Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.48 Versus Cerlotta


__ADS_3

Enam orang bertampang eropa dan Amerika latin berpakaian serba hitam terlihat keluar dari pintu kedatangan terminal 3 Internasional bandara Soetta, di pimpin satu orang wanita cantik mirip artis penyanyi Amy Belle, berjubah hitam panjang melangkah anggun di antara enam orang lelaki bule itu.


Cerlotta, berjalan dengan angkuh dengan kaca mata hitam menutupi matanya yang indah, berjalan sedikit terburu-buru di antara pandangan orang-orang sekitar yang menatap kagum, bule tapi berambut hitam pendek tidak melewati bahu.


Kedatangannya di sambut seorang perempuan cantik yang sudah menunggu sekitar setengah jam yang lalu. Shania...


Ya, Shania yang beberapa hari lalu mengirim kabar pada Cerlotta.


Tidak mudah sebenarnya bagi Shania untuk mendapatkan kontak Cerlotta tersebut, setelah mencari kesana kemari, akhirnya Ia mendapat kontak tersebut dari orang yang dulu pernah menjadi pengawal Cerlotta di Milan.


Perlu keberanian yang lebih bagi Shania untuk menghubungi Cerlotta mengingat ancaman yang dia terima dulu, namun karena situasi yang menurutnya bernasib sama, memberi keyakinan bahwa Cerlotta akan mau menerima dirinya, berkolaborasi.


Hanya Cerlotta yang akan sanggup menghadapi Devilito, dan sekarang ini mereka berdua sama - sama kecewa. Sakit hati, itu yang di rasakan.


***


Devilito sedang mendengarkan penjelasan dan laporan dari masing-masing kepala divisi perusahaannya. Ia tidak bisa fokus dan tak ingin berangkat ke kantor pagi ini, tapi mengingat jadwal yang penting hari ini, dia tidak ingin menundanya. Toh, dia sudah menempatkan empat orang pengawal terbaiknya untuk berjaga di sekitar rumah. Tito, Dasmond, Hensly dan Melvin merupakan andalan yang tidak diragukan lagi kemampuan mereka.


Beberapa kali Devilito harus menyuruh ulang laporan yang di sampaikan Kadiv dalam rapat tersebut, bukan karna penjelasan yang berbelit tetapi memang Devilito sendiri tidak mendengarkannya.


Setelah mendapatkan inti laporan, Ia kemudian menyuruh Hendra sang asisten di dampingi Indri untuk menggantikannya memimpin rapat, Ia lebih baik kembali ke ruangannya saja.


"Saya tunggu laporan tertulis rapat siang ini di meja saya", perintahnya pada Hendra,


"Baik pak Dev", Hendra menjawab walau sang bos sudah meninggalkan ruangan rapat. Ia memandang ke arah Indri menanyakan ada apa dengan bos nya, Indri hanya mengangkat kedua bahu, tanda tak mengerti.


Giring memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, meliuk-liuk di tengah keramaian jalan tol arah dalam kota. Pagi ini, rencananya ingin ke Bandung tetapi tiba-tiba harus memutar balik kendaraan setelah mendapat telepon dari salah satu anak buahnya, bahwa Cerlotta sudah mendarat pagi ini, di Jakarta.


Sambil ber-akselerasi dengan Pajero Sport, Ia mencoba beberapa kali men-dial nomor Marcel yang tadi sempat menghubunginya, namun tidak di angkat karena posisi silent. Nada sibuk, Marcel belum bisa Ia hubungi, akhirnya Ia harus menghubungi Devilito.


"Halo bro, kenapa nafas lo..?" Devilito yang baru keluar dari ruangan rapat, melihat nomor Giring menghubunginya.

__ADS_1


"Posisi lo sekarang, di kantor atau di rumah bro?", Giring tidak mengindahkan tanya Devilito, Ia langsung ke inti. "Gue di kantor, kenapa emang..?", jawab Devilito santai. "Cerlotta udah mendarat pagi ini, tadi anak buah hubungi gue, dia bawa enam orang pengawal termasuk Dominique",


Devilito tertegun sejenak, Ia tak menyangka Cerlotta bawa beberapa pengawal, dia pikir cuma Dominique.


"Oh..gue udah dapat informasi Cerlotta mau datang, cuma gue ngga nyangka dia bawa pengawal, itu dari Mr. Ludwig pasti, gue udah nempatin Tito cs berjaga di sekitar rumah".


"Oh gitu, ya makanya, lo udah hubungi Cerlotta langsung belum?, kalo bisa arahkan ke markas aja, kalo ada apa-apa bisa di tangani" lanjut Giring sedikit memperlambat laju kendaraan, karna sudah memasuki lingkar dalam kota.


"Ini baru mau hubungi Cerlotta, elo udah keburu nelpon gue.., gue nelpon dia dulu", Devilito langsung mematikan sambungan. "Aisshh..kan kebiasaan ini orang, ngga ada basa basi!", gerutu Giring kemudian menelpon anak buahnya.


Devilito menghubungi Cerlotta lewat nomor khusus, tetapi tidak ada jawaban walau nada tersambung. Ia mencoba lagi dan lagi, tetap tidak di jawab. Disini, Devilito baru memahami, bahwa Cerlotta marah. Ia sudah paham dengan sifat Cerlotta ini, berarti sang gadis akan konfrontasi dengannya.


Tiba-tiba, ponsel satunya lagi berdering, Giring kembali menelpon, "Bro, lo segera pulang, Cerlotta mengarah ke rumah lo" Giring berbicara sedikit terburu, soalnya Ia harus segera menelpon Marcel yang belum tersambung dari tadi.


Devilito terkejut, Ia mengangkat wajahnya...


Lorena..!, Ya, Ia harus segera menelpon istrinya. "Halo yank..", suara serak bangun tidur menjawab. "Kamu baru bangun?", Devilito mencoba bicara setenang mungkin agar istrinya tidak panik. "Iya, capek aku, semalam lembur!, huh..", Devilito tersenyum dengar gerutu sang istri. "Kenapa yank?" tanya istrinya kemudian. Devilito kembali berusaha berbicara tenang, agar istri tetap tidak panik, "Nanti ada yang datang, Cerlotta..., kamu jangan bukain pintu bilangin bibi, tunggu aku datang ya, sekarang aku mau on the way".


"Yaudah sekarang aku matiin dulu, aku mau hubungi Tito dan Melvin ya"


Devilito lalu menghubungi Tito untuk memimpin pencegatan untuk mengulur waktu, supaya dirinya sampai sebelum Cerlotta masuk rumah.


Lorena yang merasa dirinya akan menjadi target, Ia lalu menghubungi kakaknya Donita untuk datang, karna Donita sudah mengenal Cerlotta, mungkin sedikit akan memperkecil resiko terjadinya keributan, pikirnya.


***


Cerlotta bukannya tidak tahu rencana Devilito, maklum mereka satu almamater, satu bendera dan sama-sama pemimpin. Keluar dari pintu tol, Cerlotta turun dari mobil, dan berpindah naik taksi bertiga dengan Dominique dan Shania menuju kediaman Devilito, dengan mengambil arah lebih memutar.


Ponsel Devilito berbunyi, dari anak buahnya yang dia suruh untuk membuntuti dua mobil yang membawa rombongan Cerlotta.


"Maaf ketua, Nona Cerlotta dan dua orang lagi berpindah mobil, naik taksi. Saya harus mengikuti siapa?", suara diseberang sana memberi laporan. "Kamu ikuti mobil taksi yang bawa Cerlotta, dia pasti mengambil jalan berbeda!".

__ADS_1


"Baik ketua, siap!".


Devilito memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, namun tidak maksimal, siang itu jalanan sangat ramai, jadi agak tersendat. Ia lalu menghubungi Tito dan Melvin untuk segera membagi dua kelompok, karena Cerlotta berpindah mobil. Tak lupa Ia berpesan untuk menambah anggota sesegera mungkin, membantu Hensly-Dasmond dan untuk Tito-Melvin.


Cerlotta..??


Ia bukan pemimpin kaleng-kaleng. Di tengah jalan dia meminta sopir taksi menghentikan mobil, Ia turun sendiri berpisah dengan Dominique yang Ia suruh tetap melanjutkan bersama Shania naik taksi. Ia tahu, mereka sedang di ikuti.


Cerlotta diam sejenak di dekat bangunan kosong, setelah Ia melihat mobil yang mengikuti mereka lewat, Ia baru keluar dan menghampiri pangkalan ojeg. Ia cukup fasih dengan bahasa Indonesia, jadi komunikasi tidak menjadi penghalang.


"Pak ojeg, bisa antarkan saya ke alamat ini?, nanti saya kasih uang lebih" katanya pada seorang laki paruh baya, tukang ojeg pangkalan.


Bapak itu mencoba mengingat wilayah yang tercatat di kertas itu. "Oh tau Non, mari saya antar", Bapak ini sudah membayangkan bakal dapat uang lebih.


"Tapi bisa cepat kah? saya sedang terburu-buru".


"Tenang Non, saya lima tahun yang lalu masih juara balap liar kok! kita lewat jalan tikus biar cepat hehe" ucap bapak-bapak itu garing. Balap liar..apa itu balap liar ? Cerlotta bergumam nyaris tak terdengar, Ia geleng-geleng kepala.


***


Suasana tegang terjadi ketika dua mobil Alphard di hadang oleh tiga buah mobil Jeep Wrangler dekat tanah kosong, 500 meter sebelum memasuki rumah Devilito. Dasmond dan Hensly mencoba bernegosiasi dengan enam orang bule pengawal Cerlotta. Tujuan Dasmond hanya ingin mengulur waktu, mengingat mereka sama-sama berbendera Lidah Api, sampai nanti kedatangan ketua mereka, namun mereka juga siap jika terjadi clash jika pihak bule memaksanya, itu sudah perintah dari Devilito.


--### Di tempat lain--


Suasana lebih agak damai terasa ketika Tito dan Melvin menghadang Dominique, karna Tito sudah cukup mengenal tangan kanan Cerlotta ini. Dominique lebih kompromi, karna ini bukan tentang pertarungan antar lawan, ini hanya masalah pribadi antara pimpinan mereka, masalah hati.


Dan Tito lebih menyarankan untuk menunggu kedatangan masing-masing pimpinan aja. Dominique menyetujui, karna Ia tahu, Cerlotta sendiri sudah mengambil jalan sendiri untuk masuk.


-


Bersambung lagi...

__ADS_1


__ADS_2