Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.43 Jamuan Makan Malam


__ADS_3

Devilito dan Lorena sampai di hotel H tiga puluh menit lebih awal dari jadwal undangan yang di tentukan. Hotel mewah yang berada tepat di pusat kawasan bisnis kota ini langsung terhubung dengan salah satu mal paling mewah di kota itu.


Devilito melirik jam tangannya, Ia memilih menunggu di lobi sambil menunggu Hendra dan Indri yang sudah sampai lebih dahulu,


"Masih ada waktu 20 menitan lagi yank, kita tunggu Hendra dan Indri disini aja" Devilito menjejakkan pantatnya di sofa lobi, lalu kemudian menelpon asistennya tersebut. "Hendra, kamu dimana?, saya di lobi ya, kamu dengan Indri kan?, saya tunggu disini" ujarnya lalu mematikan sambungan telepon.


"Oh Hendra dan Indri ikut juga..?" tanya Lorena sambil melihat-lihat smartphone. "Siapa sih rekan bisnis kamu itu yank?" lanjutnya kemudian.


Devilito menghembuskan nafasnya sebentar, "Aku juga baru kenal, Ia mau ngajak join proyek properti di Australia, ada pemenang tender yang ingin menggandeng empat mitra, nah perusahaan dia ini ingin ikut, Ia mengajak perusahaan aku untuk masuk"


Lorena yang mendengar jabaran suaminya, manggut-manggut. "Di Australia?, berarti proyek besar dong yank?"


"Iya, nilai totalnya 55 trilyun" jawab Devilito pendek, Ia sekarang memang ingin membiasakan terbuka masalah kerjaan dengan istri. "Wow..gede banget yank..?, trus kita join investasi berapa banyak sama rekan kamu itu?" Lorena kaget, ini proyek yang besar. " Justru ini yang belum ketemu kesepakatannya, sekarang dia ngundang makan malam mungkin untuk membujuk aku kali" jawab Devilito.


"Tapi, orang ini bisa di percaya ngga yank?..hati-hati loh kamu, ntar di tikung, apa lagi baru kenal"


Devilito yang mendengar nada cemas lalu mengusap punggung istrinya tersebut, "Tenang yank, do'ain aja ngga ada apa-apa ya, toh aku udah selidikin semua tentang orang itu, termasuk masa lalu nya hehe..kamu lupa siapa suami kamu ini..?? hm", jawab Devilito senyum-senyum, Ia ingin memberi kejutan pada istrinya ini.


"Aku udah kunci semua pergerakannya, kalo toh masih berani curang, atau berani mengambil milik aku, akan ku kubur dia hidup-hidup!" Devilito mengerlingkan matanya ke arah istrinya. "Ih..kamu mah, serem amat" Lorena mencubit pinggang suaminya.


Dari kejauhan, terlihat Hendra dan Indri berjalan menuju ke arah mereka. "Kalian dari mana? masa biarkan bos nya menunggu" Devilito menatap tajam kedua asistennya ini.


"Maaf pak Dev, kami dari mal..tadi iseng, kecepetan datangnya" Hendra mengulang jawabannya waktu di telepon tadi, Ia menciut melihat tatapan bos nya itu. "Masih lima menit lagi, mereka sudah menunggu di C'S Restaurant lantai atas pak", lanjutnya kemudian.


"Yaudah kita langsung kesana aja" Devilito berdiri menggandeng istrinya, di iringi tatapan ngenes Indri dan Hendra, yang mengikuti di belakang.


Devilito keluar lift di lantai 4, tepat di depannya C'S Rest. Sebuah restoran bintang lima yang luas dengan dekorasi romantis. Di ujung, sudah menunggu dua orang pria dan wanita yang berdiri menyambut kedatangan mereka berempat, memberikan senyuman manis tapi mematikan.


Devilito dan Lorena sama-sama terkesiap sejenak melihat siapa kedua orang itu, tetapi Devilito yang sedari tadi menggandeng istrinya, mempererat genggaman jarinya, memberi ketenangan pada istrinya. Ia tahu apa yang ada di pikiran Lorena. Tapi, Ia tidak prediksi ada wanita yang di sebelah pria itu.


Ya, mereka berdua adalah Linggar dan Shania.


Linggar sengaja membawa Shania untuk memberikan kejutan pada Devilito dan Lorena. Mereka berdua sepakat, untuk merebut masing-masing orang dari masa lalu tersebut. Hanya hendra dan Indri yang tidak tahu apa-apa disitu.


Lorena mengatur nafasnya dan berusaha bersikap profesional, Ia percaya dengan suaminya, walaupun Ia takut suaminya itu akan kaget kalau mantannya akan bertindak menjatuhkan atau mempermalukan dirinya nanti.


"Selamat malam pak Devilito, pak Hendra, ibu Indri dan..maaf ibu..?" Linggar menjedah kalimatnya sejenak. "Lorena istri saya" langsung di sambung oleh Devilito sambil meletakkan tangannya di bahu istri, memperkenalkan.

__ADS_1


Cihhh..seekor rubah mau main-main sama macan , Devilito membatin dalam hati, Ia tersenyum menyambut uluran tangan Linggar.


Linggar kemudian menjabat tangan Hendra dan Indri dan ketika giliran jabat tangan Lorena, Ia agak lama dan tersenyum sedikit mengerlingkan matanya. Devilito membaca gerakan itu, Lorena langsung menarik tangan, Ia mulai keringat dingin, tapi ketika duduk..suaminya mengusap punggungnya menenangkan, Ia melirik suaminya sekilas, lalu memberikan senyum.


Shania, Ia bukannya tak tahu..tapi Ia sudah hapal dengan tatapan mata itu ketika senyum menyambut jabat tangan Linggar. Itu senyuman membunuh. Ia yang tadinya optimis dengan rencana Linggar tetiba down. Melihat perlakuan Devilito terhadap istrinya. Berarti Devilito sudah tahu.


"Kalau gitu, mari kita pesan makanan dulu, gimana pak Dev" tanya Linggar mencairkan suasana yang agak kaku, Ia menjentikkan jarinya memanggil pelayan.


Seorang waiter restoran menghampiri mereka, membawa tablet besar berisi daftar makanan. "Selamat malam, maaf mau pesan apa..?" ujarnya membuka daftar menu makanan di tablet.


Linggar mempersilahkan Devilito pesan duluan, "Silahkan pak Dev..?"


"Saya Gratin Lobster Thermidor aja, jangan lupa di atasnya dikasih Cheese Morazella ya, kamu yank..?" tanyanya ke istri. "Aku Steak struck aja",


Kalian pesan apa, katanya pada Indri dan Hendra, "Saya Nasi Kecombrang aja" dan di jawab sama oleh Indri.


"Saya juga Nasi kecombrang dan kamu..?" tanya Linggar ke Shania, "Aku Salmon Wellington" jawab Shania melirik Devilito.


Linggar dan Shania sebenarnya memesan makanan yang sangat di sukai oleh dua orang di depan mereka, yaitu Devilito dan Lorena. Mereka berdua mencoba untuk mengingatkan kenangan masing-masing. Mencoba pressure silang, ketika Linggar bicara,


Asemmm nih orang..!, gue lempar pake gelas juga nih, Lorena membatin, tapi pura-pura tidak tahu.


"Oh ya..?, kalo mengenang, berarti sekarang sudah putus dong?" jawab Devilito menggoda.


"Salah saya dulu pak Dev, saya hampir mau melamarnya..sekarang sepertinya sudah nikah" jawab Linggar pura-pura sedih.


"Owh begituu..tapi pak Linggar masih mencintainya..?" Devilito bertanya sambil menahan sakit cubitan istrinya di paha. Lorena sebenarnya sedang membalas tatapan tajam Shania.


"Yaah, namanya cinta pak, gimana lagi?" jawab Linggar tersenyum melirik Lorena sekilas. Yang dilirik membuang muka.


"Tapi, hati-hati juga loh pak, kalau orang sudah nikah jangan di ganggu lagi, terkadang terlalu obsesi bisa membuat kita terbunuh!" Devilito berkata dingin, tapi pahanya sudah panas, cubitan halus nan tajam istrinya makin kencang.


"Bener ngga yank..?" katanya kemudian menoleh ke Lorena, memberi kode...sakit!.


"Ehh..iya dong, berarti bukan jodoh, lagian biasanya kalau pria udah mau melamar trus tiba-tiba ceweknya menolak, mungkin dia tahu kalau pacarnya itu ngga baik, kalau kata kasarnya, baj*ngan..ya ngga yankk?.." Lorena memberikan senyum termanisnya ke sang suami.


Muka Linggar memerah, sindiran Lorena sangat tepat mengenai sasaran. Shania yang melihat Linggar terpojok, Ia tahu itu. Mencoba membantu, tapi lebih frontal tidak pakai sindiran lagi.

__ADS_1


"Kalau Rena, sudah tahu masa lalu suaminya ini..?"


Hahh..? cerita nya udah ngga sindiran lagi nih?, okeh! , hanya dalam hati dia katakan kalimat itu.


"Kalau suami aku ini..." Lorena menjedah kalimatnya, Ia melirik ke Devilito, "...sangat terbuka dalam hal apapun, termasuk masa lalunya, suami idaman pokoknya, tidak pencemburu, mematikan bagi yang mencoba mengganggu istrinya..bukan begitu yank?" katanya mengelus pundak suaminya yang di balas dengan senyuman manis pula.


Shania mukanya memucat pias, Ia tak menyangka kalau perkataannya akan berbalik memukul dirinya. Ia melihat sudah tidak ada harapan untuk menjatuhkan kedua pasangan ini.


Hendra dan Indri dari tadi hanya bengong, dan berpandangan, mereka seolah menonton drama gratis sekarang.


"Seperti ada sesuatu ngga sih pak Hendra, diantara mereka berempat?" Indri berbisik sangat pelan ke telinga Hendra.


"Kayaknya, iya.." Hendra pun menjawab berbisik.


"Kok kalian bisik-bisik?" Linggar bertanya mengalihkan pembicaraan.


"Ehh.. tadi kami berbisik, kapan kita membicarakan rencana tentang kerja sama" jawab Hendra merasa tidak enak hati.


"Oh, bicara bisnis di kantor nanti, sekarang kita bicara secara kekeluargaan" sambut Devilito.


Lah..trus ngapain ngajak saya sama Indri?


"Kan kalian termasuk keluarga saya" lanjut Devilito seolah membaca pikiran Hendra. Hah...? kok pak Dev tau pikiran saya?


Pembicaraan terputus ketika para waiter dan waitress datang membawa pesanan. Beberapa menit kemudian,


"Ayo kita makan dulu, silahkan.." Devilito mempersilahkan semuanya untuk makan.


Ketika sedang makan, Devilito menghubungi anak buahnya Tito dan Hensly, masing-masing lewat pesan singkat...


Kalian standby di depan hotel H, radius 200 meter, sekarang!


-


-


Berlanjut...

__ADS_1


__ADS_2