
Satu bulan kemudian...
Waktu berlalu sejak kejadian introgasi yang di lakukan Devilito pada Aksan dan Hendra. Kondisi Donita sudah mulai membaik, sudah bisa mengenali kehadiran orang - orang di sekelilingnya, walau responnya masih lemah. Ia sudah menggerakkan pupil matanya ketika ada orang mendekat, tapi belum bisa di ajak bicara. Sedangkan jari tangannya sudah bisa di gerakkan untuk menggenggam walaupun lemah.
Lain hal dengan Alexander, karena benturan di kepala dan goncangan di punggung, mertua Devilito ini masih dalam kondisi koma, faktor usia dan fisik juga ikut mempengaruhi lambat percepatan stabilnya kondisi.
Sedangkan Hensly sendiri, sudah dalam kondisi stabil, dia sudah bisa beraktifitas dan mulai melakukan kegiatan olah fisik di rumah Devilito dan sesekali di markas Lidah Api.
Hensly juga begitu rajin menjenguk Alexander dan terutama Donita. Entah kenapa, dia begitu peduli dengan keadaan kakak ipar bosnya itu. Kecelakaan yang di otaki oleh Aksan suaminya sendiri, tepatnya mantan suaminya itu menyebabkan Donita harus melewati masa kritis yang cukup panjang. Hensly hampir setiap malam selalu berjaga untuk Donita, hingga menimbulkan tanya di hati Devilito, ada apa dengan anak buahnya itu.
Oh..mungkin karena merasa bersalah karena gagal melakukan tugasnya, melindungi , pikirnya.
Lalu, bagaimana dengan Aksan ? ya, Aksan bernasib naas, umurnya tidak panjang, dia meninggal dunia tepat tiga hari setelah kejadian tragedi introgasi Devilito yang menyebabkan lehernya patah, di markas Lidah Api. Lain halnya dengan Hendra Wijaya, nasibnya sedikit beruntung, Ia masih bisa menghirup udara bebas alam semesta ini walau dengan kondisi cacat seumur hidup, Ia lumpuh.
***
"Kami sudah melakukan diagnosis kesadaran terhadap cedera otak (traumatic brain injury) pada nona Donita dengan menggunakan metode GCS (glaslow coma scale), yang penilaiannya meliputi pergerakan mata, respon verbal dan respon gerak (motorik)", ucap seorang profesor yang menangani Donita pada Lorena dan Devilito. Marcel yang mendampingi mereka, kemudian bertanya," berapa skala poin untuk pasien ini prof?".
"Skala umum yang terjadi untuk pasien koma adalah di poin 3 - 7, dengan maksimal skala poin kesadaran itu maksimal poin 15", profesor itu kemudian mengambil sebuah tongkat kecil panjang, dan menunjuk pada monitor besar hasil rontgen Donita, "Poin terbaru yang sore tadi kami ambil untuk kedua pasien, Nona Donita sekarang sudah berada di poin 7 ini", ucapnya menjeda kalimat sambil melingkari gambaran otak Donita, "Dan, kemungkinan dalam satu atau dua hari lagi, nona Donita sudah melewati masa kritisnya".
"Namun,"
Profesor tersebut kemudian berjalan berpindah pada hasil rontgen otak Alexander, "Untuk tuan Alex, dengan pemeriksaan yang sama sore tadi, pergerakannya masih lambat, hanya naik 1 poin dalam tiga hari ini, beliau masih berada di titik poin 4", ujar profesor tersebut kemudian kembali beralih ke mejanya. "Khusus untuk tuan Alex, kita harus tetap optimis, dan berdoa. Saya akan lakukan kembali pemeriksaan tiga hari nanti, mudah-mudahan perkembangan beliau mengalami kemajuan berarti", ucapan yang kemudian di aminin oleh Lorena dan Devilito.
"Untuk sementara, sekian dulu penjelasan saya, mohon ijin, saya akan melakukan pemeriksaan untuk pasien lainnya".
"Silahkan prof", Marcel mempersilahkan profesor tersebut untuk meninggalkan ruangannya.
Sejenak, ada keheningan tercipta diantara mereka bertiga, tak ada yang mengeluarkan suara, sibuk dengan pikirannya masing-masing, yang hanya terdengar isak tangis Lorena. Devilito kemudian meraih bahu istrinya dan memeluk, "sabar sayang, semua akan berlalu dan malam ini kamu pulang ya, istirahat di rumah dulu, kamu sudah beberapa hari kurang tidur, kasihan bayi kita", Devilito mengusap perut istrinya, kemudian mengangguk pada Marcel untuk keluar dari situ.
***
Hari menjelang malam ketika Hensly datang dan berbisik pada Devilito.
__ADS_1
"Ijin ketua, malam ini biar saya yang menemani nona Nita dan tuan Alex disini bersama Melvin, bagaimana?". Devilito memperhatikan raut wajah anak buahnya ini sejenak, tiba - tiba Lorena menghampiri, "ada apa yank?".
Devilito kemudian memberitahukan keinginan Hensly pada istrinya tersebut. "Oh ngga apa - apa yank kalo gitu, biar malam ini kita pulang aja, titip papa sama kak Nita ya Hans...", ucap Lorena kemudian pada Hensly, "siap nyonya!".
"Yaudah kalo gitu, kamu disini. Kalau ada apa - apa, kabari secepatnya", Devilito pun mengizinkan Hensly untuk tinggal, "Siap ketua".
Dalam perjalanan pulang, Lorena bertanya tentang pengganti Hendra Wijaya di perusahaan milik suaminya tersebut. "Aku udah siapkan penggantinya, dari kalangan akademis. Tapi perlu aku tes lagi nanti". Lorena melirik, "siapa orangnya yank?". Tetapi omongan Devilito terputus, tiba - tiba...
Ciitt...dukkk !!!
Mobil sedan putih yang di depan mereka terhenti ketika sebuah mobil dari arah jalur kanan dengan kecepatan tinggi menyalip dan berhenti mendadak tepat di depan mobil putih tersebut, terdengar bunyi benturan. Devilito reflek menekan pedal rem mobilnya. Lorena kaget sampai mengusap dadanya, "Ihh..kenapa sih itu orang !?".
Seorang pria kira-kira umur 30 an keluar dari mobil yang memepet mobil sedan putih tersebut, mukanya terlihat penuh amarah. Pria itu menggedor dan berusaha membuka handel pintu sedan, namun sepertinya sengaja di kunci dari dalam. Ia berteriak - teriak menyuruh pengemudi sedan yang sepertinya wanita untuk turun, itu terlihat dari ucapan memaki pria itu sambil mengeluarkan kata - kata kotor.
Suasana jalanan tidak begitu ramai, tapi tetap menimbulkan antrian beberapa mobil yang tidak bisa lewat karena terhalang oleh mobil si pria tadi.
Satu orang dari arah belakang mobil Devilito berjalan menghampiri pria tersebut, adu mulut pun terjadi. Si pria yang mengamuk tiba - tiba memukul orang yang ingin melerai tadi. Adu jotos pun terjadi. Namun, pria yang ingin melerai jatuh terlentang di aspal. Pria yang mengamuk itu sepertinya punya keahlian bela diri. Beberapa orang yang ingin berniat menolong, mengurungkan niatnya kembali karena takut.
Devilito hanya diam memperhatikan, Ia hanya menyandarkan kepalanya di jok mobil sambil tangan kirinya mengusap kepala Lorena yang bengong, tapi bukan takut. Tapi, ketenangan Devilito terusik ketika pria tersebut berlanjut memecahkan kaca samping kemudi mobil sedan, membuka pintu dan kemudian menarik wanita yang ada di dalamnya. Terdengar suara anak perempuan kecil menangis histeris. Dan, Devilito tersentak ketika wanita tersebut di tampar oleh pria itu setelah terjadi adu mulut.
Devilito tersentak, Ia membuka seat belt, lalu turun. "Yank..yank, ngga usah!", Lorena mencegah suaminya yang sudah membuka pintu. "Ngga ada yang boleh menunjuk dan membentak istri Klabang Mentari !", ucapnya dingin tanpa hiraukan larangan istrinya. Ia berjalan tenang menghampiri ketika tangan si pria ingin menyeret wanita yang sepertinya istrinya. Ketika melihat Devilito datang, pria itu melepaskan cekalan tangannya di tangan wanita itu dan beralih menatap Devilito.
"Jangan ikut campur kau !", ucapnya menunjuk muka Devilito yang kian mendekat.
"Anda mengganggu pengguna mobil lain !, saya salah satu pembayar pajak yang taat", jawab Devilito dingin, berjalan perlahan, kian mendekat.
"Ini urusan rumah tangga gue !, mundur kau !", pria kekar ini ingin bersiap dengan segala kemungkinan, "Ini istri gue", ucapnya melanjutkan kalimatnya.
"Mantan istri lo !", ucapannya di timpal langsung sang wanita itu.
"Saya ngga peduli itu istri Anda atau bukan, kalau benar suaminya harusnya Anda bisa selesaikan di rumah, bukan di jalanan dan mengganggu pengguna lain seperti ini!", Devilito menyahut dan berhenti ketika posisi sudah dekat. Sang wanita tadi pun langsung menghampiri anaknya yang menangis di dalam mobil, ketika cekalan tangan terlepas.
"Kau ngga perlu mengajari saya bagaimana hadapi istri, itu urusan saya, kau ngga usah ikut campur, paham !", Ia mengangkat telunjuknya menunjuk muka Devilito. Namun, Devilito tetap tenang, "Saya ngga ada urusan dengan masalah Anda, dan menjadi urusan saya ketika Anda membentak istri saya!", ujar Devilito memberikan tatapan membunuhnya.
__ADS_1
Pria kekar itu marah, dia menghampiri Devilito perlahan dan ingin mencengkram leher. Tetapi, tangan itu belum menyentuh kerah baju, Devilito entah kapan bergerak, tiba - tiba pria tersebut terhuyung ke samping. Tendangan memutar Devilito mendarat telak di leher bawah kupingnya. Ia terjajar di trotoar jalan. Cuping telinganya panas.
Pria tersebut kaget, tetapi Ia segera mengatur posisinya dan menyerang dengan gaya boxer. Sesuai dengan postur tubuhnya yang kekar dan terlihat sedikit terlatih. Ia melancarkan long hook kanannya disusul dengan upper cut kiri. Dua - duanya hanya mengenai angin, karena Devilito melakukan gerakan berkelit ke samping dan mundur teratur.
Suara - suara teriakan sekitar sudah tak di pedulikan lagi oleh pria tersebut, Ia tetap maju menyerang Devilito, kali ini dengan tendangan lurus cepat menghantam dada suami Lorena ini. Tetapi tetap mengenai angin, dan justru kuda - kudanya oleng ketika Devilito bukannya mundur, Ia malah melakukan counter attack dengan cara bergerak ke samping luar, menepis dengan dengkul dan memukul dengan tangan kiri mengarah ke otot bisep bawah pergelangan tangan pria tersebut.
Devilito tak berhenti, Ia susul dengan double kick beruntun mengarah pinggang dan pelipis, serta berlanjut ketika pria itu dalam posisi terhuyung, dengan tendangan loncat menggunakan dengkul, mengarah ke rahang, telak !.
Pria itu langsung terkapar tak berdaya, kepala belakangnya terbentur aspal, Ia ingin bangkit namun tak kuat.
Devilito menghampiri, sepertinya ingin menghabisi. Lagi - lagi, harus terhenti ketika sang istri, Lorena berteriak, "Yank, Udah !, cukup !".
Lucunya, orang - orang sekitar justru bertepuk tangan melihat adegan itu. Entah karena dapat tontonan gratis, atau memang karena geram dengan pria tersebut.
Lorena lalu menghampiri wanita yang sedang mendekap anaknya tadi, "mbak, sini...ngga apa - apa, sini", ajak Lorena ketika di lihat paras wanita tersebut ketakutan. Dan mengajaknya berbincang ketika suasana mulai kondusif, jalanan mulai lancar ketika pria yang setengah pingsan sudah di amankan dan mobilnya di bawa ke tepi jalan.
Wanita tersebut akhirnya bercerita bahwa pria tersebut adalah mantan suaminya, karena dia baru selesai proses perceraian di pengadilan. Pria tersebut tidak terima di gugat. "Dia nikah lagi dengan mantan pacarnya dulu, dan hamil. Saya tidak tahu kalo dia sudah nikah siri, itulah kenapa saya gugat, dan dia tidak terima".
"Mbak bekerja atau Ibu rumah tangga aja?", tanya Lorena kemudian sambil mengelus - elus rambut anak wanita itu. "Saya bekerja, saya head officer di perusahaan xx, tetapi dua hari yang lalu dipaksa resign karena yang punya perusahaan itu adalah bapaknya selingkuhan suami ehh mantan suami saya tersebut", ucap wanita tersebut dengan muka sedih.
"Mbak sudah berapa lama bekerja disana?", kali ini Devilito angkat bicara, ada hal yang menarik dan terlintas di benaknya, Ia cukup mengetahui perusahaan tempat wanita ini bekerja. "Enam tahun, dan baru dua tahun ini di proyeksikan sebagai head officer", jawab wanita tersebut.
"Mbak namanya siapa ?, saya Lorena dan ini suami saya Devilito" ujar Lorena kemudian memperkenalkan diri.
"Oh iya, saya Dessy Roumaken, ini anak saya Shindya Lisistra umur lima tahun dan saya sepertinya tahu dengan bapak Devilito ini, pemilik group Cakra Buana Gurita bukan?, bapak Devilito Arkansa ?".
Devilito menganggukkan kepalanya meng-iyakan.
Lain halnya dengan Lorena, "Kenal di mana mbak dengan suami saya?", selisik pertanyaan Lorena. Dessy menangkap sinyal pertanyaan itu, "Oh kenal secara pribadi ngga mbak Lorena, tapi para pengusaha pasti tahu siapa bapak Devilito ini, beliau kan baru masuk di majalah Forbes, sebagai pengusaha muda sukses dan tangguh!".
"Oohh..", Lorena malu sendiri karena sudah berpikiran melebar, "malu tuuh, bel..aduh sakit yank", Devilito berbisik tetiba cubitan halus istrinya sukses mendarat di pinggangnya.
"### Okeh, kalo gitu nanti saya tunggu lamaran kerja Anda di kantor saya", ucap Devilito mengakhiri percakapan, sambil meringis memegang pinggangnya bekas cubitan istri.
__ADS_1
-
Bersambung