
...--Italia--...
Disinilah mereka sekarang, setelah menempuh perjalanan secara estafet dan sempat bermalam di Dubai, Devilito dan Lorena sampai di bandar udara Malpenza kota Milan, Italia.
Devilito sebelumnya sudah mengabarkan Mr. Ludwig Smith dan Cerlotta tentang rencana kedatangannya ke Italia dua hari sebelumnya. Tentu, juga tak lupa memberikan kabar pada papa angkatnya Mr.Luigi Roberto yang saat ini sudah mulai terlihat sakit-sakitan.
"Capek yank?", Devilito bertanya pada Lorena yang terlihat muka letih, "capek tapi hati aku seneng yank", jawab Lorena dengan mata berbinar, Ia senang karena bisa akhirnya mengunjungi kota Milan, salah satu destinasi tujuan favoritnya, dan itu bersama sang suami.
Devilito di jemput beberapa anggota jaringan Lidah Api yang sudah standby satu jam sebelum kedatangan mereka berdua. Prosedur tetap, karena Devilito adalah salah satu ketua Lidah Api.
Disini, Lorena baru merasakan aura kepemimpinan suaminya sendiri. Jika di Indonesia, Devilito lebih terlihat santai dan akrab dengan anak buahnya, disini Devilito benar-benar menunjukkan dirinya bahwa dialah sang pemimpin yang di takuti dan tak tersentuh. Semua anggota yang menjemput yang berjumlah sepuluh orang berpakaian serba hitam tersebut membungkuk hormat pada mereka berdua.
***
Tujuan pertama, adalah kediaman papa angkat Devilito, Mr.Luigi Roberto dan sekaligus untuk memperkenalkan istrinya, Lorena.
Iring-iringan dua mobil van mewah buatan eropa memasuki pekarangan rumah papa angkat Devilito. Di sambut sang pemilik rumah yang berdiri di depan menunggu sedari tadi dengan penuh kerinduan.
"Hallo papa..mama", pelukan hangat Devilito secara bergantian pada kedua orang tua angkatnya tersebut. "Putra kesayangan papa, akhirnya kita masih di kasih kesempatan untuk bertemu, Nak!", ucap papa Luigi sambil memijit kedua lengan Devilito dengan haru setelah merenggangkan pelukannya. Begitu pun sang mama, yang memeluk sedikit lebih lama anaknya ini dengan derai air mata rindu.
"Ehh..ini mantu papa, siapa namanya?", ucap papa Luigi kemudian sambil mengusap kepala Lorena, lembut. Lorena tersipu, "Lorena papa, apa kabar papa..mama", ujar Lorena dan berpindah papa sang mama. "Ayo, kita ke dalam..", ucap mama Luigi juga dengan usapan kepala lalu memeluk bahu Lorena dan membawanya masuk.
***
Di meja makan, papa Luigi masih berceloteh dan bercerita tentang kehidupan masa remaja Devilito pada Lorena, menceritakan tentang kenakalan dan juga kepintarannya di bangku pendidikan. "Dia nakal tetapi pintar", ucap papa Luigi mengangkat jempol kanannya memuji. Sesekali di timpali oleh sang mama, yang sedari tadi ingin bercerita tapi selalu di potong oleh papa Luigi.
Devilito terkadang tertawa dan kadang senyum tersipu ketika papanya bercerita masalah wanita, yang banyak mengejar-ngejar Devilito.
"Nah, itu pa..yang bikin aku pusing, banyak masa lalu nya tentang perempuan!", ujar Lorena sambil mengeraskan rahangnya menatap suami.
"Tapi, kamu tenang saja sayang, perempuan - perempuan itu tidak ada yang di tanggapi oleh dia, dia bukan pria nakal kok!", bela papa Luigi sambil menunjuk ke arah Devilito yang mesem-mesem.
__ADS_1
"Dan, sangat menghargai perempuan!", ucap mama Luigi tak kalah pembelaannya.
Disitu, Devilito tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa bangga memiliki kedua orang tua angkat serasa kandung ini. "Wuihhh...senangnyaa!", sindir Lorena dengan tatapan mendelik, dilihat rupa suami yang sangat menjengkelkan dimatanya sekarang ini. Alih-alih ingin meledek suami, justru dirinya sendiri menjadi kesal. Papa Luigi dan mama Luigi hanya tersenyum melihat interaksi suami istri di depan mereka itu.
Setelah selesai acara makan malam, mama Luigi mengajak Lorena untuk mengikutinya, Ia ingin mengajak berkeliling rumah sambil memperkenalkan Lorena pada yang lainnya yang ada di rumah itu, sekaligus melihat-lihat kamar masa remaja Devilito.
Papa Luigi mengajak Devilito ke ruangan depan, banyak hal yang ingin Ia tanyakan pada putra nya ini.
"Bagaimana hubungan kamu dengan Cerlotta, Dev ?, papa mendengar selentingan, sempat terjadi keributan?", Papa Luigi membuka obrolan setelah mereka duduk di ruang tamu depan. Pertanyaan to the point papa nya membuat Devilito tertegun sejenak, Ia tak ingin orang tua nya ini tahu, tapi dari mana informasi itu, apakah Giring? pikirnya.
"Iya pa, sedikit keributan, karena Cerlotta tidak terima awalnya, aku juga salah, ngga ngomong sama dia dan uncle Ludwig", Ia lalu bercerita singkat mengenai keributan dengan Cerlotta tersebut. "Tapi, akhirnya Cerlotta mengerti, dan menerimanya", ujar Devilito kemudian.
"Trus..bagaimana dengan uncle mu itu?", tanya papa Luigi sembari menyalakan cerutu Kuba nya, "dia marahkan?".
"Awalnya dia marah, tapi juga menerimanya setelah aku hubungi uncle Smith dan menjelaskannya, termasuk salah satu misi aku datang kesini menemuinya".
"Salah satu misi kamu menemuinya, berarti ada misi yang lain?", selidik papa Luigi.
Ya, menurutnya sudah saatnya dia mundur, Ia tak ingin lagi terlibat jaringan sesuai dengan permintaan papa dan mamanya ini dahulu.
Papa Luigi menatap Devilito dalam - dalam, "papa rasa...", Luigi menjeda kalimatnya sebentar, dan menghembuskan nafas berat, "dia takkan mengizinkan kamu, sementara dia punya misi lain buat kamu", papa Luigi kemudian menghisap cerutunya kembali, dan menyandarkan kepalanya di sofa.
"Maksud papa...?, misi yang lain?", tanya Devilito tak mengerti. Papa Luigi hanya mengangguk, meng-iyakan. "Misi apa..?".
"Nanti kamu akan mengetahui langsung dari mulutnya, dan yang pasti dia tak akan mengizinkan kamu mundur".
"Uncle Smith mengancam papa..?", selisik pertanyaan Devilito, keningnya berkerut. Dia tidak akan peduli siapa Ludwig, jika berani kembali mengancam papanya.
"Tidak", papanya menjawab pendek, dan kembali memajukan badannya, "dalam beberapa minggu yang lalu Ludwig datang kesini, bersama Cerlotta. Bercerita bahwa dia punya misi khusus buat kamu, dan... justru kemudian dia yang akan mundur dari jaringan Lidah Api".
Devilito menatap papanya, makin bingung karena dalam hal ini, dia tidak mendapatkan informasi apa - apa, termasuk Giring.
__ADS_1
Oh iya, Giring !...
"Geri tahu dengan misi yang dimaksud itu pa?", tanya Devilito, Ia teringat kawannya ini mungkin mengetahuinya, karena beberapa bulan sudah, tinggal di Sisilia.
Papa Luigi menggelengkan kepalanya, "Tak ada yang tahu seorang pun, termasuk Cerlotta sendiri, dan Geri", jawab papanya, "Hanya pada papa dia bercerita, tapi itupun tidak boleh dikasih tahu, kecuali dari mulut dia langsung, karena ada maksud lain dalam hal ini". Devilito makin tidak mengerti dengan ucapan papanya, ambigu dan terkesan misteri.
"Intinya, Ludwig takut kehilangan kamu, setelah kamu tidak jadi menikah dengan Cerlotta...", Luigi menjeda kalimatnya kembali, "dan dia sepertinya sudah membaca keinginan kamu ini untuk mengundurkan diri".
Devilito merenung sejenak, kedatangannya ke Italia adalah untuk memperkenalkan istrinya pada papa-mamanya juga pada uncle Smith. Dan, sekaligus ingin mengundurkan diri dari ketua sekaligus keanggotaan jaringan. Tetapi kini, justru sekarang menambah permasalahan baru kembali setelah mendengar tuturan kata papanya.
"Aku ingin mundur dari jaringan karena aku ingin hidup tenang, papa...juga untuk memenuhi keinginan papa dan mama dulu, serta keinginan istri aku".
"Kamu dibesarkan oleh jaringan Nak, untuk saat ini, sulit bagimu untuk mundur".
"Istriku sedang hamil papa..." ujarnya kemudian.
Papa Luigi terlonjak kaget, "Hah..!?, istri kamu hamil, sudah berapa bulan ?, kok papa baru dikasih kabar?, bukan dari kemarin-kemarin?", pertanyaan beruntun penuh kekagetan meluncur deras dari mulut papanya.
Devilito mengelus dadanya, Ia juga kaget takutnya papanya kolaps.
"Sudah jalan di empat bulan, maksudnya mau kasih surprise tadinya"...
"Mama...mama", teriak papa Luigi memanggil mama Luigi tanpa menghiraukan perkataan Devilito. Dengan tergopoh, sang mama yang di ikuti Lorena di belakangnya muncul. "Ada apa..?", tanya sang mama dengan muka panik.
"Kita mau punya cucu..!", tadinya banyak kata yang akan dikatakan papa Luigi, tapi hanya itu yang berhasil keluar dari mulutnya.
Dengan sedikit kesal, sang mama menjawab, "Iya, sudah tahu!".
-
Bersambung
__ADS_1