
"Kamu mau kemana kak?", dari ruang tengah bawah Lorena melihat Devilito memakai hoodie di padu dengan celana jins , sepatu kets biru dan memakai topi sedang menuruni tangga, menarik perhatiannya.
"Ada yang mau aku urus dengan Giring dan Marcel, kamu disini aja dulu ya".
Devilito tidak mengatakan satu lagi bahwa Ia juga akan bertemu dengan Cerlotta di sebuah hotel di pusat kota. Ia tidak ingin membuat keadaan saat ini menjadi kacau jika Lorena mengetahui Ia akan bertemu Cerlotta siang ini.
"Ooh..tapi Hp kamu tetap di aktifin kan?"
"Ho oh..", Devilito mengangguk santai.
Lorena sebenarnya tidak ingin mengucapkan itu, tapi dia punya ketakutan tersendiri sejak kejadian kemarin, apa benar kakaknya semudah itu meng-ikhlaskan pria yang membuatnya jatuh cinta ini, juga...bagaimana dengan Cerlotta?
Sebelumnya, Giring sudah melaporkan pada Devilito bahwa rencana mereka berhasil dan sekarang target sudah berada di markas induk sedang dalam penanganan.
Untuk itu, Devilito meminta agar mengatur pertemuan dengan Cerlotta, Ia berpikir saat ini bagaimana caranya agar Cerlotta mau pergi meninggalkan negara ini. Karena semua akan menjadi kacau menurutnya jika Cerlotta ikut campur dengan strategi yang mereka rancang. Ia sudah menemukan ide.
"Kok pakai baju kayak gitu kak?, ngga formal, itu kayak style mau ketemu cewek brondong deh" Lorena mengikuti langkah Devilito dari belakang. Seperti istri yang melepas kepergian suami nya
Ahaa...satu lagi yang Ia ketahui tentang Lorena, selain mandiri, berani dan cerewet, Ia juga pencemburu...
"Kan aku belum di ketahui oleh siapa pun kalo udah kembali, jadi gaya nya begini biar ngga ketauan", Ia mengatakan itu sambil memakai kaca mata hitam, jawaban yang mampu membuat Lorena berkata,
"Ooohh..."
***
Di sebuah hotel berbintang di bilangan pusat kota, presidential suite room.
Giring sedang membolak balikan sebuah majalah yang terletak di ruang tamu kamar, Ia seperti nya tidak tau apa isi majalah itu, karena memang tidak membacanya, hanya mengatasi rasa jenuh.
Sudah hampir 30 menit lamanya Cerlotta mandi namun belum ada tanda - tanda sudah selesai.
Huh...bule satu ini tidur kali yah di kamar mandi, lama bener..seperti lamanya gue menunggu ..aiiihh
Tadi begitu menerima permintaan Devilito untuk mengatur pertemuan dengan Cerlotta, Ia dengan senang hati menerima titah itu. Ia lebih cepat berangkat dari yang dijanjikan Marcel yang juga nanti akan menyusul.
Ia langsung menyampaikan bahwa Devilito akan datang untuk bertemu disini. Cerlotta terlihat kaget, bahwa Devilito selamat, tapi ketika di beritahu akan menemui nya entah kenapa Ia menyembunyikan rasa senangnya, seperti ada yang di jaga.
Di dalam kamar mandi, Ia sudah selesai mandi sebenarnya, tapi Ia lebih banyak melamun, berpikir tepatnya.
Memang akhir - akhir ini, selama masa Devilito hilang, Ia banyak berinteraksi dengan Giring, Giring sering menemaninya dan membahas tentang banyak hal.
__ADS_1
Ia bukan wanita naif, Ia merasakan setiap membahas masalah Devilito, Giring terlihat mengalihkan topik bahasan. Ia tau itu, Giring seperti menyukainya. Ia bingung, antara memikirkan Devilito atau menjaga perasaan Giring. Jujur, dengan interaksi selama beberapa hari ini, muncul sensasi lain di hati nya. Entahlah...
Ting tong...bel kamar berbunyi.
Giring mengintip siapa yang datang, ada dua orang pria di balik pintu. Ia membukanya.
Marcel masuk duluan, langsung meninju bahu Giring,
"Lo katanya nanti bareng ama gue!"
"Gue lagi posisi dekat sini, jadi langsung kesini aja" Giring menemukan jawaban yang tepat, karena memang rumah nya lebih dekat di situ.
"Mana Cerlotta?" Devilito mendahului masuk, sebentar melirik ke ruang kamar, lalu balik lagi karena Cerlotta tidak ada.
"Lagi mandi, udah dari tadi"
"Lo liat gih, mungkin ketiduran kali dia", Devilito lalu duduk, Giring pun berdiri setelah mendapat perintah Devilito.
Sambil menunggu Cerlotta bergabung, ketiga nya membahas perkembangan yang terjadi semalam,
"Setelah gue cek, pasien memang di sengaja untuk tidak sadarkan diri, Ia di beri obat flunitrazepam yang memiliki fisiologi yang kuat, efeknya 10x lebih kuat dari diazepam", Marcel menerangkan sekilas kondisi pasien yang mereka culik semalam.
"Pasien di kondisi kan agar mengalami kecemasan yang berlebihan, lalu di beri obat penenang itu"
"Dari jam 03.00 langsung di beri suntik cairan untuk mengembalikan kondisi daya tahan tubuh, mudah-mudahan sore ini sudah bisa siuman"
"Rencana selanjutnya, gimana sob?" Giring bertanya mengarah ke Devilito.
"Kalau malam ini, kondisi pasien sudah bisa di ajak bicara, gue .." Devilito belum menyelesaikan kalimatnya harus terhenti karena Cerlotta datang..
"Hi tampan..apa kabarmu?" wajah anggun nan cantik Cerlotta berhasil memukau tiga orang pria yang sedang duduk di ruang tamu, gaya nya sangat elegan. Kali ini, Ia mengulurkan jabat tangan tersenyum manis.
"Hi Cerry ketemu lagi" Devilito menyambut uluran jabat tangan Cerlotta.
Cerlotta melihat sedikit ada perubahan dalam diri Devilito, kulitnya sedikit agak gelap, mungkin pengaruh udara pantai. Namun, tak mengurangi ketampanannya.
Lalu Ia menanyakan kronologi kejadiannya seperti apa, karena Ia tidak mendapat informasi yang berarti dari Giring, tetapi Ia memakluminya karena Giring sendiri juga tidak tahu bukan?
Devilito menceritakan secara runut kejadian mulai dari undangan pak mentri sampai akhirnya Ia harus menolong gadis yang jatuh ke laut. Satu hal yang tidak Ia ceritakan adalah bagaimana kedekatan Ia dan gadis yang di tolongnya tersebut, Karena menurut nya itu tidak perlu.
"Yang perlu di cermati disini adalah, masuknya jaringan Ruiz Hernandez, melalui rumble squad nya Jimmy, mereka sekarang sudah berani memotong jalur kita" Devilito menjelaskan bagaimana skema permainan yang dijalankan oleh Ruiz Hernandez, melalui coretan. Termasuk ingin menguasai elPaso nya Alexander melalui Raymond.
__ADS_1
"Di Myanmar mereka juga sudah merebut pasokan senjata lewat jaringan Triad Hongkong dan sekarang mereka sudah menguasai Myanmar.." Marcel menambahkan.
"Mereka mulai frontal karena bergabungnya sisa - sisa anggota Venezuela pimpinan Lucifer" Devilito merasa tidak butuh waktu lama lagi, jaringan itu akan mengobok - obok Eropa.
"Benar, aku dapat info pagi tadi kalau rumble squad sudah melakukan penetrasi terhadap jalur bisnis Lidah Api di Eropa, papa memintaku untuk kembali secepatnya" Cerlotta memberitahukan bahwa malam ini juga, Ia akan kembali ke Italia.
Devilito sedikit terkejut dengan berita itu, Ia tak menyangka, tanpa Ia mengatakannya ternyata Cerlotta besok harus pergi. Ada kelegaan di dada nya, tapi sekaligus was - was jika terjadi benturan antara bisnis rumble squad dengan Lidah Api. Walau Ia yakin Ludwig, Cerlotta dan Dominique akan mampu mengatasinya. Tapi Ia tetap tidak tenang.
"Cerry, kabari aku jika ada kesulitan disana, kita harus bahu membahu.."
"Aku tunggu kedatanganmu disana" Cerlotta mengerlingkan matanya menatap Devilito. Devilito grogi..
"Ehemm..kalo gitu, kita bubar dulu, kita sore ini harus segera bergerak.." Giring memutus interaksi Cerlotta dan Devilito.
***
"Rena, malam ini kamu ikut aku ke markas yang dulu pernah kesitu"
"Emang ada apa kak..?"
Devilito kemudian menceritakan bahwa sebenarnya papa nya sedang sakit tepat di sengaja di buat sakit oleh pamannya, termasuk rencana menyelamatkan papa nya dengan cara di culik dari rumah sakit yang di awasi sang paman.
Lorena kaget setengah mati, Ia syok...
"Kenapa kak Devi ngga cerita ama aku??" Lorena sekali lagi harus mengeluarkan air mata.
"Waktu itu rencana aku belum berjalan, situasi nya belum memungkinkan untuk ngasih tau kamu, karena papa kamu belum sadar dan masih dalam pengawasan paman kamu, kamu tidak aman"
"Jadi sekarang papa kamu sudah siuman dan sudah bisa di ajak bicara. Dan aku minta kerja sama kamu untuk hubungi Donita datang kesini, jangan ada yang tau, kita belum tau siapa yang bisa jadi kawan dan lawan dalam lingkungan papa kamu"
"Kalau kak Aksan ikut, gimana?"
"Aku belum kenal siapa Aksan, tapi kalo menurut kamu dan Donita ikut, ya gpp"
"Dan nanti, aku akan menikahi kamu di depan papa kamu.."
"Hahh ..??" Lorena terperangah
-
-
__ADS_1
Bersambung...