
Devilito berhasil menghancurkan jaringan Raymond yang bekerja sama dengan jaringan Jimmy Ikusawek. Ia melalui koneksi nya di aparat kepolisian berhasil menggulung anggota rumble squad termasuk pimpinannya Jimmy yang mengalami luka tembak di perut.
Sisa - sisa anggota rumble squad yang belum tertangkap, berhasil melarikan diri keluar negeri, termasuk Raymond. Posisi Aksan sendiri masih misteri. Sedangkan dua kaki tangan Jimmy, Rudi Gomber dan Hector mati tertembak oleh penyerbuan yang di pimpin oleh Marcel dengan dukungan kwarted Tito, Dasmond, Hensly dan Melvin.
Peran Giring sendiri sangat sentral. Ia dan tim IT nya berhasil meretas alur transaksi perusahaan - perusahaan milik Jimmy di black market dan mengirimkan bukti mereka tersebut ke divisi cyber crime kepolisian yang kemudian melakukan tindakan penangkapan terhadap pejabat yang terlibat.
***
Sebulan berlalu semenjak kejadian menghebohkan tersebut, Alexander mengumpulkan seluruh anak buahnya yang masih loyal, termasuk Hensly dan Melvin. Ia mengumumkan pembubaran organisasi elPaso dan akarnya, Ia mengundurkan diri dari seluruh kancah bisnis.
Para anak buah di persilahkan kembali ke kehidupan normal mereka masing - masing, kecuali beberapa orang yang masih setia memilih bergabung dengan Devilito di bawah bendera Lidah Api. Termasuk Hensly dan Melvin. Ia sengaja di minta oleh Alexander untuk bergabung memperkuat jaringan Devilito.
Duo tandem itu di beri tugas khusus di mansion untuk menjaga Alexander dan Donita.
***
Devilito merasakan akhir - akhir ini Lorena semakin posesif terhadap dirinya. Itu di rasakan sejak sebulan yang lalu, sang istri meminta Ia harus memberi kabar sedang dimana atau bertemu siapa, terkadang lewat video call. Ya, terkadang dia merasa risih, harus melakukan video call ketika Ia sedang melakukan meeting dengan relasi bisnisnya.
Ia tidak habis pikir, kenapa Lorena menjadi seperti itu, pernah suatu kali di tanyakannya namun sang istri cuma menjawab cuek, yaa itu kan salah satu bentuk perhatian suami terhadap istri nya!
Seperti hari ini, Lorena sudah memulai kuliah, tetapi Ia tidak mau pakai mobil sendiri pergi ke kampus, harus di antar Devilito, malas nyetir sendiri alasannya.
"Nanti kabari aku kalo udah sampe kantor ya" ucap Lorena sebelum turun dari mobil ketika sudah sampai di parkiran kampus.
"Iya, nanti aku kabari, kamu hati - hati" jawab Devilito kemudian melambaikan tangannya dan meneruskan kembali perjalanan menuju kantor.
Hari ini, adalah hari pertama Lorena kembali memasuki kampus setelah hampir 2 bulan lamanya tidak menginjakkan kakinya disini. Tentunya, setelah Ia mengajukan aktif kembali pada pihak kampus melalui anak buah Devilito.
Dan, semalam, Ia menghubungi Dita menanyakan jadwal mata kuliah, ternyata kelas pagi. Grogi sih, apalagi beberapa pasang mata yang menatap heran sambil berbisik - bisik.
Belum lagi menjawab pertanyaan teman - temannya waktu berpapasan, "Ya ampun Rena..kemana aja lo?", atau "Eh..Rena, lo ngga keliatan - keliatan..kemana sih?", atau,
"Renaa..astagaa, lo yang ada di berita orang yang ilang itu ya?" tanya Gendis, bertubuh gemuk memeluknya erat, "Gendis, gilak lo..sesak nafas guee!"
Dita yang sedang berada dalam kelas, mendengar suara berisik melongok keluar kelas.
"Renaa..sahabat akuuu, gimana lo baek - baek aja?" tanyanya sambil memeluk erat.
"Isshh...barusan Gendis sekarang elo, sesak nafas gue Dita!"
"Eh soriii..kangen gue ama lo, elo harus cerita!" Dita memegang kedua bahu sahabatnya.
"Ntar aja ceritanya " Lorena mengatur nafasnya lalu berjalan masuk ke dalam kelas.
"Oh ya, btw..pak Aksan pindah ya Ren?" tanya Dita ketika menjejakkan pantat di bangku.
"Iya, pindah keluar negri" Lorena menjawab sekenanya.
"Owalah, trus tau ngga lo..dosen yang gantiin pak Aksan, orang nya cantik banget, tapi agak judes!"
"Trus kalo cantik, lo naksir ??..udah belok lo sejak ngga ada gue?" jawab Lorena meledek.
"Sshut !..itu orangnya" Dita memainkan matanya memberitahu ke arah pintu, seorang dosen memasuki kelas.
"Pagi kelas..." sang dosen, berambut sebahu bergelombang dengan kaca mata bulat model kekinian menyapa ramah.
"Pagi buu.." mahasiswa menjawab serempak. Rata - rata yang duduk di depan adalah anak cowok, yang memang sengaja mengambil alih kursi jika pas matkul dosen ini.
"Oh ya, absennya tolong di jalankan" dosen menyerahkan tabel daftar absen pada seorang anak laki, matanya memperhatikan ruangan kelas.
__ADS_1
"Sepertinya ada mahasiswi baru di pelajaran saya hari ini, hm?" tanya nya mengarah ke Lorena.
Lorena yang di tanya, menegakkan duduknya memperkenalkan dirinya,
"Saya off kuliah dua bulan ini bu, nama saya Lorena Sangaji"
"O begitu..baik, sudah lapor dekan?ketinggalan kamu silahkan tanya teman di sebelahnya, mari kita mulai.." sang dosen lalu membuka buku tebal berisi ilmu akunting.
"Siapa nama dosennya Dit?, gue kirain dia mau ngasih tau namanya tadi" tanya Lorena berbisik.
"Namanya Ibu Shania Sesvara" jawab Dita pelan.
"Ooh.." Lorena lalu membuka bukunya, tapi Ia baru ingat, kayaknya pernah dengar nama itu.
"Ehh siapa tadi??" Lorena tanpa sadar suaranya naik berapa oktaf.
"Shutt..suara looo!, pelanin !" Dita menyikut tangan Lorena.
"Ada apa itu..siapa nama kamu tadi??..oh ya, Lorena kenapa kamu?" tanya bu Shania menghentikan tulisannya di whiteboard.
"M-mmaaf bu, ngga ada apa - apa, tangan saya kena sikutan Dita" Lorena menutup mulutnya, dan mendapat pelototan mata dari Dita.
"Enak aja lo, nyalahin gue!" katanya pelan mukanya tetap mengarah ke depan.
"Hmmm..tolong serius dalam pelajaran saya ya" mata sang dosen menatap tajam ke arah Lorena.
Lorena hanya diam, Ia menatap balik mata dosen sejenak, lalu menundukkan pandangannya seolah sedang baca buku.
Apa kebetulan namanya aja yang sama yah?..tolong dong jantung, kerja sama dikitlah, kok jadi deg - deg an begini... Lorena memegang dada kirinya, bermonolog sendiri.
Selama pelajaran berlangsung, Lorena tidak bisa fokus, pikirannya melayang entah kemana. Masalah hati.
"Kelas...?, untuk tugas minggu depan, salin yang saya tulis ini untuk panduan mengerjakan soal di bab IV yang ada di buku teori cetak. Saya kira sesi hari ini cukup, sampai ketemu minggu depan" sang dosen membereskan buku - buku nya, mengambil tas bersiap - siap meninggalkan ruangan.
"Baik bu"
"Oke bu"
"Siap bu"
Beragam jawaban yang terlontar dari mulut siswa pria, hanya di tanggapi dengan senyuman oleh sang dosen sambil berjalan anggun berlalu dari situ.
"Ya Allah, cantiknya calon makmum gue!"
"Sembarangan lo, jodoh gue ituu!" teriak satu siswa pria yang di belakang.
"Langkahin dulu mayat gue, kalo lo - lo pada mau deketin bu Shania" pria yang di pojok tepuk dada, tak terima dosen pujaannya di perebutkan.
"Ya ampoonn...heh !, kenapa kalian pada ngehalu sih ?" Lorena menggebrak meja, risih dengar teman - temannya yang seperti baru liat cewek cantik.
"Tapi, bagi gue tetap Lorena yang paling cakep !" salah satu cowok menunjuk Lorena dengan tatapan genitnya.
"Hadoowhh..! udah pada gilak, ayo Dit kita ke kantin aja, kangen gue ama baso nya mas Yanto".
"Hayukk.." Dita mensejajarkan langkahnya mengikuti Lorena yang sudah duluan berjalan.
Mereka berdua berjalan di lorong kampus menuju pintu samping yang menghubungkan kampus dengan kantin luar. Tiba - tiba lengan Lorena di cekal seseorang,
"Rena.."
__ADS_1
"Ro-robby??..apa - apaan sih, lepasin tangan lo !" Ia berontak menghentakkan tangannya melepaskan cekalan Robby.
"Hehh..!, jangan seenaknya main pegang orang doonng!" Dita ikut bereaksi.
Pria yang ternyata Robby mempelototi Dita,
"Diem..! ini bukan urusan lo, gue ada urusan ama calon bini gue !" Robby kaget, Lorena baru muncul di kampus, berubah galak dan mengubah panggilan jadi "lo - gue" kepada nya.
"Hahh..?" Dita menutup mulutnya yang membentuk huruf O.
"Diiihh..siapa yang mau jadi bini lo heh ?" Lorena membentak Robby sengit.
"Kamu lupa yah? udah di jodohin sama aku ?" Robby memberikan tatapan intimidasi.
"Tapi, lo juga lupa ?, kalo yang mau menjodohkan itu udah meninggal? bokap lo !, dan jangan harap sekarang lo" tunjuk Lorena ke arah dada Robby.
Dita yang tidak mengerti sama sekali, bingung mau berkata apa, Ia lalu menarik tangan Lorena,
"Udah Ren, ngga usah di ladeni, malu di liatin orang - orang tuh, hayok"
Robby hanya terdiam, Lorena sekarang berubah menjadi galak. Begitu juga Dita, Ia berjalan disamping Lorena tetapi matanya melirik terus kearah sahabatnya, Ia bingung,
"Lo lagi , kenapa ngeliatin gue kayak gitu, ada yang aneh?" tanya Lorena kemudian.
"Lo itu kenapa sekarang agak rada bar-bar yah?, tadi ama dosen, berani menantang matanya..sekarang brani bentak Robby, ada apa dengan dirimu??"
"Masa sih?, ngga ngerti juga gue, mungkin karna efek punya laki jagoan kali" jawab Lorena sekena nya, padahal Ia juga bingung kenapa sekarang spontanitas.
Seketika Ia ingat, Ia harus menelpon...Ia berhenti ke pinggir tembok.
(halo Ren..?tumben ngga pake vc)
"Kak, kok ngga ngabarin aku tadi? sekarang di kantor apa lagi diluar?"
(kamu cek WA kamu donk, aku lagi di kantor, sbentar lagi meeting sama pak Hendra, ada apa kesayangan aku?) Devilito di seberang sana sudah tau cara memperpendek percakapan kalo dia lagi sibuk, rayuan 'geli'..menurutnya.
"Isshh..ngga cocok ama profesi ngomong gitu!...udah ah, ntar aja kalo habis meeting kabari aku ya" mukanya bersemu merah, pipi merona kalau suaminya udah ngomong itu. Ia memutuskan komunikasi.
Ia baru sadar ada Dita di situ sedang menatap tajam kearahnya minta jawaban.
"Iyaa..nanti gue cerita"
"Kapan..?"
"Nanti malam lo ke rumah gue ya, nginep!, sekalian ketemu ama suami gue, tapi jangan ketawain gue ya?"
"Haddduhh..gue jadi bingung, asli !, emang suami lo tua bangka?".
"Enggak!, ntar aja pokoknya lo datang liat langsung orangnya, susah gue critainnya gimana" Lorena garuk - garuk kepala, malu karna omongan temannya dulu itu, menjadi kenyataan.
"Tapi, lo beneran udah kawin?, gue masih ngga percaya, sumpah!" tanya Dita.
"Iyaa..nikah udah, kawin juga udah hihi." jawab Lorena cekikikan.
"Aisshhh.." Dita memukul bahu Lorena pelan.
-
Baca terus...
__ADS_1