Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.57 Misi Full Team !


__ADS_3

Sang fajar sudah menyingsing di ufuk timur...


Devilito terlihat sedang berlatih kebugaran tubuhnya di ruang olahraga bagian belakang rumahnya. Kegiatan rutin yang dilakukannya minimal tiga kali dalam seminggu untuk menjaga keluwesan ilmu bela dirinya. Bunyi samsak yang di pukul dan di tendang terdengar berkali-kali dan bergantian mulai dari samsak berdiri maupun gantung. Setelah di rasa cukup kemudian berpindah memainkan senjata piaw, sebuah senjata khas ninja yang di lemparkan ke titik kepala sebuah boneka yang di desain khusus.


Ia istirahat sejenak, keringat mengucur deras mengalir di tubuhnya yang membasahi kaos putih buntung dan celana training, setelah lebih dari satu jam lamanya Devilito melakukan kegiatan tersebut. Kemudian dia melakukan peregangan otot, sampai akhirnya terdengar sebuah tepuk tangan dari arah pintu,


Prok..prok..prok ! kereeen suami akuh..


Istrinya yang cantik nan manis berdiri bersandar di tiang pintu, masih memakai piyama tidur, rambut di kuncir asal-asalan itu tandanya baru bangun.


Devilito mengambil handuk kecil yang tergantung di ring tinju, lalu berjalan ke meja kecil dekat sofa yang sudah tersedia minuman mineral, juice dan buah apel. Lorena menyusul kemudian duduk di sofa lingkar di sudut itu. Ia membuka tutup botol mineral dan menyodorkannya pada suaminya.


"Tumben, kamu nyusul kesini yank..?", ujar Devilito sembari mengelap keringatnya yang masih bercucuran. Lorena bukannya menjawab, Ia memeluk suaminya, "Bentar, anakmu pengen nyium bau bapaknya".


"Ya ampun, sedih amat anak gue..ngidamnya bau keringet !", tangan Devilito menggantung di udara memegang botol mineral, yang belum sempat diminumnya.


"Diem ah !", suara manja Lorena masih dengan posisi memeluk. Setelah beberapa menit baru melepaskan. Kemudian Lorena meminum sisa minuman botol suaminya dan memakan satu buah apel, "Aku aneh ya yank..?", tanyanya sambil mengunyah apel.


"Ngga sih...", jawab Devilito sambil mikir mencari jawaban yang tepat belum terpikir saat ini. "Cuma emang gitu yah kalo orang hamil ?", lanjutnya dengan pertanyaan ngambang.


"Gitu gimana maksudnya..?", selisik istri minta detil jawaban.


Yaelah..salah jawab kena nih gue ! gerutunya dalam hati.


"Yaa..gitu, aneh", Devilito menjawab seadanya, garuk-garuk kepala kemudian. "Katanya..nggaaa tadi, tinggal bilang iya aja kenapa sih ?, anehnya dimana ? kamu ke ganggu yah ?", Lorena mencubit pinggang suaminya, dan pertanyaan selanjutnya itu bikin Devilito tambah pusing.


Drrt..drrtt..drrt


Dering ponsel khusus Devilito berada di atas meja menolongnya dari jebakan pertanyaan sang istri.


Robert...? tumben menelpon pagi-pagi ?


Devilito mengangkat panggilan dari Robert Tanjaya, salah satu ketua jaringan Lidah Api bagian Australia - New Zealand, yang merupakan anak buahnya sendiri. Dan, juga menjadi partner dalam proyek di Australia nanti.


Hanya beberapa menit, terlihat muka Devilito mengeras mendengar laporan Robert, bahwa salah satu jaringan mafia Hongkong yang mendompleng Raymond sudah mulai memasuki area nya di Melbourne.

__ADS_1


Ia masih diam, kemudian menjauh dari Lorena agar pembicaraannya tidak terdengar. Pembicaraan yang sensitif.


Setelah beberapa menit mendengarkan keterangan Robert, Devilito angkat bicara.


"Berapa orang mereka terpantau masuk..?, dan siapa yang mimpin ?", tanya Devilito menyelidik.


(Sekitar 20 orang yang terlihat dan sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu. Dan, itu berhubungan dengan rencana kedatangan Anda, tuan. Ijin, saya sudah siapkan pengamanan Anda dan tim).


"Kalo gitu, saya berangkat dengan beberapa orang, termasuk Cerlotta !". Devilito pelankan suaranya sedikit tapi masih tegas.


(Woow..!, seriously ?), ini berita luar biasa, bertemu dengan dua pimpinan jaringan dari dua benua adalah kesempatan langka baginya, walau dirinya tidak mengenal Cerlotta secara personal, tapi sepak terjang gadis itu cukup bikin nyali bergidik ngeri.


"Dan, siapkan tempat yang bisa luwes bergerak, saya ada dua tim..tim kerja dan jaringan". sambung Devilito selanjutnya.


(Baik tuan, segera ...).


Setelah menutup komunikasi, Devilito kembali menghampiri istrinya.


"Dari siapa tadi yank..?", tanya Lorena sambil memberikan potongan apel yang di kupasnya. "Dari Robert, rekan bisnis yang di Australia, yang urusan proyek itu lho..", Devilito menerima potongan apel yang disuapkan pake ujung pisau yang di tusuk ke buah. "Ngasihnya serem amat !".


"Oh iya, aku harus ngabarin Hendra dan Indri dulu", Devilito meraih ponsel nya yang satu lagi. "Sebentar yank", Devilito mengecup dahi istrinya, dan lagi...beranjak menjauh.


"Indri, kamu udah di kantor ?".


"Belum Pak Dev, baru jam enam lewat dikit, sebentar lagi saya berangkat kira-kira satu jam lagi sudah di kantor, ada apa pak Dev?".


Devilito melirik jam tangannya sekilas, baru sadar ini masih pagi sekali, "Batal kan tiket atas nama saya dan istri saya segera ya, nanti atas nama kantor kamu dan Hendra yang terdaftar !". Devilito menjeda kalimatnya.


Kening Indri mengkerut, bos nya batal berangkat ? , tapi itu sepertinya masih kalimat gantung, baiknya aku tanya...


"Saya tetap berangkat tapi dengan pesawat lain, kita akan bertemu disana, dan jangan lupa kabari Hendra setelah ini ya !", kalimat perintah lanjutan Devilito otomatis menjawab tanda tanya dalam benak kepala Indri.


Ouuhh..."Baik pak Dev".


Ah yaa, gue sekarang harus kabari Marcel dan Giring untuk menyiapkan personil inti untuk berangkat. Ia menerawang sejenak berpikir siapa aja yang ikut, ponsel di ketuk-ketuk pelan ke paha. Tito, Dasmond, Hensly, Melvin dan Donny...nama-nama itu terlintas di benaknya sambil menghitung kapasitas pesawat pribadinya dengan jari, nanti di tambah Giring, Marcel, dirinya, Cerlotta dan terakhir Dominique. Cukup !

__ADS_1


Personil inti...serasa cukup untuk menghadapi salah satu mafia H******g yang terkenal cukup tangguh itu.


"Ciee..Ciee yang mau berangkat, sibuk beneeerr" suara sang istri membuyarkan konsentrasi Devilito. Ia mengalihkan pandangannya menatap istrinya sejenak, entah kenapa ledekan istrinya serasa menyedihkan dalam kata-katanya. Ya Tuhan, kasian istri gue...ngga ikut.


Ia menghampiri ratunya itu, tanpa suara di peluknya erat dalam posisi istrinya masih duduk., Lorena terisak..Ia cengeng dengan tindakan suaminya, mungkin itu bawaan jabang bayi.


"Sabar ya sayang yaa..nanti kalau sudah selesai, kita berlibur ke pulau kenangan kita", tak henti-henti Devilito menciumi kepala, wajah, pipi, dan kedua mata istrinya, lalu menangkupkan kembali wajah istrinya ke perutnya.


Lorena menikmati momen manjanya, Tukini sang bibi yang tadinya ingin masuk ke ruang latihan, menarik langkahnya kembali, tadinya ingin memberikan minuman dan juice tambahan buat sang Nyonya.


"Tapi beneran loh, liburan ke pulau, kangen aku suasananya..", ucapnya manja dengan suara serak. "Iy...mhh", Devilito tak bisa menyelesaikan kalimatnya ketika Lorena tiba-tiba berdiri dan mencium bibirnya.


Yang semula berupa kecupan berubah menjadi aksi yang meningkatkan libido. Devilito terpancing, Ia tak peduli suasana lagi. Gerakan tangannya tak bisa di kondisikan, beralih ke dada yang sudah terbuka, berlanjut dengan aksi mengusap dan memutar ala-ala mencari gelombang radio tempo dulu, di titik kecoklatan kiri-kanan itu.


Entah kenapa pula, mungkin tangan Devilito yang memberontak kali ini terhadap tuannya, bergerak terus di seputaran perut bahkan ke ketiak istrinya.


Tak hanya itu, tangan yang bagaikan punya mata sendiri, beralih ke area paling mematikan Lorena, di bawah pusar. Mengusap-usap dan menguwel-uwel tanpa henti di seputaran yang sudah seperti tanah disiram air itu...basah dan becek ! ehh...


Lorena tak bisa menahan dirinya lagi, Ia melakukan serangan balik setelah cukup pasrah dengan mulut tak bisa berhenti meracau. Ia mendorong suaminya ke belakang dan mengambil kendali.


Tak peduli suaminya yang bau asem, baginya itu wangi, Ia menarik kaos suaminya untuk di buka sekaligus celana training itu, tanggung sih kalo bertahap-tahap pikirnya,


Gantian, Devilito yang tak berdaya...pria itu hanya mampu mengacak-ngacak rambut istri, dan sesekali menyambar dada, mungkin gelombang itu tegangannya belum sempurna. Padahal sudah mengeras !


Dan, pergumulan itu semakin membara sampai di akhiri dengan aksi menengok sang bayi dalam perut istri oleh senjata kepala khusus Devilito.


Dimana sang bibik dan suaminya?, tentu..mereka tidak akan berani masuk atau menguping pun tak akan kedengaran, karena ruangan kedap suara.


Mereka hanya menonton acara gosip pagi nun jauh di ruangannya di depan televisi yang berukuran 62 Inch


-


-


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2