
Lorena mengerjapkan matanya baru bangun dari tidur. Sebuah lengan yang kokoh dan kaki melingkar di perut dan pahanya, suara dengkuran halus serasa menggelitik berhembus di telinga dan leher. Ya, sang suami menjadikannya sebagai guling, dan masih nyenyak tertidur.
Ia menikmati sejenak momen itu. Hmm..sepertinya dia lelah , Ia mengusap kening suaminya dengan tangan kiri dan mengecup perlahan. Masih tertidur.
Pulang jam berapa dia semalam? , sampai kemudian tangan dan kaki itu terasa berat, perlahan Ia memindahkan nya, lalu beringsut bangun duduk di tepi ranjang. Tetapi sebuah tangan meraih pinggang dan menariknya jatuh dalam pelukan suaminya yang ternyata sudah terbangun.
"Ihh..kak, kamu udah bangun ?" pipi nya menempel di bibir suaminya.
"Udah, morning kiss lagi dongg?" dengan suara serak khas orang bangun tidur, Devilito tidak berhenti, Ia mencium dan menjilat ceruk leher yang jenjang itu.
"Iihh bauu..!," Ia berusaha melepaskan tubuhnya, tapi tidak bisa. Justru sekarang Ia sudah terkunci, berada dalam kungkungan kedua tangan suaminya yang entah sejak kapan sudah berada di atas menciumi leher dan berpindah ke bibir kemudian ke dua kelopak matanya.
Sang suami 'menyerang' titik - titik yang melumpuhkan kesadarannya dan membangkitkan sensasi gejolak b*ra*i dalam dirinya. Ia tak mampu menahan suara untuk mendesah. "Aaahh...kaaakk". Tetapi, Ia kemudian menepuk punggung suaminya, "tenggorokan ku kering, aku mau minum dulu".
Devilito membiarkan istrinya setengah berlari yang hanya memakai blus putih panjang sepaha tanpa bawahan untuk minum, Ia tersenyum, Ia punya rencana tiba - tiba. hmm seksi nyaaa...lalu Ia mengikuti menghampiri Lorena yang minum air mineral di bufet jati panjang dekat pintu kamar mandi.
Ia menerima air mineral yang di sodorkan. Ia meminum sambil mengunci punggung istrinya ke meja bufet. Lorena kaget, tapi baru tersadar apa yang akan di kerjakan suaminya itu, posisi berdiri!
Suaminya menciumi leher belakang dan pundak kiri kanan, dengan sedikit gigitan halus, sambil membuka kancing blus putih sampai di perut, tidak semua. Lalu, tangan kokoh itu mengusap - usap pelan titik lemah di d*d* dan turun ke bawah di titik paling lemah nya.
******* Lorena semakin membuat suaminya liar...Ia hanya mampu menerimanya dengan mengusap-usap muka sang suami dan leher dari depan.
"Kaaak..udaaahh" suara serak Lorena terdengar lirih, Ia merasakan kedua lutut sudah melemah, ketika penutup bawahnya di loloskan lewat kedua kaki.
Sang suami mendorong pelan punggungnya, Ia cukup mengerti kode itu tanpa perlu di perintah, Ia harus membungkuk 90 derajat.
Deru nafas berpacu, suara ******* silih berganti, sampai teriakan kecil terakhir tanda berakhirnya drama pagi.
***
Huft..kemana sih dari tadi di hubungi ngga bisa ? , Donita terlihat kesal. Ia menghubungi suaminya Aksan lewat pesan singkat belum di balas. Di telpon pun tidak aktif.
"Kenapa kak?" tanya Lorena melihat guratan kesal wajah kakaknya di depan pintu masuk kamar papa nya.
"Aksan dek, handphone nya ngga aktif dari tadi, di WA juga belum di balas!, kakak mau minta jemput, mau kerja".
"Mungkin lagi sibuk atau lagi di jalan menuju kampus kali?"
"Ngga mungkin, jadwal nya hari ini kosong, tapi...?" tiba - tiba wajahnya menegang, Ia ingat semalam Ia sekilas mendengar ada sebuah gerakan yang akan dilakukan tim Devilito, waktu suami Lorena tersebut berbicara pelan dengan papa nya.
Ia sedang dalam kamar di sebelah, samar memang, walau Ia tidak terlibat dalam organisasi papa, tapi Ia cukup mengerti siapa Devilito dan papa nya. Tidak seperti Lorena yang tidak tahu apa - apa atau tidak mau tahu menurutnya.
Ia cemas, semalam Ia sempat memberitahu rencana Devilito pada suaminya lewat pesan singkat, karna Ia juga tahu, suaminya pun terlibat dalam organisasi pimpinan papa nya yang notabene adalah target penyerbuan. Tujuannya memberi tahu supaya suami nya menyingkir dari lingkungan Raymond.
__ADS_1
"Atau, Aksan sedang sembunyi..?" gumamnya pelan, tapi masih terdengar oleh adiknya yang sedang pegang handle pintu untuk masuk.
Lorena heran dengan mimik wajah kakaknya, hmm seperti ada sesuatu..
"Sembunyi gimana kak? siapa yang sembunyi?, kak Aksan?"
Donita berusaha menghindar dari pertanyaan beruntun dan tatapan menyelidik dari sang adik.
"Ah bukan, maksudnya apa dia masih ngambek ama kakak, kemarin sempat ngambek dia" jawab Donita sekenanya.
"Makanya, jangan pelit ama suami kak hehe" Lorena justru menangkap makna lain disitu.
"Hah..?" Donita hanya melongo. Coba gue tanya ama Devi dulu...Ia membatin, lalu..
"Suamimu mana dek?" tanya Donita pada adiknya.
"Tadi masih di kamar, ada apa kak ?"
"Aku ada perlu sebentar ama suamimu ya" tanpa menunggu jawaban sang adik Donita berjalan menuju kamar Devilito.
Lorena memandangi punggung kakak nya sebentar lalu masuk kamar menemui papa nya. Ada apa dengan kak Nita? kok gue curiga deh...
"Kamu ngobrol sama kakak kamu tadi Ren?" tanya papa nya setelah sampai di dalam.
"Iya pa, tadi kak Nita muka nya keliatan panik?"
"Ngga tau, katanya kak Aksan ngga bisa di hubungi"
"Hah?" papanya terkesiap, jangan - jangan ?
"trus sekarang kakakmu kemana ?" tanya pak Alex kemudian.
"Menemui kak Devi katanya" jawab Lorena dengan muka keliatan bingung.
"Papa ngga apa - apa kan?, sekarang kondisinya gimana pa?" tanya nya mengalihkan pembicaraan, sebenarnya untuk mengalihkan pikirannya sendiri.
"Kondisi papa udah enakkan, papa pengen nanti jalan - jalan sekitar sini, otot - otot papa udah pada kaku, pengen gerak" Alexander melakukan peregangan otot tangannya. Sebenarnya, pikiran Alexander pun bukan tentang olahraga saat ini.
"Aku tinggal dulu sebentar ya pa, ada yang ketinggalan di kamar tadi" Lorena mengusap punggung tangan papa nya menenangkan. Ia keluar kembali berbalik menuju kamarnya. Kak Nita mau ketemu kak Devi mau ngapain yah? , Ia berjalan agak terburu, tetapi sampai dekat pintu kamar nya niat nya Ia urungkan untuk masuk ketika mendengar percakapan.
Pelan - pelan Ia menyelinap di balik tiang besar penyangga dekat pintu kamar.
"Kira, sekarang aku tanya..kamu kenal Aksan dimana ?" terdengar suara Devilito datar.
__ADS_1
"Yaa..kalo itu kamu ngga perlu tau lah!, aku cuma tanya, Aksan sekarang dimana?" intonasi suara Donita meninggi.
Hah..? kenapa kak Nita menanyakan suaminya sama kak Devi? apa kak Devi berbuat sesuatu pada kak Aksan? Lorena bermonolog dengan dirinya.
"Yaa.. aku mana tau ?" Devilito mengusap kasar mukanya, Ia ingin menerangkan pada Donita tetapi sulit dalam situasi seperti ini.
"Aku yakin kamu tau, Aksan kamu celakai kan??" tuduhan Donita sontak membuat aura Devilito berubah dingin, Ia menatap tajam ke arah kakak ipar nya ini.
"Kenapa kamu menuduh aku seperti itu, hm..?, apa kamu tau apa sebenarnya yang terjadi?". Devilito sekarang berhadapan dengan Donita, bukan dengan Kirana..yang dulu begitu lembut, penurut dan mencintainya.
"Aku tau apa yang kamu rencanakan, dan kamu sekalian ingin menyingkirkan Aksan untuk membalaskan dendam sama aku!, benar ngga ??"
Di balik tiang, Lorena yang tidak tahu ada part cerita yang hilang, tepatnya tidak tahu awal perdebatan itu, dadanya sesak...suamiku masih mencintai kakakku dan ingin menyingkirkan kak Aksan! air matanya menetes.
"Kamu menikahi adikku hanya untuk melampiaskan dendam padaku, dan tidak puas juga ??? trus sekarang mau menyingkirkan suamiku !, kalo terjadi apa - apa dengan Aksan, aku tidak akan pernah memaafkan kamu !!" suara Donita meninggi, lalu Ia pergi meninggalkan Devilito tanpa memberikan hak jawab.
"Kira..tunggu dulu!, aku be.." Ia ingin mengejar tapi terhenti karna sang istri terlihat berdiri di tiang penyangga, berlinang air mata.
Lorena berjalan tanpa ekspresi melewati suaminya masuk ke kamar.
"Rena..tunggu, aku mau jelasin apa yang terjadi" Ia mencoba meraih tangan istrinya, namun di tepis. Lorena tetap melangkah dengan tenang menuju kamar mandi.
Hadeeehh..kenapa jadi begini sih ? Ia garuk - garuk kepala nya yang tidak gatal. Ia bingung, antara menjelaskan ke istri dulu atau menyusul Donita untuk menjelaskan situasi sebenarnya seperti apa. Dua - dua nya penting.
Ahh..gue harus jelasin dulu sama Rena deh, bahaya kalo istri ngambek!
Devilito menunggu Lorena keluar dari kamar mandi. 5 menit, 10 menit, 15 menit belum juga terlihat tanda istrinya keluar. Ia kemudian mendekati pintu kamar mandi dan menempelkan telinganya, sayup terdengar suara tangisan tertahan.
Yaahh..kan? masalah lagi . Ia mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban.
"Rena, kamu jangan dekat pintu, aku mau dobrak !" Ia mengusap keningnya sebentar dan bersiap ambil ancang - ancang mau menendang pintu. Tiba - tiba Ia harus melakukan pengereman mendadak ketika kaki kanannya sudah mengayun di udara. Istri nya keluar dari kamar mandi dengan mata memerah dan masih terisak - isak sisa tangisan.
"Rena, tunggu aku jelasin dulu, ini ada misi penting, dan bukan seperti yang kamu pikirkan" Devilito mengikuti langkah Lorena yang bersiap menuju kasur, Ia memegang kedua bahu istrinya ,namun lagi - lagi di tepis.
"Jangan diam dong, tadi itu Donita mau nanyain kebe..radaan..." lorena mengangkat tangan nya memberi tanda bahwa Ia tidak mau dengar.
"Beri aku waktu untuk mencerna yang terjadi tadi.." ucapnya memberi tatapan tajam.
Devilito diam, Ia pikir sebaiknya menunggu istrinya tenang dulu. Sekarang Ia harus fokus ke misi gerakannya.
Misi yang nanti nya akan mengguncangkan media selama sepekan ke depan.
-
__ADS_1
-
Ikuti terus...