Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.39 Hari Ini Panas


__ADS_3

--Dikantin--


"Sejak kapan kamu kembali ke Indonesia, hm..?" tanya Devilito dengan wajah datar, Ia sengaja pindah duduk bersebrangan dengan Shania yang berusaha untuk mendekat padanya.


"Sejak aku menerima tawaran menjadi dosen di kampus ini, tiga bulan yang lalu" Shania menjawab sambil menyeruput jus alpukatnya, tangannya kemudian berusaha meraih tangan Devilito, tapi di tepis. "Ngga usah pegang² tangan, bisa..?" Devilito menjawab sambil memundurkan tubuhnya, lalu menyilangkan tangan di dada, tatapannya mengintimidasi Shania.


"Siapa yang menawarkan kamu jadi dosen disini..?"


"Devi..bisa ngga kamu bersikap hangat seperti dulu?, aku tau aku bersalah sama kamu dan aku minta maaf" Shania menatap manik mata Devilito. "Ckk..kenapa dengan sikap aku Sha?, sekali lagi aku tanya, siapa yang menawarkan kamu jadi dosen disini?" Devilito mengulang pertanyaannya, matanya menyipit tanda tidak suka dengan pengalihan kalimat Shania.


Shania memundurkan tubuhnya kebelakang, sejenak Ia perhatikan pria yang dulu sangat mencintainya ini, telah berubah atau sengaja menutup perasaannya padaku? , "Sikap kamu bisa ngga seperti dulu..?, aku tau kamu sangat mencintai aku!, dan kamu sengaja menutupnya sekarangkan?", Shania menekankan kalimatnya.


"Wow..keren banget bahasa kamu Sha ckckck", Devilito geleng² kepala berapa kali, kemudian Ia memajukan tubuhnya, "Dulu, harusnya kamu bersyukur kalau Cerlotta hanya menyuruhmu pergi jauh, demi keselamatan kamu!, andai aku yang tahu duluan, yakin kamu masih bernafas sekarang, hm?", Devilito menekankan kalimatnya, memajukan wajahnya menatap balik manik bola mata Shania, melemparkan senyum mengejek.


"Ketika aku peduli, aku mencintai..kamu kemana??, kamu selingkuh? trus, sekarang kamu bertanya aku mencintai kamu, Shania..hahaha, lucu kamu!"


Shania menghapus genangan air matanya dengan punggung tangannya. Ia merasa terhina disini. Tapi, Ia membenarkan penyesalan dalam dirinya sendiri. Ia di tinggalkan oleh kekasihnya, tepat dua hari sebelum hari pernikahannya. Karma itu ada. Tapi entah kenapa, Ia justru bertekad ingin kembali membuat Devilito jatuh cinta padanya.


"Aku tau, aku salah...aku minta maaf" Ia menundukkan kepala, Shania menyesali tindakannya dulu. " Maaf sudah aku berikan dari dulu, kamu tau aku, sekalinya aku mengambil keputusan, tidak akan berbalik, ingat itu!" jawab Devilito tegas. "Dan, aku sudah menikah sekarang.." lanjut Devilito tersenyum, Ia membayangkan wajah istrinya.


"Hah..?, kapan? dengan Cerlotta" Shania mendelikkan matanya, syok. "Oh, bukaan..dengan seseorang yang sangat aku cintai!".


"Cerlotta gimana?, atau dia tidak tau ?" Shania menyipitkan matanya, melihat ada secercah harapan untuk menghancurkannya.


"Haiii..selamat siang, boleh ikut gabung..?", tiba - tiba Lorena sudah duduk di antara mereka berdua, Ia sudah mendengar dari tadi percakapan mereka berdua, dan Ia bangga sebenarnya dengan suaminya yang tidak terpancing, tapi sebagai wanita, Ia tak ingin suaminya semakin memukul perasaan dosen ini.


"Loh..kamu ngga bel..".


"Shuutt.." ucapan Devilito di potong Lorena.


"Kamu ngapain kesini? kamu ngga mengerjakan tugas yang saya kasih tadi?", tanya Shania formal, Ia terkejut kedatangan Lorena dan langsung duduk di antara mereka, terkesan tidak sopan.


"Lah..Ibu juga ngapain disini berduaan lagi jam mengajar coba?, ngga memberi contoh namanya itu kan?", untung ngga gue bilang berduaan ama suami orang lo!.


Devilito terkekeh , geleng² kepala lihat kelakuan istrinya, istri mafia harus begini ya? bar-bar.


"Diam..! jangan ketawa² !" Ia memberikan tatapan mematikan ke arah suaminya. Shania sendiri menutup mulutnya yang membulat, tak percaya dengan kelakuan mahasiswi nya ini. Atau..? jangan² ..? Ia berspekulasi dalam dirinya.


"Lorena..!, kamu tidak sopan berbicara seperti itu, emang kamu pikir siapa lawan bicara kamu hm?" Shania marah memukul meja pelan menatap tajam Lorena.


"Loh, Ibu tanya aja sama bapak ini, saya istri pemilik kampus ini..bener kan pak?" mimik Lorena kembali mengintimidasi suaminya.

__ADS_1


Dua meter di belakang, Dita tak kalah melongonya melihat kelakuan temannya ini, Ia ingin menarik Lorena dari situ tapi kakinya terpaku, geli sih sebenarnya, Ia justru ingin melihat adegan selanjutnya. Pria itu, dia pernah kenal, ada apa antara Lorena dengan pria itu?.


Devilito hanya garuk² kepala, ngeri-ngeri sedap ngeliat istrinya kalo cemburu.


"Ngomong donk pak?, jangan cengar-cengir doang!, benerkan yang saya bilang tadi?" Devilito makin ngga berkutik menjawab. Sedangkan Shania lebih kaget lagi, Ia tergugu..sepanjang Ia mengenal Devilito, belum pernah ada manusia yang berani menekannya, kecuali yang Ia lihat di hadapannya ini. Siapa dia ini, istri pemilik ?


"Huh..!, Lorena, kamu akan menerima akibat tindakan tak sopan kamu ini" Ia menunjuk muka Lorena, lalu berdiri bersiap pergi dari situ.


"Ibu yang harus pikirkan diri Ibu, masih bisa ngajar disini atau ngga!" jawab Lorena tak mau kalah. Ikut berdiri bersiap pergi dari situ juga.


"Aku tunggu penjelasan kamu nanti!" ucapnya dengan muka kesal. "Ok tapi jangan suruh puasa ya, hehe" jawab Devilito cengir. "Ihh...ayo Dit, kita balik lagi".


"Yank, mau kemana sih?, temanin aku minum disini"


"Bodo amat!"


(Yank, aku kembali ke kantor aja ya, nanti aku jemput lagi) Devilito mengirim pesan singkat pada istrinya.


(yaudah! 😠) tak sampai satu menit istrinya langsung membalas.


(😘) Ia cukup membalas dengan emot itu.


Devilito berpikir sejenak, hmm boleh juga nih, nanti Lorena di ajak sekalian hehe, Ia bergumam pelan, menstarter mobil.


"Ok" jawabnya singkat lalu memutuskan sambungan telepon. "Yah..bapak, saya mau kasih tau ada yang menunggu, udah di putus aja" Indri menutup teleponnya kemudian.


***


Donita sudah hampir satu jam menunggu kedatangan Devilito di ruang tunggu depan sekretaris Indri. Resepsionis sudah mendapat ijin dari Indri kalau Donita sebaiknya menunggu di lantai 5, Indri tidak ingin kejadian seperti istri bosnya yang harus menunggu di lobi. Ini kakak istri bosnya.


"Kira..?, udah lama nunggu?" Devilito baru keluar dari lift. "Baru satu jam sih," jawab Donita meledek. "Hmm tumben kemari, ada apa nih?, ayo di ruangan aku aja" Devilito berjalan mengikuti langkah Indri yang lebih dahulu untuk membuka pintu ruangannya.


Donita masuk mengikuti Devilito dan duduk di sofa tunggu. Berdua dalam ruangan ini membuatnya gerah. Resiko terhadap perasaannya yang sedang Ia tata.


"Hmm kamu merasa ngga nyaman?..Indri !, kesini.." Devilito memanggil sekretarisnya untuk menemani mereka. "Kamu pake ini, silahkan dengerin lagu lewat Hp kamu atau nonton YT !" katanya menyerahkan headset. Indri mengerti apa yang di maksud bos nya, tanpa banyak tanya Ia menerima lalu menonton drakor kesukaannya, mumpung ah.


"Yaudah, sekarang kamu mau ngomong apa?, dia ngga akan denger" Devilito melirik Indri yang duduk jauh di pojok dekat pintu masuk.


"Ng..gini, aku mau tanya sebenarnya Aksan kemana sih?, dia ngga ada kabar sama sekali?" tanya Donita ragu², Ia ngga enak hati menanyakan Aksan pada Devilito, tapi Ia ngga tau harus nyari info kemana, Ia yakin Devilito tau.


"Ouwhh..Aksan dan Raymond itu sekarang di Hongkong, Ia sedang berusaha menjalin hubungan dengan Triad disana, suatu saat akan kembali kesini" jawab Devilito tenang, Ia memang mengirim mata²nya untuk memantau pergerakan dua orang itu.

__ADS_1


Donita tidak menanggapi omongan Devilito, Ia hanya menunduk sedih, Ia berlinang air mata.


"Aku ngga tau harus ngomong gimana ama kamu, nanti kamu bisa salah tanggap..intinya suami kamu dan Raymond itu berniat membungkam papa bahkan mungkin akan membunuh, makanya aku tanya dulu, kamu tau ngga katar belakang Aksan?"


"Ya, aku hanya tau nya dia bersikap baik termasuk sama papa sebenarnya, makanya aku heran waktu kamu bilang mau berkhianat"


"Tadinya aku juga berpikir begitu, hanya Raymond yang berkhianat, tapi ketika Lorena mengalami dua kali penculikan, aku menyelidikinya, ternyata Aksan terlibat disitu, dia kan dosen di kampus Lorena".


"Sekarang, gimana keadaan kamu? perasaan kamu terhadap Aksan setelah kejadian begini?" lanjut Devilito kemudian.


"Aku ngga ngerti sekarang gimana, aku nikah memang di jodohkan, tapi aku cinta sama dia" Donita sekarang tidak ada penghalang lagi berbicara dengan Devilito, Ia berusaha menerima beberapa waktu yang laku, bahwa ini adik iparnya.


Tak terasa hari sudah sore, Devilito lupa menanyakan istrinya mau di jemput atau ngga. Ia memberi kode sebentar pada Donita untuk menelpon Lorena.


(Yank..kamu pulang jam berapa?) tanyanya ketika sambungan telepon di angkat Lorena.


(Aku udah pulang naik taksi!)


(Hah..??, kok ngga ngabarin?)


Pintu ruangannya terbuka, sang istri masuk dan kaget mendapati kakaknya ternyata ada di ruangan itu.


"Loh..kakak, kapan sampai disini?, sendiri aja?" Ia bertanya tapi matanya melirik ke suaminya, tajam!.


"Aku ada perlu ama suami kamu dek, itu ada Indri yang nemanin" Donita menunjuk kearah Indri yang sedang ketawa ketiwi nonton drakor.


"Ooh..kirain berdua doank hehe..dari tadi melihat orang berdua² mulu aku" katanya ngadu ama kakaknya.


"Siapa dek?" tanya Donita, melirik Devilito, Ia tau adiknya pasti menyindir suaminya.


Yahh kena lagi gue ! Devilito garuk² kepala yang ngga gatal.


"Ada deh kaakk..? punya suami ganteng kan bikin deg²an mulu", katanya menyindir suaminya.


"Udah yukk, kita pulang, Kira ..kamu bareng aja sekalian ya" Devilito mengalihkan dan memutus curhat istrinya. Panjang urusannya kalo dibiarin ini mah...


-


-


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2