
"Ada kejadian apa sob?" Giring mulai membuka percakapan, Ia melihat sedari tadi Devilito hanya diam menatap lurus ke depan tanpa ekspresi dari mulai masuk mobil tadi.
Sebelumnya Ia sedang berada di home base setelah kepulangan dari Italia untuk menyelidiki lebih dalam keterlibatan dua jaringan mafia seperti yang di beritahu Marcel tadi pagi. Tiba - tiba Devilito menghubungi meminta jemput.
"Gue bertemu Kirana" jawabnya pendek lalu menunduk sebentar menarik nafas.
"Hah ??, serius lo?"
"Dan dia sudah berganti nama menjadi Donita" Devilito masih tidak percaya bahwa hari ini Ia akan bertemu dengan wanita yang sangat di cintainya dulu.
Giring melirik Devilito menunggu kelanjutan cerita selanjutnya.
"Dan lo tau?, dia ternyata sudah menikah" ada raut kekecewaan di wajahnya ketika menyebut kata 'menikah'.
Ia yang begitu menyayangi dan mencintai Kirana tiba - tiba menghilang dari kehidupannya, Ia mengerahkan kekuatan mencari keberadaan Kirana yang menurutnya hilang di Italia dan akhirnya mendapat kabar bahwa wanita yang di cintai sudah meninggal.
Dan, hari ini Ia harus menerima kenyataan bahwa wanita yang di kabarkan meninggal tersebut sudah menikah!.
Giring sangat mengerti dengan apa yang dirasakan sahabatnya ini, sekian lamanya mencari kebenaran berita wanita nya, tapi kenyataan berkata lain.
"Kalo udah menikah gimana lagi sob, relakan aja udah brarti dia bukan jodoh lo" hanya itu yang bisa Giring katakan untuk menghibur sahabatnya.
"Yaa, gue sih terima...tapi yang jadi tanda tanya ama gue, kenapa Kirana harus ganti nama?" Ia melirik Giring.
"Feeling gue mengatakan pasti ada yang ngga beres, selidiki orang tua nya..Alexander Sudrajat" Devilito memberi perintah.
"Oke.." Giring langsung mengirim pesan teks kepada anak buahnya.
"Iya yah?, kenapa gue ngga kepikir dulu menyelidiki orang tua nya yah ?, soalnya tadi gue lihat adeknya lagi menangis di pelukan Kirana" Devilito menepuk kening sendiri menyadari keteledorannya.
"Jadi sekarang mau fokus ke adeknya niih? hahaha" Giring tertawa setelah Ia lihat sahabatnya sudah mulai seperti biasa.
"Udah ah, tolong anterin ke rumah gue mau istirahat dulu, nanti malam kita ketemu lagi di markas ya"
"Oke bos.."
Tiba - tiba Hp Devilito berdering, Indri sekretarisnya menghubunginya...
"Sore pak Dev, maaf saya menelpon bapak sore - sore begini cuma mau kasih info aja kalau malam ini ada undangan untuk para eksekutif dari kementrian xxx , tadinya pak Hendra yang akan hadir tapi kata beliau bapak berada di Indonesia hari ini, invitation nya sudah langsung dikirim sopir kantor ke rumah bapak".
"Oo yaudah, nanti saya cek"
"Baik pak Dev, trima kasih saya pamit" sambungan terputus.
"Gue ada undangan dari kementrian malam ini, lo aja ama Marcel nanti malam yang bahas ya bro" Devilito mengatakan pada Giring untuk sekalian nanti menyelidiki papa nya Donita.
"Oke..no problem" Giring mengangkat tangan membentuk huruf O.
-- Malam hari --
Devilito berpikir sejenak sebelum menyerahkan invitation sebagai bentuk registrasi pada petugas dinas.
Dalam undangan tertulis bersama 'partner' ,
laah gue partner nya siapa ? masa datang ama Marcel atau Giring ?
Ia berkata dalam hati tanpa sadar sambil senyum - senyum sendiri.
"Silahkan pak Devilito" petugas jaga yang kebetulan wanita menyerahkan sebuah kartu sebagai tanda masuk kapal pesiar, muka petugas ini bersemu merah malu malu.
Dia kira gue senyum ama dia kali yah?
Devilito buru - buru meninggalkan tempat registrasi dan memasuki kapal pesiar. Yaa..undangan tersebut berada di atas kapal pesiar.
Di dalam kapal yang berbentuk hotel bintang 5 tersebut sudah berkumpul para eksekutif dan pengusaha dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka beramah tamah dengan bapak mentri sambil tersenyum basa basi.
Pak mentri melihat Devilito dari jauh mengangkat tangan memanggilnya untuk ikut bergabung dengan mereka. Ia menghampiri pak mentri yang disitu ada 4 orang eksekutif lain.
"Akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan pengusaha muda yang sedang naik daun akhir - akhir ini" pak mentri mengembangkan tangan merangkul Devilito dan menyalaminya.
__ADS_1
"Ahaa..pak mentri terlalu berlebihan pujiannya niih" Devilito tersenyum membalas pelukan pak mentri.
"Kenalkan ini pak Alexander Sudrajat"
"Ini pak Jimmy Ikusawek"
"Ini pak Raymond Sudrajat"
"Dan ini pak Sonny Andespa"
Ahh..akhirnya gue ketemu ama lawan gue disini hehe Devilito tersenyum smirk.
Mereka saling bersalaman dan beramah tamah dengan pak mentri, lalu di ajak ke ruangan jamuan makan malam.
Tak terasa kapal sudah berlayar sampai di tengah lautan lepas. Acara makin ramai dengan adanya musik dansa setelah mendengar kata sambutan dari bapak mentri.
Devilito melihat ke pojok ruangan disitu ada Alexander, Jimmy Ikusawek dan Raymond sedang duduk di satu meja, Ia melihat dari gesture mereka bicara seperti sedang membicarakan sesuatu yang serius. Beberapa menit kemudian Ia melihat Jimmy berdiri lalu meninggalkan Alexander keluar.
Musik dansa bertema kan lagu - lagu klasik,
Huh pake acara dansa segala
Devilito merasa bosan lalu keluar dari aula pertemuan dan berjalan keliling melihat - lihat suasana malam, kebetulan laut tenang malam ini.
Ia mencoba menghubungi Marcel tetapi sinyal kosong.
Ahh sial...Devilito mengumpat dalam hati. Ia turun ke lantai bawah yang kelihatan sepi. Kemudian dia menatap laut sampai akhirnya Ia melihat kira - kira 5 meter dari tempatnya berdiri, satu orang wanita berjalan di apit oleh dua orang pria seperti meronta karena tangan wanita sekilas Ia lihat di cengkram atau tepatnya di todong pistol, dan satu tangan lagi melingkar di pinggang wanita itu.
Instingnya bekerja, Ia mengikuti dengan diam - diam berusaha jangan sampai keliatan.
Mereka bertiga turun ke lantai geladak kapal di bawah. Ketika wajah mereka kena sinar lampu, Devilito kaget, Ia mengenali wanita itu.
Lorena..!
Ia langsung mempercepat langkahnya mengikuti, sampai di belokan tangga turun Ia mendengar keributan dan tiba - tiba terdengar seperti orang jatuh ke laut.
Ia berlari ke bawah dan dekat pintu geladak Ia berpapasan dengan dua pria tadi sedang berlari ke arah belakang seperti panik. Mereka terkejut bertemu Devilito.
Dengan tendangan loncat memutar dwit chagi nya Ia menghantam leher dan perut yang satu orang , dan tangan langsung meraih kepala pria yang satu lagi lalu menghantam kepala tersebut dengan dengkul dan memutar lehernya, terdengar bunyi..
Krakkk...!! patah
Ia tidak berhenti, pria yang tadi jatuh kena tendangan dwit chagi berusaha kembali bangun, Devilito kembali melayangkan tendangan sabit melingkar leher dan menekan leher tersebut jatuh ke lantai, dan juga di patahkannya.
Dua pria tersebut langsung terkulai sekarat.
Devilito langsung berlari ke arah masuk pria tadi, dan melihat ke laut ke arah ujung belakang kapal, Ia melihat bayangan hitam seperti orang megap - megap kena air.
Kembali insting nya bekerja.
Ia melihat di atas besi berbentuk meja ada sebuah perahu karet. Dengan kekuatannya Ia menarik dan melemparkannya ke laut, dan meraih papan dayung kemudian Ia pun ikut terjun.
Setelah dapat posisi naik perahu karet, Ia mengayuh dayung sekuat tenaganya mengejar bayangan Lorena yang sudah tertinggal jauh dari kapal.
Begitu sampai, Ia langsung meraih tangan Lorena yang hampir tenggelam dan mengangkat tubuhnya naik ke atas perahu karet.
Kapal pesiar semakin jauh meninggalkan mereka, dan juga tidak ada satu orang pun yang melihat kejadian tersebut.
Lorena pingsan karena terlalu banyak meminum air laut. Devilito berkali - kali menekan perut memompa air biar keluar, namun Lorena tetap diam.
Harus pakai nafas bantuan kalo begini mah...Ia membatin, tapi masih ragu.
Ahh bodo amat dengan asusila atau pelecehan!
Ia membuka mulut Lorena dan memberi nafas bantuan lalu menekan perut secara bergantian
Satu kali belum ada reaksi
Dua kali juga belum ada reaksi
__ADS_1
Tiga kali baru...
Uhuk..uhukk..uhuk
Lorena batuk-batuk dan memuntahkan air laut ke baju Devilito
Ia tersadar tapi masih berasa pusing.
Begitu kesadarannya pulih, Ia langsung menyerang dan memukul Devilito pakai papan dayung bertubi tubi tapi di tangkis, kemudian Devilito mengunci kedua tangan Lorena agar berhenti
"Hei..ini saya...ini saya, diam ngga !" sambil mengguncang bahunya kemudian.
"Hahh ?, kamu kok ada disini ??"
"Ehh kita berada dimanaaa ??" setelah kesadarannya pulih baru Ia panik. Ia melihat di sekelilingnya hanya lautan lepas di atas perahu karet, dan tengah malam pulak.
Devilito hanya diam memperhatikan Lorena panik, Ia hanya bersyukur gadis ini masih terselamatkan.
"Kapal di manaa???" Ia melihat kapal tidak ada.
Huaaaaa..huaaaa...Lorena menangis menjerit.
"Kamu berisik ah!, ngga ada yang dengar juga" Devilito membuka tutup kuping karena berdenging mendengar jeritan Lorena.
Suasana diam beberapa saat, Lorena mengingat - ingat kejadian yang menimpa dirinya.
"Dua orang yang membawa aku tadi kemana?"
"Sudah mati" jawab Devilito enteng.
"Kamu bunuh ??"
"Iya"
"Berarti kamu menyelamatkan aku ??"
"Yaa siapa lagi ? masa setan laut ?" Devilito menjawab sambil matanya mencari papan dayung.
"Yaah..papan dayung hilang kaaan?, kamu sih ah pake mukul segala" Papan dayung ternyata terlempar ke laut akibat tangkisan.
"Yaa siapa suruh pake nangkis, kelempar jadinya kan?" Jawab Lorena cengengesan.
"Haisss..kamu ini, kita jadi pake tangan mendayung jadinya" Devilito menyentil jidat Lorena.
"Haduh.." Lorena meringis dan menendang kaki Devilito.
"Ehh tadi kamu menyadarkan aku pake apa?" Ia baru ingat mulutnya seperti hangat sewaktu dia memuntahkan air.
"Pake mulut" jawabnya singkat.
"Hahh pake mulut !, mulut aku belum tersentuh orang lain loh ?" Ia memukul bahu Devilito yang mendayung pake tangan membelakanginya. Ia malu.
"Habis enak sih!" Devilito berkata sambil senyum - senyum sendiri.
Punggungnya kembali kena pukulan bertubi - tubi dari Lorena.
"Diam ah !, bantuin dayung dongg !, pegal tangan saya sendirian..."
"Ogah !"
"Dayung ngga!"
"Ngga !"
"Haisss..kamu ini"
Yang di belakang senyum - senyum.
-
__ADS_1
Bersambung lagi...