Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.80 Kedatangan Ludwig Smith


__ADS_3

Suasana terminal III khusus kedatangan pesawat pribadi terlihat sedikit ramai siang itu. Lebih dari 30 orang berpakaian jas hitam di pimpin oleh Tito dan Melvin di kerahkan Devilito untuk menjemput kedatangan rombongan Ludwig Smith, Luigi Roberto dan istri serta tak ketinggalan Giring dan Cerlotta, berikut beberapa anggota Lidah Api dari eropa.


Lima menit sebelum jadwal kedatangan rombongan, Devilito sudah sampai di bandara, Ia bersama Marcel khusus datang sendiri untuk menjemput bekas pimpinan tertinggi Lidah Api tersebut. Mereka menunggu di jalur khusus pesawat pribadi yang sudah di persiapkan. Beberapa saat kemudian, jet pribadi yang mengangkut Mr. Smith dan rombongan pun tiba, setelah bekerja sama dengan pihak bandara sebelumnya, Devilito dan Marcel langsung berjalan memasuki landasan menyongsong kedatangan rombongan tersebut.


Mirip dengan penyambutan tamu kenegaraan, mulai dari kiri kanan tangga pesawat berdiri anggota jas hitam Lidah Api untuk menyambut rombongan turun dari pesawat. Devilito pun memeluk Mr.Smith, papa Luigi dan mama secara bergantian. Berbincang sejenak, kemudian berpindah memeluk Cerlotta dan Giring, di ikuti oleh Marcel.


Mereka beriringan berjalan menuju kendaraan yang sudah di persiapkan, lalu langsung berangkat meninggalkan landasan pacu menuju kediaman Devilito.


Dua hari ke depan, squad Lidah Api akan melakukan perhelatan besar, pernikahan Giring dan Cerlotta yang di barengi dengan Marcel dan Dita. Hal ini semata dilakukan untuk efisiensi waktu dan kondisi Devilito, mengingat sang istri Lorena yang sedang memasuki fase hamil enam bulan, dan riskan untuk melakukan perjalanan jauh.


Persiapan pernikahan dilakukan di dua tempat yang berbeda, Marcel dan Dita melakukan Akad nikah di masjid sedangkan Cerlotta dan Giring melakukan janji sucinya di gereja. Namun, kedua pasangan ini sepakat dalam resepsi mereka di lakukan dengan sederhana saja, hanya kalangan tertentu terutama dari jaringan Lidah Api. Karena tiga orang dari mereka ini adalah petinggi - petinggi Lidah Api.


***


"Lucu kali kita ya yank, anggota kamu lakukan nikah pake resepsi tapi kamu sendiri sebagai pimpinannya malah ngga di ramein haha", ucap Lorena suatu kali ketika sedang mencoba baju yang mau di pake acara resepsi esok malam. Di depan kaca dia sedang mematut dirinya memakai baju kebaya lavender yang khusus di buat dari butik kakaknya.

__ADS_1


Devilito melirik ke arah istrinya, Ia mengernyitkan dahi, "kenapa.., kamu nyesel kita ngga ada resepsi?", sambil kemudian menghampiri dan memeluk istrinya dari belakang. "Yaa..enggak sih, aku merasa lucu aja, aku justru bangga sama kamu, supreme commander gitu loooh...tapi nikahnya di rumah sakit hihi".


"Biarin aja, yang penting chemistry dan story kita berdua, ngga ada yang ngalahin, ya kan?", Devilito lalu menunduk menempelkan hidungnya yang mancung di ceruk belakang leher istrinya, "ingat ngga waktu kita terapung di tengah laut lepas trus terdampar di pulau?, itu sejarah yang akan di kenang oleh anak cucu kita nanti, bahwa papa nya, kakeknya, pernah berjuang dan menjadi pelindung mama, neneknya".


Lorena pun terharu, Ia berbalik badan, memeluk suaminya, namun sekarang pelukannya tak seerat dulu, terasa ada yang mengganjal di perut. Usia kandungannya sudah memasuki fase enam bulan, berat badan nya pun bertambah sepuluh kilo. Memang, akhir - akhir ini porsi makan nya meningkat, sebuah prestasi yang tidak membanggakan menurutnya. Devilito kembali tersenyum melihat wajah sang istri yang tiba - tiba berubah murung, "kenapa yank, sesak yah?", sebuah tanya yang absurd menurut Lorena. "Udah tau nanya", ucap Lorena bersungut - sungut menjawab tanya sang suami. Devilito gemas, Ia menangkup kedua pipi istrinya dengan tangannya dan mencium dahi itu berkali - kali,"sabar ya sayang yaa", ucapnya meraih kepala Lorena lalu memeluknya kembali ke dada.


Lorena kemudian berputar, kembali menghadap cermin besar di depannya. "Aku udah keliatan jelek ya yank?", Lorena memperhatikan pipinya yang makin berisi, pinggang semakin melebar. Terkadang Ia merasa tak percaya diri tubuhnya yang dulu terlihat langsing berubah menjadi melebar. Hal yang di takutkan oleh wanita yang sudah menikah ketika perubahan tubuh yang tadinya proporsional menjadi gendut ketika hamil, bagian yang dulunya kencang berubah jadi mengendur ketika menyusui.


"Sebentar aku liat, mmhh...coba kamu munduran dikit deh yank", Devilito berlagak seperti pengamat tubuh, Ia berjalan ke samping, dan memutari istrinya. "Tuuh benerkan?", Lorena makin tak percaya diri, "bukan...soalnya cantik kamu kelewatan!".


"Dih..garing deh kamu, nge-gombal,ngga cocok ama pangkat tuh", Devilito justru dapat pelototan dari istrinya, "aku serius nanya!", ucapnya kemudian cemberut dengan bibir mengerucut.


Devilito bengong, hal yang sepele menurutnya, tetapi tidak bagi Lorena. Istrinya memang tidak rewel seperti orang kebanyakan ketika hamil, tidak minta makanan yang aneh - aneh, atau tengah malam minta di cariin sesuatu, hanya sensitif dan emosional nya yang membuat Devilito harus ekstra bersabar.


Ia menghampiri sang istri kembali, "sayang, maafin aku ya...tapi bener, kamu itu tetap cantik dari dulu, ngga berubah walau lagi hamil gini", Devilito meminta maaf, walaupun Ia tak tahu salahnya dimana.

__ADS_1


Tiba - tiba pintu kamarnya di ketuk. Lorena buru - buru memakai baju gantinya kembali, sementara Devilito menunggu sejenak istrinya selesai, baru kemudian membuka pintu. Ternyata mama Luigi.


"Eh mama, maaf Ma tadi Rena lagi mencoba baju yang mau di pakai ke resepsi Cerry", ujar Devilito sambil mempersilahkan mamanya masuk.


"Ayo kebawa, kita makan malam, semua sudah berkumpul di bawah", mama Luigi kemudian masuk menghampiri Lorena, "kamu habis menangis?, kenapa?", tanyanya lalu menatap Devilito minta jawaban. Devilito hanya mengangkat kedua bahunya."ngga apa - apa ma, tadi cuma ingat papa dan kak Nita aja", jawab Lorena mencari alasan. Ia sendiri juga bingung sebenarnya kenapa bersedih dan air matanya tiba - tiba jatuh.


Mama Luigi lalu berjalan menghampiri Devilito, "Wanita, setelah menikah kemungkinan akan kehilangan banyak teman, bisa jadi dirimu lah saat ini yang jadi teman dekatnya, untuk itu...jadilah teman dan pendengar yang baik untuk istrimu", ujar sang mama menasehati.


Devilito hanya melongo, Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal...gue lagi yang kena , "Iya Ma...ayo kita ke bawah", dan berjalan menghampiri istrinya,"yuk sayang yuk", sambil mencium pipi Lorena.


Bukankah dalam situasi begini, sebaiknya dia harus mengalah saja dan menerima salah?.


Di ruang makan sudah berkumpul paman Smith, Giring, Cerlotta dan papa Luigi. Semuanya memang tinggal di rumah Devilito selama mereka di Indonesia, kecuali Giring.


-

__ADS_1


-


Bersambung...


__ADS_2