Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.65 Ketakutan Sagara


__ADS_3

Dua hari setelah kepulangannya dari Melbourne, Devilito di hadapkan kembali dengan aktifitasnya yang sibuk. Dalam meeting internal perusahaan, Devilito mengumpulkan seluruh tim nya dari berbagai divisi untuk membahas tentang proyek apartment di Melbourne yang akan di lakukan secara bertahap.


Devilito kemudian membentuk manajemen proyek yang terdiri dari orang - orang terpilih dan menunjuk Hendra Wijaya sebagai Pimpinan proyeknya. Serta membuka recruitment karyawan baru.


Devilito melakukan beberapa perubahan dalam struktur organisasi perusahaannya, dengan mengangkat Indriana yang tadinya sebagai sekretaris menjadi wakil direktur II, di samping Hendra sebagai wakil direktur I. Indri bertugas sebagai pimpinan dalam mengawasi roda manajemen hotel di Bali. Dan mempunyai kantor tersendiri nantinya.


Untuk mengisi kekosongan posisi sekretaris menggantikan Indri, akan dilakukan seleksi internal, tidak mengambil dari orang baru.


Setelah dua jam lamanya Devilito melakukan meeting internal secara maraton, Ia kembali ke ruangannya, sementara Hendra dan Indri tetap melanjutkan pembahasan proyek berikut hotel dengan beberapa pimpinan divisi perusahaan.


Devilito duduk bersandar di kursi kebesaran kantornya, sambil memandangi beberapa foto secara berganti. Foto yang di ambil beberapa hari yang lalu, ketika Ia menyuruh anak buahnya mengikuti seseorang. Dalam foto yang di ambil dari berbagai sudut angle di sebuah kafe di tempat yang tidak menyolok, terlihat Donita sedang berbicara dengan seseorang yang memakai sweater hoodie hitam dan topi baseball.


Dengan beberapa foto yang di zoom, Devilito dapat mengetahui, siapa pria yang di hadapan Donita itu. Aksan !..


Ia masih memegang satu lembar foto ukuran besar, namun pikirannya sedang menerawang. Ia tak habis pikir, mengapa Donita menutupi keberadaan Aksan selama ini. Atau, Donita juga terlibat dengan rencana penggulingan papa nya yang di kepalai Raymond ? tapi hal itu sangat mustahil, pikirnya.


Atau, Aksan ini tidak terlibat dan Kira ingin menyelamatkannya ? Devilito ber-monolog dengan pikirannya.


Tiba - tiba pintu ruangannya di ketuk dan terbuka walau tanpa persetujuannya. Sang istri, melangkah ceria masuk dan langsung duduk di paha Devilito yang sedang berselonjor ke atas meja. "Hai sayang, lagi mikirin apa ?", ucap Lorena sambil mengecup pipi dan mengalungkan tangan di leher sang suami.


"Ngga mikirin apa - apa, aku habis meeting internal, kamu mau ke kampus ?".


"Iya, anterin...", Lorena merayu suami dengan manja.


"Makanya, terima usulku pakai sopir yank, kan kamu jadi bebas gerak, lagian percuma punya mobil, ngga di pake", ucapan mirip omelan, mulus keluar dari mulut Devilito.


"Jadi, ngga mau nganterin nih ?", Lorena menyipitkan matanya, merajuk.


"Yaudah, ayo...", Devilito menurunkan kakinya dari meja, "Ya, kamu turun sayang", Devilito mencoba menggeser tubuh istrinya yang masih duduk di antara perut dan pahanya.


"Oh iya, hehe..habis enak sih duduk disini", katanya menunjuk, sambil turun dari paha Devilito. "Jangan mancing-mancing deh, ntar ngga jadi kuliah loh !", Devilito bergaya seperti singa yang akan memangsa korbannya, senyuman nakal. Lorena buru - buru menjauhkan tubuhnya, "Ayo..ih, udah telat aku, mantan kamu udah nungguin dari tadi".


Devilito tahu siapa yang di maksud istrinya itu, Ia hanya terkekeh, "Kalo konsultasi istri bawel sama Shania bisa ngga yank ?".


"Ehh...cabein nih mulutnya, siapa istri yang bawel itu ?", Lorena menghampiri dan menarik kerah leher suaminya, akan tetapi justru mendapat kecupan dari sang suami, lembut di bibir.


***

__ADS_1


--Di kampus--


Dita melangkahkan kakinya di koridor kampus, hari ini sama dengan Lorena, ada konsultasi dengan pembimbing akademik nya. Tapi, kali ini ada hal yang berbeda, Marcel sang pacar ikut menemani.


Marcel yang berpenampilan eksekutif muda, mengiringi langkah Dita di bawah tatapan berbagai macam bentuk dari mahasiswa lain di sepanjang koridor itu. Ada yang iri, tapi tak sedikit berdecak kagum. Dita tak pedulikan itu. Ia tetap berjalan dengan menggamit lengan Marcel, seperti orang yang menghadiri pernikahan. "Rena..!,". teriak Dita ketika sampai di belokan menuju ruang dosen, Ia melihat sahabatnya bersama Devilito. "Ciee...sekarang udah berani publis nih ya ?", Lorena menggoda karibnya dan menghentikan langkah menunggu.


Devilito pun tersenyum simpul kearah Marcel, "Ada yang panas romannya nih, mau balapan ama Giring, pengen buru-buru", ucap Devilito berbisik ke kuping Marcel. Dan Marcel memukul bahu temannya itu, "Soalnya habis ini gue langsung mau pergi ama Dita, jadi biar sekalian". Devilito terkekeh mendengar penjelasan Marcel, mereka berdua berjalan di belakang Lorena dan Dita. "Eits..biasa aja dong bro mukanya hahaha", Devilito tertawa konyol, Marcel serba salah karena kepergok mengantarkan menemani Dita ke kampus.


"Udah yank, jangan di godain terus ah..", Lorena berhenti dan menengok ke belakang ketika mendengar tawa suaminya, mereka sampai di depan ruangan dosen. "Malu diliatin orang - orang", ujarnya dengan sedikit mendelik. "Rasain lo !", Marcel tersenyum penuh kemenangan.


Devilito mengedarkan pandangannya ke sekeliling, sepi padahal di sekitaran area bangunan ruang dosen itu.


"Rena, gue mau ke tempat pak Taufik dulu ya, mau konsul bab I nih gue, setelah itu mungkin ke Ibu Ismowati, mudah-mudahan beliau acc", Dita menengok ke Marcel, "Aku tunggu di kantin aja ya, dek", Marcel seperti membaca maksud Dita, dan Dita mengangguk menyetujuinya.


"Ho oh, sama gue juga, kita calling-calling ntar ya," Lorena kemudian bersiap masuk ruangan.


"Ntar gue nyusul lo ke kantin, gue mau nemenin Rena ke dalam dulu". Devilito berbisik, tapi masih kedengaran oleh Dita, "Ehh ngga boleh, baca dong itu kak..", Dita menunjuk sebuah tulisan warna merah terpampang di dekat pintu, "Yang Tidak Berkepentingan Di Larang Masuk".


Devilito hanya melemparkan senyumnya, tapi Ia tetap masuk sambil menepuk bahu Marcel.


***


Devilito baru saja mendudukkan pantatnya di ruang tunggu, tiba - tiba.."Loh, pak Devi kenapa duduk disini ? ngga di dalam saja ?", pak Sandi menyapa dan mengulurkan tangannya. Dosen yang tadi menemui Devilito baru membuka pintu penghubung ruang tamu dan ruang dosen, menengok sekilas ke arah arah Sandi, lalu terus masuk kedalam.


"Ngga apa-apa, Lorena sedang konsul di dalam, saya tunggu disini saja", ucap Devilito sambil memperhatikan dosen yang hilir mudik keluar masuk dari ruang dosen, untuk mengajar di kelas masing-masing.


Di Ruang Dosen...


Shania, memperhatikan makalah Lorena di tangannya, sesekali Ia manggutkan kepala, tak banyak yang di koreksi dalam bab pendahuluan Lorena ini.


"Bab I ini sudah ngga ada perbaikan, kamu bisa acc pak Sagara nanti, tinggal nanti lanjut ke Bab II, Tinjauan Teoritis", Shania menjeda kalimatnya, lalu meraih sebuah buku, membukanya dan memberikan pada Lorena. "Tinjauan Teoritis ini adalah penegasan landasan teori yang di pilih peneliti dalam penelitiannya tersebut".


Lorena memperhatikan sejenak, "Baik, kalo gitu nanti aku sudah bisa langsung ke pak Sagara ya kak ?", dan Shania menganggukkan kepalanya.


Disudut lain, tangan Sandi di tarik oleh dosen yang bicara dengan Devilito di depan tadi. "Ada apa pak Sagara ?".


Dosen yang ternyata pak Sagara tersebut berbisik padanya, "itu siapa sih ?, kok kamu keliatan takut sama orang tadi?".

__ADS_1


"Loh, itu kan suami Lorena, pak Sagara".


"Ooh, suaminya Lorena yang lagi konsultasi sama bu Shania itu kan?, nanti dia juga di bawah bimbingan saya", ucap Sagara mengarahkan telunjuknya ke sudut meja. "Trus, kenapa emangnya ?, lanjutnya kemudian.


Sandi memajukan tubuhnya, berbisik "suami Lorena itu, pemilik kampus ini pak !".


"Hah..!?, Ohh..itu pak Devilito ?", Sagara terperanjat dengar tuturan Sandi, dan Sandi mengangguk. "Iya, tadi bapak nyuruh beliau menunggu disitu ?", selisik Sandi kemudian. Dengan muka pucat Sagara menganggukkan kepalanya.


Lalu, Ia buru - buru meninggalkan Sandi. Ia berjalan keluar.


"Maaf pak Devi..saya tadi tidak tahu, maafkan saya", Sagara menangkupkan kedua tangannya di dada, badannya membungkuk hormat. Devilito yang sedang memainkan ponsel, kaget mendongak melihat perubahan sikap Sagara. "Ada apa pak ?", katanya sambil menautkan alis mata, heran.


"Maaf, tadi saya agak lancang, menyuruh tunggu disini, silahkan ke dalam pak, Lorena sedang konsultasi dengan Ibu Shania", Sagara tidak tahu lagi, apakah tawarannya itu masih ada makna, Ia serba salah. Devilito masih diam memperhatikan gesture tubuh sang dosen yang aneh tersebut, ingin tertawa sebenarnya tapi ia tak melakukan itu. Sepertinya, dia baru mengetahui, pikir Devilito.


Lalu Ia berdiri, dan menepuk bahu pak Sagara, "oh ya..siapa nama bapak ?", Devilito melemparkan senyumnya bertanya. "Sagara pak, dosen mata kuliah Etika Bisnis dan Profesi, salah satu dosen pembimbing dan penguji skripsi Nyonya Lorena" jawabnya Sagara lengkap menyelipkan kata nyonya dengan harapan dapat kebaikan disitu.


"Tak perlu formil di ruangan ini dengan saya pak Sagara" Devilito menjeda kalimatnya, Ia melihat mimik muka Sagara, "Saya suka dengan gaya Anda, seorang yang tegas sepertinya, tanpa basa basi, jika Anda ingin profesi lain, tertarik bekerja kantoran, saya tunggu lamarannya, orang seperti Anda sangat di perlukan perusahaan saya !", Devilito melanjutkan, kembali menepuk-nepuk bahu Sagara.


Sagara yang justru mendapat pujian, terkesima, tak menyangka sama sekali dan mendapat tawaran bekerja di perusahaan pemilik kampus ini. Itu pasti perusahaan besar.


Tepat saat itu, Shania yang di ikuti Lorena di belakangnya, muncul dari dalam. "Nah, ini pak Sagara nya...", tunjuk Shania dengan jempol tangan. Lorena setelah konsultasi Bab I dengan Shania seharusnya lanjut dengan pak Sagara, namun pak Sagara tidak ada di meja nya.


"Oh iya, nyon...eh Lorena mau ketemu saya habis ini yah?, ayo bu..", jawab Sagara gagap. "Panggil Lorena aja pak !", Lorena melihat kegugupan dan gesture tubuh pak Sagara yang seperti ketakutan. Dan, Ia menghampiri suaminya sebelum mengikuti langkah pak Sagara, "kamu ngomong apa sama pak Sagara?, kamu ancam ?", tanya sang istri mendelik dengan suara pelan. Devilito menggelengkan kepalanya, "Ngga, aku ngga ngancem yank..".


Lorena mendengus, dan berbalik meninggalkan Devilito dan Shania yang bengong, menyusul pak Sagara. Sejenak, di pintu sebelum masuk, Lorena melirik suaminya melemparkan tatapan membunuh karena ada Shania di samping pria itu


Luar biasa Lorena, mampu menaklukkan Devilito ucap Shania membatin.


"Aku ke kantin dulu, ada Marcel disana", ucap Devilito, Ia tahu maksud tatapan ratu nya tadi, Ia tak boleh berlama - lama berduaan. Ia mengirimkan pesan "aku ke kantin aja ya yank.., nunggu disana". Cuma beberapa detik, balasan sang istri masuk, "Bagus !".


Shania hanya manggut, Ia mengerti kenapa Devilito menghindarinya. Dan, Ia pamit kembali ke ruangannya.


-


-


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2