
Devilito kemudian melirik jam tangannya, pukul setengah tujuh malam.
Ia di dampingi beberapa orang dari pihak gedung dan anak buahnya mengobrol santai sambil berjalan ke arah parkir mobil, pihak keamanan gedung berulang kali meminta maaf atas keteledoran mereka sehingga ada penyusup. Andai Devilito dan kedua tangan kanannya itu tak melakukan inspeksi, mungkin acara H nanti malam akan berantakan. Devilito menasehati dan menyuruh memperketat keamanan terutama sampai acara nanti berlangsung.
Melvin berbisik pada Devilito, "ketua ijin menyampaikan, Nyonya menelpon saya berulang kali, tadi memarahi saya karena saya berusaha menutupi kejadian, katanya ketua berulang kali di hubungi, ngga ada jawaban, saya bingung ketua", ucapnya dengan muka sedikit pucat.
Devilito berhenti, dan mengibaskan tangannya pada yang anggota lain dan pihak gedung untuk meninggalkannya. Devilito mengernyitkan dahi, "trus, kamu bilang kejadian tadi?".
"Ngga ketua, saya beralasan kalo saya sedang di luar, dan ketua di dalam". Devilito manggut - manggut, Ia berpikir. Dan, Tito tanpa sadar mengambil ponselnya di kantong celana, ponselnya terlihat retak akibat kejadian tadi, mukanya seketika berubah pucat. "Kenapa To?, kok mukamu pucat juga?", tanya Devilito, Ia melihat Tito tertegun perhatikan ponselnya. "Maaf ketua, ada tujuh panggilan tak terjawab dari Nyonya, tadi ponsel saya silent". Devilito reflek melihat ponsel bergambar apel tergigit sebelah milik Tito, "ponselmu pecah To?, gara - gara kejadian barusan?", Devilito justru mengabaikan omongan Tito tadi. "Iya ketua", jawabnya sambil garuk - garuk kepala. "Yaudah, nanti ganti yang baru, saya yang bayar", jawab Devilito menepuk bahu Tito dan bersiap buka pintu mobilnya.
Di dalam mobil, sebelum berangkat Devilito mengambil ponsel yang Ia tinggal di boks. Tiba - tiba mukanya berubah, hampir dua puluh panggilan tak terjawab tertera di layar, dari sang istri. Ia segera melakukan panggilan.
"Hal...o"
"Kamu kemana aja sih?, kok telfon aku ngga di angkat-angkat?, kamu lagi dimana?, ini udah jam berapa yank?, tunggu bentar!", Devilito mengusap - usap tengkuk belakangnya, ucapan pembukanya langsung di potong berondongan tanya Lorena, dan layarnya terlihat berubah jadi panggilan video call sang istri. "Kacau!", ucapnya bergumam pelan.
Tito melirik Melvin dari kaca spion yang duduk di bangku belakang, Ia sudah bersiap menstarter mobil Hummer milik bosnya, tapi sang bos mengangkat tangan menyuruh tunggu. Melvin hanya mengedikkan bahunya, tak mengerti.
"Kamu lagi dimana?", cerocos Lorena ketika sambungan video call terhubung. "Aku udah mau on the way pulang sayang, udah di mobil, ini lagi sama Tito dan Melvin", Devilito pun perlihatkan kamera kearah anak buahnya tersebut. "Baru mau otewe?, ya ampun yaaannkk, ini jam berapa?, satu setengah jam lagi acara dimulai dan kamu masih otewe pulang gitu?, ckckck...ini paman Ludwig, papa dan mama udah bersiap dari satu jam yang lalu nungguin kamu, dan kamu masih mau otewe pulang?, bener - bener deh kamu, mau sampai jam berapa, kamu belum siap - siap, belum mandinya, belum ganti baju, belum ini itu nya, trus balik kesana jam berapa?".
Devilito hanya nyengir, Ia bingung jawab gimana, "yaudah, gini aja pam...", ucapannya langsung di potong kembali sang ratu.
"Cengar cengir nyengar nyengir...jawab omongan aku, kamu itu dari mana sih sebenarnya?".
"Yaa, gimana mau jawab, kamu ngomong kayak senapan AK-47, muntahkan peluru beruntun gitu", Devilito mencoba ngelawak. "Ishhh !!, cabein ini mulutnya, trus itu kenapa pake topi?, kamu habis ketemu siapa sih sebenarnya?", terlihat muka Lorena berubah, Ia memang paling ngga suka lihat Devilito kalo memakai topi, ganteng ngga ada obatnya.
__ADS_1
Mati gue!, Devilito mengutuk dirinya yang lupa buka topi.
"Aku ketemu pihak gedung doang sayang, ada sesuatu yang harus di sel..".
"Bang Tito mana, kasih liat kamera ke bang Tito deh..", Lorena memotong dan mengabaikan Devilito. "Iya Nyonya" Devilito pun mengarahkan kamera ke Tito yang di depan kemudi. " Bang, tadi ketua kamu ketemu siapa, jawab yang jujur ya bang!", tanya Lorena dengan mimik muka mengernyit, menelisik. "Tadi ada salah paham dengan pihak katering Nyonya, jadi ketua harus bertemu pihak gedung".
"Cewek atau Cowok?".
"Cowok semua Nyonya", Tito sebenarnya pengen ketawa, tapi dia masih sayang dengan nyawanya. "Bener?" tanya Lorena tak percaya. "Bener Nyonya, sumpah!", Tito mengangkat dua jarinya membentuk victory. "Yaudah kalo gitu!".
"Yank, nah trus mau sampe jam berapa ini?", tanyanya ketika kamera sudah berpindah arah.
"Yaa, gimana mau sampe kamu masih bersenandung dengan suara merdu begini?".
"Kamu ngeledek aku?".
Ya ampuuun, ini supreme commander siapa sih sebenarnya yah? kata Melvin dalam hati.
Mmhh begini nih kalo singa di depan pawangnya, jinak! kata Tito, juga dalam hati.
"Kalian ngomongin saya?", tanya Devilito dingin pada keduanya. "Hah?, ngga ketua, ngga berani!", muka keduanya memucat. "Yaudah kalo gitu, Melvin kamu urus pengawalan pulang, hubungi pihak terkait", perintah Devilito kemudian.
"Siap ketua!". Melvin pun menghubungi pihak yang bisa mengawal mereka agar terhindar kemacetan di jalan.
***
__ADS_1
Resepsi...
Para tamu undangan satu persatu sudah mulai berdatangan. Rata - rata di dominasi oleh anggota jaringan sendiri dari berbagai utusan. Dua pasangan berdiri anggun, Marcel - Dita dan Giring - Cerlotta. Mereka memakai busana yang senada, warna khas Lidah Api, hitam dan putih.
Senyum mengembang di kedua pasang mempelai ini, berikut para orang tua yang duduk mereka di setting agak terpisah. Kebanyakan tamu undangan penasaran ingin melihat lebih dekat wajah pimpinan tertinggi jaringan Lidah Api yang baru, Devilito. Namun, yang di tunggu justru belum menampakkan batang hidungnya.
Selang tak lama kemudian, barulah terlihat Devilito di dampingi sang istri Lorena berjalan memasuki gedung. Barisan anggota jaringan menyambutnya dengan membungkuk hormat. Sepanjang perjalanan tadi, Devilito harus rela telinganya menghadapi serangan mulut sang istri, mulai dari omelan, cemberut, marah - marah, merenggut serta kembali ngomel lagi. Semua di hadapi Devilito dengan ilmu diam, terkadang meminta maaf atas keterlambatannya, terkadang mengelus kepala istrinya itu walau kena tepis. Tapi Ia tetap bungkam tidak menceritakan kejadian sebenarnya tentang kekacauan tadi sore tersebut.
Devilito berjalan menuju kedua pasang pengantin di atas pelaminan melewati barisan rapi anggota jaringan yang sudah di persiapkan. Sejenak Devilito berhenti, Ia sangat terharu melihat kedua sahabatnya tepatnya saudara yang dari remaja berjuang bersama, akhirnya mengakhiri masa lajangnya.
Senyumnya mengembang sebelum merangkul mengucapkan selamat pada pengantin, "Happy wedding brader, akhirnya kita menemukan pelabuhan masing - masing, selamat berbahagia semoga langgeng terus", Devilito kemudian mengepalkan tangannya, salam ala pria yang biasa mereka lakukan. "Makasih Sob, semoga kita akan tetap berjuang bersama, selamanya".
Devilito yang di dampingi Lorena, lalu berpindah pada Cerlotta yang matanya berkaca - kaca menatap pria yang sekarang sudah menjadi kakaknya ini. "Selamat berbahagia adikku", lalu Cerlotta memeluk Devilito erat, hanya Ia yang tahu perasaannya saat ini. "Trima kasih kak Devi, semoga Tuhan memberikan kebahagiaan pada kita semua", balasnya tulus.
Devilito pun menggandeng Lorena menghampiri para orang tuanya, paman Smith, papa Luigi dan mamanya yang berada di tempat khusus di samping pelaminan.
Selanjutnya, Devilito pamit sebentar pada Lorena yang sedang mencari makanan. Ia meminta dua orang pengawal untuk mengikuti Lorena.
Para undangan yang terbatas pun mulai berdatangan, Devilito memberi kode pada anggota Lidah Api yang mengikutinya kemana pun Ia pergi untuk meninggalkannya. Ia menjentikkan jarinya memanggil Tito dan Dasmond untuk mengikutinya ke sudut ruangan.
"Orang yang kemarin, aman?", tanyanya pada Tito dengan pandangan mata mengarah ke tamu undangan, seolah mereka berbincang biasa. "Aman ketua, sesuai instruksi, semoga lancar", jawab Tito yang juga bertindak seolah tidak ada apa - apa. Devilito manggut - manggut, memperhatikan undangan yang mulai berdatangan.
Tiba - tiba pandangan Devilito tertuju pada sepasang tamu yang baru masuk, Linggar!.
-
__ADS_1
-
Bersambung