
Tanpa terasa sudah 3 hari mereka terdampar di pulau tak berpenghuni ini. Dengan berbagai cara yang di lakukan untuk mendapatkan pertolongan, mulai dari menulis kata 'tolong' di atas pasir agar terlihat dari udara sampai menyusuri area pulau sambil berteriak - teriak dengan harapan ada orang lain di sekitar pulau tersebut mendengarnya. Namun usaha mereka sia - sia, tidak satu pun bantuan yang datang.
Lorena sendiri mulai terbiasa dengan kondisi sekarang ini, Ia sudah bisa mencari udang di balik batu - batu pinggir aliran sungai kecil yang terhubung ke laut lepas. Sore ini Ia mendapat tangkapan udang lumayan banyak dengan ukuran cukup besar, dan bisa di bakar.
Ia berlari menghampiri Devilito yang sedang buka baju duduk di atas pasir.
"Kak Devi, aku dapat udang lumayan banyak lhooo, gede - gede lagi" lapornya kegirangan seperti anak kecil dan mengambil tempat duduk di samping Devilito.
Devilito melirik muka Lorena sekilas, lalu mengatakan,
"Sejak kapan kamu panggil aku kakak?"
"Sejak sekarang, kenapa emangnya ?", Ia menyipitkan matanya melihat Devilito.
"Lagian kak Devi kan emang lebih tua dari aku, ngga enak manggil 'kamu' doang"
"Ya gpp juga sih" Devilito menarik hidung bangir Lorena dengan gemas.
"Ihh..sakit"
Ia menepis tangan itu lalu mata Lorena berpindah melihat punggung Devilito,
"Kak itu..punggung kamu kok di tato sih?, kayak yakuza - yakuza yang di film deh" Ia beringsut jongkok di punggung Devilito memastikan gambar apa gerangan.
"Kalau yakuza tato nya kan seluruh badan, aku kan di punggung doang" jawab Devilito santai. Mata nya masih menatap lurus ke arah depan.
"Tapi kan sayang kulit putih bersih begini harus di gambar,.. binatang pula, apa ya ini ? oooh kelabang !" katanya sambil beringsut duduk ketempat semula.
"Emang kenapa sih harus gambar kelabang?" Lorena penasaran, soalnya gambar itu seolah ada cerita di baliknya.
"Kalau ketemu kamu dari dulu, gambar muka kamu yang aku tato" kata Devilito menjawab dengan candaan receh sambil tersenyum smirk.
"Halah..baru berapa hari bersama udah berani menggoda niii" katanya sambil colek - colek bahu Devilito.
Devilito hanya tersenyum lalu tangan mengusap kepala Lorena yang tiba - tiba terdiam mendapat perlakuan seperti itu.
"Eh...maaf", Devilito menarik tangannya kembali, lalu menatap lurus ke depan.
Cup !
Lorena tiba - tiba mengecup pipi Devilito.
"Makasih ya sudah menyelamatkan aku"
Devilito terpana sesaat mendapat kecupan colongan, Ia menatap manik mata Lorena lalu berdiri dan mengecup ubun - ubun kepalanya.
"Aku akan menggagalkan pernikahan kamu dengan anaknya Jimmy" Devilito berjalan pelan pergi dari situ. Lorena mengikuti di belakang.
"Jimmy itu orang berbahaya ,kak Devi bisa celaka nanti sama dia kalau ikut campur"
"Kata - kata itu seharusnya kamu ajukan buat Jimmy bukan buat aku"
"Hah.? trus gimana cara membatalin pernikahan itu?"
"Aku yang akan menikahi kamu !" jawab Devilito mantab sambil tetap berjalan menuju tempat udang yang di tangkap Lorena.
"Ehh..." Lorena terperangah, Ia menutup mulutnya yang terbuka.
__ADS_1
"Udang ini buat nanti malam aja ya kita bakar, aku mau nyari ubi singkong di sebelah sana, mau ikut?" Devilito mengalihkan pembicaraan dan menunjuk kearah semak yang belum pernah mereka jelajahi.
"A-apa tadi kamu bilang?"
"Aku mau nyari ubi kayu atau singkong, kamu mau ikut ngga?" Devilito tahu bahwa Lorena pasti melamun karena memikirkan omongannya.
"Tapi ini masih sore gpp?"
"Gpp, paling jelang magrib kita udah balik kesini"
"Yaudah, aku ikut" Lorena sebenarnya masih ingin menanyakan maksud omongan Devilito tadi, tapi Ia pikir nanti saja.
Mereka berdua menyelusuri jalan setapak di pinggir lereng bukit yang banyak di tumbuhi tumbuhan liar tetapi bentuknya sangat indah sampai akhirnya Devilito menghentikan langkahnya,
"Lihat..." katanya menunjuk ke depan.
"Waaahh...indah bangeeeet " Lorena terperangah melihat panorama yang ada di depannya.
Sebuah telaga kecil alami nan jernih dengan air terjun di kelilingi tumbuhan flamboyan berwarna merah dan bunga kecrukan berwarna warni bermekaran menghampar di depan mata, belum terjamah oleh siapapun.
Beberapa saat mereka menikmati itu.
"Kenapa ngga dari kemarin - kemarin kita kesini ya?" Lorena berkata pelan pada Devilito.
"Kan baru tau.."
"Aku mau mandi boleh ngga?, dua hari ini cuma mandi air laut"
"Yaudah, yuk kita mandi.."
"Rena...tunggu dulu!"
"Arrggh..kenapa kak Devi telanjang?"
"Aku masih pake hot pant oneeng"
"Yaa, tapi kan aku maluuu"
"Ya jangan liatin, simpel kan?, udah ah mau mandi aja berisik!"
Sekitar 1 jam baru mereka menghentikan kegiatan mandi. Devilito dan Lorena keluar dari telaga dengan kesegaran baru. Tetapi kemudian Lorena tersadar dia tidak punya baju ganti. Dan, saat ini sudah basah kuyup berikut baju.
"Gimana inii ?" Lorena sedikit panik melihat ke pakaiannya dan Devilito mengerti apa yang membuat gadis ini panik.
"Naah kan baru mikir ??"
"Yaa, masa aku mandi ngga pake baju di depan kamu?" ujarnya malu membayangkan kalau dia harus polos di depan Devilito.
"Udah terlanjur, nanti pake kemeja aku aja, sekarang cuci gih, aku tunggu disana" Devilito berbalik badan pergi dari situ.
"Jangan jauh - jauh dan jangan liat - liat !" Lorena mencari tempat agak tersembunyi dekat aliran air yang mengalir menuju laut lalu mencuci pakaiannya berikut **********.
Beberapa lama kemudian, Lorena sudah kembali dari mencuci pakaian dan sudah memakai kemeja yang menutupi sampai pahanya.
"Kak Devi jalan duluan.." perintahnya beberapa meter dari tempat duduk, Ia berjalan pelan dengan perasaan campur aduk, malu.
Sampai di pondok, Devilito langsung membuat api unggun , dan meminta baju bekas cucian pada Lorena yang berada di dalam pondok.
__ADS_1
"Jangan naik..!" Lorena mengulurkan bajunya kebawah dari balik pintu.
Dan Devilito menjemurnya dekat api unggun biar cepat kering, lalu mengambil tempat duduk di bawah tangga.
Beberapa lama di antara mereka tidak ada yang membuka percakapan, masing - masing sibuk dengan pikirannya. Lorena memikirkan bahwa Ia hanya memakai kemeja tanpa memakai apa - apa lagi.
Ya ampuun Renaa...seumur hidup baru kali ini lo berduaan ama laki , gak pake busana pulak...hadeeehhh
Ntar kalo dia berbuat mesum gimana? kan dia pria dewasa yang normal? Arrrrgghh
Lorena kebingungan sendiri jadinya.
Sementara di bawah, Devilito sibuk memikirkan bagaimana cara nya dia menggagalkan pernikahan Lorena nanti. Ia merancang strategi untuk menghancurkan Jimmy yang di dukung oleh jaringan Ruiz Hernandez dari meksiko
Mau ngga mau gue harus offensif, mereka sudah memulai perang tapi bagaimana dengan Alexander ? harus di lumpuhkan juga ? dia papa nya Lorena dan Kirana...tapi, Raymond pasti berkhianat, naah gue harus dekati papa nya..bisa pasti !
Waktu sudah beranjak malam, Lorena yang tiba - tiba terbangun karena perutnya berbunyi, Ia lapar.
"Kak Devi...aku lapar" katanya memelas dari dalam pondok membuyarkan konsentrasi pikiran Devilito.
"Sebentar, aku cek pakaian kamu dulu"
"Dalaman kamu udah kering, tapi yang dress nya masih lembab, gimana?" teriaknya dari tempat jemuran. Tapi ia tetap mengambil CD dan BH aja dan memberikannya pada Lorena.
"Kamu pake aja itu ini dulu"
"Aku malu kaaak..." suara rengekan dari dalam pondok
"Udah gpp, kan masih ketutup kemeja, kalo ngga kamu disitu aja, aku bakar udang dulu"
"Btw itu ukuran yang tadi berapa yah ?" ledekan Devilito mampu membuat muka Lorena seperti kepiting rebus, malu.
"Diemmm !!!"
"Hehehe"
"Garing dasar!" Lorena kesal matanya celingak celinguk mencari sesuatu yang bisa di lempar, tapi tidak ada.
Setelah berapa lama Lorena mencium bau udang yang dibakar membangkitkan selera makannya, di lihat nya Devilito sedang mencicipi makanan sendirian. Perutnya meronta..
Sialan..dia makan sendiri !
Biarin deh pakaian begini ...
Ia lalu turun ke bawah bergabung dengan Devilito, Ia tidak peduli lagi.
"Lah..kok kamu kesini?" Devilito melihat ke arah Lorena yang saat itu berpakaian sangat menggoda, tapi justru Ia kemudian cekikikan.
"Diam, aku lapar" Ia merebut udang yang ada di tangan Devilito, lalu memakannya.
"Jangan liat - liat, awas !" lanjutnya mengancam.
"Udah keliatan"
"Bodo amat!"
-
__ADS_1
Bersambung...