
Di teras kamar Penthouse sebuah hotel bintang 5, seorang gadis cantik berwajah indo sedang duduk berselonjoran kaki memakai baju santai, menatap langit Jakarta yang hari itu sangat cerah. Ia di temani seorang pria gagah berjambang tipis memakai kemeja biru body fit lengan panjang sedang mengulurkan sebuah botol mineral, "Minumlah, kamu butuh oksigen dalam rongga dadamu, air putih sangat bagus untuk itu".
Sejenak, gadis itu menatap pria yang duduk di kursi kecil di sebelahnya, lalu menerima sodoran botol mineral dan meminumnya perlahan.
"Sungguh, tak habis pikir kenapa Devi tidak memberitahu aku tentang pernikahannya", gadis yang ternyata Cerlotta berbicara lemah, Ia menggelengkan kepalanya perlahan sembari menatap bintang di angkasa.
Ia masih tersenyum namun guratan kesedihan masih membayang di wajahnya yang cantik.
"Devi punya alasan untuk tidak memberitahu siapa-siapa saat itu Cerry, karena situasinya tidak memungkinkan, pada saat itu".
"Apa itu sebuah pembenaran Ger..?, ketika dia hilang hampir dua minggu, terdampar di sebuah pulau seperti yang kamu bilang, dia sama sekali tidak memberitahu aku saat dia kembali...aku di anggap apa Geri?", Cerlotta menatap lekat ke arah pria yang ternyata Giring, tajam.
Giring yang sebelumnya menceritakan tentang perjalanan kisah Devilito dengan Lorena, menghela nafas di tatap seperti itu. Duh..Cerry, matamu itu
Giring terpana...
Cerlotta memutus kontak matanya dengan Giring, "Kenapa kamu diam?..aku masih menunggu jawaban kamu Ger", Cerlotta lalu mengalihkan pandangan menatap lurus ke depan. Ia sedikit gugup..
"Saat itu, Lorena sedang di jodohkan dengan kawan bisnis papanya, dijebak oleh pamannya dan Devilito harus mengambil keputusan untuk menikahinya agar bisa menghancurkan Jimmy dan Ruiz", Giring menceritakan sambil memutar otaknya bagaimana supaya Cerlotta tidak lagi membicarakan Devilito.
Cerlotta menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ironis yah, kisah cintaku..di saat aku menunggu seseorang, ehh orang itu malah berjuang untuk orang lain".
"Kamu pernah jatuh cinta Geri..?"
Pertanyaan Cerlotta berhasil membuat Giring tersentak, "Mmhh..pernah!" jawab Giring ragu-ragu. "Sama seperti kamu, aku menunggu cinta seseorang, orang itu malah berjuang mendapatkan cinta orang lain", Giring melanjutkan kalimatnya.
"Oh ya..?, gadis itu tahu kamu mencintainya?", Cerlotta kemudian menegakkan sandaran kursi malasnya, kepalanya miring menengok ke arah Giring. Tiba-tiba menjadi tertarik akan kisah pria ini.
Hhhahh...! Giring membuang nafasnya sejenak, lalu "Dia tidak tahu!" jawabnya pendek.
"Kenapa tidak di kasih tahu?" Cerlotta mengernyitkan keningnya.
"Karena seperti yang aku bilang tadi, dia mencintai yang lain. Orang yang sedang jatuh cinta, akan menutup hatinya untuk cinta yang lain toh?", Giring kemudian melemparkan pertanyaan pada Cerlotta.
Beberapa saat gadis itu terdiam, lalu...
"Mirip dengan cerita aku maksud kamu, hm ?", Ia kembali menatap intens mata Giring. "Lalu, dimana sekarang gadis itu..?".
Giring diam sejenak, sekarang waktunya gue harus ngomong !..
"Orangnya ada di depan aku", jawabnya lugas memberanikan diri.
"Hahh..?? aku..?", Cerlotta tergagap, alhasil mulutnya ternganga, mukanya memerah, tapi ada rasa tak percaya dengan pendengarannya.
Giring mengangguk yakin, "Iya, kamu.." matanya menatap manik Cerlotta yang menutup mulutnya kaget. "Aku sudah lama menyukai kamu Cerry !".
Ha..ha..ha.. Cerlotta tertawa kemudian sambil melemparkan pandangan ke depan, Ia masih tak percaya dengan omongan pria ini. Tapi Giring tak bergeming Ia tetap menatap wajah Cerlotta tak berkedip, tanpa ikut tertawa atau pun tersenyum. Gantian gue yang ironis, di ketawain !.
__ADS_1
Ehh..!
Tawa Cerlotta tiba-tiba berhenti karena dia tidak melihat reaksi apa-apa dari pria di sebelahnya ini, grogi langsung merasuki. Ia menurunkan selonjoran kakinya dari kursi malas, menghadap Giring. "Kamu serius dengan omongan kamu Geri..?", Cerlotta mencoba mencari kebohongan dalam mata Giring.
"Serius..sangat!",
Sejenak, kedua mata mereka bertemu saling menatap. Giring mencoba meyakinkan lewat matanya, lalu berucap, "Aku ingin kamu segera melepaskan perasaan kamu terhadap Devilito, aku ingin kita bersama-sama menatap masa depan, menikahlah denganku Cerry...".
Cerlotta tergugu mendengar pemintaan Giring yang sukses mengobrak-abrik perasaannya. "Boleh aku minta waktu sendirian sekarang ?, please..." ucapnya memohon.
Ia terharu, Ia tidak bisa berkata-kata untuk melanjutkan pembicaraan itu lagi. Giring pria yang baik, gagah dan bertanggung jawab. Belum pernah selama ini dia mendengar pria itu menjalin hubungan dengan wanita lain. Belum pernah pula dia melihat Giring jatuh cinta, sampai saat ini..Ia mengutarakannya, dan itu pada dirinya !
"Baik, aku tinggalkan kamu sekarang, aku harap kamu memikirkan permintaan aku, dan mau menerima aku", Giring kemudian menepuk kedua pahanya lalu berdiri, bersiap untuk pergi meninggalkan Cerlotta yang termenung bicara dalam hati.
***
Entah kenapa, sudah beberapa hari ini Lorena merasa ada yang lain dengan kondisi tubuhnya. Seperti pagi ini, Ia begitu lemas, malas untuk bangun. Padahal ada jadwal ke kampus hari ini menemui dosen pembimbing.
"Yank, kamu ada jadwal ke kampus kan hari ini?", Devilito baru keluar dari kamar mandi, di lihat baju kerjanya belum terlihat di gantungan yang biasa Lorena siapkan. Istrinya masih meringkuk di ranjang.
"Hu um...", Lorena menjawab lemah, matanya sudah terbuka.
"Kamu kenapa?, ngga enak badan?", Devilito masih pakai piyama mandi menghampiri istrinya dan memegang dahi. "Ngga demam, tapi muka kamu pucat", Ia bergumam pelan.
"Badan aku lemes banget rasanya, males deh ke kampus hari ini".
Devilito kembali menghampiri istrinya, dan meletakkan tangannya di leher dan dahi untuk memastikan kembali kondisi Lorena. "Aku panggil dokter aja ya..", lalu Ia mengambil ponsel di atas nakas, setelah panggilan tersambung, "Bro..lo kirimin dokter ke rumah gue donk, sekarang ya", Devilito menghubungi Marcel, Ia berjalan membuka gorden kaca. "Siapa yang sakit sob ?..elo?"
"Bukan, Lorena lagi ngga enak badan, kirim dokter cewek ya..!" pinta Devilito pelan kemudian sambil melirik istrinya yang pas pula sedang melihat ke arahnya dan melotot,
"Harus cewek gitu..?"
"Gue ngga mau dia di periksa dokter lakik!", jawab Devilito tetap melihat ke arah pelototan mata istrinya, untuk memastikan tujuannya sambil mengedipkan mata pada sang istri.
"Ooh..yaudah, sebentar gue kirim, tunggu ya", sambungan ternyata sudah terputus. "Ckk gue jitak lama-lama nih orang, belum selesai ngomong di putus aja !", Marcel di seberang sana menggerutu kesal.
Kemudian Devilito mengambil sendiri baju dan celana kerjanya di walk in closet, setelah itu membawa dasi ke hadapan istrinya, minta di pasangkan.
Tiba-tiba...
Pintu kamar di ketuk, Devilito membuka pintu, ada bibi ternyata. "Tuan, sarapannya sudah siap, mau di bawa ke kamar aja atau gimana?".
"Bawa ke kamar aja ya bik", Lorena yang menyahut dari atas tempat tidur. "Iya bik, bawa kesini aja, kita sarapan di kamar", imbuh Devilito menambahkan.
"Baik Nyonya ", sahut bibi lalu kemudian bertanya, "Nyonya lagi sakit, tuan?".
"Iya bik, nanti ada dokter yang datang, anterin langsung ke kamar ya".
__ADS_1
45 menit kemudian, kembali pintu kamar di ketuk. "Tuan, dokternya sudah datang" lapor sang bibi setelah pintu di buka Devilito. Di samping si bibi seorang dokter wanita sangat cantik menyapa ramah, "Pagi pak Devi, saya dokter Hanna dapat rekomendasi dari Dr. Marcel untuk kesini", katanya sambil mengulurkan tangannya.
Devilito menjabat tangan dokter itu sebentar lalu mempersilahkan masuk. "Silahkan dok .!".
Si*l*n...ini pasti di sengaja sama si Marcel , Devilito garuk-garuk kepala belakang nya yang ngga gatal.
"Pagi bu Lorena, lagi kenapa bu...?", sapa dokter lembut dan tersenyum pada Lorena, sambil membuka tas berisi peralatannya, Ia duduk di tepi ranjang bersiap memeriksa.
"Ngga tau dok, badan aku beberapa hari ini lemas rasanya, tapi kali ini agak lebih".
"Udah sarapan..?", sang dokter meraba kening Lorena, "Selain lemas apa lagi yang di rasa, hm..?" lalu dokter Hanna melirik sekilas ke arah Devilito yang berjalan perlahan mendekat ke istrinya.
Entah kenapa, Lorena justru menatap suaminya, dan berkata...
"Yank, kamu udah telat loh..kasih contoh yang baik sama bawahan di kantor, berangkat gih !", perintah Lorena pada suaminya. "Kan kita belum tau kamu lagi kenapa yank..?, ntar ka...", Devilito belum menyelesaikan kalimatnya sudah di potong,
"Udah berangkat aja, aku ngga apa-apa kok, gih sana berangkat !", mata sang istri agak mendelik, perintah.
Dokter Hanna mengulum senyum menunduk, Ia mengerti...
Devilito tergugu tak mengerti, Ia melirik dokter Hanna sekilas yang mengulum senyum, lalu berpindah pada sang istri. Ia seperti orang bodoh berdiri di situ.
"O yaudah, nanti tolong kabari saya ya dok, istri saya kenapa-kenapa nya.", ucap sang suami terkesan jahil pada istrinya. "Ngga usah dok, biar aku aja yang ngasih tau kamu, udah sana berangkat..!", Lorena yang menjawab ketus dan memberikan tatapan membunuh.
Kembali, sang dokter mengulum senyum melihat suami istri ini. Hmm...
"Yaudah, aku berangkat ya..", Devilito berbalik badan bersiap pergi. "Tumben..?", Lorena protes melihat suaminya pergi begitu aja.
"Oh iya, hehe..", Devilito berbalik, lalu mencium kening istrinya, "Aku berangkat yaa".
"Oh iya dok...nant", Devilito berhenti sebentar di pintu,
"Ihh..!!"
Devilito buru-buru pergi, menghilang di balik pintu. Adegan yang terlihat sukses membuat dokter Hanna ingin tertawa sebenarnya, tapi Ia tahan.
Telepon seluler Marcel berdering, Ia melirik layar terpampang nama sahabatnya,
"Halo bro..",
"Ehh kam***t..lo kirim dokter kayak begitu, gue mau di rebus sama Rena!"
"Hahahahaha..." Marcel tertawa lepas, sukses mengerjai suami istri itu.
-
-
__ADS_1
Bersambung...