
Di sebuah komplek perumahan elit di kawasan selatan kota J.
Pagi itu...
Sepasang suami istri baru saja selesai melakukan sarapan pagi mereka, dan keduanya sedang bersiap untuk berangkat memulai aktifitas,
"Bee..nanti kalau aku hubungi diangkat loh ya", sang Istri berkata sambil berjalan terlebih dahulu menuju pintu utama, dan menyerahkan tas kerjanya pada sang sopir yang datang tergopoh dari arah luar,
"Yaa kalau pas aku lagi ngisi matkul aku ngga bisa terima telpon Nita, di whatsapp aja, nanti pas lagi waktu kosong baru aku kabari balik, emangnya ada apa..? sang suami menjawab dengan santai.
"Aku mau ngajak makan siang bersama di kantor ku, bisa kan?", tambah Donita berhenti berbalik badan sebentar di depan pintu.
Donita, 27 tahun, seorang desainer cukup terkenal saat ini di tanah air. Dia mempunyai dua lini busana dengan mengusung brand "Double D" sebagai merk utamanya, yang memproduksi kebaya untuk harga premium serta "D-one" untuk merk lini kedua, memproduksi busana-busana casual.
"Nanti aku usahain, perkiraan jam 11 siang aku udah kosong kok..", sahut Aksan lalu ambil tas kerja menyusul kemudian mensejajarkan langkahnya di samping istri.
"Ok, tapi kabari ya bisa atau ngga nya..!"
"Iyaa bawel " Aksan segera menuju mobilnya, dan melajukan kendaraannya sembari membunyikan klakson di pos sekuriti.
"Ih..punya suami ngga ada romantis-romantis nya dehh", Donita menghela nafas,, lalu juga beranjak pergi dan tidak lupa nitip pesan pada sekuriti,
"Titip rumah ya pak.."
"Siap bu...", sekuriti lalu menutup pintu gerbang begitu mobil majikan mereka keluar dan menghilang di keramaian.
Setelah suami istri ini berangkat, 2 orang asisten rumah tangga pun beberes bekas makanan majikannya. kemudian melanjutkan aktifitas bersih-bersih. Karena sudah jadi peraturan di rumah ini jika majikan mereka sedang berada di rumah, tidak boleh ada kegiatan berbenah kecuali jika majikan di dalam kamar, itu pun hanya lantai 1 bawah saja.
Aksan Maulana, Pria tampan 30 tahun bekerja sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. di ibu kota
Memasuki usia 3 tahun perkawinannya, mereka belum di karuniai keturunan lagi setelah 2 tahun sebelumnya Donita mengalami keguguran. akibat kandungan lemah.
--Dalam kelas--
Lorena sedang menyimak penjelasan dosen mata kuliah "Tata Kelola Perusahaan & Manajemen Resiko" dengan tekun, Sesekali dia manggut-manggut dan mencatat apa yang perlu. Ini matkul yang harus di kuasai nya, karena sang papa sudah mempersiapkan Lorena untuk memimpin sebuah perusahaan kelak setelah Ia lulus.. Sedangkan Dita justru merasa jenuh Ia tidak begitu menyukai pelajaran ini karena menurutnya membosankan!.
"Rena, bosen deh gue..", Ia berbisik dengan menundukkan kepalanya mendekat ke arah Lorena .
"Gue ngga tuh, ini kan kesenangan gue, udah lo pura-pura nyatet aja, atau menggambar apa gitu kek!" Lorena juga berbisik, tapi muka tetap melihat ke depan .
Tiba tiba...
"Dita. , kamu bisa menyimpulkan apa yang saya terangkan barusan..?", sang dosen berkata menghampiri.
Lorena menyikut tangan Dita yang matanya sudah 5 watt hampir mau tidur.
"A. a..apa pak..?, yang mana maksudnya..?", Dita dengan gagap kaget langsung di todong pertanyaan.
Mahasiswa lain senyum-senyum simpul dan ada yang tertawa melihat Dita.
"Yang lain diam...!"
"Kamu ini...maju ke depan, coba kamu simpulkan apa yang saya terangkan itu..!" perintahnya.
"Untuk yang lain, matkul saya ini 3 sks untuk semester ini loh, pelajaran inti pula, sebentar lagi kalian akan menyusun skripsi, apa yang kalian kuasai nanti nya..?" imbuh sang dosen menambahkan.
Dita mengambil spidol untuk menulis, yang dia sendiri tidak tahu apa yang mau Ia tulis di white board itu
Kriiiiingg....!!! bel portable kecil di meja dosen berbunyi tanda jam pelajaran untuk matkul ini habis.
"Alhamdulillah..selamat gue.", mimik muka senang.
"Kali ini kamu selamat, tapi 3 hari lagi saya masih ada jadwal di kelas ini, kamu harus bisa ..!"
"Siapp pak..", Dita melangkah cepat menuju tempat duduknya dengan gembira.
Kelas di persilahkan bubar,
"Ehh Rena, habis ini elo mau kemana..?, kita kan masih ada matkul "Sistem Pengendalian Manajemen" jam 3 nanti kan yah..?, kita kongkow di kafe X dulu yuk..!" ajak Dita.
"Yaudah hayuk..!" Lorena setuju, karena dia pikir kalau hanya menunggu di kantin kelamaan, bisa-bisa ketemu sama Robby. "Eh, tapi tumben yah gue ngga liat Robby beberapa hari ini..?" Lorena membatin.
Dita dan Lorena, bersiap keluar ruangan kelas, Namun,....
"Rena, kamu mau kemana habis ini..udah ngga ada kelas hari kan?," dosennya memanggil dengan anggukan kepala, Lorena berbalik badan mendatangi,
" Ada nanti jam 3, emang kenapa pak..ehh kak" sahutnya bersuara pelan .
""Kakak kamu ngajak aku makan siang di mall x, kamu ikut ya, udah lama juga lho kamu ngga ketemu ,ikut yah", dosen yang ternyata Aksan berkata sambil berjalan menuju luar,
__ADS_1
Lorena berpikir sejenak," Mau sih, tapi aku udah janjian ama Dita ,gimana dong..? atau ajak dia sekalian aja ngga apa - apa kan..?, tawar Lorena ikut mensejajarkan langkahnya disamping Aksan.
"Yaudah kalo gitu, sampai ketemu disana jam 11 ya, di restoran M yang di samping galeri lukisan, kalau susah nyarinya nanti kabari kalo udah sampe"
"Oke, kak" Lorena membentuk huruf O.
Dita yang dari luar melihat dan menyimak percakapan antara dosen dan mahasiswa ini agak kaget, ada apa nih...
Aksan melewati Dita sambil anggukan kepala.
Tangan Lorena di tahan oleh Dita untuk minta penjelasan, setelah dosen agak jauh dari pandangannya, baru Ia bertanya,
"Kok elo ngobrol ama dosen pake 'aku - kamu' ?, keliatan akrab bener, lo ada main ama pak Aksan..?, secara beliau ganteng pulak", karna dia juga naksir sama dosen ini.
Di cecar pertanyaan, Lorena langsung menjitak kepala Dita,
"Ehh..itu kakak ipar gueee, sembarangan kalo ngomong, ada maen, mulut di filter napa..?", Lorena menjawab sewot.
"Owalaah, kok lo ngga pernah cerita ama gue..?, meringis kena jitak.
"Yaa elo ngga pernah nanya, lo ikut ama gue maksi bareng kakak gue ya..?"
"Yahh, patah hati deh gue", Dita nyahut sambil menganggukkan kepala.
Mereka pun berjalan menuju parkiran kampus, dan berangkat.
--Di kantor Devilito--
Devilito sedang mendengarkan laporan salah satu manager keuangan divisi cargo yang buka suara tentang keterlibatan dirinya dan beberapa orang dalam praktek korupsi dengan cermat, tangan kiri menyilang di dada tangan kanan mengusap dagu namun matanya tak mata tak berkedip melihat muka staf nya itu. Ia melihat mimik muka apakah ada kebohongan disitu. Di ruangan tersebut cuma ada tiga orang, posisi Devilto sendiri duduk bersandar di kursi dan auditor berdiri di sisi samping meja sebelah kiri, posisi staf berdiri di seberang mejanya.
Setelah memberikan laporan panjang lebar tentang seberapa jauh keterlibatannya, berapa uang yang dia ambil, serta pembagian untuk dua orang lain yang terlibat termasuk kepala keuangan bapak Andre, Devilito bertanya pada auditor apakah perkataan staf ini sesuai dengan kerugian perusahaan
"Cocok pak Dev, masing-masing pembagian yang di terima, dan yang paling besar memang pak Andre", Auditor menjelaskan sambil melihat dokumen yang di buka di atas meja.
"Hmmm..baik kalau begitu, omongan kamu sudah saya rekam, Devilito mematikan recorder di bawah mejanya dan berdiri lalu memutari meja. menghampiri.
"Saya hargai kejujuran kamu, saya beri pengecualian hukuman untuk kamu, aset kamu tidak akan saya sita, tetapi....?', Ia menggantung kalimat sejenak "Tindakan kamu fatal, saya punya hukum sendiri untuk itu"
Deg...
Deg...
Deg...
Devilito menghampiri sebuah meja kecil di sudut kiri ruangan dan membuka lacinya, lalu mengeluarkan sebilah pisau komando dan handuk kecil serta sebotol kecil alkohol murni Ia letakkan di atas meja itu.
"Potong jari kamu mulai dari telunjuk sampai kelingking...!" suara dingin menyeramkan.
Lutfi dengan mata terbelalak, langsung bersimpuh di kaki Devilito mohon pengampunan., tapi sang pemimpin tak bergeming sedikitpun. Kerah bajunya ditarik berdiri.
"Lakukan.. atau saya bunuh !!" bentaknya sambil mendorong punggung Lutfi ke meja kecil itu.
Auditor bergidik ngeri, Ia menutup mata, Ia tidak ingin melihatnya .
Crashhh....!!!
"Arrgggghhh....", jerit dari mulut Lutfi memilukan kemudian pingsan.. Darah bérceceran diatas meja dan menetes ke bawah. Meja kecil tersebut sudah dipersiapkan sebelumnya dengan diberi alas disekitar dengan terpal, jadi rembesan darah tidak mengenai karpet.
Devilito mengambil alkohol lalu menyiramkannya ke tangan staf yang sudah terpotong empat jari menyisakan jempol. di tangan kiri nya. Lalu empat buah jari tersebut dimasukkan ke dalam alkohol tersebut. Tak lupa kemudian membalut tangan yang berdarah dengan handuk Semua Ia kerjakan sendiri.
Ya ampun...auditor yang menyaksikan, berkeringat deras, ketakutan, sejenak berdiri kaku, mata tertutup.
Baru tersadar setelah Devilito menepuk bahu nya.
"Itu hukuman bagi orang yang berkhianat kepada saya", bicara berbisiknya ke telinga auditor menebarkan ancaman.
Kemudian Devilito menghubungi sekretaris nya yang sebelumnya sudah Ia suruh pergi ke lantai bawah agar tidak mendengar dan melihat kejadian tadi.
"Panggil dua orang kesini, dan bawa Lutfi ke rumah sakit. !, sekaligus ruangan di bersihkan",
"Baik pak Dev, segera".
"Apa yang terjadi yah..?, hiii...', Ia ngeri membayangkannya.
Devilito memerintahkan audtor untuk meninggalkan ruangannya,, diam sejenak lalu mengirimkan file dokumen yang berisi foto dua orang dan data-data lengkap pada seseorang. Setelah terkirim, Ia menelpon,
"Sudah di terima..?"
"Sudah di terima ketua.."
__ADS_1
"kalo gitu langsung bergerak malam ini, ingat..sita aset sesuai dengan daftar yang tertera, clean, serta bawa yang bersangkutan ke markas bayangan tetapi jangan melukai keluarganya, kecuali ada perlawanan, .paham??".
"Siap ketua...!"
Percakapan terputus.
Devilito menutup laptop nya lalu bersiap pergi meninggalkan ruangan itu, sebelum pergi tidak lupa Ia menghubungi wakil nya Pak Hendra Wijaya untuk meng handle kegiatan kantor. Kemudian masuk lift khusus turun menuju lobi. Berjalan tenang, setiap sapaan karyawan Ia jawab hanya dengan anggukan tanpa senyum melangkah menuju parkir.
Devilito melajukan kendaraannya menuju sebuah rumah sakit di bilangan timur kota tempat Marcel kawannya yang berprofesi dokter sekaligus pimpinan disana. Ia ingin membahas tentang sabotase file film rontgen yang mangkrak di bea cukai. Dalam hal ini Ia harus turun tangan karena bisnis ini dibawah pimpinannya sendiri bekerja sama dengan Marcel sahabatnya.
Dalam perjalanan, perutnya terasa keroncongan dan perlu di isi.
Ahh..lebih baik beli roti O aja dulu, makannya nanti aja sama Marcel...Ia membelokkan mobilnya masuk sebuah Mall.
Ia memarkirkan kendaraannya di depan lobi lalu turun. Devilito berjalan santai mencari tempat toko roti kesukaannya itu.
Kira - kira 3 meter dibelakang, ada dua orang gadis yang juga mengarah masuk lobi, mereka menghentikan langkah, lalu salah seorang berbisik pada temannya.
"Ehh..itu bukannya itu orang yang bikin mobil gue lecet tempo hari yah..??, bener ngga sih..?,
"Iya sih kayaknya si sombong itu.." jawab salah satunya.
"Yuk kita samperin.."
"Ehh ngapain..? kan mobil lo udah di benerin, ngga usah ah !, males gue ketemu ama dia, belagu..!!", jawab gadis yang satu kesal, dan kembali berjalan masuk.
"Rena, tungguin gue..!"
Lorena sampai di restoran yang di tuju, lalu mengedarkan pandangan mencari kakaknya yang sudah duluan sampai. Ia melihat lambaian tangan memanggil keduanya.
"Ahh itu dia kakak gue, yuk sana..!" ajak Lorena.
"Hai kak, apa kabar..?" cipika - cipiki.
"Kenalin kak, ini temen kampus aku Dita, kenalin Dit, ini kakak gue Donita", mereka berjabat tangan.
Astagaa ... wajahnya mirip banget! Dita diam memperhatikan interaksi kakak adik ini.
"Loh, kak Aksan belum sampe..?", tanya Lorena celingak celinguk
"Udah otw, udah dekat barusan katanya, oh ya kalian mau pesan apa..?"
"Ntar aja kak, tunggu kak Aksan dulu"
"Ngga apa-apa, pesan minum aja dulu"
Donita berdiri melambaikan tangan memanggil karyawan restoran.
Tiba - tiba dia tertegun, dengan wajah agak pucat melihat seseorang keluar menuju arah lobi luar Sejenak darahnya seperti berhenti.
"I..itu..seperti .??" dia bergumam pelan.
"Kak..kenapa..??, ada apa..?kok kayak ngeliat setan..? pucat..??", pertanyaan beruntun Lorena yang berhadapan langsung di depan Donita duduk sambil ikut menoleh ke arah lobi.
Tapi, Dita curiga karena arah tatapan dan yang dia liat oleh Donita itu sama..!
"Ehh..ngga ada apa - apa, ngga ada apa - apa", Donita gelagapan.
Lalu dari arah berlawanan, Aksan datang, "Maaf telat, tadi ada yang harus di bereskan", berusaha menjelaskan dan ikut duduk disamping Donita.
"Rena udah lama..?"
"Baru kak"
"Oh, Dita juga ikut ternyata", Aksan buka pembicaraan
"Iya pak, di paksa Lorena, hehehe", Dita berusaha rilek padahal sebenarnya gugup.
"Kamu kenapa diam aja mih..?, ngga enak badan..?" Aksan melihat istrinya hanya diam seperti ada yang di pikirkan.
"Ngga ada apa-apa bee, yaudah yuk kita pesan makanannya, laper..." Donita berusaha mencairkan suasana.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka ngobrol, namun Donita seperti kehilangan mood nya..
***
***
Di pinggir ruas jalan yang agak sepi, Devilito memberhentikan mobil nya, Ia seperti melamun, menatap lalu lalang jalanan yang tidak begitu ramai.
__ADS_1
Hmmmm.....
"