
***
Pagi itu...
Devilito tengah bersiap berolah raga pagi, hal rutin yang selalu di lakukannya untuk menjaga kebugaran dan stamina tubuh. Ia menuju anak tangga dan berhenti sejenak di depan kamar tamu, kamar yang semalam di tempati Lorena.
Paling dia masih tidur...
Lalu berlari kecil menuruni anak tangga menuju ruang latihan yang memang dia bangun terpisah dari rumah utama di bagian belakang.
Ruang latihan lebih tepat di sebut sasana yang Ia bangun cukup luas dan memiliki peralatan yang cukup komplit. Di tengahnya ada sebuah ring tinju dan di bagian samping agak terpisah di pisahkan kaca tebal adalah tempat peralatan - peralatan.
Devilito melakukan pemanasan ringan beberapa menit sebelum memasang hand wrap pelindung tangan serta ankle wrap pelindung kaki dan mulai memukul samsak secara bergantian dari punching ball stand sampai yang di gantung.
Hampir 1 jam lamanya Ia asyik dengan kegiatan pukul memukul nya hingga tanpa Ia sadari ada sepasang mata dekat pintu sedang memperhatikannya. Lorena!
Pantas postur tubuhnya ideal, latiannya begini hmm...
Eh iya, dia serius ngga sih sama omongan nya ngajak menikah? kok gue jadi takut yah? jangan - jangan cuma karna terpengaruh suasana di pulau aja, atau..ada motif lain?, semalam gue liat dia ama teman-teman nya kayak bicarakan sesuatu tapi terhenti karna gue datang. Kayaknya dia punya calon deh...ah pusing gue
"Hei..kamu ngelamunin apa pagi - pagi?" sebuah suara tiba - tiba dekat telinganya sukses membuyarkan lamunannya.
"Ehh ngga!, kamu latiannya lama banget", Ia tidak tahu apakah jawabannya itu bisa di terima atau ngga.
Devilito baru menyadari kehadiran Lorena setelah Ia berhenti memukul samsak dan terasa kerongkongannya sudah mengering. Dilihatnya Lorena bersandar di tiang pintu masuk dengan tangan menyilang di dada nya. Ketika di hampiri, gadis itu tidak bereaksi.
Hmm dia melamun...
Ia berjalan menghampiri meja yang sudah tersedia air mineral dan minuman jus alpukat serta sedikit buah - buahan yang tadi sudah di siapkan oleh penjaga rumah, bibi Tukini dan suaminya, lalu duduk di sofa panjang di ikuti oleh Lorena yang mengambil tempat duduk di sebelahnya.
"Kamu ngelamunin apa tadi hm..?", Devilito mengulang pertanyaan tadi sambil menunduk membuka angkle wrap di kaki kemudian mengelap keringat yang membasahi sekujur tubuhnya dengan handuk kecil.
"Ngga ada apa sih, cuma kepikiran papa aja gimana kabarnya",
dia harus berterima kasih pada otak nya yang secepat kilat mendapat jawaban yang tidak sepenuhnya berbohong.
"Owhh..besok kita temuin papa kamu dan kakak kamu, tenang aja", Ia mengambil air mineral yang ada di atas meja.
Mudah - mudahan rencana berhasil baik nanti malam, pikirnya kemudian.
Tok..tok..tok pintu ruangan samping terbuka.
"Permisi tuan muda, ini ada paket pesanan tuan baru datang" Pak Sarta suaminya si bibi menyerahkan sebuah kotak paket, lalu undur diri dari situ.
Devilito membuka paket tersebut lalu menyerahkan nya pada Lorena.
"Nih, ambilah kamu pasti butuh itu"
"Loh..ini handphone buat aku??, terima kasih kakaaak", Devilito tersenyum melihat Lorena bertingkah seperti anak kecil mendapat mainan baru, berseri - seri. Cuma loncat - loncatnya aja yang ngga.
"Semalam aku suruh Tito untuk membelikan nya, trus sama Giring udah kembalikan fitur lama".
"Aku mau hubungi kak Nita, suruh kesini boleh kan?", katanya sambil mengotak atik Hp, di liat nya nomor kontaknya sudah kembali semua.
Tangan Devilito menggantung di udara memegang gelas jus yang belum sempat di minum nya.
"Kamu serius menyuruh Kira kesini ?"
"Iya, boleh ngga?..hanya kak Nita yang bisa aku hubungi dan aku percayai sekarang ini, kamu takut ketemu ?", Lorena sempat menagkap sekilas mimik grogi terpancar di wajah pria di sampingnya ini.
"Ya gpp..tadinya aku pikir sekalian ketemu papa kamu aja besok"
"Tapi kok kak Devi kayak grogi gitu...?"
__ADS_1
"Ngga.."
"Iya sih..."
Pletak !
"Ihh..sakit!" Lorena meringis mengusap jidat nya yang di sentil sambil memukul bahu Devilito.
***
Teeett..teeett
Alarm pagar rumah berbunyi dari depan,
"Siapa ?" tanya pak Sarta menghampiri istri nya yang mengintip dari layar CCTV di dapur samping.
"Ada tamu tuan muda sepertinya" Ia berjalan cepat menuju tangga untuk melaporkan pada Devilito.
"Ada apa bik..?" Lorena menuruni tangga sambil menelpon.
"Ada tamu tuan muda Non"
"Oh itu kakak saya Bik mau datang, tuan muda udah tau, gpp buka aja"
Donita tadi mengabarkan bahwa Ia sudah mendekati titik lokasi yang di berikan Lorena.
"O gitu ya Non, yaudah bibi permisi mau buka pagar ya",
"Iya bik, makasih"
Tukini berlari ke arah TV control lalu menekan tombol hijau untuk membuka pagar secara otomatis.
Sebuah mobil Fortuner hitam memasuki pekarangan rumah. Seorang pengemudi wanita berkaca mata hitam turun sambil memandang sekeliling, yang menurutnya begitu asri dan modern dengan bangunan rumah dua lantai di dominasi kaca - kaca hitam.
"Kak Nitaaa...", Lorena berlari menyambut dan memeluk kakaknya begitu pintu depan di buka oleh si bibi.
Donita sampai terdorong ke belakang menahan tubuh adiknya yang sudah hampir 2 minggu tidak bertemu.
"Ya Allah deeek...." hanya itu yang bisa keluar dari mulut Donita, matanya berkaca - kaca mengusap - usap rambut adiknya yang sedang sesungukan menangis di pelukannya.
Donita melepaskan pelukan, memegang kedua pundak Lorena menelisik wajah sampai mata kaki Lorena untuk memastikan bahwa adiknya dalam keadaan baik - baik saja. Ia sudah beberapa hari ini jam tidurnya jadi berantakan memikirkan nasib adiknya yang hilang di tengah laut dan di kabarkan sudah meninggal.
Ia sudah pernah merasakan sebuah kehilangan yang memukul batinnya, mama mereka meninggal tabrakan, namun menurut orang terdekatnya itu adalah faktor kesengajaan karena pertaruhan bisnis papa nya.
Dan sekarang adiknya pun menjadi korban sampai berhari - hari hilang di telan bumi.
Ia sempat bertengkar hebat dengan suami nya Aksan karena papa nya melibatkan Lorena dalam bisnis nya dan menjodohkan walau Ia merasa itu perbuatan Om Raymond, tetapi Aksan menurutnya ikut bertanggung jawab karena terlibat dalam organisasi.
Dan, sekarang adik nya yang menghilang telah kembali di hadapannya. Ia tidak bisa melukiskan haru nya perasaan seperti apa, walaupun Ia belum tahu siapa yang menyelamatkan adiknya, karena Aksan dan keluarga nya menutup semua informasi tentang Lorena, dengan tujuan agar Ia makin tidak terpukul.
Suasana tangis sedih sudah berganti tertawa bahagia, Donita sesekali melongo menutup mulut dan sesekali mengernyitkan dahi seperti tak percaya mendengar celotehan cerita Lorena waktu di pulau.
Lorena sengaja menutup nama pria dan ciri - ciri nya kemudian mengalihkan cerita jika Donita menanyakan siapa pria yang menolongnya itu. Biar nanti semua terbuka di hadapannya.
"Ada tamu..?" suara bariton Devilito dari anak tangga, mampu menghentikan aktivitas kakak beradik yang sedang asyik ketawa ketiwi bercerita. Mereka secara bersamaan menoleh kebelakang kearah sumber suara.
Donita seketika seperti tersengat aliran listrik, Ia terperanjat berdiri dari duduknya dengan tangan menutup mulut, Ia kaget, tak percaya dengan yang di lihatnya.
"Hai kak Devi, ini kakak aku"
"Kamu lagi???..."
Sapa suara kedua wanita kakak adik ini kompak bersamaan.
__ADS_1
Devilito baru tahu kedatangan Donita setelah Ia selesai mandi dan memakai baju, Ia sempat beberapa kali mondar mandir dalam kamar nya ketika sayup terdengar ada suara tertawa - tawa dari ruang tamu di lantai bawah. Ia membuka pintu kamarnya, mengintip memastikan Lorena berbicara dengan siapa. Kirana !
Sedangkan Lorena sengaja untuk berpura - pura tidak tahu hubungan kakak nya dan pria itu untuk mengetahui seperti apa perasaan Devilito itu sendiri terhadap dirinya, itu akan teruji jika mereka di pertemukan bertiga.
Walau saat ini, Ia mendelik melemparkan tatapan membunuh ke arah Devilito yang melihat Donita seperti menyimpan rindu..Ia tidak suka!
Devilito buru - buru menguasai diri nya begitu melirik ke samping Donita seolah - olah sedang mengokang senjata ingin menembak mati.
Awas lo macem - macem !
Hii..serem !
Batin mereka seolah terkoneksi.
Devilito berjalan perlahan menghampiri dengan sedikit tersenyum menutupi sedikit rasa gugup lalu mengulurkan tangannya ke Donita.
Jangan senyum - senyum deh !
"Apa kabar Kira..?" menyapa berusaha se-biasa mungkin.
Donita menyambut uluran jabat tangan Devilito dengan gugup,..
"Baik, kamu..?"
Ya ampun kasian kakak gue gemetaran!
"Baik juga, mana suami kamu, kok ngga ikut?" Devilito celingak celinguk melihat keluar.
Lah..kan dari tadi emang ngga ada orang lagi disini ckk
Donita rasanya pengen punya sayap, rasa nya pengen terbang jauh ke angkasa mendengar kata 'suami' dari mulut pria yang dulu pernah di cintai dan di kecewain nya ini. Harusnya kamu !
"Ehh..suamiku ngga ikut, karna tadi kata Lorena jangan bawa orang suami dulu karna masih was was katanya" Donita senyum melirik adik nya, kegugupan masih belum bisa Ia atasi.
Lama - lama gue jadi nyamuk deh ini, enak aja !
"Kak Nita, ini orang yang menolong aku beberapa kali dari penculik yang aku ceritain tadi, dan sebelumnya dia juga yang nolong aku. Aku ketemu ama dia secara ngga sengaja di jalan dulu waktu ama Dita, aku kesel bener loh kak liat gaya nya, sombong bener, sok banget tau ngga kak".
Lorena ingin mencairkan suasana canggung antara kakaknya dan Devilito.
Ia menceritakan awal pertemuan dengan Devilito, peristiwa penculikan dan penyelamatan yang dilakukan pria itu.
Sesekali Donita tertawa, tersenyum dan Devilito terkadang terdiam karena merasa di sudutkan dari ceritanya Lorena ini.
***
Setelah sekian lama mereka ngobrol dan suasana mulai cair, Devilito ingin mengutarakan niatnya pada Donita.
"Kira.., aku masih boleh panggil namamu Kira kan ?"
"Hu uh.." Donita mengangguk.
Devilito memajukan badannya ke depan, Ia ingin bicara serius dengan Donita.
"Aku sudah berdamai dengan perasaan aku terhadap kamu, aku ngga memaksa kamu untuk harus bercerita tentang sebuah alasan kenapa harus pergi dan berganti nama menjadi Donita.." ia melirik sekilas ke arah Lorena, yang di balas dengan tatapan tajam intimidasi.
"Mungkin kamu punya alasan tersendiri untuk itu, cuma sekarang aku akan menyelesaikannya dengan kamu, bahwa aku sudah meng-ikhlas kan kamu"
"### Aku akan menikahi Lorena.." lanjutnya kemudian.
-
Bersambung...
__ADS_1