
Lorena menjejakkan kakinya di lobi, Ia memandang sebuah tulisan besar monokrom PT. Cakra Gurita Buana, Tbk di di tembok belakang meja resepsionis. Ini pertama kali nya nyamperin suami xixixi ... Ia tersenyum, bergumam pelan dan berjalan menghampiri resepsionis.
"Selamat siang mbak?, ada yang bisa dibantu?" sapa seorang wanita berdiri sopan.
"Boleh saya bertemu dengan pak Devilito?" Lorena menjawab formal.
"Maaf, ada keperluan apa?, sudah ada janji dengan beliau?"
"Oh belum, saya ada perlu sesuatu dengan pak Devi..."
Sejenak, wanita tersebut memperhatikan penampilannya, blouse kaos putih lengan panjang dengan paduan celana wide leg pants warna cream, sepatu sneaker putih, dengan rambut di ikat model ekor kuda. Mirip remaja, tepatnya anak kuliahan.
Setau gue pak Dev ngga punya adik cewek deh?..atau pacarnya kah? resepsionis berkata dalam hati.
"Mbak, kenapa diam?" Lorena jadi sedikit risih karena wanita di depannya ini memperhatikannya.
"Ehh..Sebentar ya, saya coba hubungi sekretarisnya dulu" jawabnya gelagapan karena ketauan kepo. Lalu berbicara entah dengan siapa.
"Maaf mbak, bisa di tunggu dulu?, pak Dev lagi meeting dengan para relasi beliau"
"Sudah lama rapatnya, atau saya boleh tunggu di ruangannya aja..?" tanya Lorena sedikit maksa.
Siapa sih ini ?
"Maaf mbak, kami belum dapat ijin, karena tidak di perkenankan tanpa ijin dari pak Devi atau sekretarisnya, keduanya sedang meeting, jadi mbak mohon tunggu sebentar ya" jawab wanita itu.
"Kalau istri nya juga ngga boleh ?" tanya Lorena ngga sabaran.
Resepsionis itu justru tertawa pelan,
"Mbak jangan bercanda, pak Devi belum punya istri loh..." mimik muka wanita di hadapan Lorena mulai terlihat tidak suka.
"Oo yaudah kalo gitu.." Lorena melengos, Ia ngga mau bikin keributan di kantor sang suami. Ia berbalik menuju sofa tunggu. Di sekitar lobi terlihat cukup banyak manusia yang mondar mandir, hanya dia sendiri yang penampilannya kayak anak remaja. Tapi Ia cuek, mengambil sebuah majalah, pura - pura sibuk.
Ciihh..jangan - jangan cewek panggilan tuh?, jaman sekarang kan banyak yang butuh duit..sang Resepsionis masih berkata - kata dalam hati.
Hampir 30 menit lamanya Lorena menunggu, Ia melirik jam tangan sudah menunjukkan hampir pukul 12.00 siang, waktu istirahat kantor. Ia mencoba menelpon Devilito, nada panggilan tapi ngga di jawab. Ia menghampiri resepsionis kembali, tapi Ia memilih ke wanita yang satu lagi, bukan yang tadi.
"Mbak, tolong hubungi pak Devi lagi dong, lapar saya nungguin lama - lama disini"
Yang menjawab justru wanita yang tadi,
"Maaf mbaak, pak Dev nya belum selesai meeting" Ia berkata seperti hilang kesabaran.
"Saya ngga bertanya sama kamu!" Lorena memberikan tatapan mata mematikan. Ia terlanjur kesal.
__ADS_1
Tiba - tiba,
" Nyonya muda?, maaf kenapa ngga langsung ke atas?, mari saya temani ke ruangan pak Dev" Sekretaris Indri baru keluar dari lift kaget melihat ada perdebatan di meja resepsionis. Ia menggelengkan kepalanya menatap resepsionis tersebut.
Resepsionis langsung berubah menjadi pucat pasi, Ia seperti sedang mengangkat beban satu ton, gemetar, merasa bersalah karna tadi sempat meremehkan wanita yang mengaku istri pak Dev, dan ternyata benar.
"Mm-maaf nyonya...s..saya tadi tidak tahu, maaf membuat nyonya menunggu lama", Ia merutuk keteledoran nya sendiri.
"Saya tidak suka melihat karyawan yang meremehkan orang lain!" katanya sambil menunjuk name tag resepsionis itu. Lalu meninggalkan wanita yang sedang menunduk ketakutan.
"Hukuman seperti apa biasanya di berikan pada staf tadi?" tanya Lorena pada Indri ketika sudah dalam lift.
"Pecat nyonya, itu sudah ada dalam perjanjian kerja. Apalagi di lakukan terhadap nyonya sendiri, fatal" jawab Indri.
"Ngga usah pecat, jangan bilang sama HRD atau suamiku ya, kasian..., nanti panggil dia suruh temuin aku" Lorena menjadi tidak tega, jaman sekarang lagi susah mencari kerja, hanya attitude nya yang harus diperbaiki.
"Baik nyonya.., silahkan", Indri membuka pintu ruangan Devilito dan mempersilahkan istri bos nya masuk.
"Oh ya, suamiku galak ya mbak?" tanya Lorena iseng begitu duduk di sofa tamu di ruangan itu.
"Saya ngga berani jawab, nyonya" Indri menunduk, takut. Lorena tersenyum, jawaban itu sudah mewakili siapa sang suami di mata karyawannya.
Galak nyonya, sangat! , itu sebenarnya yang ada dalam hati Indri.
"Oh ya, suami saya masih meeting?"
"Oo yaudah kamu turun aja, ruangan kamu dimana?" tanya Lorena berikutnya.
"Di luar nyonya, tadi yang kita lewati".
"Saya pinjam ruangan kamu aja, panggil staf resepsionis tadi, saya mau bicara sama dia" Lorena kemudian berdiri berjalan keluar.
"Baik nyonya, saya tinggal dulu"
"Hu um.." Lorena mengangguk kepalanya.
Sekitar 10 menit kemudian, resepsionis datang tergopoh, nafas nya memburu. Ia naik ke lantai lima menghadap Lorena lewat tangga dari lantai 4.
"Nyonya, saya datang disuruh menghadap nyonya oleh ibu Indri" resepsionis yang bernama Retno mencoba mengatur nafasnya yang tidak teratur.
Lorena memperhatikan sebentar, membiarkannya mengatur nafas.
"Retno, tau kesalahan kamu, kenapa saya panggil, hm..?"
"Tau nyonya, saya meremehkan nyonya tadi" Retno menunduk, tidak berani mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Itu mencerminkan kepribadian kamu, kamu melihat seseorang dari penampilan, itu yang saya tidak suka!, kamu lihat saya, jangan menunduk!" Retno mengangkat kepala nya, jantungnya makin berpacu karena sang nyonya sedang menatap tajam kearahnya.
"Maaf nyonya, saya tidak akan mengulangi lagi" hanya itu yang bisa di ucapkan, Ia menitikkan air mata, karena sudah yakin akan di keluarkan dari perusahaan.
"Saya kasih kamu satu kesempatan, perbaiki sikap dan pribadi kamu, hargai siapa pun, walaupun dia anak kecil sekalipun, paham kamu?".
Tiba - tiba...
"Ehemm..ada apa ini?, loh..kamu kenapa disini?" suara bariton Devilito bertanya heran, seorang resepsionis ada di lantai lima. Ia tidak memperhatikan ada Lorena disitu karena terhalang punggung Retno.
"Aku yang panggil.."
Devilito kaget ada istrinya di meja Indri.
"Kirain kamu di dalam ruangan aku, kenapa disini?"
"Aku ngga ada temannya, jadi aku panggil dia nemanin aku, gpp kan?" Lorena berdiri sambil melirik memberi kode pada Retno untuk meninggalkan.
"Ya, ngga apa - apa sih..kalo sesekali, jangan sering - sering" jawab Devilito memberi tatapan intimidasi ke Retno sejenak, lalu berjalan perlahan memasuki ruangannya yang ada di depan ruangan Indri.
Retno mundur perlahan, Ia menangkupkan kedua tangannya di dada pada sang nyonya, mengucapkan terima kasih perlahan. Ia senang, tidak jadi di pecat.
"Jangan galak - galak ama orang bawahan, karyawan itu aset !" Lorena mengikuti langkah suaminya, sambil memberi cubitan pada pinggang Devilito.
"Tapi kalo di kasih hati, mereka jadi ngelunjak" jawab Devilito sambil duduk, lalu menepuk sofa menyuruh duduk istri di sampingnya.
"Yaa..jangan kamu kasih hati dong, kasihnya ke aku aja" jawab Lorena garing.
Devilito terkekeh dengar candaan istrinya. Ia menyentil pelan jidat istrinya. Ia memeluk istrinya, dan mulai nakal.
"Oh ya, kak Devi bukannya sedang rapat yah ?, udah selesai?" tanya Lorena memindahkan tangan suami yang mulai melakukan gerakan akselerasi.
"Masih, tapi bisa di wakili Hendra, tadi aku di kasih tau Indri kamu datang" jawabnya sambil menyerang kelemahan istrinya di belakang cuping telinga.
"Aahhh..kk..kak..jangaaan" suaranya mulai serak, Ia masih berusaha untuk tidak terpancing. Tetapi gerilya tangan Devilito makin membunuh kesadarannya. Tangan itu seperti mencari sinyal siaran radio model tempo dulu di dadanya.
"Kk..kaak..shhh..jangaann" suaranya makin melemah, mulutnya tidak bisa di kondisikan lagi, Ia membalas ciuman suami.
"Jangan kenapaa?" Devilito menarik ciumannya.
"Ja..jaangan brenti.." luluh semua pertahanan sang istri, dan pergumulan halal itu terjadi di siang bolong.
-
-
__ADS_1
Lanjut...