
Mereka berempat mengobrol ringan, tidak ada pembicaraan yang berarti, Giring yang sedikit kikuk dan Cerlotta lebih banyak diam membuat Lorena jenuh. Beberapa kali Ia memberi kode pada Devilito lewat matanya untuk segera pergi dari situ, tapi sepertinya Devilito tidak peka.
Devilito pun sebenarnya juga tak ingin berlama-lama disitu. Berulang kali dia mencoba membuka percakapan tapi itu tadi, suasana canggung. Giring yang dia pancing untuk bercerita memposisikan dirinya seperti orang yang kepergok selingkuh, gugup. Sedangkan Cerlotta lebih banyak diam asyik memainkan ponselnya.
(Yank, ayo tinggalkan mereka berdua, aku jenuh..!).
Sebuah notifikasi masuk, Devilito membaca pesan yang dikirim istrinya itu, lalu menganggukkan kepalanya.
"Okeh..sob, gue tinggal ya, gue ada perlu mau nyari keperluan buat Lorena dulu", Devilito beralasan lalu menepuk kedua pahanya dan berdiri, di ikuti Lorena.
Giring jadi makin serba salah, dia dalam posisi tidak siap bertemu dengan Devilito saat seperti ini.
"Santai aja sob...", Devilito berbisik ke telinga Giring seolah membaca rasa tak nyaman sahabatnya itu. Cerlotta melihat gerakan Devilito, dia melirik tajam dalam duduknya ke arah Giring dan Devilito, Ia salah tanggap, lalu...
"Aku mau bicara sama kamu sebentar..!", Cerlotta berdiri memberi isyarat pada Devilito untuk mengikutinya, Devilito mengangguk sebentar seperti minta ijin pada Lorena, lalu mengikuti.
Giring dan Lorena kembali duduk, menunggu.
"Apa yang kamu bilang sama Geri..?", Cerlotta langsung mencecar Devilito setelah mereka beranjak tidak jauh dari tempat tadi, tangannya bersilang di dada.
"Aku ngga bicara macam-macam Cerry, aku ha..."
"Dia menyukaiku..", Cerlotta memotong ucapan Devilito kemudian. "Aku tahu..", Devilito menjawab pendek, Ia bersyukur sahabatnya itu berani mengungkapkan rasanya pada Cerlotta. "Dia sudah lama menyukaimu, dari dulu..", sambungnya selanjutnya.
"Karena itu, kamu menolak jodoh..?", selidik Cerlotta, matanya menyipit mencari kebenaran di mata pria yang memporak-poranda kan hatinya ini. "Bukan, karena aku memang menganggap kamu adikku, keluargaku", jawab Devilito tegas, namun matanya menyiratkan permohonan. Mengertilah Cerry...
"C'mon adikku..Gery itu orang baik, kalau dia macam-macam, tangan aku sendiri yang akan mematahkan lehernya !".
"Aku bisa jaga diriku sendiri !", mukanya merona, berdesir mendengar panggilan Devilito barusan, ada genangan air di pelupuk matanya.
"Hah..! Serius..??, aku mau punya ponakan ?", suara Giring yang sedikit menggelegar, memecahkan syahdu nya suasana percakapan Devilito dan Cerlotta. Dua-dua nya serentak menengok ke arah suara itu.
Beberapa menit sebelumnya....
"Rena, gimana kabar kamu sekarang ?", tanya Giring membuka obrolan dengan Lorena setelah kedua sahabatnya itu pergi. "Baik kak, kak Giring sendiri gimana..?", Lorena menjawab, tetapi matanya tiap sebentar melirik ke arah Devilito dan Cerlotta berbicara yang tidak jauh dari situ. Tak bisa di pungkirinya, Ia cemburu. "Kak..gimana dengan Cerlotta?", Lorena melanjutkan kalimatnya tanpa menunggu jawaban sebelumnya dari Giring. Matanya mengerling meledek pria di depannya itu.
"Hah..?, maksud kamu ?", Giring tak siap dengan pertanyaan itu, "Aiish..kakak tau kok maksud aku, terusin kak..aku dukung !", Lorena mengepalkan tangan memberi dukungan.
"Oohh..ehh iya, kamu keliatan agak gemukan sekarang, tapi keliatan sedikit pucat, kamu sakit..?", Giring mengalihkan pertanyaan dengan pertanyaan. "Ciiee...grogi yaa", Lorena menunjuk muka Giring, Ia tahu pria itu tak mau jawab, "Aku lagi hamil kak !", lanjutnya memberitahu.
__ADS_1
"Hah..! Serius..??, aku mau punya ponakan ?", Giring terlonjak kaget dengan suara nya sendiri, lalu menutup mulutnya. "Udah berapa lama..?", Giring memelankan suaranya.
"Suara lo b**o !, pelanin..!", Devilito tiba-tiba udah di samping Lorena, ingin menjitak kepala sahabatnya itu. "Heh..cabein beneran ntar itu mulut !, kasar bener omongan, ada inii..", Lorena melotot sambil mengusap perutnya. "Ehh maaf yank !", Devilito menutup mulutnya.
"Ada apa.., hm ?", Cerlotta angkat bicara, Ia tak mengerti ada apa sebenarnya.
"Lorena hamil", Giring yang menjawab pelan, hasrat hati ingin merangkul Cerlotta saking girangnya tapi ngga jadi.
Cerlotta terdiam sejenak,
"Ohhh..", hanya itu yang bisa dia ucapkan, Ia tergugu, tak tahu bersikap seperti apa. Sekarang, Ia bertekad akan melupakan Devilito, dan mungkin menerima takdir bahwa pria itu 'kakak' nya.
Setelah berbasa basi sebentar, Devilito dan Lorena pamit undur diri dari hadapan mereka.
Sampai di luar, Cerlotta menyusul dan memanggil Lorena, "Rena..selamat ya ", ujarnya pelan, gadis itu mengulurkan tangannya menjabat tangan Lorena erat. Lorena tertegun sejenak, "Makasih yaa..", lalu tersenyum.
Cerlotta melirik Devilito dan menatap matanya...kasih aku waktu ! , dan Devilito mengangguk seolah mengerti apa yang ada dalam hati Cerlotta.
***
"Hai Cerry..hai Cerry !", Lorena ngedumel ketika mereka sudah dalam mobil menuju arah pulang. "Apa kabar kamu Cerry...", lanjutnya masih meracau sendiri, mulutnya mengerucut, muka cemberut dan Ia kesal.
Ya ampuuunnn...
Tapi, kalau dilihat istrinya dengan posisi bibir manyun begitu, menggemaskan !
Ia cubit pelan, lebih tepatnya di toel nya pipi istrinya itu, "Kamu sexy deh kalo begitu !".
Plakk ! sebuah tamparan di bahu Devilito berhasil di layangkan Lorena. "Hahaha ..gemes aku !", Devilito bergerak seolah ingin mencolek pipi nya lagi, wajah nakalnya terlihat menggoda istrinya.
Plakk..."Ihh...!", kembali Lorena memukul bahu suaminya.
***
"Kita kembali ke hotel !", Cerlotta berdiri tanpa persetujuan Giring beranjak dari situ. Giring hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat mood Cerlotta yang berubah drastis sejak kedatangan Devilito, atau mungkin setelah mengetahui Lorena hamil ?
Dia mengikuti langkah Cerlotta dan mensejajarkan nya.
Dan, Ia mengakui...Cerlotta ketika sudah di luar begini, keanggunan nya kembali menjadi ciri khasnya. Tadinya terlihat rapuh, sekarang ini sangat berbeda. Langkah tegas dengan kaca mata hitam, tak peduli keadaan sekitar orang-orang yang beberapa memandang takjub. Giring berusaha mengimbangi langkah gadis itu sampai di meja valet , meminta mobilnya.
__ADS_1
"Apa kita pindah tempat aja ?", tanya Giring mencairkan suasana beku. Cerlotta gelengkan kepalanya, "Kita kembali ke hotel, aku ingin istirahat aja", jawabnya datar dengan pandangan lurus ke depan. Giring tak berkata apa-apa lagi, Ia konsentrasikan diri menyetir mobil.
Keheningan terasa di antara mereka, tak ada percakapan selama beberapa saat.
"Istrinya hamil..", lirih ucapan Cerlotta secara tiba-tiba membuat Giring kaget, Ia melihat gadis di sampingnya itu, tak ada air mata memang, tetapi wajahnya menggambarkan keputus-asaan.
Giring perhatikan jalanan kemudian, ketika menemukan tempat yang agak sepi, Ia pinggirkan kendaraannya. Cerlotta tidak bereaksi dengan tindakannya itu.
Sekarang, Ia harus lebih agresif...
Giring memberanikan dirinya meraih dan memegang punggung tangan kanan Cerlotta. Gadis itu agak tersentak, tapi tidak menarik tangannya, sekilas Ia melirik ke arah Giring, lalu kembali mengalihkan pandangan ke depan. Tangannya sekarang dalam genggaman kedua tangan Giring.
"Cerry, saatnya kamu berdamai dengan perasaan kamu tentang Devi, saatnya kamu untuk memikirkan diri kamu sendiri.." Giring menjeda kalimatnya,
"Tentang perasaan itu, berjuanglah dengan orang yang ingin sama-sama berjuang, bukan dengan orang yang tidak ingin memperjuangkan perasaan kamu", Giring melanjutkan kata demi kata nya, Ia tak tahu apakah Cerlotta mengerti dengan kalimat nya itu, yang entah dari mana dia dapat, terlontar begitu saja.
Giring menarik nafasnya sejenak, dan bersiap melanjutkan kalimat berikut,
"Dan..."
"Cukup Gery, aku tidak butuh kata-kata pujangga, kata-kata hiburan... aku bukan anak kecil atau remaja yang sedang jatuh cinta, aku wanita dewasa !" Cerlotta memotong kalimat Giring, Ia menatap pria di sampingnya ini datar, lalu mengalihkan kembali arah pandangannya ke depan. Tangannya dia tarik dari genggaman Giring.
Ahh ya, Giring lupa..ini wanita didikan eropa yang terbiasa langsung ke titik persoalan, bukan seperti kalimat tadi. Tak perlu kata rayuan dan tak perlu kata pujangga.
"Cerry, menikahlah denganku...", Giring akhirnya mengeluarkan kalimat pamungkasnya.
Cerlotta terdiam, kembali dia tatap mata Giring melihat kesungguhan pria ini dari manik matanya..dia orang baik, bertanggung jawab, worker, dan tak lupa...ganteng!.
Giring tidak grogi di tatap seperti itu, "hmm..?", Ia mencoba meminta jawaban dalam posisi aksi tatap-tatapan.
"Beri aku waktu untuk menata hati aku, bisa..?", Cerlotta pun beri jawaban, matanya meredup meminta pengertian.
Bagi Giring jawaban seperti itu adalah sebuah jalan bukan penolakan. "Baik, dan beri aku jalan untuk membantu menata hati kamu, bisa..?", Giring membalikkan pertanyaan, dan mengusap kepala gadis itu pelan.
Cerlotta mengangguk kepalanya, meng-iyakan.
Yess !!...Giring mengepalkan tangannya, lalu men-starter mobil melanjutkan perjalanan. "Eh..aku belum menerima lamaran kamu loh !, kenapa senang ?", ujar Cerlotta tapi melemparkan senyum smirk nya.
Tapi itu terlihat manis di mata Giring dan Ia mengedipkan sebelah matanya ke arah gadis itu. Kemudian menekan gas mobil Rubicon meninggalkan area sepi.
__ADS_1
-
Bersambung...