Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.42 Perseteruan-2


__ADS_3

Lorena keluar dari ruangan pak Dodit dengan senyum kecut, masih terlihat guratan kesalnya. Ia tidak mempermasalahkan pak Dodit yang memanggilnya, Ia kesal karena ancaman ibu Shania tempo hari yang akan melaporkannya, ternyata terbukti.


Tak tahu malu..! urusan pribadi jadi urusan ranah kampus, pake surat panggilan pulak, hampir aja gue kena pecat


"Tunggu..!" terdengar suara ibu Shania dari belakang menghentikan langkahnya. Hadeeehh...apa lagi sih?


"Kamu jangan girang dulu ya..? saya belum mengaku kalah!" ibu Shania melototkan matanya, ingin menelan Lorena hidup-hidup. "Aduuh...ibu ini kenapa sih sebenarnya?, siapa yang girang ?, justru ibu mengganggu ketenangan saya, tau ngga sih bu?" Lorena berbalik badan menghampiri, muka mereka hampir tabrakan.


"Kamu mempermalukan saya di depan pak Dodit dan pak Sandi, saya tak trima itu !" Shania menunjuk muka, Lorena menepis tangan Shania, lalu mendekatkan wajahnya, "Yang mempermalukan itu diri ibu sendiri, ngapain ibu ganggu suami saya lagi?, kan sudah di bilang kalau suami saya sudah tidak mau lagi sejak dulu ibu tinggalkan, ya kan?" ucapan menohok Lorena mampu bikin Shania tertegun. Berarti Devi cerita masa lalu nya ? apa dia juga tahu dengan Cerlotta hm?


"Owh..ternyata kamu tau masa lalu Devi, apa semua kamu sudah tau?" Shania memajukan muka nya, mengejek.


"Saya tau semuanya, tentang ibu punya pacar lagi dan tinggalin suami saya, juga tau.." Lorena tak mau kalah gertak.


"Tapi apa Devi tau masa lalu kamu..?, tau tentang Linggar heh..?" serangan Shania seketika bikin Lorena bingung, Ia mencoba mengingat nama itu.


Linggar..? gue aja lupa, tapi kenapa Shania ini tau Linggar? apa hubungannya dengan Linggar?


"Kenapa kamu diam?..saya yakin Devi belum tau kan?"


"Apa hubungan ibu dengan Linggar ?, selingkuhan ibu kah?, bukannya Ibu tinggal serumah ama bule inggris?, udah lah bu, suami saya juga yakin pasti sama saya, bukan sama ibu.." Lorena berusaha menguasai gugup dalam dirinya. Mati gue kalo keduluan Shania yang cerita...ah tapi ngga mungkin juga kena marah gue mah, itu kan masa lalu, cuma belum cerita aja.


"Kamu ngga perlu tau hubungan saya dengan Linggar, pasti kan aja kamu siap kehilangan Devi!" Shania memutus percakapan, lalu pergi meninggalkan Lorena yang tertawa mengejeknya.


Laah...ibu ini maniak kali yah?, pede banget ngomongnya gue kehilangan, dia ngga tau laki gue koplak orangnya..issh


"Lo kenapa bengong disini Ren?" tiba-tiba bahu nya di keplak temannya Dita yang keluar ijin dari kelas, Ia tadinya penasaran dengan kasus Lorena , Ia ingin mengintip tapi keburu bertemu Lorena.


"Ngga kenapa², itu ibu Shania nyari perkara ama gue" Ia menunjuk dengan mukanya ke arah punggung Shania yang berjalan menuju parkiran mobil.


"Ehh kenapa?, lo cerita dong..?, ehh kita ke kantin aja yuk"


"Loh, bukannya dosen udah masuk ya? gue mau pulang aja, nanti deh gue crita ama lo, ini urgent" elak Lorena, Ia harus bertemu secepatnya sama suaminya, sebelum keduluan Shania cerita Linggar. Huh..! Linggar, masih hidup lo!


"Udaaah ayok, gue juga mau nanya kejadian semalam ,lo begoin gue..ternyata lo ama laki lo kenal ama Marcel, ihh" Ia mencubit lengan Lorena lalu menarik tangannya ke kantin.


Seketika, Lorena terbahak menutup mulutnya, Ia mengikuti tarikan Dita. "Pelan² oneng, sakit tangan gue!"


Di kantin, Lorena menceritakan semua nya, termasuk pemanggilan resmi kampus karena urusan pribadi dengan sang dosen, walaupun ada yang Ia tutupi, status kepemilikan kampus.


"Hahh?, beneran itu ibu Shania, pantas kemaren lo berani banget hadapin ibu dosen, mau jadi pelakor critanya?"


"Seriusan gue..!, kalau ngga ngapain gue ngga sopan gitu ama dia di kantin".


"Eh baidewei, suami lo itu siapa sih sebenarnya, kok Marcel aja kayak takut gitu, hati² jawabnya waktu gue tanya pulang dari rumah lo semalam" Dita penasaran, soalnya semalam setelah Marcel cerita kalau dia sebenarnya kenal ama suami temannya ini, Marcel ngga mau jawab kalau di tanya kenal dimana, ada yang di tutupin.


Ya iyalah takut, secara pacar lo anak buah suami gue haha


"Yaa, gue ngga tau..lo tanya aja sendiri ama suami gue, hahaha..udah ah, gue mau ke kantor suami gue dulu, udah janji soalnya" Lorena berusaha mengatasi mood nya yang drop hari ini, Ia tidak begitu antusias bercerita dengan Dita.

__ADS_1


"Eh iya, lo kapan nikah? jangan kelamaan pacarannya, ngga baik!"


"Iyaa, bentar lagi gue juga lamaran, tenang aja!" jawab Dita, mereka berjalan beriringan , Dita mau ke kelas, Lorena menuju luar kampus.


"Lo bawa mobil kan? gue nitip tas gue ya"


"Okay"


Sampai di lobi kampus, Lorena di hadang pak Sandi. " Ada apa pak Sandi?" tanyanya, dilihatnya pak Sandi celingak celinguk mau bicara, takut ada yang memperhatikan.


"Mm, gini..maaf sebelumnya, bukan maksud saya memperkeruh suasana, saya tadi lihat ketegangan antara Shania dan Rena di lorong kelas.." Sandi menghentikan kalimatnya sejenak, Ia larak lirik lagi kiri dan kanan, takut ada yang melihat mereka.


"Tenang aja pak, ibu Shania sudah pergi kayaknya" Lorena seperti menduga apa yang di pikir pak Sandi ini.


"Okeh..gini, Lorena saya mohon jangan rekomendasikan Shania untuk keluar dari kampus ini ya" Sandi menyampaikan maksudnya, Ia sudah tau siapa Lorena, mahasiswi sekaligus nyonya pemilik kampus.


"Owhh..pak Sandi, pacarnya atau suami ibu Shania ?" Lorena langsung menangkap makna di balik kata pak Sandi. "Ehh..saya sedang pedekate sama Shania" Sandi garuk² kepala nya yang ngga gatal, malu.


"Owh, sudah resmi pacaran?" tanya Lorena kepo, ini salah satu bahan serangan balik nya nanti. "Sebenarnya udah, tapi Shania ngga ingin di ekspos, kan ngga boleh, harus pindah salah satu, sebentar lagi saya mau melamar, nanti saya yang pindah" Entah kenapa Sandi justru jadi curhat pada Lorena.


"Loh, kalo ngga boleh di ekspos, kenapa kasih tau saya pak?" tanya Lorena, iseng.


"Saya takutnya nanti Rena marah, trus mendepak Shania, saya kan baru tau siapa kamu..ehh" jawab Sandi jengah, Ia ragu memanggil Lorena sekarang, Ia kikuk.


"Biasa aja sama saya pak, saya masih Lorena yang dulu kok hehe", "tapi pak Sandi tau kenapa bu Shania marah sama saya?" Ia ingin menyelidiki, apakah Sandi ini tau masa lalu calon istrinya.


"Mmh ngga tau sih.."


"Maaf pak Sandi, saya tinggal...online nya sudah datang" Ia ngga hati sebenarnya, gue kan cabut dari kelas, ala² SMA hihi


"O yaudah Ren, maaf tadi jadi curhat ya"


"Oh ngga apa² pak"


--Di kantor Devilito--


"Suami saya, ada mbak Indri..?"


"Oh ada di dalam bu, langsung aja"


Tok..tok..tok, siapa..?


Lorena merasa ngga perlu jawab, Ia langsung buka pintu, lari langsung tengkurap di sofa. Devilito tadinya hampir marah ketika seseorang main terobos masuk ruangannya, tapi setelah tahu siapa yang masuk, Ia menarik nafas dan membuang pelan-pelan.


"Kenapa yank?, capek..?" Devilito yang sedang depan laptop nya, berdiri menghampiri istrinya.


"Hmmm..." cuma itu yang keluar dari mulut istrinya, masih tengkurap.


"Tas kamu mana?, kamu ada masalah..?" Devilito melihat samping kiri kanan istri nya.

__ADS_1


"Mantan kamu tuh, cari gara-gara mulu!"


"Owhh ..kenapa lagi Sha-sha?".


"Shania, sha sha sha sha...ganti manggilnya ah !"


"Iyaa, Shania kenapa lagi..?" Devilito melembutkan suaranya, tangannya memijit pelan punggung istrinya. Ia tau, istri sedang kesal. Tadi pak Dodit sudah menelpon menerangkan kejadian tadi. Agar Devilito tidak salah tanggap, dan sudah berakhir damai.


"Auk ah!..aku capek, numpang tidur dulu" Ia bangun, pergi ke ruangan belakang, disitu ada kamar mewah sang suami.


"Kamu kabur yah? ngga ikut kelas?" katanya berjalan ke pintu. "Iya, mood ku udah drop!" Lorena setengah berteriak dari kamar.


"Indri, keep semua urusan ya" Devilito hanya menongolkan kepalanya lalu menutup pintu.


"Oh baik pak" Indri sudah mengerti, bahwa sang bos tidak mau di ganggu. Kemudian terdengar suara pintu di kunci.


"Tadi ada kejadian apa yank..?" Devilito mendudukkan pantatnya di ranjang dekat kaki istrinya yang tidur melintang tengkurap, kakinya terjulur, masih pakai sneakers. "Jangan bahas dulu bisa ngga yank?", Lorena menjawab ketus, sebenarnya Ia sedang mengumpulkan niatnya untuk ngomongin Linggar, takut keduluan Shania.


"Eh iya, tadi Shania ada nelpon kamu ngga?" ujarnya masih dalam posisi tengkurap. "Ngga, tau dari mana dia nomor aku?" Devilito mengernyitkan keningnya kembali.


Syukurlah...jawaban yang membuat nya tenang.


"Kamu kalo tidur sepatunya di buka dulu dong" lanjutnya sambil membuka sepatu istrinya. Lalu lakukan pijitan ringan di betis. "Naah, gitu dong sesekali mijitin istri biar pahala" balas sang istri menikmati sentuhan lembut tangan suaminya.


"Kebalik yank, harusnya istri yang mijitin suami biar dapat pahala, kalo ini mah dapat hadiah" Devilito tersenyum misterius.


"Loh..ini gimana maksudnya deh, kok pijitan berubah elusan nih, betis ajaa..jangan ke atas" tapi Ia tak menepis tangan suaminya.


"Yankkk...jangan di situuu.." suara Lorena mulai berubah, Ia makin menikmati sensasi. "Yankkk...akhh" suara Lorena berubah erangan ketika tangan suaminya memijat area sensitif.


***


Dua jam kemudian,


Devilito sudah kembali di depan laptopnya, dan Lorena mengeringkan rambutnya dengan hairdryer yang sudah di persiapkan sebelumnya.


"Yank, nanti malam ada undangan makan malam di hotel H jam 20.00, kamu ikut ya"


"Nanti malam..?, ini udah jam berapa? keburu ngga itu, macet loh yank, akses ke hotel H" jawab Lorena menghentikan kegiatannya.


"Keburu lah, yaudah kita pulang aja yuk?" Devilito melirik jam tangannya, udah sore.


"Emang aku harus ikut ya..?" Lorena sebenarnya malas, Ia makin terasa capek soalnya karena pijitan plus - plus suaminya barusan.


"Kalo kamu masih capek, aku di temani Indri aja, yang ngundang rekan bisnis soalnya, jadi ngga enak dibatalin" Devilito memberikan senyum jailnya.


"Yaudah, aku ikut!"


-

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2