
Tok..tok..tok
Bel besi pintu depan ruangan utama Devilito di ketuk, si bibik yang berada di belakang terkejut karena bel pagar tidak berbunyi sama sekali, berarti orang langsung masuk kedalam pagar..
Tok..tok..tok
Kembali terdengar bunyi bel besi di ketuk, lebih keras dari sebelumnya. Suaminya si bibik langsung berlari ke ruang CCTV, terlihat satu orang wanita berpakaian ala matrix, dengan outer jas panjang juga warna hitam berdiri di depan pintu dengan tangan menyilang di dada.
"Buka aja bik...", Donita yang sebelumnya duduk di ruang tamu lantai dua, akhirnya turun kebawah. Si bibik awalnya takut-takut, karena Donita bukan orang pengambil keputusan di rumah itu.
"Iya bik, buka aja...ngga apa-apa", Lorena baru keluar dari kamar, memberi perintah.
Hampir empat tahun lamanya Donita tidak bertemu lagi dengan Cerlotta, waktu itu Ia sudah melihat aura menakutkan di balik wajah gadis yang cantik itu. Pembawaannya yang dingin, nada bicara yang tenang, cukup menggetarkan siapa saja yang berhadapan dengannya.
Hari ini, aura menakutkan itu masih sama...
"Kamu yang menikah dengan Devi, Kira..?", Cerlotta melangkah pelan masuk dan membuka kaca mata hitamnya. Derap bunyi sepatu boots hitam mengiring langkahnya mendekati Donita yang tergugu berdiri di ujung tangga.
Donita tidak mampu berkata-kata, tadinya Ia sudah meyakinkan dirinya akan mampu menghadapi Cerlotta, demi adiknya. Tapi kini, keyakinan itu hilang entah kemana.
"Hmm..??", Cerlotta menaikkan kedua alis matanya, sambil memegang kedua rahang Donita dengan tangan kiri, dan mendorong ke sisi tembok tiang dekat tangga. Donita harus mendongak melihat gadis bertubuh 175 cm itu. Rahangnya sakit di tekan dengan kepala tertahan di tembok.
"Hei...!!", lepaskan tanganmu dari kakakku!, aku istrinya Devilito..", Lorena yang sedari tadi melihat adegan itu dari lantai dua, turun dan membentak Cerlotta. Ia yang belum pernah bertemu dengan gadis yang menginginkan suaminya ini, tadinya kagum dengan penampilan Cerlotta, satu kata Ia camkan dalam hati, cantik!..
Cerlotta mengalihkan pandangannya kearah Lorena yang menuruni tangga, Ia melihat tidak ada rona ketakutan di wajah wanita itu. Sedangkan tangannya masih mengunci rahang Donita yang berusaha meronta, tapi tidak cukup kuat melepaskannya.
"Lepaskan tangan kamu !!..", nada suara Lorena naik satu oktaf. Ia memberikan tatapan mematikan. Cerlotta sedikit terpana dengan pandangan Lorena, itu bukan tatapan yang di buat-buat untuk memberanikan diri, tapi itu tatapan yang memang muncul dari karakter seseorang.
"Wow..kamu cukup berani, siapa nama kamu, hm..?", Cerlotta melepaskan cengkraman nya dari Donita, Ia beralih menghampiri Lorena.
"Saya Lorena, siapa kamu dan ada urusan apa kamu datang kerumah saya berlagak penguasa heh..!", Ia tak kalah gertak, Ia juga perlahan menghampiri gadis itu.
__ADS_1
Donita terpana dengan keberanian adiknya, ya ampun dek..
Cerlotta tersinggung dengan kata-kata beraninya Lorena, tapi ekspresinya tidak berubah, dingin. "Saya Cerlotta yang calon nya kamu rebut, dan...!" Ia menjedah kalimatnya,
"Siapapun yang merebut milik saya, mati..!" Ia meneruskan, memberikan tekanan dalam kalimatnya, lalu melakukan gerakan yang sama terhadap Donita tadi, kali ini akan mencekik leher. Namun, Lorena menepis keras tangan Cerlotta, walaupun hatinya bergetar karena benturan tangannya dengan gadis itu, tangan yang kuat.
"Bar-bar sekali Anda Nona..!, Cakep-cakep tapi psycho !" Lorena menantang balik, tapi lebih tepatnya ngomel.
"Cerry..stop it !!", terdengar bentakan dari arah pintu masuk. Devilito datang tepat di saat Cerlotta akan bereaksi menampar Lorena. Ia melangkah masuk.
"Aiihh..suamiku datang", tanpa sadar Lorena berteriak girang, tapi sangat menyakitkan di dengar Cerlotta.
Tanpa di duga siapa pun, tiba-tiba Cerlotta melakukan gerakan kilat berlari lalu menerjang Devilito, Ia melompat bertumpu pada sandaran sofa untuk mengirimkan tendangan depan beruntun tiga kali di udara, mengarah ke dada dan muka Devilito.
...Tap..tap.. !...
Devilito sangat siap untuk itu, Ia menepis dua kali tendangan Cerlotta dengan tangan bergantian kiri-kanan sambil melangkah mundur teratur, lalu berkelit satu langkah kesamping menghindari tendangan yang ketiga, dan secepat kilat mengirimkan tendangan balasan dengan kaki kanannya mengarah ke pinggang Cerlotta yang masih di udara. Counter attack.
"Cerry..! sudah, cukup..", Devilito mengangkat telunjuknya, tetap dengan posisi kuda-kuda menyamping.
Cerlotta berhenti..? tentu tidak,
Justru Ia kembali menyerang melakukan tendangan samping beruntun mengarah ke pinggang-dada-kepala Devilito dalam satu gerakan, terakhir melakukan tendangan sirkel melingkar leher.
...Tap..tap..tap...wuutt!...
Sekali lagi, tiga tendangan samping itu mampu di tepis Devilito dengan tangannya, dan yang tendangan sirkel Ia hindari dengan menundukkan kepala sedikit hingga sirkel itu luput, melewati kepalanya.
"Cerry..!!, cukup..!!", sekali lagi Devilito membentak. Tiga pajangan antik dekat sofa pecah akibat kekacauan, keadaan ruangan tamu seperti kapal pecah alhasil keributan mereka berdua.
Tapi tunggu..!, di kedua kelopak mata Cerlotta terlihat genangan air mata. Ia menangis dalam luapan emosinya. Ia kembali bersiap menyerang pria di hadapannya itu.
__ADS_1
Devilito tertegun, selama Ia mengenal gadis ini, belum pernah sekali pun terlihat Cerlotta mengeluarkan air mata, dia gadis yang tangguh, dingin dan kejam. Tapi kini, sisi lembut kewanitaannya tidak bisa menutupi bahwa Ia bisa terluka. Tidak seperti wanita kebanyakan, yang meluapkan emosi dengan menangis, histeris atau menyendiri di kamar, Cerlotta sesuai dengan background nya sebagai seorang fighter , meluapkan emosinya dengan bertarung.
Cerlotta melirik ke arah Lorena, memancing Devilito untuk bertarung dengannya itu percuma, pria itu tidak pernah mau, dari dulu. Mungkin sedikit shock-therapy , Devilito akan mau meladeninya, hitung-hitung seberapa mampu pria itu melindungi wanitanya.
"Jangan coba-coba berpikir melakukan itu Cerry..!", Devilito membaca apa yang ada dalam benak wanita itu. Cerlotta tersenyum pahit, masih dengan sisa genangan air mata, Ia menyerang Lorena yang berdiri masih di salah satu anak tangga, dari jarak lima meter, bertumpu pada salah satu keramik besar Ia melompat.
"Cerry..jangan !!", kali ini dengan bentakan lebih keras, Ia melompat dari arah 45°, melakukan tendangan gunting di udara menyongsong tubuh Cerlotta.
Tepat !..guntingan kaki Devilito pas masuk menyilang di pinggang Cerlotta.
Bugg!!...
Alhasil kedua nya jatuh bergumul ke lantai, dekat dengan posisi Donita.
Devilito langsung melakukan kuncian tangan, "Cukup Cerry...", kali ini Devilito bernada pelan setengah berbisik, "Cukup...".
Namun, Cerlotta berontak melepaskan kuncian dengan berguling. Alih-alih terlepas, justru makin terkunci. Devilito menarik tangannya kemudian menyilangkan kaki kanan-kiri nya ke leher dan dada Cerlotta, jika di tarik akan menyakitkan lengan atasnya. Pergerakannya terkunci.
"Lepasin..lepasin yank!, sakit dia", Lorena menepuk lengan suaminya, Ia tak tega melihat Cerlotta dalam posisi terjepit, walau bagaimanapun juga Ia wanita.
"Yank, mundur kamu...", Devilito menyuruh istrinya menjauh.
"Lepasin..!", kali ini pinggang Devilito jadi sasaran cubitannya. Sang suami masih menahan, tapi pada cubitan ketiga, Ia tak tahan lagi , Ia bangun berguling ke belakang sambil kemudian menarik pinggang Lorena menjauh.
Cerlotta segera berdiri, bersiap untuk melakukan gerakan selanjutnya. Tepat di saat itu, Giring muncul di depan pintu dan berlari menuju arah Cerlotta yang sedang dalam posisi kuda-kuda bersiap menyerang. "Cerry...sudah", Ia menutup gerakan Cerlotta dan memberanikan dirinya untuk memegang kedua bahu gadis itu.
Ia terkesiap, Cerlotta menangis!
Marcel dan Dominique menyusul kemudian dari arah depan.
-
__ADS_1
-