
Raymond tetap bungkam ketika dalam masa introgasi Robert. Tetap seperti itu, walau rahangnya kini dalam cengkraman tangan pria yang mewarisi watak Devilito tersebut. Robert menanyakan seputaran keterlibatannya dengan pihak Triad H pimpinan Fan Bo, sampai dengan tujuannya berada di Australia ini. Pria paruh baya ini tetap tak bergeming, sorot matanya tak menyiratkan ketakutan sedikitpun, walau sudut bibirnya lebam di hajar kepalan tangan Robert.
Raymond terduduk tak berdaya dengan kedua tangan di borgol ke kaki kursi.
Kini, Devilito tak bersabar lagi, Ia berdiri perlahan dari tempat duduk berjarak 5 meter dari Raymond, "Robert, cukup !...", dan pria yang dipanggil itu menoleh ke arah suara bosnya yang tengah bersiap mengambil alih. Ia pun mundur.
Tetapi, langkah Devilito terhenti. Cerlotta sudah berdiri di sampingnya, "Aku saja, istrimu sedang hamil...", sembari menganggukan kepalanya tak ingin di bantah. Devilito hanya diam, keahlian Cerlotta hampir sama dengannya dalam masalah meng-introgasi seseorang. Tak kenal kompromi!.
Cerlotta berjalan perlahan, Ia membuka kancing jubah hitam panjangnya.
Dor !...Revolver peredam gadis itu menyalak satu kali.
Arrggghh...! , Raymond tidak menduga bahwa Cerlotta akan menembaknya, padahal gadis itu masih dalam posisi berjalan perlahan menghampirinya dan belum bersuara. Ia menjerit tertahan. betis kirinya mengucurkan d***h.
"Ok..? hmm, sekarang saatnya Anda bicara, pertanyaan-nya sama dengan dia !", ucap Cerlotta dingin, telunjuk kirinya mengarah ke Robert.
Dan, Raymond menatap bergidik melihat mata gadis di depannya ini. Aura membunuh. Ia juga pria yang kejam, jadi dia tahu mana yang gertakan dan mana yang tidak. Namun, pria paruh baya itu tetap memilih tetap bungkam.
Sepuluh detik berlalu sejak pertanyaan di lontarkan, Raymond masih belum bersuara. Cerlotta menarik nafas sejenak, lalu, Dor..! tembakan kedua kembali di layangkan gadis itu, kali ini paha kiri yang menjadi sasaran.
Raymond merasakan sakit yang teramat sangat, kaki kirinya seperti mati rasa. Tangan kanan Cerlotta, kembali terlihat bergerak..."Tunggu..!, saya akan bicara !", menahan perih, akhirnya Raymond memilih bersuara, percuma baginya untuk diam, percuma baginya melancarkan psy-war dengan gadis itu. Satu persatu anggota tubuhnya akan di tembus timah panas. Ia belum ingin mati.
Raymond akhirnya buka suara, dan menceritakan bagaimana kolaborasinya dengan Fan Bo untuk merebut proyek berharga trilyunan tersebut. Mulai dengan cara mengatur membuat sabotase keributan sehingga berakibat tender tersebut bisa di ulang, dan menekan perusahaan pemenang untuk mundur dengan memberikan commitment fee, sampai dengan cara paling ekstrim jika pemenang proyek ini tidak mengalah, yaitu melenyapkannya.
"Anda tahu siapa yang Anda hadapi ?", Devilito dari tempat duduknya bertanya, lalu berjalan menghampiri. Raymond diam sejenak, kemudian "Kami baru tahu setelah belakangan ini", jawab Raymond, masih meringis menahan sakit, perih sangat.
__ADS_1
Di introgasi oleh dua pimpinan jaringan mafia yang sangat di takuti oleh dunia bawah tanah ini, membuat bulu kuduknya berdiri. Hilang sudah keberaniannya.
"Tapi Anda tetap melanjutkan rencana Anda ?", Cerlotta menyipitkan matanya, dan menyilangkan tangannya di dada. "Fan Bo tidak bisa di kendalikan, saya sudah beritahu dia untuk tidak gegabah", jawab Raymond tertunduk.
"Untuk tidak gegabah, berarti Anda ingin tetap melanjutkan rencana kalian, begitu bukan ?", Devilito mengutip kata-kata Raymond, dengan pertanyaan menjebak.
Raymond terdiam, Ia terjebak dengan kalimatnya sendiri, Ia membenarkan perkataan ketua Lidah Api itu. "Itu juga berarti, ketika keributan terjadi sampai dua kali dengan anggota saya, itu sengaja provokasi kalian ?", kali ini Robert mengajukan pertanyaan. "Benar, itu ide Fan Bo, agar keributan itu di usut pihak berwenang, dan itu akan mengarah pada Anda, selaku pemenang tender, lalu akan dilakukan lelang ulang, dan kemudian saya yang maju".
"Cara Anda terlalu klasik !", Devilito bersuara dengan santai, "Itu cara amatiran !".
"Lalu, dimana Aksan berada ? dan apa hubungan Anda dengannya ?", pertanyaan lanjutan Devilito sukses membuat Raymond memucat. Ia tak menyangka akan dapat pertanyaan itu.
Raymond masih diam...badannya sudah menggigil dan pandangan mulai tak fokus, terlalu banyak mengeluarkan darah.
Raymond hanya mampu mengangguk pelan, pandangannya sudah kabur. Ia tak mampu lagi bertahan, dan pingsan.
"Pindahkan dia, obati lukanya, besok di lanjutkan", perintah Devilito pada Robert, yang kemudian memanggil anak buahnya untuk membawa Raymond pergi dari ruang introgasi bawah tanah itu.
Devilito dan Cerlotta kemudian diskusi sebentar, mereka berdua masih membahas tentang keterangan Raymond, sedangkan Robert keluar terlebih dahulu untuk bergabung dengan yang lainnya yang menunggu di luar.
"Cerlotta masih di dalam ?", tanya Giring ketika Robert sudah bergabung dengan Marcel dan yang lainnya tanpa Devilito dan Cerlotta. Ia baru saja kembali dari kamarnya di ruang atas. Robert mengangguk, "Masih di dalam, mungkin masih membahas masalah Raymond", jawabnya santai.
***
"Lebih baik, fokuskan pencarian pada Aksan itu, aku rasa dia orang yang berbahaya". Devilito membenarkan perkataan Cerlotta, dia pun merasa ada sebuah keanehan, Aksan seolah tahu kedatangan mereka di Australia ini. "Benar, cuma yang bikin heran kenapa Raymond tidak tahu kedatangan kita, sedangkan dia bisa lolos dari kepungan orang-orang kita". Cerlotta pun meng-aminkan ucapan Devilito, "pertanyaannya, apakah hubungan Raymond dan Aksan baik-baik saja ?", ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Itu yang akan kita cari tahu lewat Raymond dulu", Devilito kemudian mengajak Cerlotta keluar dari situ. "Nanti pacarmu curiga kita berduaan lama-lama di dalam, ayo..". Cerlotta berhenti mendengar kalimat itu, Ia memukul bahu Devilito.
Devilito terkekeh, "ngomong-ngomong soal Giring, kamu serius kan sama dia ?", tanya Devilito berbalik badan, Ia menatap manik mata gadis itu. Cerlotta mengangguk, "Aku tidak main - main", jawabnya tegas, namun matanya menyiratkan hal lain, dan Devilito membaca itu, "Aku berharap seperti itu".
"Kenapa, kamu meragukan aku ?", tanya Cerlotta ketika Ia melihat ada keraguan dalam perkataan pria tersebut. Devilito menggelengkan kepalanya, "bukan meragukan, kamu hanya perlu meyakinkan hati saja", jawab Devilito sambil kembali melangkah menuju pintu.
Cerlotta tertegun sejenak, kamu pikir mudah untuk memindahkan perasaan, Devi..?.dan aku sedang berusaha untuk itu , kemudian mengiringi langkah Devilito keluar. Tiba - tiba Cerlotta memeluk Devilito dari belakang ketika pria itu akan membuka handel pintu, suami Lorena ini kaget, Ia ingin melepaskannya tapi..."Aku akan kembali ke Italia secepatnya", ucap Cerlotta getir.
Dada Devilito berdesir mendengar perkataan Cerlotta yang sudah melepaskan pelukannya, tetapi kepala, lebih tepatnya kening gadis itu masih menempel di punggung Devilito. Sejenak, Ia membiarkannya. "Maafkan aku...", hanya itu yang bisa di ucapkannya dan kembali melanjutkan kalimat, "aku pun secepatnya menemui papamu". Devilito merasakan anggukan Cerlotta di punggungnya.
***
Ponsel Marcel berdering, mukanya berseri ketika membaca nama yang terpampang di layar.
"Halo sayang...".
"Tumben manggil sayang, kangen yaa...kakak menelpon aku tadi ?, lagi di kelas, kapan balik ?", suara khas Dita langsung nyerocos begitu sambungan terhubung.
"Iya, rencana besok pagi on the way Jakarta". Selanjutnya mereka bercengkrama jarak jauh di iringi tatapan mata iri Hensly dan Melvin.
-
-
Bersambung...
__ADS_1