
Lorena terbangun di tengah malam, suara tangisan pelan Moreno Arkansa, sang putra pertamanya terdengar menembus mimpi dari kamar sebelah. Ia tersentak, Ia melepaskan pelukannya dari sang suami yang seperti tak terganggu oleh junior nya itu. Ia beringsut perlahan, turun dari ranjang, tak peduli piyama yang berantakan, Ia menepuk keningnya sendiri, semalam setelah ber-asyik ria dengan suami, Ia lupa untuk membersihkan badannya, terlalu lelah.
Ya Tuhan ..bahkan dengkul pun lemas di bawa jalan , ucapnya bergumam, berhenti sejenak memegang lututnya lalu berjalan dengan tertatih menuju pintu penghubung kamar putranya, di sebelah.
Putranya sedang gelisah, menarik - narik popok nya sudah basah, minta di ganti.
Beberapa menit kemudian, Ia selesai membereskan sang putra, waktunya memberi ASI. Namun, Morena putra nya itu justru malah menangis, Lorena berusaha membujuk dengan mengayun -ayun dan menyanyikan lagu - lagu yang dia tak hapal liriknya, lebih banyak bergumam. Tapi tetap tidak mau, p**ing p*yu**ra nya itu selalu di lepehkan sang putra. Suatu hal yang jarang terjadi.
Lorena menggendong Moreno dan membawanya ke kamar utama, Ia melihat, dengan tangisan seperti itu, sang suami tidak terbangun, malah tidur dengan nyenyak, akibat kecapean hasil kerja keras tadi.
Lorena berpikir sesaat, Ia meraba - raba tubuh putranya, tidak demam lalu berpindah ke tubuh, ngga ada yang sakit kayaknya Ia membatin dalam hati.
Dan,
Baru Ia ingat, tubuhnya belum di bersihkan...Aiishh pantessannn!. "Yank,...sayang", Lorena mengguncang tubuh sang suami agar bangun. "Hmm..", Devilito tersentak, Ia mengucek - ucek matanya, di lihat sang istri sedang berdiri di samping ranjang sambil menggendong sang putra, dengan suara berat bangun tidur Ia bertanya, "kenapa yank?".
"Moreno tolong pegangin dulu", sambil meletakkan putranya di samping bapaknya, lalu berjalan ke arah lemari seperti mencari sesuatu.
"Kamu nyari apa yank?, Moreno kenapa?", tanya Devilito sambil memegang kening putranya itu, badan dan lainnya. Sang junior malah tertawa - tawa ketika bapaknya meraba - raba, mungkin di kira di ajak bercanda.
"Moreno ngga mau net*k".
"Kok ngga mau?".
"Bau mulut kamu tinggal disini, aku lupa bersih - bersih tadi", ucap sang istri sambil mengelap tubuhnya bagian d*da dengan handuk basah.
"Owwalah Naak, ngga mau berbagi kamu yah?, haha..", Devilito tertawa geli di tengah malam sambil mencolek kening Moreno. "Issh..berisik yank!..tengah malam ini". Tapi sang junior malah tertawa terpingkal, kakinya di hentak - hentakkan ke udara, Ia merasa di ajak bercanda oleh sang papanya.
Alhasil, Devilito terpaksa harus begadang menemani Moreno bermain setelah mendapatkan ASI yang tak kunjung tertidur kembali.
***
Di Kantor...
Devilito di kagetkan oleh suara ketukan di pintu, Ia mengusap mukanya dengan kasar, meraih air mineral di meja lalu meminumnya. Akhir - akhir ini, sang pemimpin sering tertidur di kantor, akibat sering begadang menemani sang junior bermain sampai menjelang pagi, jika putranya tersebut terbangun malam.
Ketukan di pintu terdengar kembali.
__ADS_1
Hhufft...dengan helaan nafas panjang, Ia berjalan ke pintu dan membukanya. Lorena muncul sambil menggendong Moreno, di belakangnya baby sitter nya mengekori ikut masuk. "Kamu bangun tidur yank?". Devilito sambil berjalan ke sofa menganggukan kepalanya, "Iya, ngantuk aku".
Morena tertawa - tawa, tangannya meminta di gendong sang papa. "Pa..pa", kata hapalan pertama dari Moreno beberapa hari ini, yang sering membuat Lorena kesal. Sedangkan buat mama, kata yang di terucap dari mulut si kecil hanya "Mmm..aa".
Devilito mengambil alih putra nya dari gendongan Lorena, dan mendudukkannya di paha, mengajak bermain laptop di meja kerjanya tapi di tegur, " jangan di biasain ajak main game yank, nanti gede nya jadi kebiasaan, susah ngerubahnya lho!". Devilito pun tidak jadi, "Ngga boleh ama mama Dek, galak yah mama nya", ucap Devilito sambil menutup kembali laptop tersebut.
"Tuhkan, sering aku kasih tau, jangan suka bilang mama galak atau papa galak, ntar otaknya ngerekam yank, jadi takut Moreno nanti", kembali, sang ratu mengomel.
"Salah aja papa di mata mama kamu Dek, pindah ajalah papamu ini ke jidat mama, gimana?", Devilito mengajak ngobrol putranya sambil memainkan jemari Moreno.
"Ishh..jitak nih!".
"Eits, ngga boleh ngomong kasar depan anak kecil, ntar dia ngerekam loh yank, ntar dia jadi kebiasaan, suka jitak - jitakin orang nanti kalo udah gede, gimana?, padahal papa nya orang kalem". Alih - alih ingin menghibur anaknya, justru malah mendapat ledekan dari sang istri.
"Hahaha...", Lorena terpingkal mendengar kalimat receh Devilito, "papa nya kaleeemmm, Deeekk...papa kamu kaleeemmm, penyabaaarrr hahaha". Lorena memegang perutnya, Ia geli.
Sang baby sitter pun ikut mesem - mesem menahan ketawa melihat tuan dan nyonya nya yang koplak ini. Sedangkan Moreno malah tertawa terpingkal mengikuti mama nya, entah mengerti atau mengira mengajaknya becanda.
Tiba - tiba pintu ruangan terdengar di ketuk kembali, pintu terbuka. Erika, sekretaris pengganti Indri masuk, "Permisi pak Dev, nyonya...saya mau membahas dokumen ini untuk di pelajari dulu oleh pak Devi".
Devilito mengangguk, Ia menerima lembaran dokumen dari tangan Erika, lalu membacanya sejenak, tetap dalam posisi memangku Moreno. "Ini yang buat Resort di Bali?, bilangin ke Indri dan Sagara untuk meninjau anggarannya dulu, boleh perluasan tapi budget jangan over, sekarang hotel - hotel agak sepi, belum sesi liburan", Devilito kemudian menyerahkan dokumen itu kembali pada Erika, "Oh ya, Indri masih di Bali kan?, suruh minggu depan ke Jakarta, saya ada perlu".
Lorena menyodorkan air mineral dan sebutir vitamin pada suaminya, "kamu lupa kan minum vitamin tadi?". Devilito mengangguk, "makasih sayang".
Menjelang sore, Lorena bersiap untuk pulang, "Yank, aku pulang ya, kamu masih disini kan?". Mendengar itu, Devilito menghentikan kegiatannya di depan laptop, Ia baru saja selesai komunikasi via zoom dengan Sagara dan Indriana membicarakan tentang masalah perluasan hotel di Bali, ada rencana untuk penambahan kamar cottage di beberapa tempat di area hotel.
"Aku udah selesai, kita bareng pulangnya, Pak Eko suruh pulang duluan aja", ucapnya sambil menutup laptop dan meraih Moreno dari gendongan baby sitter. "Yaudah kalo gitu", Lorena meraih ponselnya untuk menghubungi pak Eko, sang sopir yang baru di rekrut tiga bulan yang lalu untuk segera langsung pulang saja, tanpa menunggu dirinya.
***
Satu minggu kemudian...
Hari ini, Hensly menghadap Devilito. Ia meminta ijin untuk bicara sesuatu yang penting menurutnya tentang hubungan dengan Donita.
Ah ya, sejak beberapa bulan yang lalu, tepatnya dua bulan setelah Donita di nyatakan sudah pulih, hubungannya dengan wanita itu mengalami peningkatan dan makin intim. Walau memori otak Donita belum sepenuhnya kembali. Ada bagian yang hilang dalam ingatannya sejak dinyatakan sembuh secara fisik setelah bangun dari koma nya tersebut.
Donita mulai mengenali diri dan sedikit - sedikit mengingat tentang kejadian tabrakan dirinya dan papanya. Tetapi, Hensly yang selalu setia menemani, berusaha untuk membantu daya ingatan Donita dengan memori yang baru, agar Nona nya tersebut hanya mengingat dirinya saja.
__ADS_1
Alexander pun sudah sadar dari komanya, tetapi karena kondisi usia dan fisiknya yang menurun drastis, Ia masih terbaring dan masih dalam pengawasan dokter. Devilito dan Lorena sebenarnya ingin merawat sendiri di rumah mereka, tetapi Alexander berkeinginan untuk tinggal di rumahnya sendiri, di temani Donita dan Hensly, serta beberapa orang pengawal yang di siapkan oleh Devilito untuk berjaga disitu.
"Ketua, ijinkan saya bicara secara pribadi dengan Anda dan Nyonya". Hensly memulai percakapan. Ia di ajak bicara di lantai dua, di ruang tamu atas. Devilito dan Lorena serentak mengangguk. "Silahkan".
"Saya langsung ke inti pembicaraannya saja...", Hensly menjeda sebentar dan menarik nafas dalam - dalam, lalu melanjutkan kalimatnya, "setelah saya pikir - pikir dan juga sudah beberapa kali bicara dari hati ke hati dengan Non Donita...Saya hari ini meminta ijin pada ketua dan Nyonya untuk menikah, dengan Donita". Devilito diam memperhatikan raut wajah Hensly, sedangkan Lorena kaget dengan keputusan Hensly tersebut. Walau Lorena sudah tahu dari suaminya, kalau Hensly menaruh hati pada kakaknya tersebut.
"Kamu serius bang?", selisik tanya Lorena. "Serius Nyonya!", jawab Hensly tegas. "Kamu tau kan bang, kalo kakak aku itu mengalami peristiwa hidup yang pahit?, dia trauma loh, apa keputusan kamu itu ngga terburu - buru?".
"Ngga Nyonya, justru saya sudah memikirkannya berulang kali, dan juga membicarakannya dengan Donita, juga berkali - kali, hati saya sudah mantap".
"Trus, sama papa?", tanya Lorena kembali, Ia tak ingin Hensly, pria di hadapannya ini ingin menikahi kakaknya karena motif kasihan.
"Saya juga sudah dua kali menyampaikan keinginan saya pada tuan Alex, beliau hanya mengangguk. Namun karena tuan Alex tidak bisa di ajak bicara lama, makanya saya minta pendapat sekaligus minta ijinnya dengan Nyonya dan ketua".
Devilito yang sedari tadi diam, memperhatikan dan mencoba menggali keseriusan anak buahnya ini, angkat bicara, "Atas dasar apa kamu ingin menikahi Donita?", tanyanya menyipitkan mata menyelidiki, "karena kasihan?", lanjutnya kemudian.
Hensly gelengkan kepala, "saya menyukai Non Donita dan mencintai sejak ikut merawatnya, dan ingin menemani hidupnya, tidak ada motif lain ketua", kembali jawaban tegas terlontar dari mulut Hensly. "Kalo mencintai kak Nita, kok masih ada embel - embel Non di depannya?", Lorena menimpali omongan Hensly, Devilito pun tersenyum.
"Karena saya tak mau lancang di depan ketua dan Nyonya, walau bagaimana pun juga, ketua adalah pemimpin saya, dan Donita belum menjadi istri saya", tutur Hensly malu.
Devilito mencondongkan badannya ke depan, tatapannya tajam, "Begini Hens, seperti yang di bilang istri saya, Donita sudah mengalami derita batin, Ia di khianati oleh mantan suami nya. Hanya papa Alex, istri saya dan dan saya saat ini yang menjadi keluarganya...", Devilito menangguhkan kalimatnya sebentar, Ia menarik nafas sejenak dan menatap intens wajah anak buahnya itu, lalu melanjutkan kalimatnya, "saya termasuk orang yang bertanggung jawab saat ini atas kehidupan Donita, dan saya tak ingin kamu berlaku seperti Aksan, yang berpura - pura mencintainya, dan pada akhirnya melukai..." kembali, Devilito menjeda kalimatnya.
"Kalau kamu ada niat seperti Aksan...percayalah Hens, saya tidak akan berkedip membunuh kamu!, saya akan pastikan itu!".
Hensly sedikit bergetar mendengar kalimat ketuanya ini, aura menyeramkan menyelimuti ruangan tersebut, mata elang sang ketua tak berkedip menatapnya. Tapi Ia harus tetap melaju bukan?, "saya bersumpah atas nama Tuhan, dengan niat yang baik akan selalu menyayangi dan menjaga Donita selama nafas saya masih di raga tuan!".
Devilito manggut - manggut, Ia melihat kesungguhan dari wajah anak buahnya itu, Ia tak melihat dari omongannya. Mata anak buahnya berbicara itu tak ada keraguan menatap matanya.
"Gimana yank?", tanyanya kemudian pada sang istri. Lorena hanya mengangkat kedua bahunya, menyerahkan sepenuhnya pada suami.
"Baik, kalo gitu saya sebagai keluarga dan juga pimpinan kamu hanya berpesan, kita para lelaki tak akan ada kebanggaan apapun dalam diri kita, entah itu kamu jadi penguasa suatu saat, kaya raya, pamor kamu di mana - mana, di takuti di mana - mana, tapi..." Devilito kembali memajukan tubuhnya ke depan, "kalau istri kamu menangis karena kau lukai, menangis karena kamu sakiti, menangis karena kamu khianati, percayalah...kebanggaan kamu sebagai laki - laki Nol !, potong kema**an kamu itu!, ngga ada guna nya kamu jadi lelaki, ngerti??".
Sampai disini, Hensly baru menyadari siapa sebenarnya pria di hadapannya tersebut, pria yang sangat di takuti, tak tersentuh, bagaikan singa jika bertarung, seorang penguasa...tapi, menjadikan Lorena sebagai ratu dalam hidupnya, memperlakukan istri dengan sangat baik, tak pernah Ia melihat pria penguasa ini meng-kasari istrinya. Makin kagum dia.
"Siap ketua!, saya akan selalu menjadikan ketua contoh dalam memperlakukan istri nantinya!", ujarnya mantap.
Lorena terharu mendengar tuturan kata pujangga suaminya tersebut, dan memang itu yang dirasakannya selama ini. Sekali lagi, Lorena bangga..suaminya telah memperlakukan dengan sangat baik dan menjadikannya tempat untuk pulang.
__ADS_1
...--End--...