
Pesawat Boeing 777 mendarat mulus di bandara Soetta, Cengkareng. Tidak semulus perasaan Lorena yang tengah bersedih. Papa dan kakaknya, Donita terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma. Devilito terpaksa harus kembali ke tanah meninggalkan Giring dan Cerlotta yang akan meng-ikrarkan pertunangan mereka esok harinya.
Devilito bergerak cepat, Ia sudah perintahkan tim nya dari Italia bersama Giring untuk meretas cctv sepanjang jalan di lokasi kejadian. David sebagai tangan kanan Giring yang diberi kepercayaan, tak cukup sulit baginya untuk mengungkap kronologi kecelakaan yang di sengaja tersebut.
"Kita udah dapat rekaman cctv nya sob, sebentar lagi kita akan tahu dalangnya siapa", kata Marcel di dalam mobil ketika dia yang menjemput langsung Devilito dan Lorena di bandara.
Devilito masih diam, otaknya berpikir. Dan, tak henti-hentinya membujuk istrinya yang rebahan di bahu dalam pelukannya. Ia sesekali mengusap kepala dan menyeka air mata istri, yang menangis dalam diam. "Gue sepertinya tahu dalangnya siapa!", ucapnya datar kemudian.
Devilito mengambil ponselnya, dan menghubungi Giring, "Ger...bilangin David, lacak semua jalur komunikasi Aksan, periksa semua nomor ponselnya, gue yakin dia ngga punya 1 atau 2 nomor", lalu menutup percakapan tanpa perlu jawaban dari Giring yang berada di Italia.
"Hensly gimana keadaannya?".
"Hensly kena luka tembak, mengenai pinggang tembus ke belakang, tapi sudah langsung di tangani, sepertinya jarak dekat, itu berdasarkan analisa luka. Ditandai dengan adanya Kelim Tato oleh butiran serbuk pada moncong laras senjata api menghadap ke kulit, hingga penampakannya seperti luka lecet yang disertai dengan bercak - bercak pada kulit", Marcel menjeda kalimatnya sebentar, ketika dilihat dari spion depan Devilito tengah menunduk, Lorena ingin berbaring di pahanya. "Trus ?", Devilito kembali siap mendengarkan. "bayarannya, Hensly berhasil menembak mati tiga orang musuh, dengan sisanya melarikan diri".
Devilito mengangguk-anggukkan kepala, seperti orang berpikir, "sepertinya terjadi pergulatan jarak dekat, karena Hensly ngga pegang senjata api", analisa Devilito menggambarkan Hensly berhasil merebut senjata itu.
"Benar, analisa gue juga begitu, cuma dia masih belum sadar, belum bisa gue tanyain, gue menghilangkan jejaknya dari pihak aparat", ucap Marcel kemudian.
"Sekarang kita langsung ke rumah sakit dulu kan?," tanya Marcel ketika mobil sudah memasuki tol dalam kota, yang di jawab anggukan oleh Devilito. "Aku belum siap liat papa dan kakak," sela Lorena tiba - tiba dengan lirih, lalu menangis tersedu di paha suaminya. Devilito mengusap lembut kepala istrinya, "Iya, kalo gitu kita langsung ke rumah dulu ya, kamu istirahat dirumah, jangan sedih berlebihan ya, kasihan anak kita dalam perut rasakan mamanya sedih, aku janji akan usut tuntas dan habisi siapapun orangnya!," Marcel melihat dari spion paras muka Devilito mengeras mengatakan itu, Ia geram.
"Tapi kamu jangan kemana-mana, aku jangan ditinggal," timpal Lorena.
"Iya, kalo gitu, Cel...nanti suruh Tito Cs ngumpul dirumah gue," ujar Devilito kemudian.
"Ok", Marcel kemudian meraih ponselnya dan menghubungi seseorang, "Dek, kamu langsung ke rumah Rena ya, ngga jadi ke rumah sakit".
__ADS_1
***
Semua sudah berkumpul di ruang aula sasana Devilito. Wajah - wajah tegang tergambar di muka Tito, Dasmond, Melvin, dan Donny. Devilito terlihat belum bergabung disitu, Ia masih dikamarnya menemani Lorena.
Tito kemudian menghampiri salah satu samsak gantung dekat ring tinju, dan memukul dan menendangnya. Lalu Marcel serta juga David yang merupakan orang kepercayaan Giring kemudian terlihat ikut bergabung memasuki ruang aula.
"Ketua Devi sudah tau kalian berkumpul disini?," tanya Marcel pada Tito. Tadi dia sempat keluar setelah mengantarkan Devilito pulang ke rumah.
"Kayaknya udah tuan, tadi bik Tukini langsung ke kamar ketua ketika kita sampai", jawab Tito kemudian menghentikan kegiatan pukul samsak.
Marcel mengambil ponselnya, lalu menghubungi Devilito, " Sob, gue udah di sasana sama anggota", katanya setelah beberapa saat kemudian menutup percakapan.
"Yank, di sasana udah ada anak buah, kamu aku tinggal ama Dita ngga apa-apa kan?, dia baru datang tuh".
"Kalo Dita aku ajak ke kamar ini nemanin aku boleh ngga?, aku di sofa situ", ucap Lorena sambil mulutnya mengarah ke sofa santai, yang di jawab dengan anggukan oleh suaminya meng-iyakan.
"Ngga apa-apa, kamu langsung aja, dia lagi down, hibur dia ya", Devilito pun langsung menuju ruang sasana.
Tak begitu sulit bagi David untuk meretas cctv dan menyadap percakapan beberapa nomor yang di perintahkan untuk di sadap. Dia sudah mempersiapkan segalanya ketika Devilito sudah sampai di ruang sasana, sebuah televisi yang sudah terhubung dengan laptop menggambarkan kronologi mobil insiden tabrakan antara mobil pajero sport hitam milik Alexander dengan sebuah truk kosong. Tepatnya, di tabrak mobil truk dari arah belakang di sebuah kawasan yang sepi. Kejadian terjadi antara jam 21.15 - 22.00.
Potongan cctv menggambarkan mobil pajero memperlambat laju nya ketika sebuah mobil toyota innova hitam juga melambat di posisi tengah. Ketika pajero melewati mobil innova tersebut, tiba - tiba dari arah belakang sebuah truk yang melaju kencang menabraknya, sekilas seperti rem blong atau terkejut ketika pajero tetiba mengambil jalur paling kanan untuk melewati innova.
Potongan cctv lainnya dari arah yang berlawanan terlihat pintu belakang innova terbuka, dan terlihat dua orang turun ingin menghampiri tabrakan. Namun, langkah mereka terhenti ketika sebuah mobil jeep Wrangler tiba - tiba datang, itulah mobil Hensly dan langsung seperti menabrak, salah satu dari anggota innova terpental. terjadi baku hantam disitu.
Tetapi, cctv kembali memperlihatkan sebuah mobil innova menyusul dari arah belakang dan beberapa orang turun mengeroyok Hensly. Disini terlihat penembakan dari anggota innova ketika posisi Hensly sudah terjatuh dalam posisi menarik leher salah seorang pengeroyok tersebut, disini terlihat seperti perebutan senjata. Dan, sekitar satu meter di samping dekat Hensly ada dua anggota innova yang tergeletak, entah mati atau pingsan.
__ADS_1
Sampai disini, Devilito men-stop tayangan cctv tersebut, dan meminta mengulang ke kejadian Hensly menarik leher penyerangnya. Devilito meminta David untuk men zoom , ingin melihat muka penyerang tersebut.
"Sekilas seperti wajah indonesia, tapi kalo di teliti benar, bukan!", muka Devilito harus maju ke layar monitor tv menegaskan kembali, "Ini muka orang Thai***!", ujarnya setelah penegasan itu. Marcel manggut-manggut sambil memperhatikan lagi. "Wow !, memakai tenaga orang luar dia, ba*i***n !", Marcel memukul meja.
"Melvin, kenapa bisa Hensly pergi mengawal pak Alex sendirian? biasanya kamu berdua?", tanya Devilito menyipitkan matanya pada Melvin. Yang di tanya agak kaget, antara rasa bersalah karena tak ikut mengawal Alexander, dan merasa di curigai, itu terlihat dari mimik dan tatapan sang ketua, dingin melihatnya.
Ketua sepertinya mencurigai gue ?
"Maaf ketua, tadinya saya dan Hensly sedang di rumah ini untuk berganti jaga dengan Tito," Melvin melirik Tito sejenak lalu melanjutkan keterangannya, "dan tidak ada rencana untuk pengawalan pak Alex. Karena kami menyangka pak Alex masih di sukabumi, waktu itu non Nita memang ikut pak Alex ke perkebunan, sebelumnya. Pas ketika Tito ingin pulang, tiba - tiba Hensly dapat telepon dari pak Alex, saya tidak tahu mereka bicara apa. Setelah terima telpon, Hensly bilang katanya pak Alex butuh bantuannya, dan saya menawarkan diri untuk ikut, tapi setelah berembuk dengan Tito," Melvin kembali melirik Tito, menarik nafasnya sejenak kemudian melanjutkan kalimatnya, "Hensly akhirnya pergi sendiri atas inisiatifnya, karena Tito pulang dan rumah ini tidak ada yang jaga, saya putuskan tinggal disini, demikian ketua", ujarnya mengakhiri keterangannya.
Mendengar keterangan Melvin yang tidak berbelit, Sepertinya Melvin memang tidak tahu apa - apa , Devilito berkata dalam hati ketika dia memperhatikan mimik muka Melvin dan Tito secara bergantian.
"Saya memang menyetujui Hensly pergi sendiri ketua, karena menurut dia pak Alex hanya minta di kawal, dan tidak bilang ada yang mengikuti atau ada yang di curigai", sambung Tito kemudian melengkapi keterangan Melvin.
Devilito manggut - manggut sambil berpikir.
"Ketua, saya tadi sudah berhasil menyadap pembicaraan dari beberapa nomor yang di berikan pada saya, sepertinya ini dalangnya", David memberikan beberapa lembaran print out komunikasi seseorang yang di curigai sebagai dalangnya, dengan beberapa orang.
"Aksan ?" Devilito menebak langsung. David mengangguk sambil menyerahkan lembaran kertas pada sang ketua.
Devilito meraih lembaran print out tersebut, ada beberapa percakapan dalam bahasa inggris, sepertinya dengan orang asing. Tetapi yang membuat matanya terbelalak adalah percakapan Aksan dengan salah satu orang kepercayaannya di perusahaan, tangan kanannya sendiri.
Itu di luar prediksi dia sama sekali, kali ini sang pemimpin pun kecolongan.
-
__ADS_1
-
Siapakah dia...?