
Donita berangkat bersama naik mobil Hammer H2 Devilito dan Lorena. Ia ingat, terakhir kali 3 tahun lalu masih satu mobil dengan pria itu waktu di Milan Italia. Ya, saat itu mereka masih menjadi sepasang kekasih, sebelum akhirnya Ia memutuskan untuk menerima perjodohan dengan Aksan, anak rekan bisnis papa dan pergi menghilang dari kehidupan Devilito kembali ke tanah air.
Walaupun Ia awalnya menolak, tetapi karena waktu itu Ia tidak berpikir jernih. Ia terlanjur kecewa dengan Devilito, yang baru diketahuinya telah di jodohkan dengan Cerlotta yang ternyata adalah anak seorang ketua gangster di Italia, dan beberapa kali pula dirinya mendapat ancaman teror dari orang tak di kenal.
Ia berganti identitas atas saran dari pamannya agar Ia tidak menjadi sasaran dari salah satu grup mafia setelah tragedi kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan mama nya meninggal.
Ia menghela nafas, membuangnya perlahan. Saat ini, Ia harus berjuang untuk melepas sisa cinta di hatinya, bagaimana pun juga, Ia masih menyayangi pria yang sekarang sudah menjadi adik iparnya, Walau butuh waktu.
***
Tak ada percakapan berarti dalam mobil itu, mereka sibuk dengan pikirannya masing - masing, Devilito melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, yang kebetulan sore itu arus kendaraan tidak begitu ramai.
Tiba - tiba keheningan itu terusik dengan suara Devilito yang merasa mobil mereka ada yang mengikuti.
"Rena, Kira... kalian bisa turunin dikit jok mobil? kayaknya ada yang nguntit dari lampu merah tadi" Devilito berkata sambil menunduk mengambil senjata kesayangannya dari bawah jok mobilnya, pistol Magnum 45 dan memasang peredam kemudian meletakkan di paha.
"Hah..siapa kak ?" Lorena spontan menengok ke belakang.
"Aku ngga tau, Di sebelah kanan di belakang Suzuki silver" Devilito lalu mengambil posisi kanan jalan di bahu jalan.
Donita dan Lorena serentak menuruni badan, ada kecemasan di wajah mereka berdua. Jantung kedua nya seolah berpacu. Deg - deg an!
"Kak..aku takuut" Lorena makin menurunkan jok kursi nya agar kepalanya tidak kelihatan dari luar.
"Hmm..kamu tenang aja, aku akan atasi ini" Devilito tetap melirik kaca spion secara bergantian kiri dan kanan.
"Gimana kalo mereka bersenjata?" Donita angkat bicara dengan muka panik.
"Mobil ini anti peluru, kecuali kalo mereka pake bazoka, tapi ngga mungkin juga mereka pakai itu" Devilito masih dalam ketenangannya.
Sebuah mobil Pajero hitam terlihat mengikuti mereka sejak perempatan lampu merah, samar dari kaca depan mobil itu terlihat ada 4 orang pria di dalamnya.
"Kita harus frontal sekarang bang, kayaknya mereka tau kalo di ikuti, gimana?" sang sopir yang berbadan agak kecil dari 3 temannya yang rata - rata berbadan besar menanyakan pada teman yang di sampingnya.
"Yaudah, siap kan senjata, tunggu sampai tempat sepi, sikat !" kata teman yang disamping memakai topi, sepertinya ketua mereka. Dua orang di belakang lalu menyiapkan pistol masing - masing.
Devilito sendiri ketika di depannya ada jalan pertigaan, Ia membelokkan mobil ke arah kanan, seperti nya jalan baru buka jalur, sepi. Mobil di belakang mengikuti dan terlihat menambah kecepatan untuk mendahului dari kanannya.
"Kak..hati - hati" Lorena mendengar mobil itu sudah berada di samping mobil mereka. Devilito sengaja memperlambat kecepatannya, Ia memancing agar mobil itu mendahului
"Baiklah..sepertinya masih amatiran, kalian salah memilih lawan!" dengan muka dingin Devilito tersenyum smirk.
Doorr..doorr !!
2 kali suara tembakan dari arah kanan mobil mengarah ke Devilito, tapi tidak mampu menembus kaca Hammer.
"Awwhhh...kak aku takuuut" Lorena memekik ketakutan, Ia menangis menutup kedua telinganya, begitu juga dengan Donita di belakang, Ia menelungkupkan wajahnya pada bangku jok mobil.
"Kalian diam aja, jangan panik, ini masih tikus kecil kok!, kalian pegangan yang kuat", Ia masih tersenyum mengejek, Ia belum bereaksi membalas.
Tiba - tiba Devilito melakukan pengereman mendadak, bermanuver sedikit hingga posisi mobil lawan sudah berada di depan mobilnya. Dan, secepat itu pula Ia langsung tekan gas kuat untuk menabrak belakang mobil Pajero dan terus mendorong mendesaknya sampai menabrak pohon besar di parit pinggir jalan.
Empat penumpang yang tidak siap menerima serangan itu terbentur ke depan, sang sopir dan orang di sampingnya pingsan karena benturan keras pada dashboard dan setir mobil.
__ADS_1
"Kak..ngapain turun?" Lorena melihat suaminya membuka pintu dan turun untuk menghampiri.
"Kalian tetap tengkurap, jangan angkat kepala, bahaya !" sebuah instruksi dari Devilito yang bermakna ganda.
Dalam mobil Pajero hitam tidak ada aktivitas, hanya dua orang yang duduk di belakang terlihat menggeleng-gelengkan kepala, berasa pusing dan nanar. Tetapi, mereka jadi terpana ketika di samping kaca mobil mereka yang pecah, sudah berdiri satu orang dengan sedikit senyuman di bibirnya mengarahkan pistol, lalu...
Cups..cups..cups..cups
Terdengar 4 suara tembakan pakai peredam menghabisi ke empat penguntit dalam Pajero hitam tersebut tanpa sempat membalas.
Kejadiannya sangat cepat, Devilito lalu kembali ke mobilnya dengan sedikit berlari.
Kedua kakak adik di dalam Hammer masih tengkurap di jok mobil, mereka panik dan ketakutan tidak berani untuk melihat apa yang terjadi. Mereka baru mulai berani mengangkat kepala ketika Devilito sudah memutar mobilnya berbalik arah lalu tancap gas.
"Mereka gimana kak?" tanya Lorena sambil membetulkan posisi duduk dan menegakkan sandaran kursi.
"Udah aman, mereka ngga akan nguber kita lagi" jawab suaminya santai.
"Mereka kamu apain ?" Donita sekarang yang bertanya, Ia tahu persis siapa Devilito ini.
"Ngga di apa-apain" jawabnya pendek sambil melirik Donita lewat kaca spion.
"Hmm.." Donita hanya bergumam tak percaya.
Di pertigaan jalan baru tempat mereka belok tadi, Devilito berhenti sebentar, mengirim pesan teks plus map ke Tito anak buahnya, lalu menelpon setelah itu begitu pesan terlihat centang biru.
"Segera ya!" perintahnya lalu menutup telpon setelah mendapat jawaban "siap ketua!" dari Tito.
Mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju markas. Lorena memandang tajam ke arah Devilito, Ia curiga atas apa yang di lakukan suaminya tadi. Devilito tahu Ia sedang di perhatikan oleh dua orang kakak adik ini.
"Ngga lucu!, sebenarnya kamu apain mereka kak?, dan siapa mereka?" dengan intonasi pelan tapi tegas Lorena mengulang pertanyaan Donita tadi, Ia menyipitkan matanya.
Donita sendiri membuang mukanya, Ia ngga mau lihat interaksi pria itu dengan adiknya. Sedikit sesak terasa.
"Aku belum tau siapa mereka, nanti aku usut " jawab Devilito, Ia sendiri sebenarnya berpikir, kenapa tiba - tiba ada yang menguntitnya,
" Mereka sudah tau gue lewat jam segini dan arahnya kemana, berarti ada yang tahu info tentang gue sekarang. Apa mereka ingin mengincar Lorena lagi? tapi ngga mungkin, soalnya udah menargetkan gue..berarti ada yang jadi mata - mata? hmm..ini udah mulai perang terbuka, gue harus selidiki"
Devilito bermonolog dalam batinnya.
***
"Nanti sebaiknya jangan beritahu papa tentang kejadian tadi ya" pesan Devilito pada Lorena dan juga Donita ketika mereka sudah sampai di markas. Mereka di sambut oleh anak buah Devilito dan membungkukkan badan ketika mereka melewati lorong jalan menuju bawah tanah tempat pak Alexander di rawat.
"Hai papa, gimana keadaannya ?" Lorena menghampiri papa nya terlebih dahulu di ikuti Donita dan Devilito.
"Papa sudah mendingan , cuma masih lemas aja" jawab sang papa sambil mengangguk ke arah Devilito.
"Aksan ngga ikut Nita ?" tanya pak Alex, Ia tidak melihat mantunya yang satu lagi di ruangan itu.
"Aksan ngga bisa ikut pa, Ia siang tadi ada kelas, trus lanjut meeting katanya dengan Diknas"
"Ooh.." jawab papa nya masih dengan suara lemah.
__ADS_1
Lalu Donita membersihkan muka papa nya dengan tisu basah,
"Papa tadi udah mandi?" tanya Donita pada suster jaga. Dia baru sadar kalau ternyata papa nya sudah lepas infus.
"Sudah tadi Non, makan juga udah bisa dengan bubur" jawab suster.
"Pa, aku keluar dulu ya" Devilito pamit sama mertuanya, Ia mau menemui Giring dan Marcel yang berada di ruangan lain lantai atas.
"Aku pergi dulu sebentar, mau temuin Giring ya" Ia berbisik ke telinga istri nya Lorena, yang di balas anggukan mengizinkan.
"Mana Dasmond ?, suruh temui saya di ruangan A1" tanya nya pada salah satu anak buahnya ketika sampai di pintu atas.
"Baik ketua" anak buah langsung berlari mencari keberadaan Dasmond.
Ia membuka pintu A1 tanpa ketukan, disana sudah ada Giring dan Marcel sedang berdiri di masing - masing pinggir meja, seperti sedang membahas sesuatu.
"Wuihh pengantin baru, ehh tadi gimana, aman?" tanya Giring menyambut Devilito sambil jabat tangan ala pria.
"Tadi gue dapat laporan dari Tito" katanya melanjutkan.
"Aman, semua clear!, ini yang mau gue bahas ama lo berdua bro" jawab Devilito sambil salam ala laki dengan Marcel.
"Kayaknya, ada yang mata-matain gerakan kita sekarang, gue curiga ada yang menyusup disini, kirim beberapa orang untuk menyisir di sekitar rumah gue" Devilito lalu menerangkan langkah-langkah yang akan mereka lakukan, mengingat situasi sudah mulai memanas.
***
15 menit kemudian...
"Feeling gue, pengkhianat bukan hanya Raymond, ada kaki tangannya disini" Marcel mencoba mengambil kesimpulan.
"Bener, gue tau siapa yang lo maksud, coba lo selidiki latar belakangnya deh.." jawab Devilito sambil mata nya menerawang keatas.
"Ok sob"
"Kasian juga ya mertua lo di kelilingi pengkhianat!", Giring ikut mengomentari omongan Marcel.
"Lebih kasian lagi man.."
Tok tok tok...
Tiba - tiba pembicaraan terhenti karena suara ketukan pintu,
"Siapa..?" Devilito yang berdiri lebih dekat pintu, membalikkan badannya.
"Saya ketua,.. Dasmond" wajah seorang anak buahnya muncul di pintu.
"Sini, ada tugas buatmu" Devilito lalu meminta Dasmond menyelidiki sekitar rumahnya, apakah ada orang - orang yang mencurigakan.
"Perhatikan juga rumah - rumah kontrakan di sekitaran situ, apakah ada orang - orang yang baru, laporkan segera!" perintahnya kemudian dan menyuruh Dasmond untuk segera bergerak.
"Baik ketua, segera" Ia membungkuk hormat dan undur diri dari situ.
-
__ADS_1
-
Bersambung...