Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.12. Kebebasan Yang Di Renggut


__ADS_3

Tiga orang pengawal berlari menyambut kedatangan Lorena yang berjalan cepat setengah berlari. Ia berusaha dan berharap agar para pengawal tidak melihat mobil Devilito yang sekilas tadi Ia lihat sudah memutar berbalik arah.


Tetapi dugaannya salah, seorang pengawal paling depan sudah melihat sebuah mobil berputar arah tidak berapa jauh dari posisi Lorena sebelum mereka menyongsong nona muda mereka ini.


Lorena memberi kode dengan tangannya pada para pengawal bahwa dirinya tidak perlu pengawalan untuk masuk ke rumah begitu melewati pintu gerbang. Ia merasa risih dengan sistem penjagaan - penjagaan seperti ini. Ia ingin hidup wajar seperti teman - temannya yang lain.


Hensly setelah menerima telepon laporan anak buahnya bahwa nona muda sudah kembali, langsung berlari di ikuti Melvin menuju ruang induk untuk memberi tahu tuan besar. Kedua nya berpapasan dengan Lorena yang sudah terlebih dahulu memasuki ruangan utama.


"Loh, kalian mahasiswa di kampus saya juga kan?"


"Owh..kalian ternyata yang selama ini memata-matai saya di kampus heh ?"


Hensly yang di todong pertanyaan gelagapan karena kepergok, seharusnya mereka tidak boleh bertemu, tapi sudah kepalang basah Ia mengangguk.


"Papa yang memerintahkan mereka untuk menjaga keselamatan kamu, Rena.." Sang papa sudah muncul di ikuti paman Raymond dan Aksan dari lantai dua dan melangkah turun menyambut kedatangan Lorena, sejenak matanya memperhatikan keadaan tubuh anaknya yang menurutnya seperti baik - baik saja.


"Kamu baik - baik aja Nak?" Alexander memegang kedua bahu anaknya dan kemudian kedua pipi masih memastikan keadaan anaknya ini.


"Baik - baik aja pa" Lorena membalas pelukan papanya hangat.


"Ceritakan sama papa siapa yang menculik kamu, dan bagaimana kamu bisa Lolos?" bertanya dengan intonasi agak tinggi lalu merangkul mengajak duduk di sofa.


"Ada yang menyelamatkan aku kemarin pa, tapi ngga tau orangnya siapa".


Kemudian Lorena menceritakan runut kejadian sampai akhirnya dia di antarkan pulang oleh Devilito. Tapi ada satu hal yang Ia tutupi, Ia tidak memberitahukan dengan mobil apa dan dimana Ia di turunkan. Karena pasti, papa nya akan menggali informasi siapa pemilik mobil tersebut.


Setelah mendengar seluruh cerita Lorena, papa nya kemudian menyuruh Lorena untuk tinggal di rumah induk demi keselamatannya. Namun Lorena menolak.


"Aku ngga mau pa tinggal disinii, aku mau di apartemen aja"


"Tidak bisa !, pokoknya papa ngga mau terulang kembali kejadian ini!" katanya tegas.


"Kamu kuliah tetap dalam pengawalan Hensly dan Melvin" imbuhnya menambahkan.


"Aku mau seperti orang - orang pa, hidup normal..pokoknya Rena ngga mau disini !" Lorena berjalan menuju kamarnya di lantai atas.


"Rena..!!! papa belum selesai ngomong !, hei"

__ADS_1


Lorena tetap melangkah naik tangga tidak mengindahkan teriakan papanya. Semenjak mamanya meninggal tiga tahun yang lalu karena motif pembunuhan, Ia menjadi pemberontak dan selalu menentang keputusan papa yang menyangkut diri dan kebebasannya.


Donita memandang adiknya berlalu dari situ hanya diam, Ia sangat mengerti kenapa adiknya tidak pernah akur dengan papa nya ini.


"Jangan sampai kejadian ini terulang kembali !" sorot matanya mengarah ke Hensly dan Melvin.


"Baik tuan besar" Hensly dan Melvin membungkuk hormat.


Raymond yang tadinya hanya diam berjalan menghampiri Alexander, dengan gesture tubuhnya Ia mengajak bicara menjauh ke pojok ruangan,


"Bang Alex, apa sebaiknya Rena kita carikan jodoh juga seperti Donita, kita punya kenalan anak seorang pengusaha" Ia memberikan ide dengan berbisik.


Alexander agak terkejut dengan usul mendadak adiknya ini.


"Biar Abang tenang nantinya menjalankan bisnis tanpa kepikiran dengan anak - anak karena mereka sudah ada yang bertanggung jawab menjaganya 24 jam penuh, kalau mengandalkan pengawalan sepertinya sulit dalam posisi bisnis sekarang ini, perhatian kita jadi terpecah" Raymond menambahkan


Alexander sebenarnya tidak sependapat dengan usul adiknya ini, walaupun bisnis yang Ia jalankan sangat beresiko terhadap keluarganya serta tidak adanya anak laki-laki sebagai penerus dan menjaga anak perempuannya, tetapi Ia masih belum terpikir untuk menjodohkan Lorena dengan siapapun.


"Aku rasa jangan dulu Ray, biarkan Lorena menyelesaikan kuliahnya dan nanti bisa memegang kendali perusahaan yang di kota B" Alexander menolak usul adiknya ini.


"Gimana maksud mu?.."


"Kita nikahkan dengan anaknya Jimmy"


"Maksudmu Jimmy Ikusawek??" Alexander kembali terkejut.


"Iya, dia punya anak semata wayang, cukup tampan dan berbakat dalam bisnis, Ia dibentuk Jimmy untuk meneruskan hegemoni nya, gimana?"


"Ngaco kamu..!, dia kan pesaing dan musuh kita dan ingat..kelompoknya yang menyebabkan Pramanti istriku terbunuh, ingat itu!!", Alexander marah, dan meninggalkan pembicaraan, suaranya agak meninggi hingga yang lain terperanjat.


"Musuh itu di dekati bang, dengan usul tadi justru akan memperkuat jaringan kita untuk menghadapi jaringan Klabang Mentari", Raymond berjalan mendekati Alexander, Ia masih berusaha untuk meyakinkan kakaknya.


Donita yang mulai mengerti dengan perdebatan papanya angkat bicara,


"Om, jangan libatkan dan mengorbankan Lorena hanya demi kepentingan kalian", Donita membantah usul Om dan papanya.


"Cukup aku saja yang kalian korbankan !", katanya sambil berlalu dari situ menuju kamar adiknya di lantai dua. Ia tiba - tiba terbayang kejadian dirinya yang harus meninggalkan kekasihnya dan harus berganti identitas demi kepentingan bisnis papa nya.

__ADS_1


Ia berjalan menaiki tangga sambil mengusap air mata yang menetes.


Alexander dan Raymond terdiam, Aksan menghampiri istrinya untuk menenangkan.


"Mih, tunggu dulu" tetapi Donita tidak menggubris.


Hensly dan Melvin cukup tau diri, mereka berdua berpandangan dan mengangguk,


"Tuan besar, kami undur diri mau ke markas dulu, introgasi tawanan belum selesai"


Alexander hanya mengangguk sambil mengibaskan tangan menyuruh pergi.


***


-Di kantor Devilito-


"Indri, panggilkan Pak Hendra dan kepala divisi lain untuk meeting dengan saya 10 menit lagi" Ia memerintahkan sekretaris untuk memanggil tim inti di perusahaan untuk berkumpul, karena Ia akan meninggalkan kantor selama lebih kurang 1 minggu.


"Baik pak Dev, segera", dan Indri langsung menghubungi satu persatu petinggi - petinggi perusahaan.


Devilito melanjutkan langkah masuk ke ruangannya setelah mengecek divisi - divisi di lain di lantai bawah. Rutinitas yang selalu di lakukannya jika baru sampai kantor untuk mengecek langsung operasional perusahaan. Kebiasaan itu dilakukan 3 kali dalam seminggu secara acak.


Devilito menuju jendela kaca dan memandangi suasana lalu lintas jalan raya, Ia mengusap - usap dagunya, melamun membayangkan Lorena..


Tiba - tiba pintunya di ketuk dari luar, Indri sekretaris memberitahu bahwa semua sudah berkumpul di ruang meeting.


"Baik, kita langsung kesana"


Di ruang meeting, Devilito mendengarkan laporan - laporan operasional dan kendala - kendala yang ada, serta menanyakan masalah proyek yang berjalan seperti pengerjaan proyek perumahan di tiga tempat berbeda, serta permasalahan di garmen apakah ada kendala di bagian line produksinya, pasokan bahan baku, dan kelancaran pembayarannya, terakhir membahas masalah cargo apakah ada kendala di bagian pengiriman via darat maupun udara.


Rapat berlangsung selama 60 menit,


Semua berjalan lancar walaupun sedikit ada kendala di bagian produksi garmen namun itu bisa di atasi. Devilito menutup pertemuan dan menyampaikan bahwa Ia akan meninggalkan kantor selama lebih kurang satu minggu dan berpesan selama kepergiannya tersebut jangan sampai ada masalah muncul.


-


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2