Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.11. Ada Apa Sebenarnya?


__ADS_3

Marcel dan Giring mengumpulkan semua anggota yang ada di ruangan untuk membubarkan diri. Ia tak habis pikir dengan keputusan Devilito yang menurutnya itu sesuatu yang luar biasa. Belum pernah terjadi jika menyangkut sebuah 'hukuman' Devilito adalah orang yang tidak bisa di hentikan oleh siapapun, termasuk oleh mereka berdua. Tetapi ini oleh seorang wanita, yang belum di kenalnya!


"Kalian antarkan mereka kembali ke rumahnya" Marcel kemudian menghampiri kedua tawanan yang sedikit babak belur di hajar oleh Giring.


"Pastikan juga bahwa mereka tidak buka suara tentang kejadian ini dan menuntut balik, kalau tidak...pyufft!", Giring menambahkan sambil melirik kearah dua orang tawanan menunjukkan jari membentuk pistol.


Yang di lirik menggeleng kepala ketakutan.


"Baik bos" Tito buka suara. Sebagai salah satu pimpinan kelompok, Tito sudah cukup mengerti dengan posisi kedua petinggi ini. Dalam keadaan tertentu, suara Marcel dan Giring adalah suara Devilito.


-Di ruangan dalam-


Lorena memutuskan untuk pergi malam itu juga dari situ. Setelah melihat kejadian yang ada di depan mata cukup membuatnya takut untuk berlama-lama berada di lingkungan sekelompok orang yang menurutnya itu para preman atau gangster. Ia sangat membenci kekerasan. Itulah mengapa dia harus berdebat dan membantah papanya dan memilih meninggalkan rumah tinggal sendiri di apartemen milik mama walaupun akhirnya sang papa menyetujui namun dengan catatan bahwa Ia tidak memprotes para pengawal yang berjaga disekitar apartemennya.


Ia trauma, bukankah mamanya mati terbunuh dan kakaknya sendiri terpaksa harus menikah dan berganti identitas gara - gara bisnis papa? dan Ia pun merasa bahwa percobaan penculikan terhadap dirinya sekarang ini pasti berhubungan dengan itu.


Lorena menuju kamar untuk mengambil tas setelah Ia melihat tindak kekerasan di ruangan bawah tanah tadi namun langkahnya di halangi Devilito di pintu kamar.


"Kamu mau kemana, ini sudah malam"


"Aku mau pergi dari sini, minggir" tangannya berusaha mendorong dada Devilito ke belakang.


"Tunggu besok pagi, nanti saya anterin kamu ke rumahmu"


"Aku ngga mau !, minggir ngga...?", Lorena dengan muka mengeras tetap merangsek maju mendorong Devilito yang tidak bergeming.


"Percayalah, kamu itu tidak aman di luar sana, para penculik itu masih berkeliaran", Devilito berkata dengan nada datar sambil memegang pergelangan tangan kanan Lorena yang semakin bertenaga mendorong.


"Penculik itu kamu !!, lepasin ngga..lepasiin", tangan kiri memukul Devilito pakai tas yang kemudian menangkap pergelangan tangan kirinya sambil mendorong ke ranjang.


Dan, sekarang terlentang di pinggir spring bed dengan posisi Devilito berada di atas menindihnya sambil meregangkan kedua tangan mengunci.


Lorena mulai ketakutan dan mengeluarkan air mata, Ia menangis membayangkan apa yang akan di lakukan Devilito dengan posisi seperti itu. Ia berusaha meronta, namun tenaga nya tidak cukup kuat.


"Saya tidak akan menyakitimu, saya melindungi kamu karena di luar sana masih berkeliaran sekelompok orang yang menginginkan kamu, dan kamu tidak tahu apa yang terjadi sewaktu di distro, jadi..sekarang kamu tenang dulu disini, paham?", Devilito kemudian melepaskan perlahan kedua tangan Lorena lalu berdiri perlahan.


Itu mungkin kenapa dia sempat pergi keluar lalu kembali dengan wajah berkeringat waktu di distro ?


Lorena duduk menunduk di pinggir ranjang terisak-isak membayangkan hari berat yang di lalui nya hari ini. Ia capek!


Melihat Lorena sudah tenang Devilito berbalik keluar kamar kemudian menutup pintu dan menemui kedua teman nya yang sudah berada di ruangan utama duduk di sofa.


"Sob..gimana ?" tanyanya langsung duduk di sofa yang satu.


"Udah, beres bro..semua udah bubar dan udah di kondisikan", Marcel angkat bicara.


"Besok malam kita berangkat ke sicilia tapi menurut gue, yang berangkat kesana gue aja sama Giring bertemu uncle Ludwig, lo tangani yang disini memantau perkembangan masalah rush dan file rontgen yah"


"No problem", Marcel membentuk huruf O dengan jari.


"Dan lo sob, kira - kira persiapan besok gimana?", tatapannya beralih ke Giring.


"Mengenai rencana 'serangan' perbankan, gue udah instruksikan ke tim cyber dan tadi gue juga udah bilangin sama Tito dan Dasmond untuk mengambil daftar nama - nama nasabahnya ke cyber besok pagi, dan tinggal lihat hasilnya 2 - 3 hari ke depan" Giring memaparkan rencana yang sudah Ia susun.


"Yaudah, kalo gitu kita bubar malam ini, gue mau nginep disini," Devilito berdiri lalu berjalan menuju pintu di ikuti kedua rekannya.


"Wuiihh..hati - hati jatuh cinta lo" Giring meledek mengerlingkan matanya ke arah Marcel.


"Ngga laah, udah sana pulang", sambil mendorong kedua bahu temannya.


"Sepertinya begitu, hahaha", Marcel menambahkan.


Devilito menutup pintu memutus percakapan dan berjalan menuju kamar.

__ADS_1


Sejenak Ia berhenti melihat ke arah kamar yang di tempati Lorena, apa dia sudah tidur? kemudian membuka pintu kamar untuk memastikan keadaan.


Ia melihat Lorena sudah tertidur dalam posisi masih seperti tadi waktu Ia tinggalkan kaki agak terjuntai ke bawah dengan kepala miring ke kanan. Devilito mendekati dan sejenak Ia tertegun melihat wajah Lorena yang sepertinya habis menangis, terlihat adanya air mata di sudut matanya.


Devilito tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya dalam diri dan perasaannya.


Lalu Ia mengangkat tubuh Lorena, membetulkan posisi tidurnya. Semua Ia lakukan dengan hati - hati takut jikalau Lorena kaget dan terbangun, menghidupkan lampu tidur terakhir menyelimutinya.


-Di kediaman Alexander-


Suasana terlihat begitu tegang.


Alexander sangat murka atas kegagalan anak buahnya membawa pulang putrinya.


BrakKK...!!!


"Kalian itu tidak berguna !!!"


Ia menggebrak meja bundar, Ia berdiri dari duduknya dengan muka mengeras penuh amarah mendengar laporan bahwa anggotanya justru di pecundangi oleh satu orang tanpa perlawanan.


Tadinya Alexander ada sedikit harapan ketika mendapat informasi letak posisi keberadaan Lorena, namun harapan itu hilang setelah satu orang anak buahnya koma tertembak di perut dan satu lagi di buat pingsan sang penculik.


Ia berjalan menuju Hensly dan Melvin berdiri dan melayangkan sebuah pukulan ke perut mereka masing - masing.


Buggh..!!


Buggh..!!


Kedua nya terjajar ke belakang memegangi perut. Walaupun sudah berusia 55 tahun, Alexander masih terlihat kuat dan mempunyai power yang besar untuk membuat duo tandem bodyguard mengaduh kesakitan.


"Jika sampai besok sore putri saya belum kembali kesini, kalian akan saya bunuh !!" Ia mengeluarkan ancaman dan berlalu dari ruangan itu di ikuti oleh Raymond dan Aksan.


Hensly dan Melvin yang terkena pukulan membungkuk memberi hormat pada pimpinan organisasi mereka. Mereka berdua memang di beri kepercayaan dan tanggung jawab penuh untuk memimpin anggota oleh Alexander, jadi setiap kegagalan dalam operasi itu adalah kesalahan mereka.


***


Pagi hari....


Lorena sudah bangun dari 15 menit yang lalu. Ia masih duduk di atas ranjang, memijit pelipis mengingat - ngingat kejadian sebelum tertidur.


Perasaan gue tidur nya ngga posisi arah begini deh, kok sekarang udah ada selimut? dan lampu tidur juga menyala? apa jangan - jangan ??.. ****! gue lupa kunci pintu, tapi gue masih pakaian lengkap dan badan juga ngga ngerasain apa - apa.


Ia beranjak bangun mematikan lampu tidur lalu menuju kamar mandi. Siapa yang nyiapin air hangat?


Di depan kaca Ia mematut dirinya..


Sepertinya dia memang berniat baik, gue ngga di apa - apain, tanpa ada ancam - ancaman segala, cenderung melindungi gue dan bersikap lembut walaupun bicara irit dan mukanya datar tapi tampan...aiihh Ia menjitak kepalanya sendiri.


30 menit kemudian...


Selesai acara ritual mandi, merapikan dirinya Ia keluar kamar mau menanyakan sarapan pagi, perutnya lapar! tapi di ruang tengah kosong tidak ada orang, ahh disana ada cahaya lampu kayaknya ada orang disana


Ooh ini ruangan makan , Ia melihat dua orang suami istri paruh baya sedang mempersiapkan sarapan pagi.


"Nona sudah bangun?" pria paruh baya membungkuk hormat.


"Sama saya Sutejo dan ini istri saya ponirah, sebentar lagi bisa sarapan, tuan muda sebentar lagi kesini" sang istri ikut memberi hormat.


Lorena tersenyum membalas hormat


"Orangnya kemana pak tejo?"


"Tadi habis olahraga pagi beliau mungkin masih di kamar nona"

__ADS_1


"Panggil nama saya aja pak, Lorena ya" kembali tersenyum.


"Ehem..kamu sudah rapi?" Devilito muncul dari arah belakang tiba tiba berpakaian rapi.


Lorena cuma mengangguk meng iyakan tanpa bersuara memperhatikan Devilito yang bersiap duduk di kursi seberangnya.


"Ayo kita sarapan, setelah ini saya antarkan kamu pulang" Ia tidak memperdulikan tatapan Lorena.


"Kita cuma berdua ? teman - teman kamu?"


"Semalam sudah bubar semua" Devilito menjawab enteng.


"Cuma kita berdua disini semalam??, kamu ngga ngapa-ngapain aku kan?" menatap curiga.


"Saya tidak berminat dengan kamu, segera makan lalu kita pergi" Devilito seperti tidak suka dengan pertanyaan seperti itu.


"Cihh.." Lorena kesal dengan kata 'tidak berminat' yang dilontarkan Devilito.


1 jam setelah itu....


Suasana hening ketika mereka berdua sudah dalam mobil menuju arah dalam kota, ruas jalanan agak tersendat pagi itu karena suasana jam kantor.


Ketika sampai di lampu merah mendekati perbatasan, Devilito mengambil sebuah paper bag dari jok belakang mobil..


"Ini Hp kamu dan kartu chip nya, Saya tidak tahu nomor dan email kamu jadi isi kontak dari Hp yang lama belum di kembalikan"


"Ehh..ngga usah, aku bisa beli sendiri nanti!" Lorena mendorong paper bag menolak pemberian.


"Terima aja, saya ngga ada maksud lain dalam hal ini" katanya sambil menaruh paksa di pangkuan Lorena, sambil bersiap jalan karna lampu sudah hijau.


Mau ngga mau Lorena menerima dan membuka isi paper bag itu.


Wow! ...Hp gambar apel di gigit separuh keluaran terbaru ? fix ini orang baik banget, bukan penculik! , Lorena membatin melihat ke arah samping, Devilito hanya senyum tipis seakan tahu apa yang dipikirkan Lorena


"Kamu itu siapa sih sebenarnya..?" Lorena bertanya dengan muka menyelidik.


"Bukan siapa - siapa, hanya orang yang ingin menyelamatkan kamu" jawaban datar.


"Rumah kamu dimana?, ini sudah dalam kota"


"Aku turun dijalan aja, nanti naik taksi"


"Jangan, bahaya.."


"Yaudah naik jalan layang aja nanti aku tunjukin jalannya" Lorena mulai percaya dengan pria di sampingnya ini.


Devilito pun masuk tol jorr sesuai arahan Lorena dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Lorena ingin pulang ke rumah papa nya, agar tidak menimbulkan kepanikan lebih lama.


Setelah keluar pintu tol, mobil mengarah ke sebuah rumah yang sangat besar. Tiba - tiba Lorena menyuruh Devilito memberhentikan mobil kira - kira 20 meter dari gerbang.


"Stop..aku turun disini aja", Katanya sambil membuka handle pintu.


"Kenapa turun disini?, harus sampai rumah donk? saya harus menyerahkan langsung sama orang tua kamu"


"Ngga usah, disini aja!, bahaya ketemu orang tua aku, nanti salah paham" Lorena membuka pintu setelah key lock berbunyi dan berlari kecil. Lorena tahu watak orang tuanya, dan Ia takut nanti terjadi bentrok setelah Ia melihat sendiri Devilito ini siapa semalam.


Devilito memperhatikan sejenak kepergian Lorena, Ia sedikit curiga dengan kehidupan gadis itu.


Siapa orang tua nya? kenapa dia mau diculik?Apa jaringan mafia juga? coba nanti gue selidiki ..bergumam pelan lalu memutar arah menuju kantor, karena hari ini Ia mau mem briefing orang - orang kantornya sekaligus untuk persiapan meninggalkan kantor selama lebih kurang 1 minggu.


Itu nona muda !...


-

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2