
Di Balkon Kamar Hotel.
"Marcel tadi menelpon gue sob, dia tadi nanya elo, katanya ponsel lo ngga aktif".
"Oh ya?, apa katanya? , gue belum buka ponsel dari tadi", kata Devilito pada Giring. Ia ingat kedua ponsel nya sengaja dimatikannya agar tak mengganggu aktifitas memijit istrinya, yang kini sedang tertidur di kamar sebelah.
"Dia nanya gue kapan balik ke tanah air, trus dia juga nanya elo kapan baliknya juga" lanjut Giring sambil menerima botol mineral yang disodorkan Cerlotta dan juga Devilito.
"Iya tuh, dia sebentar lagi kan mau nikah, sebulan lagi, elo harus pulang loh!", timpal Devilito, dan mengambil makanan kecil di meja kecil yang tersedia di balkon itu.
"Iyalah, tadi juga gue bilang, gue kan mau tunangan dulu tiga hari lagi, nah setelah itu gue pulang", Giring kemudian memegang tangan Cerlotta yang lebih memilih jadi pendengar yang baik, jika berada diantara mereka ini. Sang gadis pun tersenyum manis.
"Tapi Cerry...kamu ikut ke Indonesia juga kan?, menghadiri pernikahan Marcel?", Cerlotta yang ditanya Devilito mengangguk cepat, kemudian menegakkan posisi duduknya, "Iya dong", lanjutnya menjawab pendek. "Nanti kita ke Indonesia sama - sama aja ya", katanya melanjutkan kalimat.
"Hmm..iya, boleh nanti kita sama-sama aja", ujar Devilito menimpali omongan Cerlotta. "Ngomong-ngomong, setelah pertunangan nanti kapan kalian melangsungkan ke jenjang nikah?", tanya Devilito kemudian menatap Giring dan Cerlotta bergantian.
"Aku sih terserah kak Geri", Cerlotta mengangkat bahunya, sambil melirik Giring.
"Paling lama tiga bulan ke depan", jawab Giring dengan sedikit ragu, karena memang belum ada pembicaraan mendalam mengenai itu dengan Cerlotta.
"Elo itu ya Ger...selalu dari dulu itu ragu dalam mengambil keputusan. Pertimbangan boleh, tetapi terlalu banyak pertimbangan itu ngga baik, Ger!", kalimat teguran Devilito pada Giring membuat kekasih Cerlotta itu terdiam. Ia tahu benar, kalau Devilito sudah menyebut namanya, itu pertanda serius. "Kalo lo memang cinta dan sudah merasa yakin dengan Cerry, lakukan segera, lebih cepat lebih baik!", Devilito kembali melanjutkan perkataannya, walau sedikit menjengkelkan kalimat yang Ia sampaikan, namun kelemahan Giring harus Ia katakan.
"Sesuatu hal yang baik, sebaiknya di segerakan, jangan tunda - tunda, ambil keputusan cepat, tetapkan waktu !, ngerti ngga lo !", kali ini intonasi Devilito sedikit naik.
"Kata-kata kak Devi benar, honey...aku ikut mau nya kamu".
Giring menganggukkan kepalanya, "Iya aku ngerti, sayang...".
"Jangan manggut-manggut aja, cepat berpikir dan langsung ambil keputusan, kan Cerry udah bilang, dia ikut mau lo aja".
"Pfftt...hahaha", Cerlotta tak mampu menahan ketawanya, Devilito mengomeli Giring persis seperti bapak marahi anaknya.
"Iyaa !!..bawel banget deh lo, kayak nenek-nenek kehilangan sirih lo!" Giring kesal dan memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Kesel gue ama lo, tau ngga?, gue kira udah hampir empat bulan berduaan disini, udah ada kepastian nikah, ehh...malah tunangan !, paling paman Ludwig yang nyuruh itu, ya kan ?, karena lo ngga ada kepastian, pacaran mulu! umur lo pikirin!".
"Iya..iya..iyaaa, bulan depan kita nikah honey !", tegas Giring sedikit berteriak. Tak tahan dengan omelan Devilito, sahabat sekaligus kakaknya ini.
Cerlotta dari tadi memegang perutnya, menahan ketawa, tetapi Ia tetap anggukan kepala, meng-iyakan perkataan Giring.
"Nahh..gitu dong !, kalo perlu minggu depan, anggota Lidah Api bisa di kerahkan untuk persiapan, lagian para ketua - ketua Lidah Api ngga ada yang nikahnya pake resepsi besar-besaran, mau di tembak lo!", ucap Devilito membentuk tangannya bagaikan pistol mengarah ke Giring.
"Gue aja di rumah sakit nikahnya, ngga pake persiapan ini itu, yang penting nikah dulu, baru pacaran !, halal bos !, enak lagi ", sambung Devilito berapi - api memprovokasi Giring.
Tawa Cerlotta meledak, sampai airmata nya keluar. Sedangkan Giring hanya menekuk mukanya, cemberut.
Selama beberapa detik, keheningan terjadi diantara mereka ini, Giring terlihat berpikir, Cerlotta pun diam, entah apa yang dipikirkannya. Sedangkan Devilito menatap kedua nya secara bergantian.
"Honey..gimana kalau kita nikahnya bersamaan dengan Marcel?, di Indonesia ?", Giring memajukan tubuhnya kearah Cerlotta.
Belum sempat Cerlotta menjawab, tiba - tiba Giring tersentak ketika sebuah botol mineral di lemparkan Devilito ke arahnya dengan di iringi kalimat, "Cakeeeppp !, itu maksud gue !", ucap sang pemimpin Lidah Api ini mengangkat jempolnya ke Giring.
Cerlotta meng-iyakan kalimat Giring sambil tertawa dalam suasana yang tidak ada romantis-romantis nya ini. Dan gadis itu pamit ke dalam, mau ke toilet karena tak tahan menahan air seninya akibat tertawa berlebihan.
***
Siang itu,
Devilito, Lorena, Cerlotta dan Giring tengah bersiap untuk melakukan perjalanan ke kota Firenze atau lebih di kenal dengan nama Florence. Sekitar 300 km dari kota Milan.
Sebelumnya, pagi tadi Devilito dibuat kalang kabut oleh rengekan istri nya untuk mengantarkannya ke kota Firenze tersebut. Kota yang terkenal dengan tempat sejarah dan bangunan klasiknya. Memang, selain menyukai sastra, Lorena sangat menyukai seni dan klasik.
Perjalanan di tempuh lebih dari 2 jam, setelah melewati kota - kota lainnya seperti Parma dan Piazenca akhirnya mereka sampai di Firenze.
Kali ini, Cerlotta bertindak sebagai pandu wisatanya. Dia cukup hapal dengan kota Florence (Firenze) ini, seleranya yang hampir sama dengan Lorena tak begitu sulit baginya untuk menentukan destinasi apa yang ingin dilihat Lorena disini.
Walau dikawal oleh sekitar 15 orang anggota Lidah Api yang tersebar, Lorena merasa tidak terganggu, dia tetap ceria mengikuti langkah Cerlotta yang bercerita bagaikan tour guide sebenarnya, sedangkan Devilito dan Giring yang mengikuti di belakang hanya pasrah, mereka tak begitu menyukai seni.
__ADS_1
Cerlota mengajak mereka mengunjungi sebuah museum bernama Pallazo Vecchio. Bangunan yang terlihat seperti benteng, bergaya militer dengan menaranya setinggi 308 kaki ini terlihat sangat menawan. Oleh masyarakat Firenze, Pallazo Vecchio ini merupakan simbol kekuatan rakyat karena istana ini dibangun setelah keruntuhan menara Uber Gibelline.
Destinasi selanjutnya, Cerlotta mengajak mereka mengunjungi sebuah museum nasional Museo Nazionale del Bargello, yang banyak menyimpan koleksi seni karya-karya seniman terkemuka di Florence ini. Contohnya, adalah karya lukisan pertama yang di buat oleh Michaelangelo yang berjudul Baccus yang di buat pada tahun 1470, hingga lukisannya yang berjudul Apollo yang dibuat pada tahun 1530, masih tersimpan disini. Selain menikmati lukisan, di museum ini juga bisa di lihat berbagai macam patung dan pahatan-pahatan klasik yang dibuat pada abad ke 14. Uniknya, ada diantara pahatan itu yang terbuat dari emas yang dibuat pada abad ke 16.
Sore hari, sebelum mengakhiri kunjungan di kota Firenze ini, mereka menyempatkan waktu untuk mengopi di sebuah kafe yang berada di alam bebas, terletak di depan sebuah bangunan bekas penjara tempo dulu.
***
Devilito dan Lorena berpisah dengan Cerlotta dan Giring, mereka berdua memutuskan tinggal di Milan karena ingin nginap di rumah orang tuanya, papa Luigi. Sedangkan Cerlotta dan Giring kembali ke Sisilia. Rencananya, di hari pertunangan Cerlotta, papa Luigi dan mama berangkat bareng dengan Devilito.
Malam harinya, kembali Devilito menjadi sasaran rengekan Lorena, "Yankk..pijitin".
Malam yang indah, di antara suhu panas yang dingin, apalagi yang lebih indah selain penyatuan cinta yang halal, dan lebih nikmat selain penyatuan yang di berkahi.
***
Ponsel di atas nakasnya bergetar sampai beberapa kali, Devilito terbangun dari tidurnya, Ia melirik jam dinding diantara cahaya lampu kamar yang redup.
Masih pagi sekali..siapa yang menelpon? , lalu bangkit dan buru-buru mengangkat telpon karena nama Tito terpampang di layar.
"Halo ketua, maaf mengganggu...tapi saya harus beritahu ini", suara Tito terdengar sedikit gugup dan bergetar. "Ada apa Tito?".
"Ada musibah ketua, pak Alexander dan Non Donita di serang kira - kira tiga jam yang lalu, di tabrak truk dengan sengaja".
Wajah Devilito terdongak, tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, "Lanjutkan berita kamu!", suaranya berubah dingin.
"Pak Alex dan Donita masih dalam keadaan koma, sekarang sudah dilarikan ke Rumah Sakit, pengendalian di pegang tuan Marcel", terdengar suara Tito menarik nafasnya, "Hensly yang bertugas mengawal tertembak di perut ketika terjadi penyerangan oleh sekitar 10 an orang!".
"Bereskan !", satu kata yang pendek dari Devilito sekaligus memutus percakapan.
-
Bersambung
__ADS_1