
Devilito mengajak istrinya berbelanja di sebuah super market, Ia ingin membeli beberapa susu untuk ibu hamil dan vitamin, mengenai sayur-sayuran nanti bisa suruh si bibi belanja di mini market dekat rumah.
Tapi, mungkin mood yang berubah karna hamil ini ada saja kejadian yang memicu omelan istrinya kala mereka berjalan di etalase super market itu. Misalnya ketika seorang Ibu muda minta tolong pada Devilito untuk mengambilkan sebuah minyak sayur di etalase yang tidak bisa dia jangkau,
"Maaf ya mbak, soalnya sama saya ngga terjangkau", Ibu itu segera meminta maaf pada Lorena dan buru-buru pergi karena tatapan tidak suka istrinya.
Memang sih, di dekat situ berdiri beberapa pelayan super market berseragam yang bisa di mintai tolong, tapi entah kenapa, Devilito yang memang berpenampilan eksekutif muda, dan tampan pula yang menarik perhatian Ibu tersebut.
Alih-alih dapat pahala karena bantu orang malah sang istri justru merenggut dan melayangkan cubitan di bawah lengannya.
Seperti sekarang ini, karena belanjaan lumayan banyak, Devilito berinisiatif maju bawa troli ke depan meja kasir. Sang kasir yang berparas cantik ini terpana dengan ketampanan pria di depannya itu. Beberapa kali sang kasir harus menghapus angka harga ke dalam mesin, sebab dua kali barcode kena scan dengan barang yang sama, grogi.
"Mbak, konsentrasi dong...itu dua kali salah loh !", tegur Lorena pelan yang tiba-tiba maju menggeser suaminya. Ia heran, kenapa hari ini tiba-tiba begitu menyebalkan.
"Maaf mbak", hanya dua kata itu yang mampu di lontarkan si kasir, Ia merutuk dirinya yang teledor sampai dua kali barang yang sama di scan nya, hal yang belum pernah dia lakukan selama ini, dan untung chief nya tidak berada di situ, kalau tidak Surat Peringatan lah yang bakal di terimanya. Wajahnya memucat pasi.
"Genit !", ucapan pelan Lorena namun masih bisa di dengar dengan muka cemberut ke Devilito membuat sang suami bengong, kenapa gue yang salah ?
"Biar aku aja, kamu tunggu disana..!", Lorena menunjuk jari ke samping menyuruh suami menunggu dekat pintu keluar.
Hah..?, aku ngga ngapa-ngapain loh padahal", dan Ia tetap beranjak pergi dari situ.
Devilito membawa belanjaan dengan kedua tangannya mengikuti langkah Lorena yang berjarak tiga meter di depannya menuju parkir mobil. Jarak yang lumayan dari pintu keluar.
Langkah Devilito terhenti, di depannya ada sekelompok pemuda yang Ia hitung berjumlah 4 orang, sedang menggoda Lorena. Penampilan Lorena dengan baju kaos plus outer dengan paduan bawahan rok A line kesukaannya, rambut di kuncir kuda dengan wajah yang mungil hidung bangir lebih mirip tampilan remaja ini, wajar menarik perhatian pemuda tersebut.
Awalnya Devilito cuma tersenyum melihatnya, tapi rahangnya mengeras ketika keluar kata-kata yang tidak senonoh dari salah satu pemuda itu. Ia diam, ternyata istrinya bukan hanya galak sama dia, istrinya berbalik dan berjalan menghampiri salah satu pemuda yang berkata kurang ajar itu, dan ...
Plakk..!!
Sebuah tamparan dengan sukses mendarat di pipi pemuda itu, sepertinya mereka habis minum alkohol. Walaupun hanya sedikit sebagai pemanis mental agar keliatan berani.
Pemuda itu tidak terima, Ia berniat membalas dan melayangkan tamparan balik ke Lorena.
"Kurang ajar lo.., dasar cewek BO !", tamparan pertamanya berhasil di hindarkan Lorena dengan gerakan mundur, bersiap untuk lari. Pemuda itu bergerak mengejar dan melayangkan kaki untuk menendang pinggul Lorena, Ia seperti tak peduli kalau yang di hadapinya itu wanita. Satu orang temannya melakukan gerakan untuk membantu, ingin menggapai tangan Lorena.
Cusss..!!
__ADS_1
Tapi, tiba-tiba sebuah pulpen mahal melayang dan menancap tepat di pergelangan atas tangan kiri pemuda yang ingin menampar tadi. Ia menjerit kesakitan dan badan terhuyung menabrak temannya yang ikut membantu. Alhasil dua-duanya roboh.
Darah mengucur dari tangan pemuda itu, kesakitan dengan pulpen yang masuk ke otot bisep lebih kurang 3 cm.
Ya, Devilito melemparkan pulpen mahalnya ala ninja dari jarak jauh. Selain jago bertarung, Devilito juga terlatih memainkan senjata, baik berupa koin, paku dan sekarang ini, pulpen.
Tidak cukup sampai disitu, sebuah tendangan ke ulu hati, membuat pemuda yang berdarah itu terpental dua meter. Berbarengan dengan itu, sebuah pukulan juga di layangkan Devilito ke pemuda yang satu lagi, tepat mengenai rahang, itu adalah pukulan arena. Sukses membuat seseorang pingsan.
Sebenarnya, dengan lemparan pulpen saja di tambah dengan tamparan peringatan nantinya, mungkin sudah cukup sebenarnya sebagai shockterapy cuma kata-kata tidak senonoh terhadap istrinya, itu yang tidak bisa di terima. Baginya, siapapun yang mengganggu istrinya, akan membangunkan jiwa devil-nya.
Kerumunan orang-orang tidak ada yang berani memisahkan, semua terpukau. Termasuk dua orang sekuriti, mereka hanya diam, ini bukan perkelahian biasa yang mereka liat, ini penghukuman!.
Hanya satu orang yang berani menghentikan, cuma Lorena.
"Udah yank..!, udah..", Ya, istrinya meraih tangan Devilito dan menarik keluar dari kerumunan orang-orang yang menyaksikan. Oo itu suaminyaa... gumaman orang-orang di sekitar baru memahami kejadian tersebut.
Setelah keluar dari kerumunan, baru ada beberapa orang yang membantu membawa dua orang yang terkapar termasuk dua temannya lagi yang tidak ikut perkara.
Seorang sekuriti berbadan agak gempal menghampiri Devilito ketika dia di tarik istrinya, Ia ingin memberikan kata hiburan.."Iya tuh om, mereka sering mengganggu tamu-tamu, mabok-mabokan, sekarang mudah-mudahan mereka jera".
Namun, kata-kata hiburan itu tidak enak di dengar di telinga Devilito, "Bentar yank..", Ia melepaskan tangan istrinya dan berbalik ke arah sekuriti itu, entah kapan tangan Devilito sudah bersarang di rahangnya, menekan.
"Udah..!, dia ngga tau apa-apa yank..!, kasian, ayuk pergi dari sini ah!", kembali Lorena menggamit tangan suaminya,
"Dia ngga pantas jadi sekuriti.., dasar be**!", Devilito masih kesal.
"Ya ampuuun..cabein nih mulutnya, kata-katanya ih !, Sini aku aja yang nyetir", Lorena meminta kunci kontak mobil, dan sang suami menyerahkannya.
"Tunggu dulu yank, belanjaannya tadi mana?".
"Itu udah di selamatin ama anak kecil itu !", Lorena menunjuk seorang anak kecil pra-remaja sedang berdiri di pinggir, menjaga barang belanjaan, sepertinya pengamen.
"Dek, sini...!, tolong masukin ke mobil ya", Devilito memanggilnya. Kemudian menyisipkan ke tangan anak itu uang seratusan ribu 15 lembar. "Nih buat kamu, sisain buat orang tua kamu kalo mereka masih ada ya.., trima kasih, dan tetap jadi orang baik!", Devilito lalu mengusap pelan kepala anak itu. "Terima kasih banyak Om..!", matanya berbinar, senang menerima hadiah yang tidak pernah Ia sangka.
--Di sebuah mall--
"Yank, kita ngga perlu tau jenis kelamin janin ini gimana..?", tanya Lorena ketika mereka menaiki eskalator sebuah mall.
__ADS_1
Setelah kejadian di super market tadi, Lorena yang di belakang kemudi mengajak suaminya cari makanan sekalian refresh otak.
"Emang kamu ngga pengen tau anak kita laki atau perempuannya?".
"Kamu pengen cewek apa cowok ?", Lorena justru balik bertanya.
"Kalo aku sih sama aja yank, mau cewek apa cowok, yang penting sehat".
"Ya maksud aku biar surprise aja, aku sama aja sih sebenarnya juga", jawab Lorena gelayut manja dalam rangkulan suaminya.
"Trus, kapan jadwal USG yank?", tanya Devilito melirik istrinya sebentar lalu kembali menatap lurus melewati pertokoan mal. "Rencana besok sore, karena paginya aku mau ke kampus dulu, ada jadwal dengan penasehat akademik aku", Lorena berhenti sejenak melihat sebuah toko busana pria brand terkenal.
"Kita kesana yuk..!", Lorena menunjuk toko yang ada di seberang posisi mereka, Ia menarik pinggang suaminya. "Eh..sebentar dulu yank", Devilito berhenti dan Lorena mengikuti arah pandangan suaminya ke sebuah kafe restoran samping toko pria itu.
"Itu kak Giring...? dan itu Cerlotta bukan yank..?", Lorena memalingkan wajahnya menatap suaminya, minta jawaban.
"Ngga ngerti aku..kita samperin yuk !", ajak Devilito, senyum konyol tersungging di bibirnya. Akhirnya...
Muka Lorena langsung mengeras, "Udah, ngga apa-apa yank, percaya sama aku", Devilito menjawab keraguan istrinya.
Giring tersentak kaget melihat kedatangan sepasang suami istri yang datang dari arah pintu masuk, sedikit pucat tapi cepat Ia kuasai dirinya. Ia memberi kode pada Cerlotta yang sedang menyeruput minumannya. Posisinya membelakangi arah.
Cerlotta memutar arah kepalanya menengok ke belakang. Ia tertegun, tapi cepat memalingkan kembali wajahnya menghadap Giring yang segera berdiri untuk menyambut Devilito.
Devilito memberi kode dengan tangannya pada Giring untuk duduk saja.
"Halo sob...", Devilito menyapa Giring sambil bersalaman ala lelaki. Cerlotta mendongakkan wajahnya, masih dalam posisi duduk melirik ke arah pria di sampingnya dan berpindah tatapan pada Lorena.
"Hai Cerry...", Devilito menganggukkan kepala dan berjalan melewati memutari meja.
Lorena menyapa Cerlotta dan Giring secara bersamaan dengan ramah, "Halo Cerlotta..halo kak Giring", Ia menjabat tangan Cerlotta yang di sambut dengan senyuman oleh gadis itu.
"Silahkan duduk", basa-basi Giring pada kedua pasangan itu, Devilito kemudian mengambil posisi duduk dan menendang kaki sahabat kental nya itu, tapi tidak terlihat oleh Cerlotta.
Giring sedikit meringis, walaupun pelan tapi itu sepakan Devilito, beda rasanya.
-
__ADS_1
Bersambung...