
Lorena sedang bersih-bersih badan di kamar mandi, sekitar satu jam yang lalu mereka baru kembali setelah 4 hari lamanya liburan di Bali.
"Yank, udah mandi..keburu malam", dilihat sang suami sedang main ponsel di sofa kamar, tas kecil masih melingkar menyilang di badan. Devilito melirik sekilas, "Iya..sebentar yank", lalu kembali menatap layar ponsel dan mengetik sesuatu.
Mukanya sedikit tegang, seperti ada sesuatu yang terjadi dalam komunikasi pesan itu.
Lorena menatap lama ke arah suaminya, hmm..seperti ada sesuatu ?, ada masalah sepertinya. "Ada apa yank..?, serius banget keliatannya?", Lorena menyipitkan matanya, lalu perlahan menghampiri.
Devilito mendongakkan wajahnya melihat istrinya yang memakai kimono habis mandi, lalu meletakkan ponsel di nakas dekat sofa. "Ngga ada apa-apa, cuma ada laporan dari anak buah aja barusan", Devilito merentangkan tangan, beri isyarat agar istrinya duduk dipangkuannya.
"Kok mukanya serius begitu tadi?, ada masalah?", Lorena lalu duduk di pangkuan itu, tangan melingkar di leher, dan kemudian memberikan kecupan dipelipis suaminya. "Ada masalah dikit, tapi nanti bisa di atasi, ngga apa-apa kamu tenang aja" Devilito membenamkan wajahnya di ceruk leher Lorena.
Ya, Devilito baru dapat informasi dari anak buahnya, bahwa Cerlotta sedang menuju Jakarta. Dan ini akan menjadi masalah besar.
Ia masih menikmati aroma badan istrinya, cuma menikmati untuk memberikan ketenangan pikirannya. Lorena membelai rambut suaminya, Ia tahu bahwa pasti ada sesuatu yang berat sedang terpikir, biasanya, suaminya adalah orang yang sangat tenang jika ada masalah, kali ini beda.
"Yaudah, mandi dulu gih...biar fresh pikirannya", Ia kembali mencium pelipis suaminya. "Hu um...yaudah aku mandi dulu", Devilito kemudian beringsut, dan berdiri meletakkan tas kecil di depan tivi.
Dibawah guyuran air dari shower, Devilito masih berpikir tentang kemungkinan yang akan dilakukan Cerlotta terhadap dirinya dan terutama Lorena. Kalau Cerlotta tahu, berarti Ludwig juga tahu, dan murka pastinya.
Mudah-mudahan Cerlotta bisa di beri pengertian..harusnya gue dulu tegas menolak perasaan terhadap gue. Tapi, ya sudahlah . Ia bermonolog sendiri dalam hatinya, lalu segera menyelesaikan ritual mandi.
Devilito keluar dari kamar mandi, dilihat sang istri sedang asyik duduk di sofa menonton tivi. Ia menuju ranjang mengambil baju kaos oblong dan celana training yang sudah disiapkan sang istri.
Lorena memperhatikan gerakan sang suami dengan sudut matanya, walaupun terlihat menyamping, tapi dari wajahnya suaminya itu cukup menggambarkan bahwa sedang tidak baik-baik saja.
Ia masih memperhatikan, sampai selesai. "Yaaankk...", Lorena memanggil Devilito dengan wajah memelas, "sini..duduk!", Ia menepuk sofa, memberi isyarat sang suami untuk duduk. Devilito menarik garis pinggir sudut bibirnya, tersenyum lalu menghampiri.
Ini yang gue suka dari istri gue...menenangkan!
"Ada apa.., hmm?"
__ADS_1
"Kamu justru yang ada apa?, coba cerita.."
"Ngga ada apa-apa, oh ya kamu lapar ngga, biar suruh bibik siapin, kita makan di kamar aja", Devilito mengambil remote, lalu nyari-nyari channel tivi.
"Kan tadi udah setelah keluar bandara..., ayo cerita"
"Oh ya, besok kamu ke kampus kan?" Devilito masih berusaha mengelak.
"Lusa aku ke kampus, mau ketemu dosen PA, kan sebentar lagi mau nyusun skripsi. Nanya apa lagi? hmm..ayo cerita", Lorena mencolek pinggang suaminya.
Devilito terlonjak kaget, kelemahannya kena colekan, itu yang belum bisa dia obati dari dulu. Geli. Ia duduk, memutar posisi menghadap istri, kaki naik menekuk satu di atas sofa. "Yakin, kalo aku cerita sekarang, kamu siap dengarnya..?".
Lorena, juga merubah posisi duduknya persis sama dengan suaminya, beda kaki yang di tekuk. Sikut bersandar di sofa, tangan menopang dagu, mata menatap lembut, "Hu um..ayo cerita", Ia menganggukkan kepala, tanda siap mendengarkan.
"Aku dulu pernah di jodohkan oleh Mr. Ludwig dengan anaknya, Cerlotta. Mungkin kamu pernah dengar nama itu kan?", Lorena mengangguk cepat, meng-iyakan.
"Awalnya Cerlotta yang bilang ke papanya untuk menikahkan dirinya dengan aku. Karena, aku pernah menolak langsung ke Cerry belum pengen menikah",
"Siapa tadi? Cerry...?" Lorena memotong omongan.
"Ya, terus aja sih..., ehh tapi tunggu, tadi kamu bilang belum kepengen menikah menolaknya..?hmm".
"Denger dulu sayang...selesain dulu ceritanya, bisa ?" jawab Devilito sedikit kesal. "Iyaa..udah terus, ih!", Lorena mengayunkan tangan mau mencubit pinggang suaminya.
"Gini deh, intinya..sekarang dia datang ke Jakarta, mungkin dia kaget aku udah nikah sama kamu, karna dia memang ngga tau"
"Owh, jadi tadi kamu tegang mukanya karna bingung mau ngomong jelasinnya gimana sama dia, gitu..?"
"Ho oh..karna aku tau, dia ngga bakal terima" jawab Devilito kemudian.
"Yaa, tinggal bilang aja, kamu udah nikah, selesai !, kalo dia ngga terima, yaa itu urusan dia, yang penting kamu, kalo kamu menjaga hatinya, berarti kamu memang cinta sama dia dong..?" tatapan Lorena berubah tajam, pupil matanya mengecil menyipit menyelidiki.
__ADS_1
Duhh..gimana ngomongnya ya?
"Aku ngga cinta sama dia yank, kalo cinta dari dulu aku udah nikah sama dia".
"Kan kata kamu tadi, kamu belum siap menikah, bukan karna ngga cinta".
Devilito garuk-garuk kepalanya yang ngga gatal sama sekali. "Itu alasan aku menolaknya, yank..emang salah?" Devilito mencoba membenarkan perkataannya.
"Ya, salah !...kalo itu alasannya, dia pikir kamu cuma karena belum siap, bukan karna ngga cinta, jadi dia nunggu terus"
"Makanya, bu Shania dan kakak aku Donita sempat di datangi sama Cerlotta itu, karna kamu pacaran sama mereka", Lorena menambahkan, Ia tidak habis pikir, suaminya bertipe sangat tegas, tapi kenapa lembek dengan Cerlotta, Ia masih curiga.
"Hah..?, kamu tau cerita Shania?" Devilito membulatkan matanya, kaget.
"Taulah..kan aku pernah berantem sama dia di kampus, dan dia cerita tentang Cerlotta yang mengancam dirinya".
Devilito terdiam, "Cerlotta itu kejam yank, dia salah satu ketua Lidah Api wilayah Eropa dan papanya yang membina dan melatih aku, makanya aku masih menghargai Cerlotta, dan sekarang ini aku khawatir dengan keselamatan kamu".
"Yaudah, kita hadapi aja berdua, aku ngga takut selama kamu ada bersama aku dan membela istrinya". Devilito terperangah mendengar jawaban elegan istrinya, tadinya dia pikir istrinya ini akan sulit menerima apa yang akan dikatakannya.
"Ini nih, kalo dapat istri satu frekwensi!, makin sayang deh sama kamu, sampai kapanpun kamu akan aku bela", Devilito memeluk erat istrinya. "Trima kasih, telah menjadi tandem hidup aku" lanjutnya kemudian mencium-cium pipi istrinya bergantian kiri kanan.
"Aku pengen deh, suatu saat kamu berhenti jadi ketua mafia yank.." mata Lorena berkaca-kaca mengatakan kalimat itu. "Toh kamu kan banyak usaha, hidup kita juga ngga kekurangan, ngapain juga masih terlibat, aku tau kamu itu dulu gangster, demi aku...suatu saat berhentilah yank", Lorena memandang teduh kearah mata suaminya.
Devilito kembali terdiam, Ia menundukkan pandangan, Ia teringat ucapan kedua orang tua angkatnya, papa Luigi dan mamanya.
"Aku janji, suatu saat aku berhenti...dan aku akan mengajak kamu bertemu dengan orang tua angkat aku di Milan, mau..?"
Lorena yang masih dalam linangan air mata, langsung berubah..."Mau..kapan?",
"Nanti, setelah urusan tender proyek Melbourne selesai, kita ke Italia". Ternyata gampang merubah suasana hati istri itu ya..?
__ADS_1
-
Bersambung...