bundar.


Wajah Linggar memucat, "Pak, kenapa harus seperti ini..?". Devilito tidak menjawab, Ia memutari meja menghampiri Linggar, mata elangnya tidak berkedip. Ia menerima map biru dari Hensly, lalu melemparkannya ke meja tepat di depan Linggar yang duduk.


"Anda mau bermain-main dengan saya, hm..?", Devilito memegang kedua rahang Linggar beberapa detik, lalu membuka amplop besar didalam map, dan mengambil beberapa lembar foto. "Coba terangkan foto ini, berapa Anda dibayar oleh Raymond..!".


Linggar tak berkutik, Ia bercerita bahwa Ia dan Raymond sebenarnya belum kenal lama, di perkenalkan oleh rekan bisnis di Hongkong, ketika Ia ingin masuk menembus jaringan atas pengusaha, maklum Ia baru pemula yang baru tegak. Tidak ada pembayaran, cuma Raymond yang mengaku mengenal seluruh jaringan pengusaha menjanjikan akan menginvestasikan dananya dalam jumlah besar, asal Ia mampu menjatuhkan Devilito. Dan, kebetulan istri dari Devilito adalah mantannya, sedangkan temannya Shania, adalah mantan dari Devilito.


Shania dan Linggar akhirnya sepakat, untuk menjatuhkan Devilito lewat pasangan masa lalu.


Devilito menjentikan jarinya menyuruh Tito untuk segera membawa Shania bergabung dengan Linggar.


Shania memberontak dari tarikan tangan Tito, ketika di hadapkan ke Devilito, "Devi..kamu ternyata otak di balik semua ini?, kamu tega..!" muka sembab karena menangis memelas, Devilito hanya melihat datar ke arahnya, senyum mengejek tersungging di bibir pria itu. "Saya tidak akan mentolerir siapapun yang mengganggu istri saya..!" rahang Devilito mengeras, Ia pandang keduanya secara bergantian.


"Kamu juga Shania, terlalu berani mengusik Lorena...obsesi akan bisa membuat kalian berdua terbunuh!"


"Hari ini, kalian saya lepaskan..tapi, jika setelah ini kalian berdua masih mencoba mengusik kehidupan saya dan istri saya, kalian, mati !!", Devilito memajukan mukanya, menatap tajam Linggar dan Shania. "Dan, Anda tuan Linggar..jangan coba-coba punya pikiran aneh-aneh kalau berbisnis dengan saya, pergerakan Anda sudah saya kunci!" lanjut Devilito kembali melemparkan sebuah map yang berisi data profil diri dan perusahaan Linggar, serta print out percakapan antara dirinya dan orangnya Robert di Australia.


"Sekali suit..usaha Anda akan saya bikin bangkrut!, dan kehidupan Anda akan saya buat menderita..", Devilito menjentikkan jarinya di muka Linggar.


Linggar menatap nanar melihat map di meja, Ia tak bisa berkata-kata lagi, Ia sadar siapa lawan di depannya ini.


"Dan, kamu Shania...jadilah tenaga pengajar yang baik, seriuslah menjalin hubungan dengan Sandi, menikahlah dengannya, jangan ganggu lagi kehidupan Lorena, aku sudah tidak ada perasaan apapun terhadap kamu" wajah Shania berubah tegang, Ia tak menyangka Devilito tahu hubungannya dengan Sandi, padahal Ia sudah menutup rapat-rapat.


"Sampai disini kalian harus paham maksud saya, sayangi nyawa kalian!" Devilito berbalik badan, bersiap meninggalkan ruangan, "Hensly dan Tito..antarkan mereka kembali" ujarnya sambil melangkah pergi.


"Siap ketua" jawab keduanya serempak.

__ADS_1


Setelah Devilito pergi, Tito menghampiri meja melihat sebentar berkas yang berserakan di atas meja, lalu tertawa sinis ke arah Linggar, "Ckckck...kamu, salah memilih lawan, bersyukurlah untuk hari ini. Dunia bisnis itu kejam, bisa membunuhmu kalau bermain api!"


Linggar hanya terdiam mendengar perkataan sarkas Tito.


***


Dikantor...


"Pak Hendra, buat margin pembagian profit keuntungan proyek di Melbourne 65-35 dengan Silver Corp, serta komposisi investasi kita tetap 70-30. Bikin draftnya segera, awal bulan depan kita berangkat ke Australia" Devilito setelah sampai di kantor dari markasnya, langsung memanggil Indri dan Hendra ke ruangannya membahas proyek di Australia.


"Baik pak Dev, nanti saya rapat dengan pak Linggar,...kalau dia bersikeras tetap dengan margin 55-45, gimana pak?" tanya Hendra kemudian. "Dia tidak akan menolak angka yang saya sebutkan tadi, kamu persiapkan aja draft nya!"


Devilito berpikir Linggar itu sebenarnya orang baik, pebisnis potensial, cuma belum mengerti situasi, dan Ia pikir ke depannya Linggar akan menjadi kaki tangannya.


"Persiapan ke Bali bagaimana, Ndri..?"


"Semua Oke pak Dev, 99,99%..Akomodasi, tiket, dan transportasi disana beres" jawab Indri semangat.


"Tiket dan transportasi kamu batalkan aja, nanti pake pesawat saya dan transportasi biar orang saya disana yang urus.."


Yaah..bapak, bukannya dari kemarin-kemarin bilangnya , Indri hanya berani menggerutu dalam hati. Ia memang tak tahu kalau bosnya ini punya pesawat pribadi.


"Kamu jangan suka kesel dalam hati, nanti mukanya keriput, belum nikah udah menopause loh!".


"Hah..?" Indri melongo, sang bos tau apa yang dipikirkanya.


"Pffftt...", Hendra tertawa menutup mulutnya.


-


-

__ADS_1


Berlanjut...


__ADS_2