Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.56 Lorena Batal Pergi


__ADS_3

--Di Rumah Sakit--


Mendekati jam tujuh malam, Devilito dan Lorena sampai di sebuah Rumah Sakit yang terbilang cukup mewah di kawasan kota Jakarta Timur. Sesuai dengan janji sebelumnya, hari ini ada jadwal konsultasi dan USG kehamilan Lorena dengan dokter Hanna. Devilito tadinya tidak boleh ikut oleh Lorena, tapi sang suami memaksa karena jarak yang terbilang jauh, tidak elok rasanya membiarkan sang istri pergi sendirian, toh dia suami SIAGA bukan ?.


"Boleh nganterin, tapi nanti ngga boleh ngobrol atau dekat - dekat dokter Hanna !", begitu bunyi ancaman 'ibu negara' sambil mengacungkan telunjuknya ke atas, sebelum berangkat dari kantor Devilito menuju Rumah Sakit tadi sore.


"Iya sayang...", hanya dua kata itu yang paling ampuh untuk meredakan sikap curiga sang istri saat ini. Ia tak bisa berbuat apa-apa dengan sikap posesif dan kekanakan yang di tunjukkan Lorena akhir-akhir ini.


Kedatangan Devilito dan Lorena langsung di sambut Direktur Rumah Sakitnya langsung, di dampingi dokter Hanna. "Halo Rena, wuihh selamat yaa", sang direktur yang bernama Marcel menjabat tangan Lorena hangat, tapi matanya mengerling ke arah Devilito yang di sambut tatapan mendelik sahabatnya itu. Ramah tamah mereka ber-empat tak berlangsung lama, Dr. Hanna Pratiwi, Sp.OG selaku dokter spesialis Kebidanan dan Kandungan (Obstetri dan Ginekologi) mempersilahkan Lorena mengikutinya menuju ruang laboratorium.


Pemeriksaan yang di anjurkan untuk tri-semester pertama kehamilan adalah pemeriksaan darah rutin atau darah lengkap, pemeriksaan urine lengkap dan opsional seperti HIV/AIDS, VDRL dan TORCH. Tujuan diadakan nya pemeriksaan labor adalah untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat dan mengetahui tingkat resiko bila ada gangguan hingga bisa di tangani lebih tepat.


Sebenarnya, Lorena sangat nyaman dengan dokter Hanna ini, tapi entah kenapa dia tidak suka bila suaminya berdekatan dengannya. Ia mencoba berpikir positif, bahwa ini mungkin bawaan emosional nya yang berubah karena kehamilan.


Tinggallah sekarang dua pria ini di lobi rumah sakit, Marcel mengajak Devilito berkeliling sambil mengobrol santai.


"Tau ngga, gegara lo kirim dokter Hanna, gue ngga boleh sama Rena deket-deket dokter itu lagi !", Devilito mengadukan perlakuan istrinya pada Marcel, "Dan gue bingung, apa naluri orang hamil itu memang tajam yah?", lanjutnya kemudian. "Hahaha...lagian lo sih, minta kirim dokter cewek, dan gue rekomenin Hanna jadinya, dan dia memang terbaik di bidangnya itu", sahut Marcel tertawa sambil membalas sapaan para dokter yang berpapasan dengan mereka. "Tapi Hanna udah ngga seperti dulu, sangat profesional di bidangnya sekarang".


Ya, Devilito ingat bagaimana dulu Hanna mengejar-ngejarnya ketika gadis itu masih kuliah mengambil strata-2 ilmu kedokteran di Jerman. Sejak perkenalan mereka di atas kereta api dalam perjalanan menuju kota Frankfurt Am Main , ketika itu Devilito dan jaringan Lidah Api nya memburu salah satu pimpinan jaringan mafia Lucifer Venezuela yang lari ke Jerman, waktu Devilito masih berkecimpung di eropa.


Perkenalan singkat itu membawa kesan mendalam bagi Hanna saat itu. Pria gagah berperawakan dingin dengan sorot mata yang tajam itu baginya merupakan kriteria yang ada dalam ekspektasinya. Sehingga Ia begitu intens menghubungi dan mencari tahu kehidupan Devilito, yang awalnya Hanna menyangka pria itu adalah orang keturunan benua Amerika. Tetapi, usahanya sia-sia..Devilito tidak menanggapi dan menghilang. Hingga bertemu kembali setelah dia bekerja di Rumah Sakit pimpinan Marcel ini.


Dan,


Gadis itu sudah mengetahui bahwa Devilito sudah menikah, Marcel yang berperan disini memberikan informasi tentang perkawinan pria itu, dan saat itu pula dia bertekad menghentikan perasaannya. Sampai saat itu, dua hari yang lalu ketika dia bertemu kembali waktu di utus oleh Marcel menangani kehamilan istri pria yang di kaguminya tersebut. Profesionalitas, dan berpura-pura tidak mengenal Devilito demi menjaga perasaan Lorena.


Dan,

__ADS_1


Gadis itu sangat setuju sekarang dengan kata-kata Marcel, bahwa Devilito sangat mencintai istrinya, dia juga sekilas bisa melihat bagaimana seorang ketua mafia yang ditakuti, memperlakukan istrinya bagaikan ratu. Tidak akan ada tempat bagi wanita lain untuk menggeser kedudukan Lorena di hatinya. Ya, lebih baik bersikap tidak mengenal Devilito untuk menjaga hatinya sendiri dan istri pria tersebut.


***


"Donita nanti lo bawa sob..?, serius ?", tanya Marcel heran ketika Devilito menceritakan tentang rencana keberangkatan ke Melbourne tiga hari lagi. "Iya bro, untuk nemenin Lorena sekalian nanti gue ketemuin dengan Aksan, info dari Robert di Australia kalo ternyata Aksan itu sekarang berada di sana, masih dalam pantauan anak buahnya, itu pun kalo Lorena bisa ikut, kan dia lagi hamil muda gini, kasian juga gue".


"Owh iya juga sih, kandungan pertama itu agak riskan. Nah, posisi Raymond berarti juga di Australia dong?, terakhir waktu di lacak, masih di Hongkong", ujar Marcel lalu mengambil botol mineral dan memberikannya pada Devilito.


Saat ini, mereka berdua berada dalam ruangan kerja Marcel, setelah berkeliling sebentar.


"Tapi sob, resiko ngga sih bawa Lorena dengan kondisi begitu ?, maksud gue...kalo ketemu dengan kelompok Raymond disana. Soalnya, jika Raymond juga disana otomatis Triad Hongkong juga ada untuk memback up nya, nah ini berbahaya untuk keselamatan istri lo", botol mineral yang tadinya hendak di minum Devilito terhenti di udara mendengar tuturan kalimat Marcel. "Iya juga sih, coba nanti gue ngomong sama Rena dulu, kalo bisa nanti liburnya gue ganti tempat aja, yang memang khusus liburan", Devilito kemudian melanjutkan minumnya.


"Tadi gue dapat info dari Giring, kalo Cerry bakal ikut ke Australia nanti, hahaha...lo udah tau kan kalo mereka relationship sekarang ?".


"Udah, gue yang bilang sama Cerry waktu ketemu tempo hari, Giring itu udah lama memendam perasaannya", jawab Devilito tersenyum. "Iya, Giring cerita sama gue", sahut Marcel kemudian.


"Gimana yank?, aman ?", tanya Devilito pada Lorena setelah istrinya itu duduk di salah satu kursi. "Aman sih, tapi...gimana dok ?", Lorena mengarahkan pandangannya pada dokter Hanna untuk menjelaskan.


"Begini, secara medis kandungannya aman, cuma memang karena baru pertama kali hamil, jadi fisik Nyonya Rena gampang lelah, harus banyak istirahat serta di suplai dengan vitamin, dan saya sudah berikan beberapa vitamin untuk menunjangnya", ujar dokter Hanna menerangkan mengarah pada Marcel, bukan pada Devilito.


Lah..kan gue suaminya, kenapa neranginnya ke Marcel deh.


Devilito ber-monolog sendiri dalam hatinya, Ia mengalihkan pandangan ke istrinya yang ternyata juga sedang menatap intens padanya. Tatapannya tajam. "Aku udah rekam semua keterangan dokter Hanna tadi waktu di labor yank", perkataan Lorena pada Devilito sukses membuat dokter Hanna dan Devilito terpana. Karena dokter Hanna sendiri tidak menyadari kalo percakapan itu di rekam Lorena.


Pantas tadi nanya nya detil banget, ternyata di rekam ?


Sedangkan Marcel menahan ketawanya sambil pura-pura mencari sesuatu di laci kerjanya.

__ADS_1


***


Ketika hari sudah malam, di rumah Devilito...


"Yank..sinii, aku mau tidur", panggil sang istri menepuk-nepuk bantal di sebelah. Devilito duduk di sofa kamar melihat iPad. Ia sedang menerima email tentang proyek Australia dari Hendra.


Kebiasaan baru Devilito, Ia segera membuka bajunya dan beranjak ke ranjang menemani istri. Lorena langsung memeluk suaminya dan menempelkan mukanya ke dada dan ceruk leher Devilito, tangannya mengusap-usap perut suaminya, mengentil kalo bahasa bayinya.


"Oh ya, yank...kalo kondisi kamu begini, kira-kira kamu masih bisa ikut ke Australia nanti ?, tiga hari lagi loh".


Lorena berhenti sejenak, Ia menatap mata suaminya, lalu..."Kayaknya aku ngga ikut deh, capek aku, lemes", dan Lorena kembali mengusel-usel dada suaminya dengan mukanya.


"Nah, trus gimana kamu mau tidur nanti ?".


"Gampang, tiap malam kamu harus video call sama aku, dongengin sampai aku tidur !".


"Hah..?, dongengin ?, laah kayak anak kecil itu mah", Devilito tertawa geli. "Yaa, pokoknya kamu harus ngomong sampai aku tertidur, dan kamu tinggalin beberapa baju yang sering kamu pake yang ngga di cuci !", Lorena menjawab santai, tanpa menghentikan kegiatan usel-uselnya di dada dan perut, tapi lama - lama aktifitas itu makin berkurang.


"Hmm..gitu yah ?, soalnya aku pergi satu minggu, tadinya aku mau suruh kamu bawa Kir..eh Donita buat nemenin disana, sekalian nanti aku mau seret Aksan biar bisa ketemu sama Donita, kasian kakak kamu ngga ada kepastian begitu, dan mungk...", Devilito menghentikan kalimatnya, ketika dia merasa istrinya diam aja, ngga ada kegiatan lagi.


Terdengar dengkuran dan hembusan nafas halus di lehernya...


Yaahh..dia tidur ! , Devilito lalu membetulkan posisi tidur istrinya, lalu Ia kembali menuju sofa mempelajari email yang di kirim Hendra.


Tak lupa, Ia mengetik sesuatu lewat ponsel pada Indri sekretarisnya, bahwa istrinya tidak jadi ikut, dan batalkan tiket.


-

__ADS_1


Bersambung, lagi...


__ADS_2