
Tepat pukul 22.00 waktu Milan, pesawat Garuda Indonesia Jenis Boeing 777-300ER baru saja take off meninggalkan bandar udara Internasional Malpenza membawa Devilito dan Giring terbang menuju Jakarta.
Ia mempercepat keberangkatannya kembali ke Indonesia 1 hari lebih cepat dari jadwal yang di rencanakan. Ia tidak ingin sebenarnya berlama-lama berada di dekat Cerlotta namun untuk menjaga perasaan gadis tersebut, Ia beralasan bahwa jaringannya di Indonesia sedang membutuhkan Devilito karena ada sedikit konflik dengan jaringan lain terkait masalah impor barang dan perbankan.
Aku tidak ingin menyakiti hatimu Cerry, aku tau kamu sangat menyukaiku tapi aku ngga bisa
Devilito membatin berkata dalam hati, Ia melihat keluar jendela memandangi kota Milan yang indah malam itu di bawah sana.
Cerlotta masih berdiri terpaku di balik kaca menatap landasan seolah - olah pesawat yang di tumpangi Devilito masih ada di situ. Berkali - kali pula Ia terlihat menarik nafas panjang, berat melepaskan. Tadi Ia bersikeras untuk mengantarkan sendiri ke bandara walaupun Devilito menolaknya.
Huffft...bagaimana caranya agar kamu bisa menjadi milikku Dev ? aku tau kamu menolaknya tapi aku belum bisa menerima. Aku akan menyusulmu nanti kesana..
Ia bergumam sendiri, lalu memukul dada kirinya beberapa kali, perih...
Terbayang malam sebelumnya dengan penolakan Devilito ketika mereka berdua berbicara dari hati ke hati.
Aku pasti akan menyusulmu! , lalu beranjak pergi.
***
Pukul 08.00 pagi WIB pesawat landing di Bandara Int' Soekarno - Hatta. Perbedaan waktu 6 jam antara Milan - Jakarta membuat perjalanan terasa singkat
"Bagaimana situasi bro ?" Devilito langsung bertanya pada Marcel yang menjemput mereka ketika sudah berada dalam mobil.
"Itu yang mau gue bahas sama kalian berdua, tapi baiknya kita sambil ngopi yuk, sekali-kali kita bahas hal serius di tempat yang santai",
"Setuju ", yang menjawab justru Giring.
"Yaudah kalo gitu, kita cari coffee shop yang buka pagi - pagi begini di tempat yang terbuka" Devilito mengalah.
"Ada, gue tau tempatnya", Marcel kemudian menginjak gas lebih dalam.
Devilito sangat bersyukur mempunyai dua orang sahabat yang sudah seperti saudara kandung. Saling mengerti, bahu membahu dan saling memperkuat, tau kapan harus formal dan kapan harus informal jika berkomunikasi.
Dan, sama - sama bujangan.
Mereka sampai di sebuah kafe di bilangan pusat kota setelah berkutat menghadapi macet nya Metropolitan pada waktu jam kerja begini.
Setelah memesan kopi dan makanan kecil, Devilito langsung menanyakan keadaan selama Ia pergi,
"Gimana bro?"
"Ok, gini sob..ini situasi jadi rame nih, gue udah selidiki siapa yang bermain disini, ternyata ada dua jaringan besar yang terlibat selain kita. Dua jaringan lawan kita ini ternyata sekarang berkolaborasi untuk menghancurkan kita"
"Tunggu..tunggu, dua jaringan ini siapa?" Devilito memotong penjelasan Marcel.
"Sob, coba buka link ini..." Marcel memberikan sebuah kertas yang Ia dapat dari kenalannya orang pemerintahan pada Giring yang kemudian langsung membukanya di laptop.
Giring harus beberapa kali menembus kode - kode yang menutup keamanan link yang sudah di block tersebut sebelum akhirnya terbuka.
"Wow !...seru ini sob, nama jaringan itu El-Paso pimpinan Mr. Big dan Rumble Squad pimpinan Jimmy Ikusawek"
"Dan, Jimmy Ikusawek ini di back up oleh jaringan mafia Meksiko", Giring menjelaskan isi link tersebut sambil memakan cemilan di meja.
Devilito manggut - manggut mengerti.
"Ruiz Hernandez" Devilito langsung menebak siapa yang berada di belakang Mr. Big.
"Dan lucunya, Mr Big dan Jimmy ini berseteru sebelumnya", Marcel kembali bersuara.
"Mereka sekarang bersatu, pasti ada kesepakatan tertentu yang terjadi", Devilito berbicara sambil menyeruput kopi nya.
__ADS_1
"Kalo gitu, kita harus segera menyusun langkah, perang segera di mulai!, nanti kita bahas lagi, yok.." Devilito memberi tanda untuk segera pergi dari situ.
***
Kediaman Alexander
Sedang terjadi perdebatan sengit antara Alexander dan Raymond mengenai kesepakatan kerjasama dengan Jimmy Ikusawek. Mereka baru saja kembali dari pertemuan dengan pihak Rumble Squad yang memberi bantuan dana untuk menyelamatkan bisnis perbankan nya dari kebangkrutan akibat rush besar - besaran nasabah premium mereka yang sudah berlangsung selama 3 hari ini.
Dalam kesepakatan tersebut, terdapat dua poin utama kerjasama yang harus di setujui oleh pihak Alexander. Di poin satu yang tertulis dalam MoU adalah pihak Jimmy Ikusawek akan mengucurkan dana besar untuk menutupi kerugian bisnis perbankan dengan imbalan bahwa proyek pengerjaan jalan tol di sepanjang pulau S akan di ambil alih oleh pihak Jimmy termasuk penerimaan tol tersebut selama 5 tahun.
Poin kedua yang tidak tertulis adalah Alexander harus menikahkan Lorena dengan anaknya Jimmy.
Terjadi permasalahan disini ketika Alexander tidak mengetahui bahwa Raymond sebelumnya yang di utus, menyetujui dan menjamin bahwa Alexander menerima perjodohan tersebut. Dan, hari ini dana sudah di kucurkan oleh pihak Jimmy.
Alexander tidak bisa lagi membatalkan kerja sama itu, karena MoU sudah di tanda tangani oleh Raymond yang Ia beri kuasa dalam kerja sama tersebut.
"Ray, kenapa kamu melakukan hal ini padaku, Hah ?, Lorena itu anakku !" Alexander menunjuk muka Raymond dan menggebrak meja.
"Bang.. aku harus melakukan ini kalau ngga Jimmy tidak akan mau mengucurkan dananya, kita kolaps!", jawab Raymond dengan nada datar.
"Tapi tidak harus mengorbankan Lorena !, masih ada proyek yang di pulau K misalnya ?" Alexander memijit pelipis nya menahan emosi.
"Tapi ini akan memperkuat jaringan bisnis kita bang !" Raymond masih berusaha meyakinkan.
"Diam kau !!, aku akan mencari jalan supaya Lorena tidak di korbankan disini !!", nada Alexander berubah Ia kembali menggebrak meja dan meninggalkan Raymond yang memandang kepergian Alexander dengan senyum sinis.
Di ruang kerjanya, Alexander mondar - mandir memikirkan bagaimana jalan keluar untuk menyelamatkan bisnis dan perjodohan anaknya, Ia akan bicara dengan Lorena.
***
Di Kampus
Lorena sudah berada dalam kelas mengikuti mata kuliah statistik. Ia berhasil meyakinkan papa agar dirinya bisa mengikuti perkuliahan karena sudah banyak ketinggalan dan juga untuk melakukan persiapan skripsi. Melalui perdebatan akhirnya papa mau mengijinkan tetapi dengan catatan dia harus bersedia di kawal.
"Nanti deh gue cerita di kantin yak", Lorena masih bertopang dagu seolah memperhatikan dosen di depan.
"Janji lo yaa.."
"Iyaa, berisik lo"
"Dih..lo melamun atau dengerin dosennya ngomong sih?", Dita menyipitkan matanya bertanya karena dia lihat Lorena banyak diam.
"Dengerin dosen laah"
Lalu...
"Dita !, kamu coba ulangi apa yang saya terangkan tadi ", sang dosen bertanya tiba - tiba.
Degg..!
"Yang bagian mana pak ?" Dita gelagapan kaget mendapat pertanyaan, karena dia lagi sibuk memikirkan kemana Lorena beberapa hari ini tanpa kabar.
"Kamu itu, sebentar lagi mau skripsi tapi ngga mau fokus, ingin jadi mahasiswi abadi kamu?"
"Ngga pak!"
"Sain lo !"
"Diem lo !" Dita menyikut Lorena yang tertawa cekikikan menutup mulutnya.
-Di kantin-
__ADS_1
Setelah memesan makanan, Lorena menceritakan kejadian percobaan penculikan dirinya tempo hari setelah pertemuan mereka di mall waktu itu. Sampai akhirnya Ia di selamatkan oleh seseorang di bawa ke sebuah tempat dan harus nginep disitu.
"Lo tau ngga yang nyelamatin gue itu siapa ?", katanya memasang wajah imut.
"Siapa?" Dita penasaran.
"Penasaran kan lo ?" Lorena menjedah kata - kata nya.
"Yaa, siapaa ihh"
"Orang yang dorong mobil lo pake mobilnya waktu mobil lo mogok!"
"Hah?, serius lo !" Dita melotot tak percaya.
"Trus...trus ?, lo ngga di apa - apain nginep di umpetin disitu ?", Dita tanpa sadar suaranya agak menggema.
" Sstt..Pelanin suara lo beg* !" Lorena menepak tangan Dita, Ia memperhatikan kiri kanannya ada mahasiswa lain disitu yang menoleh ke arah mereka.
"Ada apa niii ??" Tetiba seseorang langsung duduk di samping Dita menghadap ke Lorena.
"Yaah orang - orangan sawah nongol!", Dita beringsut menggeser duduknya menjauh.
"Jangan sembarangan lo kalo ngomong!", Orang itu melihat sinis ke arah Dita.
Lorena pun kaget, dan langsung berdiri untuk pergi, tapi tangannya di tahan oleh orang yang ternyata Robby, namun di tepis oleh seseorang yang tiba - tiba juga ada di situ.
Hensly !
"Tanganmu tolong di kondisikan!" , Hensly berkata dengan muka dinginnya.
"Heh..!, Rena udah mau jadi bini gue ya, elo jangan macem - macem ama gue, dan ini nanti gue bales!", Robby mendorong Hensly sambil mengangkat tangannya yang masih di perban.
Apakah sama orang ini ?? Hensly membatin. Ia memang sudah mengetahui tentang perjodohan diri Lorena tapi dia belum tahu orangnya siapa. Ia ragu untuk bertindak menghajar Robby.
"Maksud lo apa? siapa yang mau jadi istri lo ?" Lorena bingung dan kaget dengan ucapan Robby dan panggilannya berubah terhadap Robby menjadi 'elo'.
Dita juga kaget menutup mulutnya, bengong!.
Melvin yang berdiri tidak jauh dari situ juga tidak bisa berbuat apa - apa.
Mahasiswa lain yang melihat kejadian ini hanya berbisik - bisik satu sama lain.
"Oohh kamu belum tau ??, tanya dong sama papa kamu, hehehe", Robby berkata lalu tertawa licik.
"Kamu akan jadi milik aku , hahaha", Robby tertawa senang.
Lorena mengambil tas di meja langsung buru - buru keluar dengan muka malu meninggalkan kantin, Dita mengikuti dibelakang. Ia harus menelpon papa..yaa aku harus tanya papa!
"Rena..rena tunggu gue !" Dita mempercepat langkahnya mengimbangi Lorena yang setengah berlari menahan air matanya keluar.
Ia berlari menuju parkir, kemudian menghubungi papa nya menanyakan kebenaran berita tentang perjodohannya. Dan papa nya menjawab bahwa Ia sebenarnya tidak menyetujui, namun itu sudah di sepakati oleh pamannya, Raymond.
"Aku tidak mau paa..." Lorena menangis lalu mematikan teleponnya, berlari masuk ke dalam mobil diikuti Dita, dan Ia menangis histeris, menumpahkan kekecewaan di pelukan Dita yang mengusap - usap punggung memberi ketenangan.
30 menit dalam mobil...
"Yaudah sekarang kita pergi dulu yuk, lo harus tetap tenang, Lorena yang gue kenal selama ini sangat tangguh, yukk..gue yang nyetir mobil lo" Dita membujuk Lorena untuk pergi dari situ ,lalu menelpon seseorang untuk datang mengambil mobilnya di kampus.
Lorena hanya mengangguk, hatinya berkecamuk.
"### Kita ke butik kakak gue" Lorena teringat kakak satu - satunya tempat Ia mengadu.
__ADS_1
-
Bersambung...