Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.33. Hancurnya Raymond


__ADS_3

"Aku ngga yakin Aksan berkhianat pa, yang melihat kesehariannya itu aku!" Donita terlihat sedikit emosi dengan penjelasan papa nya tentang kondisi organisasi yang melibatkan Aksan.


"Kita bukan menuduh Aksan, Nita..target kita itu Om kamu, Raymond. Tadi pagi papa sudah coba hubungi Aksan untuk kesini, dia ngga bisa..sore nya, juga ngga bisa, maksud papa biar orang - orang papa berkumpul konsolidasi disini, bukti nya Hensly dan Melvin bisa bergabung, tapi Aksan sekarang malah ngga bisa di hubungi".


Donita terdiam mendengar penjelasan papa nya. Ia masih belum terima sebenarnya tapi sekarang Ia cuma bisa berharap, Aksan baik - baik saja dan segera datang atau minimal menghubunginya. Walaupun Ia tidak yakin, tidak seperti biasanya suaminya sampai satu harian belum memberi kabar.


Devilito sendiri sibuk harus bolak balik keluar masuk ruangan untuk menerima telepon dari Marcel dan Giring yang memberitahu perkembangan operasi mereka, Ia hanya sesekali mengamati dialog antara Alexander dan Donita.


Biarlah papa nya yang menjelaskan, kalo gue malah tambah runyam.


Devilito merasa Donita sekarang sudah berbeda, sikapnya terlihat tak bersahabat lagi dengan nya.


Mungkin Donita menganggap dirinya menikahi Lorena hanya untuk balas dendam karena sakit hati. Tidak, bukan itu, justru Ia sangat mencintai istrinya. Lorena sangat berbeda, Ia manja sekaligus blak - blakan, itu yang Ia sukai, bukan wanita yang penurut tetapi menyimpan sendiri. Ibarat api dalam sekam, yang sewaktu - waktu bisa terbakar.


Saat ini, Ia tidak perlu memikirkan apa pandangan Donita pada dirinya. Ia harus turun ke lapangan memimpin operasi.


***


Seminggu berlalu sejak operasi dilancarkan Devilito. Dan, selama itu pula media televisi, cetak dan media online mem-blow up berita tentang penangkapan para pengusaha terkait pencucian uang, penggelapan pajak, penangkapan para anggota mafia. Di sisi lain, media juga di hebohkan dengan penangkapan para pejabat di daerah - daerah terkait korupsi, dan rotasi jabatan di lingkungan pemerintah daerah.


Selama satu minggu itu pula, Devilito tidak di ketahui keberadaan nya oleh Lorena. Hanya sekali Ia memberikan, pada hari ketiga, itu pun lewat pesan singkat, aku ngga kembali beberapa hari ke depan, kamu tenang ngga usah berpikir macem - macem. Hanya itu.


Ck..kok ngga ada kabar lagi sih..? di telpon ngga bisa, kamu dimana sih kaak? , Lorena membatin sambil memperhatikan smartphone nya.


Ia cemas, beberapa kali baca berita yang isinya berita kegaduhan, penangkapan para mafia, dll.


"Kenapa dek, belum ada kabar dari suamimu lagi?" Donita yang tiba - tiba sudah berada disitu, langsung duduk di sebelah adiknya.


"Eh kak, belum.." Ia sedikit bergeser dan masih mencoba untuk menghubungi.


"Kak Aksan gimana kak?, udah ada kabar?" tanya Lorena sambil meletakkan Hp nya begitu saja di sampingnya.


Donita menarik nafas panjangnya,


"Belum juga, entah gimana ini sebenarnya..perasaanku ngga enak, apa lagi ada berita heboh begini, kakak jadi takut" katanya, lalu menyenderkan kepala ke sofa.


"Oh iya.." Lorena mengubah posisi duduknya menghadap kakaknya.


"Alasan kakak meninggalkan kak Devi dulu, kenapa?" lanjutnya kemudian.


Donita sedikit kaget dapat pertanyaan seperti itu,


"Hmm..panjang ceritanya dek, emang sih salah kakak juga, ngga ngomongin permasalahan ama Devi" Ia kemudian menegakkan badannya dari sandaran sofa.


"Kakak kenal dengan suamimu itu waktu sekolah mode di Accademia Del Lusso Milan, dan Devi itu ketua mafia Lidah Api yang di takuti. Waktu itu dia luka tertembak di perutnya ketika dia di serang oleh anak buahnya Lucifer Venezuela, kemudian kakak yang merawatnya."

__ADS_1


Donita menarik nafas sejenak. Ada perih mengenang itu.


"Dia punya dua sisi kepribadian, kejam dan hangat. Kejam saat berhadapan dengan musuh, hangat ketika dengan pasangannya"


Lorena mengamini ucapan kakaknya itu. Ya, bukankah Ia sudah merasakan bagaimana hangatnya perlakuan Devilito terhadap dirinya. Sekarang, Ia merindukan suaminya.


"Tapi kakak sebenarnya ngga nyaman dengan profesinya. Kakak takut, berkali - kali mengalami teror. Karena Devi itu sudah di jodohkan oleh ketua Lidah Api Mr. Ludwig Smith dan mengangkat Devilito kemudian menjadi pimpinan tertinggi Lidah Api disana." Donita melanjutkan ceritanya, setelah berkali - kali kembali menarik nafas.


"Apakah itu Cerlotta..?" tanya Lorena.


"Iya, dia gadis yang cantik, bertampang lembut, tetapi sangat kejam!" Donita mengangguk, sedikit ada perubahan di wajahnya ketika menyebut nama yang sangat dia benci itu.


"Dan, ada satu lagi wanita yang mendekati Devi sebelum bertemu kakak, orang melayu ta.."


"Hah..?, kok kak Devi ngga pernah cerita?, siapa namanya?" Lorena kaget, Ia baru tahu ada gadis lain selain Cerlotta yang pernah dekat dengan suaminya.


hmm...ternyata banyak hal yang ngga aku ketahui tentang suami sendiri.


"Kamu bisa tanya sama Devilito tentang itu, kakak tau nya dari Cerlotta. Namanya Shania Sesvara. Konon, kabar terakhir dia di Amerika".


"Sampai akhirnya kakak dikenalin dengan Aksan oleh Om Ray dan papa, yang kala itu sedang melakukan perjalanan bisnis di Italia" Donita kembali melanjutkan ceritanya tentang Aksan.


"Berarti kak Aksan memang terlibat organisasi papa dari awal?" Lorena bertanya, karna setahu dia Aksan itu adalah seorang dosen.


Sayup dari luar terdengar bunyi beberapa mobil datang memasuki area belakang markas.


"Itu sepertinya mereka!", Lorena bangun dan mengintip lewat kaca kecil di samping pintu belakang, setelah memastikan siapa yang datang, Ia membuka pintu sedikit.


Lima orang turun dari 2 mobil yang berbeda.Terlihat Devilito, Giring, Tito, Hensly dan Melvin berjalan agak terburu - buru menuju jalan samping menuju aula.


"Kak Devi...sini !" Lorena memanggil dengan tatapan mengintimidasi. Devilito menoleh, sorot mata istri nya lebih penting dari urusannya. Ia berbisik sebentar pada Giring, lalu menghampiri Lorena.


Hensly dan Melvin yang berjalan di belakang Tito, terpana..Nona muda selamat ???, hmm sepertinya ada sesuatu di antara mereka? Hensly berkata dalam hati, memandang Melvin yang juga melihat tidak mengerti. Tapi mereka tetap melanjutkan langkah mengikuti Tito dan Giring masuk lorong menuju aula.


"Lupa kalo udah punya istri, hm?" pertanyaan bernada sarkas menyambut senyuman Devilito di depan pintu.


Ternyata masih ngambek , Devilito ingat dia pamit sama istri nya ini, pergi 7 hari yang lalu, istri nya sedang marah.


"Maaf, aku ngga bisa ngasih kabar, karna lagi ribet" jawab Devilito tenang, tetap dengan senyumannya, Ia mengembangkan tangan untuk memeluk istrinya yang berdiri di pintu.


"Ckk..cuma ngasih kabar sekali, di telpon langsung ngga aktif?, kakak mikir ngga? kalo disini khawatir, apa lagi berita lagi heboh-hebohnya!" Lorena cemberut dan berbalik badan masuk ke dalam menghindari pelukan suaminya.


"Kan aku kasih kabar jangan mikir aneh - aneh waktu itu, tapi emang aku lagi ribet banget" Devilito mengiringi langkah istri nya menuju ruang induk.


"Aksan dimana, kak Dev ??, ada ketemu?" Donita tiba - tiba menyongsong dari depan, muka nya harap - harap cemas.

__ADS_1


"Belum, aku ngga tau dia dimana, tapi kata salah satu orangku ,dia pergi ke Hongkong, nanti aku ceritain kalo ada papa Alex", jawab Devilito menghembuskan nafas beratnya.


Lorena duduk di sofa, matanya masih tidak lepas dari Devilito, mukanya cemberut.


"Kamu ngga lagi berbohong kan?, atau sengaja kamu singkirin??, kenapa kak Aksan ngga ngasih kabar?" tanya Donita menelisik, Ia curiga.


Ya ampun, belum selesai ama adiknya, sekarang kakaknya..hufft


Devilito garuk - garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya ampun Kira..kamu jangan curigai aku terus, aku ngga hubungannya dengan hilang Aksan, justru aku mau tanya sama kamu, kamu itu ..sudah tau belum siapa Aksan ??" jawab Devilito agak kesal dengan pertanyaan menyudutkan itu.


"Dan, Lorena adik ku ini juga sudah tau belum siapa kamu sebenarnya ??" Donita balik menyerang Devilito. Ia masih beranggapan Devilito tidak suka dengan Aksan.


Devilito mengusap mukanya dengan gusar, Ia bingung menjelaskan bagaimana. Sementara, Lorena menutup muka dengan kedua tangan, Ia juga bingung dengan apa yang terjadi sekarang ini.


"Ehemm..ada apa ini??" suara berat papa Alex berhasil meredakan ketegangan segitiga tersebut.


Ia duduk melihat muka anak-anaknya secara bergantian. Devilito masih berdiri berpangku tangan.


"Devi..silahkan duduk" Alexander menyuruh Devilito duduk, walaupun Ia tau Devilito adalah komando tertinggi dan sangat di takuti, toh..Ia menantu bukan?.


"Aksan itu, anak kenalan bisnis papa. Teman papa itu sangat dekat dengan Raymond, Om kalian.." Alexander memulai ceritanya.


"Aksan papa angkat menjadi orang kepercayaan untuk mengurus yayasan yang menaungi universitas tempat Lorena kuliah, karena sesuai dengan basic nya dia dosen jadi papa tempatkan dia mengelola bersama Raymond disana sekaligus sebagai tenaga pengajar. Tetapi, Raymond tanpa papa sadari mencoba menusuk papa dari belakang, Ia ingin merebut organisasi dari tangan papa, dengan bekerjasama dengan orang - orang yang sebenarnya itu musuh papa. Dan, yang mengungkapkan itu adalah Devilito"


"Devilito ini yang menyelamatkan Lorena dua kali dari penculikan dan menyelamatkan papa sekarang ini dari rencana licik Raymond"


"Sekarang ini, misi Devilito ingin menghancurkan jaringan mafia dari Meksiko yang bekerja sama dengan Raymond yang mengkhianati papa, mungkin sampai disini kalian paham..?" tanya papa Alex melirik ke arah dua anaknya secara bergantian.


"Nah, papa belum tahu posisinya Aksan dimana, bagian dari Raymond atau papa..tetapi, papa sudah berkali - kali menghubungi dia untuk konsolidasi disini, Ia tidak bisa dihubungi sampai detik ini!".


"Dan, Raymond sekarang melarikan diri ke Hongkong dan juga keberadaan Aksan di deteksi juga disana" potong Devilito kemudian.


Alexander terkejut mendengar penuturan menantunya ini. Begitu juga dengan Lorena dan Donita yang bengong dengan mulut terpana, seperti nya benang merah dapat di simpulkan disini.


"Papa, habis ini kita membahasnya di aula, disana sudah ada Giring, Melvin dan Hensly" ajak Devilito kemudian pada papa Alex.


Alexander berdiri meninggalkan dua anaknya yang masih terdiam. Devilito berjalan mengiringi Alexander menuju Aula.


-


-


Ikuti terus...

__ADS_1


__ADS_2