Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.73 Menikmati Malam Kota Milano


__ADS_3

Setelah melakukan ikrar setia, tinggallah di aula besar tersebut petinggi - petinggi Lidah Api, anggota lainnya sudah membubarkan diri. Sedangkan Ludwig Smith akhirnya pamit meninggalkan ruangan tersebut, dia merasa sudah tidak punya kepentingan lain di situ. Ia sudah waktunya pergi keliling dunia menikmati masa tuanya, hal yang sudah di rancangnya dalam beberapa bulan terakhir ini.


Devilito memimpin rapat, tak banyak berubah, Devilito setelah mempelajari skema organisasi dan mekanisme jaringan, Ia memutuskan tidak mengubah sistem yang dijalankan tuan Ludwig Smith, hal yang baru, hanya...Ia menunjuk Giring sebagai penggantinya, menjadi ketua Lidah Api bagian Asia - Pasifik. Dan, Cerlotta tetap sebagai ketua Lidah Api wilayah Eropa dan Amerika.


Seperti biasa,


Setelah melakukan penunjukkan Giring, Ia memberikan kesempatan kepada petinggi lainnya untuk menyangkal atau membantah. Agar Giring punya kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya. Tetapi, semua menyetujui.


Berselang hampir dua jam lamanya mereka rapat organisasi, kemudian Devilito membubarkan rapat tersebut, jika ada hal yang baru, bisa di bicarakan melalui zoom.


***


"Berarti tugas kamu bertambah dong, yank?", tanya Lorena pada Devilito, setelah mereka sekarang berada di mansion utama, disitu ada Cerlotta dan Giring. "Ngga dong kak, justru menjadi ringan, karena kak Geri sudah menggantikan tugas kak Devi", Cerlotta angkat bicara menjawab tanya Lorena. "Kak Devi sekarang tugasnya kan tinggal tunjuk aja", ujarnya melanjutkan.


"Nah..itu, sekarang dia yang ribet hahaha", Devilito menimpali sambil menunjuk ke Giring. "Sialan lo..", Giring menggerutu tak berdaya.


Keempat nya kemudian tertawa, mereka bercengkrama di ruang tamu yang luas di mansion utama itu. "Malam ini kita ke Milan yuk, aku ingin jalan-jalan", ajak Lorena dengan mata berbinar, kapan lagi kesempatan itu datang, toh beberapa bulan lagi jika semua berjalan lancar, Ia akan di sibukkan dengan perannya sebagai seorang Ibu, pikirnya.


"Nah, ide yang bagus", Cerlotta menyetujui, "tapi kita pulang kesini lagi atau gimana?".


"Kita menginap di hotel", jawab Devilito singkat. "Eh, tapi kalian belum tidur bersama kan?", lanjut Devilito sambil mengerling nakal pada Cerlotta yang disambut pelototan mata oleh Lorena. Devilito menutup mulutnya kemudian.


"Mulut suami kak ipar, tidak ada saringannya yah ?", kata Cerlotta cemberut pada Lorena.


"Emang !".


***


Milan mungkin bukan tujuan utama para turis jika mengunjungi negara Italia. Kota ini memiliki lebih dari pangsa atraksi, belum lagi sejarahnya. Seniman Michaelangelo dan Leonardo Da Vinci, komposer Verdi dan Tenor besar Enrico Caruso, serta jangan lupakan desainer besar Giorgio Armani, semuanya tinggal dan bekerja disini, kota Milano.

__ADS_1


Belum lagi, tempat seperti basilika yang sekarang berubah nama menjadi Piazza Del Duomo, tempat Santo Agustinus di baptis. Serta sebuah gereja bata Gothic Santa Maria delle Grazie, di Corso Magenta, yang didirikan 1465. Kubah besar enam sisi bergaya Renesains terbaik yang di rancang oleh arsitek terkenal Bramante ini merupakan gereja tempat perjamuan terakhir, yang dilukis oleh Leonardo Da Vinci.


Ya, disinilah mereka berempat menikmati malam kota Milano yang dikunjungi oleh dunia fashion, dua kali dalam setahun untuk menghadiri dan menikmati peragaan busana para perancang terkenal dunia.


Karena waktunya malam hari, tempat destinasi yang mereka kunjungi pun menjadi terbatas. Berencana esok hari atau lusanya akan melanjutkan kembali berkeliling, tak terbatas di kota Milano, dan akan merembet ke kota-kota lainnya di Italia. Semua adalah permintaan sang istri, Lorena...yang tidak akan mampu di tolak oleh Devilito. "Kita kan belum tahu kapan akan bisa mengunjungi pulau kenangan kita itu kan, yank?", ucap Lorena suatu kali dengan nada merajuk, yang di jawab singkat oleh sang suami, "Ho oh!".


***


"Yankk, kaki aku pegel deh", Lorena mengurut-urut kakinya di sofa kamar hotel, setelah hampir tiga menikmati indahnya malam di kota Milan ini. Devilito yang tadinya bersiap untuk mandi, memutar langkahnya kembali menghampiri istrinya. "Sini aku pijitin...", ucapnya sambil mengangkat kedua kaki Lorena dan meletakkan di atas pahanya. Kemudian melakukan pijitan ringan mulai dari jari-jari kaki, merembet ke betis.


"Yank, kamu ganti baju dulu deh, susah kalo pake celana begini, pijatannya ngga meresap!". Lorena berpikir sejenak, "Yaudah deh, aku ganti dulu", lalu bangkit.


Devilito memperhatikan gerakan Lorena secara intens, melihat tubuh dan pinggang istri yang kelihatan mulai melebar, pipi mulai berisi, terutama perut, ketika istrinya membuka baju dan BH, menggantinya dengan kemeja longgar panjang miliknya, Devilito melihat perut istri tersebut sudah mulai kelihatan membuncit. Timbul rasa kasihannya, nafas istri yang mulai tersengal kalo berjalan lama, serta sering capek.


Tapi, terlihat semakin seksi dimatanya.


Devilito terkesiap, ketauan sedang memperhatikan, "Ehh..jangan lupa bawa lotionnya kesini yank, biar kulit kamu ngga lecet".


"Aku tanya...aku udah keliatan jelek ya?", Lorena mengulang perkataannya tadi, alis matanya bertaut dengan dahi mengernyit.


"Ngga sayang..justru kamu keliatan cantik dan seksi, beneran..sumpah ngga bohong".


Lorena hanya mengerucutkan bibirnya dari kaca.


"Kamu tau ngga, 8 dari 10 pria, sangat menyukai wanita yang sedang hamil, bagi kami kaum pria, wanita hamil itu akan terlihat lebih cantik, terutama lebih seksi", ujar Devilito sambil memijit pelan kaki istrinya di atas pahanya. "Mossoo ?", Lorena justru meledek, bukan tak percaya, tetapi memang hati nya senang di puji seperti itu. "Beneran loh, baca aja di google", jawab Devilito sekenanya.


Lorena meresapi pijatan suaminya yang perlahan merambat ke atas. Membutuhkan waktu hampir tiga puluh menit untuk memijat keseluruhan badan istrinya.


Lorena hampir tertidur, ketika Devilito kembali memijit kakinya. Kali ini pijatan tersebut sedikit berubah, bukan menekan atau mengurut seperti di awal. Tetapi, seperti tepatnya mengusap, sangat lembut.

__ADS_1


Dan, Lorena merasakan sensasi lain, ketika entah kapan jari sang suami sudah sampai di pangkal pahanya, melakukan pijitan lembut di area itu. Tanpa sadar, Ia menggigit bibirnya menikmati rasa.


Matanya terbuka sedikit, Ia mencoba mengembalikan kesadarannya, karena sudah bertekad tadinya ingin tidur pulas.


"Ini tangan kenapa disitu-situ aja ?, what the maksud ?", tanyanya sambil menahan tangan suaminya yang mulai liar di area sensitifnya. Bermaksud ingin tegas, tetapi suara yang keluar tidak bisa di ajak kompromi, Ia mendesah.


Walau masih memakai celana segitiga pengaman, tetapi serangan rasa itu tak akan mampu di tahan oleh sebuah kain bukan?...


Erangannya makin tak terkendali, ketika Devilito justru meloloskan celana d*l*m nya kebawah. Dan sang suami itu kembali melanjutkan pergerakan lembutnya.


"Yankkkk...", alih - alih ingin protes, justru kakinya membuka, dan geliat erotis tubuhnya seperti diluar kendali otaknya. "Yankkk...hhh", desahannya Lorena memancing sang suami berubah posisi.


Ia kini tak lagi mengandalkan tangan semata untuk 'memijat' , tetapi menambah serangan dengan mulut dan lidahnya, menyerang dada dan mulut Lorena. Posisi mereka yang berdampingan, Devilito makin liar, Ia menyerang dengan kecupan sampai di salah satu titik mematikan wanita, di belakang cuping telinga sang istri.


Lorena tak mampu menghadapi itu, Ia terpekik dan berubah melawan ketika serangan ditambah suaminya dengan gigitan pelan disitu. Jiwa 'nakal' Lorena yang baru Ia sadari setelah menikah itu, keluar. Ia berusaha mengambil kendali. Boleh saja sang suami ini manusia tak tersentuh dan tak tergoyahkan dalam pertarungan antar lelaki. Tapi, baginya sangat mudah menaklukan sang suami untuk diam dan menurut padanya.


Cukup dengan satu genggaman tangan pada 'senjata' suaminya, yang entah kapan sudah tidak dalam perlindungan celana.


Pegangan, genggaman dan elusan di bagian bawah sang suami saja sudah mampu membuat pria itu terdiam, apalagi kini Ia melakukannya dengan mulutnya. Ia pikir, Ia tak mau kalah , Ia harus membalaskan dendam, tadi sang suami menyerangnya dengan mulut, dan dia pun bertekad melakukan hal yang sama, di titik mematikan pria, suaminya.


Pergumulan itu berlangsung hampir tiga puluh menit, yang diakhiri dengan pelepasan duniawi oleh sang suami, dalam posisi tubuh dan tangan Lorena bertumpu pada sandaran sofa, memunggungi dan menunduk menegang, dan kemudian terkulai di sofa.


Sampai disini, mereka berpelukan dengan posisi Devilito memeluk sang istri dari belakang. Meresapi dan mengatur nafas yang tersenggal.


Tak ada yang berinisiatif untuk melepaskan, justru makin erat ketika sampai mereka tertidur sebentar disitu.


-


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2