Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.58 Trip to Melbourne


__ADS_3

Melbourne adalah perpaduan dari lorong jalan yang ramai, restoran yang berkelas dunia serta museum yang menawan. Kota yang di resmikan oleh Ratu Victoria pada tahun 1847 ini adalah Ibukota di negara bagian Victoria yang padat dan sekaligus kota terpadat kedua di Australia dan Ocenia.


Ya, disinilah mereka sekarang. Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 6 jam dari Jakarta, mereka sampai di bandara Tullamarine, bandar udara di kota Melbourne yang di buka pada tahun 1970 menggantikan bandar udara sebelumnya yaitu Essendon.


Melbourne...


Tidak tanggung-tanggung, Robert Tanjaya mengerahkan empat mobil jenis Alphard keluaran terbaru untuk menjemput dua orang petinggi Lidah Api, Devilito dan Cerlotta yang berangkat dengan tim terkuatnya ke benua Kangguru itu dengan menggunakan pesawat pribadi.


Sedangkan sang asisten perusahaan Hendra dan sekretaris Indriana, berikut Linggar serta dua orang asistennya yang telah sampai tiga puluh menit lebih awal, sudah mereka jemput terlebih dahulu dan langsung menuju hotel penginapan mereka di pusat kota.


Mereka tengah menyusuri jalan-jalan di Melbourne seperti serasa jalan utama, sangat sibuk. Namun tidak demikian ketika mereka sampai menyusuri lorong jalanan di Union Lane, susuran jalan yang sepi akan terasa seperti berada di dunia yang berbeda, jalan ini di dominasi oleh karya seni jalanan nan selalu berubah yang menghiasi setiap dinding, sebuah kreasi yang berwarna-warni !.


Iring-iringan konvoi empat mobil Alphard memasuki tengah kota. Mobil terdepan berisi lima orang pengawal kepercayaan Robert, di ikuti mobil kedua berisi Robert sendiri yang menemani Devilito, Cerlotta, Marcel dan Giring.


Sedangkan, deretan mobil ketiga di isi Dominique, Tito, Dasmond, Donny, Hensly dan tak ketinggalan pula Melvin. Dan, mobil terakhir kembali di isi oleh lima orang pengawal kepercayaan Robert lainnya.


Tak ada percakapan pribadi yang terjadi antara Devilito dan Cerlotta sejak awal keberangkatan dari Jakarta, mungkin sudah menjadi komitmen tersendiri di hati masing-masing atau memang Cerlotta yang sudah bisa melepaskan perasaannya terhadap Devilito. Toh, sekarang dia sudah punya hati yang harus Ia jaga bukan ?.


"Kamu ingin menikmati kopi dulu, Cerry..?", tanya Devilito pada suatu saat, ketika mereka meninggalkan pusat kota arah menuju selatan, menyusuri pinggir sungai Yarra. "Hmm..boleh !", Cerlotta berubah ceria ketika mendengar kata kopi, "Honey..mau ?", ujarnya selanjutnya sambil memutar kepala menengok ke belakang, ke arah Giring.


Giring agak tersentak dapat tawaran dari Cerlotta, bukan itu.., lebih tepatnya karena panggilan. Beberapa detik Ia belum menjawab, masih terkesima namun menganggukkan kepala kemudian sambil menjawab, "Ok !" pendek. Di barengi dengan getaran ponselnya dua kali, ada notifikasi WhatsApp masuk. Ia baca sambil mendelik.


(Honey..mau yaa) - dari Devilito.


(Aku juga mau...Honey) - dari Marcel.


Serentak Ia balas pada keduanya dengan kata yang sama, (K**p**t !!).


Tapi, wajah ketiga pria yang saling meledek itu tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, tetap datar. Andai Cerlotta tahu entah apa yang terjadi.


Konvoi mobil sedikit tersendat ketika mobil paling depan seperti menginjak rem, salah satu anggota di dalam mobil terlibat perdebatan dengan satu buah anggota mobil sedan mirip Lancer tetapi sudah di modifikasi turbo. Terlihat, orang yang di mobil Lancer itu menunjuk jarinya, tak terima mungkin, karena jalan mobil mereka di potong oleh Alphard.


Namun, kejadian tak berlangsung lama setelah Robert menelpon sopir yang mobil depan untuk mengalah, tak perlu di tanggapi. Dan, percakapan yang terhenti kembali berlanjut.


Robert yang duduk paling depan di samping sopir, antusias dan langsung bertindak seolah sebagai guide, "Nanti kita berhenti di kafe, namanya..." Ia mencoba mengingat-ingat sebentar, lalu "namanya Market Lane".


"Dimana itu..?", sahut Cerlotta. Ia memang pencinta kopi.


"Di Prahran Market, sebuah kafe dan tempat sangrai kopi single dengan originnya yang istimewa. Espresso dan kopi pour over nya di sajikan dengan kue, roti dan lainnya".

__ADS_1


"Kopi sangrai..?, berarti dia menjual dengan bijinya, atau gimana tuh ?", tanya Devilito tak mengerti, karena dia bukan penikmat kopi sejati.


"Betul ketua, tempat ini menjual kopi dan bijinya dari satu perkebunan dan peralatan penyeduhan serta menawarkan pencicipan dan kelas menyeduh yang meliputi kopi pour over, aeropless dan plunger", Robert menyambung penjelasannya.


"Sepertinya Anda sering berkunjung di tempat itu, pak Robert ?", ujar Cerlotta kagum, "Dan, Anda cukup menguasai ilmu perkopian", lanjutnya sambil tersenyum.


"Hehehe tidak terlalu sering ketua, tapi saya sangat menyukai kopi", Robert tersipu dengar pujian itu.


Sejenak, Robert menghubungi seseorang. Ia berniat mem-booking kafe itu dan meminta untuk mengosongkan lantai bagian atasnya.


"Tapi ada loh, yang ngga suka kopi".


Robert dan Cerlotta serentak menengok ke belakang, "siapa ?", tanya Cerlotta mengarah ke Marcel. "Siapa lagi...pria yang di samping ini", Marcel mengangkat dagunya, menuding Giring.


"Kamu tidak suka kopi..honey ?, kok aku baru tahu ?", Cerlotta mengernyitkan keningnya, "Bukan ngga suka, hanya sesekali aja", jawab Giring diplomatis.


Nah, yang kebingungan disini adalah Robert. Wajar, dia adalah salah satu anggota senior dalam jaringan dan informasi yang dia dengar kalau Cerlotta menjadi tunangan Devilito, tapi ini..?


Ah sudahlah, itu urusan mereka


***


Malam itu, mereka berkumpul di bar kecil ruang samping sambil minum anggur, namun Devilito seperti biasa hanya minum air mineral, Ia tidak menyukai wine.


Robert kemudian menerangkan tentang bagaimana pergerakan anggota jaringan H******g yang makin tak terkendali, dan terang-terangan memprovokasi Lidah Api.


Seperti tadi, mobil sedan yang berdebat dengan konvoi mobil di depan, itu adalah salah satu bentuk provokasi mereka.


"Owh, jadi itu mereka ?", Cerlotta angkat bicara, Ia memandang Devilito yang juga sama kagetnya. "Tapi kenapa cara mereka mirip gangster amatiran yah ?", sahut Devilito menambahkan sambil mengetukan jari-jarinya ke meja, berpikir.


"Kamu tahu dimana markas mereka ?", Devilito terpikir sesuatu. "Tahu, itu baru kemarin sore anak buah saya menyelidiki, di sebuah kawasan sebelah utara kota, daerah perkebunan juga".


"Sudah pernah terjadi konfrontasi fisik dengan mereka?", Cerlotta kembali angkat bicara.


"Sudah dua kali, pertama di pusat kota malam hari, dan dua orang anggota kita terluka, satu robek di perut terkena sabetan sajam dan satu lagi luka ringan terkena pukulan. Dalam kejadian itu kita kecolongan".


"Yang kedua, kapan ?", tanya Devilito.


"Yang kedua, juga malam hari di sebuah bar, tiga orang dari mereka, kreek !", Robert menyilangkan tangannya membentuk tanda 'X', berarti mati !.

__ADS_1


Devilito dan Cerlotta berpandangan, sepertinya mereka harus segera bertindak.


"Senjata yang mereka gunakan, kebanyakan memakai apa Robert ?, senjata api atau senjata tajam ?, karena saya dengar tadi, anggota kita terluka oleh sajam", Giring yang dari tadi menyimak, angkat bicara.


"Rata - rata mereka menggunakan sajam, mungkin senjata api mereka ada, tapi dua kali clash , mereka tak menggunakannya. Mereka mengandalkan kemampuan beladiri, ciri khas mereka".


Devilito manggut-manggut, "Kalo gitu, besok malam kita bergerak, persiapkan diri kalian. Dan, kamu Robert usahakan informasi tentang gerakan kita tidak diketahui musuh dan pihak keamanan, jangan sampai berisik", perintahnya kemudian sambil mengidari pandangan ke arah anggota yang hadir.


"Gimana, Cerry..kamu setuju ?", Devilito melirik ke arah Cerlotta yang duduk di sebelahnya,


"Aku ikut kamu brother, kamu yang pegang kendali", sahut Cerlotta sambil mengedipkan matanya.


"Kalo gitu kita coba buka peta !". Devilito kemudian menerima sebuah kertas besar berupa peta dari tangan salah satu tangan Robert. Mereka membahas cara-cara masuk dan pengepungan. Devilito tetap menyarankan membawa senjata api untuk jaga-jaga. Perintah selanjutnya, gerakan ini harus tuntas. Menurutnya lagi, ini kelompok kecil, hanya orang - orang bayaran Raymond.


"Oh ya, posisi Raymond dimana, hm ?", tanya nya mengarah ke Robert selanjutnya. "Raymond ada di markas ini, sedangkan Aksan ada di suatu rumah disini, sepertinya dia tidak terlibat di markas", Robert menerangkan sambil menunjuk ke arah map.


"Aksan, saya masih curiga hubungannya dengan Raymond itu seperti apa, nanti kamu kirim beberapa orang untuk menangkap Aksan, jangan di bunuh, saya ingin menyeretnya dan membawanya ke Indonesia"


"Raymond dan Aksan itu siapa ?", Cerlotta bertanya heran, dia belum pernah mendengar kedua nama tersebut.


"Raymond itu salah ketua elPaso, adik tiri mertua aku yang berkhianat, sedangkan Aksan adalah suaminya Kirana".


"Ohya ??, suami Kira..? kok aku ngga dapat info itu ?", Cerlotta menjeda kalimatnya, "banyak kejutan ternyata di lingkaran hidup kamu", lanjutnya kemudian dengan cibiran sambil menepuk bahu Devilito pelan.


Devilito tak menanggapi guyonan Cerlotta, "Baik, saya rasa cukup dulu sampai disini, persiapkan diri kalian, karna esok malam mungkin hari yang cukup berat", Devilito menjeda kalimatnya sambil menatap anggota yang hadir, "dan persiapkan orang-orang terbaikmu, Robert !".


"Siap ketua !".


***


Beberapa anggota Robert pamit bubarkan diri, tinggal kini di ruangan itu anggota inti.


Devilito memanggil Robert yang sedang mengobrol dengan Marcel, "Bagaimana dengan proyek, Robert ?".


"Waah..ini urusannya sudah lain, kita ngobrol disana yuk !", Cerlotta mengajak anggota lain pindah ke balkon lantai dua yang sangat luas, pemandangan alami melihat hamparan luasnya kebun anggur terpampang dari sana.


Robert kemudian meminta sebuah bindel berisi kumpulan dokumen proyek pada salah satu anak buahnya. Dan, menerangkan hal-hal penting tentang proyek tersebut. Robert mengusulkan kalau perusahaan Devilito ikut bergabung dengannya, tapi Devilito menolak dengan alasan profesionalitas. Ia tetap ingin maju bergabung dengan Silver Corp nya Linggar saja, yang berarti dibawah kendali Golden Mas nya Robert.


-

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2