
"Kamu mencintai istrimu.?", ucap Cerlotta sambil menyilangkan kaki kanan di atas kaki kiri, punggungnya ditarik mundur ke belakang bersandar pada sofa di lantai dua.
Ya, di lantai dua..Cerlotta dan Devilito berbicara empat mata, setelah kejadian menghebohkan di lantai bawah, Giring membujuk Cerlotta untuk mau berbicara baik-baik dengan Devilito, tadinya bertiga dengan Lorena, namun Cerlotta menolak. Ia ingin berbicara empat mata saja.
"Aku menikahi Lorena karena aku mencintainya Cerry...", Devilito menjawab setenang mungkin, Ia tak tega mengatakan ini tapi dia harus tegas.
Cerlotta berusaha ber-ekspresi datar, menyembunyikan sakit hatinya, namun matanya menatap dalam manik mata Devilito, "Lalu..seperti apa perasaan kamu terhadap aku?, sementara kamu tahu aku mencintai kamu,..dari dulu!", Cerlotta menjeda kalimatnya dan bola matanya tak beralih menatap pria di depannya itu.
"Aku menyayangi kamu sebagai adikku Cerry, aku menganggap kamu keluargaku..".
"Ckk..memang ada hubungan apa kamu sama keluarga aku?, kita tidak punya hubungan darah sama sekali!", Cerlotta mengernyitkan dahinya, tak terima pernyataan Devilito.
Kata-kata sarkas Cerlotta di tanggapi dengan tenang oleh Devilito, Ia mengerti apa yang di rasakan gadis bule itu, dalam hal ini dia harus mengalah, "Memang kita tidak ada hubungan darah, tapi kita satu keluarga dan sudah bersama-sama bertahun lamanya, papa kamu..Mr.Ludwig sudah aku anggap orang tua bagiku, selain papa Luigi".
"Justru, papa yang meminta kamu untuk jadi mantunya bukan?, kamu lupa..?", Cerlotta berbicara mencondongkan badannya memberi penegasan, "Dan, kamu melukai dua orang sekaligus, papaku dan aku!", Ia menunjuk dadanya.
"Untuk itu, aku akan menemui papa Ludwig nanti setelah urusan aku selesai sebentar lagi, aku mau meminta maaf!".
"Kamu kira, papa akan memaafkan kamu?..harusnya kamu menolak dengan tegas waktu papa meminta kamu, tapi kamu hanya diam", jawab Cerlotta dengan nada kecewa.
Haruskah gue katakan, kalo Mr.Ludwig mengancam papa Luigi pada Cerry..? Devilito menatap intens mata Cerlotta, Ia bergumam dalam hati.
"Aku yakin, papa Ludwig akan memaafkan, asalkan kamu mau menerimanya", hanya itu yang terlontar dari mulut Devilito. "Kamu mau menerimanya kan?..", Ia meneruskan kalimatnya, tak melepas tatapan pada manik mata Cerlotta.
Cerlotta yang di tatap seperti itu, grogi...tatapan itu yang membuatnya luluh dan selalu tak berkutik.
Bagi Devilito, lebih mudah berbicara dengan wanita bule dari pada wanita lokal yang Ia kenal, karena kebiasaan mereka yang selalu berbicara terbuka.
Cerlotta menunduk, ada genangan air di pelupuk matanya, hanya di depan pria ini Ia tidak sanggup menahan tangisnya. Ia tergugu, terlihat begitu rapuh dan Devilito membiarkan beberapa menit untuk Cerlotta berbicara dalam hati.
Kemudian Ia berdiri, merentangkan tangannya ingin memeluk Cerlotta. Gadis itu mendongak, air matanya makin tak tertahan ketika Devilito sudah memeluknya, walau tanpa seijinnya. "Kita akan tetap bersaudara, kamu adikku...selamanya, aku tidak punya saudara perempuan selain kamu".
Cerlotta menikmati momen ini, sudah seharusnya Ia melepaskan perasaannya terhadap pria yang bertahun lamanya dia harapkan, namun memang takdir tak berpihak untuknya.
__ADS_1
Dibalik pintu dekat ruang tamu atas di dekat tangga naik, Lorena mendengarkan semua percakapan itu. Di temani sang kakak yang sedari awal mengusap punggung adiknya, memberi ketenangan. Ia menitikkan air mata, merasakan bagaimana porak-poranda nya hati seorang wanita yang menunggu seorang pria, tetapi pria itu menjadi milik orang lain. Dan itu, suaminya.
Lorena tidak marah, justru Ia mengagumi ketegaran Cerlotta, walaupun pada awalnya gadis itu membuat keonaran melampiaskan kekecewaannya, tetapi Ia gadis yang begitu mudah di beri pengertian. Itu hal yang sulit bagi seorang wanita umumnya, hanya wanita tangguh yang mampu melakukan itu.
Cerlotta melepaskan pelukan Devilito, Ia harus pergi dari situ. Apakah Ia akan menerima permintaan Devilito atau tidak, itu urusan nanti.
Ketika melewati pintu, Ia berpapasan dengan Lorena yang berdiri dekat ujung tangga, Ia berhenti dan menatap Lorena beberapa saat, lalu beralih pada Donita tanpa ekspresi. Kemudian Cerlotta menarik nafas dalam-dalam.
Kembali, sosok Cerlotta pun muncul, berwajah tenang dan melangkah dengan anggun menuruni anak tangga, seolah tidak ada terjadi apa-apa sebelumnya.
Cerlotta melewati beberapa orang yang sedang berkumpul di ruang tamu bawah, tanpa menoleh pada Marcel dan Giring. Ia lalu memberi kode dengan kepala pada anak buahnya untuk segera berlalu dari situ.
Semua terdiam, tidak ada yang berniat untuk membuka suara sampai dengan kebisuan itu di pecahkan oleh perkataan Devilito yang sedang menuruni anak tangga pada Giring, "Bro...ikuti dan temani Cerlotta gih!".
Giring yang di todong, terkesiap...
"Hah?..gue ?" Giring menunjuk ke dadanya.
"Udaah..jangan banyak nanya, Cerry butuh teman bicara, elo orang yang tepat!, berangkat sana".
Devilito mengedipkan matanya pada Marcel ketika Giring akhirnya mau menyusul Cerlotta dan lelaki itu tersenyum, seolah mengerti maksud dari Devilito.
***
"Kamu ngga apa-apa yank?", Devilito melihat istrinya yang dari tadi lebih banyak diam semenjak kejadian siang akibat kekacauan yang di timbulkan oleh Cerlotta.
"Aku ngga apa-apa", jawab Lorena datar sembari memutar-mutar ponsel di tangan, matanya tetap tertuju ke layar televisi.
"Ada yang kepikiran sama kamu?, dari tadi kamu banyak diam", Devilito tak percaya begitu saja, ngga apa-apanya perempuan itu justru sebaliknya, " Muka kamu dari tadi murung aja, apa karena kejadian tadi siang, hm..?".
Lorena menghela nafasnya sejenak, lalu menengok kearah suaminya, "Yank, mau ngga kamu cerita tentang Cerlotta..? tapi ngga sekarang, tunggu aku siap".
Devilito bingung dengan omongan istrinya, dahi nya berkerut. "Maksud kamu cerita tentang apanya..?, kehidupannya atau apa?".
__ADS_1
"Yaa, cerita tentang kamu dengan dia lah".
"Loh, kan kamu udah dengar kalo aku itu di jodohin sama dia, tapi aku kan ngga mau.."
"Iya, tapi kenapa sampai di jodohkan, trus juga kamu katanya tadi juga ngga tegas kok ngomong ngga maunya sama dia", Lorena kesal, nadanya naik satu oktaf tapi ngga tau apa yang menyebabkan dia kesal.
"Bukannya ngga tegas yank, Cerry nya yang ngga mau ngerti, aku udah bilang kalo aku itu menganggap dia adik, ta.."
"Cerry..cerry, masih panggilan spesial aja !", rungut Lorena memotong kalimat sang suami dengan muka cemberut.
"Cerry itu bukan panggilan spesial yank, itu panggilan kecilnya dia, Marcel dan Giring juga panggil dia Cerry kok".
"Yaudah terusin ih.."
"Duh, sampe mana tadi, aku lupa.."
"Kamu menganggap dia adik!" ujar Lorena mengingatkan. "Nah iya, tapi Cerry ehh Cerlotta ngga mau ngerti aku kasih tau itu".
"Yaa, mana dia mau ngerti...itu bukan jawaban tegas, itu jawaban berkelit namanya, seharusnya kamu langsung bilang..Cerlotta eh siapa tadi? oh ya, Cerry kita ngga bisa di jodohkan, aku ngga bisa karena aku ngga ada perasaan sama kamu..gituu!".
"Ya ampun, sadis amat ngomong gitu yank?" Devilito sukses melongo mendengar tuturan istrinya.
"Loh, bukannya kamu memang sadis orangnya yah .?", jawab Lorena sarkas, "Kamu kan melukai lawan kamu bisa tanpa ekspresi atau menembak orang bisa sambil tersenyum!".
"Ya bedalah, kalau sama perempuan, jangan di samain dong..", Devilito sedikit tidak suka dengan nada istrinya,"Aku di besarkan dalam kehidupan yang keras, tanpa kasih sayang orang tua, di ajarkan bagaimana mempertahankan milik sendiri", Devilito melanjutkan kalimatnya, wajahnya berubah dingin.
"Sayang, kamu marah...?", Lorena memutar badannya sepenuhnya menghadap suaminya, sepertinya dia tersinggung dengan omongan aku..Ia mengusap lengan suaminya.
"Ngga laah..omongan kamu benar", Devilito menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sejenak, keduanya membisu. Lorena masih menatap Devilito, kata 'sadis' yang terlontar dari mulutnya melukai suaminya.
-
-
__ADS_1
Bersambung