Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.84 End Of Story


__ADS_3

Di parkiran.


Dugg..!! Tito jatuh terduduk, perutnya mules terkena hantaman pukulan Devilito yang begitu bertenaga, Ia sasaran kemarahan Devilito, karena dia yang di serahi tugas untuk menguntit Linggar. "Maaf ketua, mereka pake mobil yang lain, tidak lewat sini", tunjuk Tito sebuah mobil yang masih terparkir disitu, seperti di tinggal pemiliknya.


Devilito menyesali keteledoran anak buahnya. "Kalo sampe Lorena mati, nyawa kamu saya cabut!", ucap Devilito menunjuk dada anak buahnya itu. Tito berasa ingin menghilang dari situ, saking takutnya ancaman ketuanya ini.


GPS mengarah ke sebuah rumah di kawasan tempat pembuangan sampah di pinggiran kota. Devilito berhasil melacak ponselnya yang di pegang istrinya melalui ponselnya yang satu lagi tersimpan di mobil. Sekitar tiga puluh meter, Devilito pinggirkan Hummer H2 nya, mematikan mesin, lalu disusul oleh Tito dengan mobil Rubicon yang berisikan Melvin, Donny dan Hensly.


"Bikin parimeter, saya bertiga yang masuk, kalo ada pergerakan dari dalam, habisin!, paham?", perintah Devilito pada Tito. "Siap ketua!", lalu mereka berpencar.


Braakk !!...Pintu di dobrak oleh Devilito, masuk kemudian di susul oleh Cerlotta dan Giring.


Kedua orang itu, Linggar dan Zhiva terkesiap, terutama Linggar, Ia tak menyangka tempatnya akan terlacak secepat itu oleh Devilito. Tetapi Zhiva tenang setelah itu, Ia memang sudah menunggu kedatangan sang pemimpin Lidah Api ini. Ia menatap tajam Cerlotta. Ia juga sudah tahu sepak terjang gadis peranakan bule itu.


Devilito menatap dingin Linggar, tadinya ingin rasanya Ia langsung tembak tepat di dahi pria itu, tapi Ia urungkan. Devilito melihat istrinya terbaring pingsan di sofa. Sepertinya di bius.


"Ckckck...Linggar..Linggar, saya sudah beri kamu satu kesempatan dulu, untuk tidak mengusik kehidupan saya, tapi kesempatan itu tidak kamu gunakan untuk perbaiki diri kamu, ckckck...", Devilito melangkah tenang mendekat, kepalanya geleng - geleng, Ia tak habis pikir dengan kenekatan pria tersebut, apa Ia terlalu berbaik hati?.


"Tapi, kesempatan itu sudah habis!", ucapnya melanjutkan kalimat, sambil berkacak pinggang, melemparkan tatapan membunuhnya. Cerlotta memutar ke samping, Ia memang mengincar Zhiva dari awal.


"Kamu!, hadapi saya!...", Cerlotta berkata dingin menunjuk ke Zhiva. Namun gadis Russia itu tak menunjukkan tanda gentar sama sekali, Ia justru tersenyum smirk. Sebenarnya, Ia ingin menghadapi Devilito, itu keinginannya dari dulu, tapi dengan adanya Cerlotta, itu tak akan mengurangi reputasinya bukan?.


"Hehehe..Cerlotta, kamu kira mudah untuk mengalahkan saya, begitu?", dengan nada mengejek, Zhiva perlahan menghampiri Cerlotta. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi malam ini.


Sedangkan Linggar, ada sedikit keraguan untuk menghadapi Devilito tersebut, namun Ia kepalang basah, Ia tak bisa mundur lagi, menang atau mati. Hanya dua pilihan yang dia tangkap dari omongan Devilito. Ia menghampiri Devilito yang sedang berkacak pinggang dan langsung menyerang Devilito.

__ADS_1


Devilito hanya mundur, menghindar dan menangkis pukulan dan tendangan dari Linggar tersebut. Ia sudah tahu sampai dimana kemampuan Linggar ini, dilihat dari kecepatannya. Ia belum membalas. Ia masih sempat melirik ke istrinya yang terbaring pingsan di sofa, memastikan apakah dalam keadaan baik - baik saja, terutama pakaiannya, dan tubuh. Apakah sudah terjamah atau tidak. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika istrinya tidak baik - baik saja.


Dan, Ia masih sempat memberi kode pada Giring untuk membantu istrinya, ralat, menengok istrinya.


Cerlotta...


Ya, Cerlotta hanya memperhatikan dengan sudut matanya pergerakan Zhiva yang berusaha memancing emosinya dengan kata - kata mengejek, Ia tak bergeming dengan perkataan itu. Tiba - tiba...


Zhiva menerjangkan dengan tendangan memutar, merangsek terus dengan tendangan melingkar dengan kaki kiri kanannya secara bergantian. Pemegang Dan III sabuk hitam Tae Kwon Do itu tak memberi ruang pada Cerlotta untuk membalas. Cerlotta hanya bergerak mundur, kesamping kiri kanan, sambil tangannya sesekali menangkis, dan sesekali menundukkan kepala. Di lihat, jam tangannya terlepas, pecah jatuh ke lantai.


Zhiva berhenti menyerang, dengan senyum tetap mengejek mengangkat kaki kanannya lurus ke atas, berdiri di satu kaki dengan tangan mengepal. "Bagaimana, hm..?", katanya mengedipkan mata pada Cerlotta.


Cerlotta lalu membuka baju pengantin-nya, Giring kaget. Namun, dia masih berpakaian mini dress pelapis dalaman dengan celana pendek hitam. Ya ampun, bini gue ! Giring menepuk jidatnya. So sexy!...


Terdengar bunyi tembakan dalam perkelahian antara Devilito dan Linggar.


Linggar karena merasa tak sanggup dengan tangan kosong mengeluarkan senjata apinya untuk membantu pertahanannya menghadapi Devilito.


Pemimpin Lidah Api itu terserempet di lengan kirinya. Ia marah, dari tadi Ia hanya meng-counter pukulan Linggar, tapi kali ini Ia harus membungkamnya.


Devilito bergerak zig-zag. Dengan tendangan caapoera nya Ia menghantam pelipis Linggar, langsung terhuyung. Devilito menyambut dengan sapuan bawah yang membuat Linggar terlentang ke lantai. Namun, Linggar masih sempat melepaskan tembakan susulan, masih bisa di elakkan Devilito, karena sudah Ia antisipasi.


Devilito menyambar tangan kanan Linggar ketika dalam posisi terlentang tersebut. Dan, melakukan kuncian leher, menarik dan memutar pergelangan tangan kanan tersebut. Devilito berniat lain, bukan mematahkan, tapi mengarahkan laras pistol jenis FN tersebut ke perut Linggar sendiri, menekannya.


"Ampun pak Dev...ampun pak", Linggar yang tercekik di leher oleh kaki Devilito, tahu keinginan pria ini, Ia membuatnya menembak diri sendiri.

__ADS_1


Duar..!!, laras pistol menyalak kembali, Aaargggghh.....!, teriakan kesakitan tertahan, tapi Ia tak bisa bergerak, kuncian kedua kaki Devilito di leher makin kuat. Duaarrr..!!, sekali lagi menyalak, tapi kali ini tak ada terdengar suara yang keluar dari mulut Linggar lagi, Ia pun terdiam seribu bahasa.


Waktu yang bersamaan, Zhiva kaget, Ia ingin membantu Linggar, tapi niatnya di halangi oleh Cerlotta, gadis bule itu gelengkan jari telunjuknya, sambil tersenyum.


Cerlotta bergerak menyerang, menggunakan lutut, memainkan muathay nya, namun di antisipasi Zhiva yang bergerak kesamping dan segera menyusul dengan tendangan melingkar mengincar pelipis Cerlotta, tapi gadis ini juga sudah tahu apa yang akan di lakukan Zhiva, Ia meng-counter dengan menaikkan sikut, melindungi kepala, dan mengirimkan tendangan menghantam paha Zhiva. Kena!, tendangan berisi itu tepat menghantam paha luar gadis indo ini. Ia terjajar, terhuyung dengan menahan sakit pada kaki.


Cerlotta tak berhenti, Ia mengganti tekniknya dengan memainkan tendangan memutar menghantam perut dan di susul dengan tendangan depan yang membuat gadis indo itu terhuyung ke belakang, di susul dengan loncatan tendang lutut menghantam dagu. Hanya itu. Zhiva diam tak bergerak.


Semua hanya diam. Giring hanya menghela nafas melihat kelakuan istrinya. Cerlotta, resikonya punya istri petarung.


Devilito dengan cepat mengangkat tubuh istrinya keluar dari situ, Ia harus menyadarkan istrinya tetapi jangan sampai melihat kejadian yang terpampang di ruangan ini. Devilito memerintahkan tiga anak buahnya yang berada di luar untuk mengurus kedua orang tersebut, entah pingsan atau mati.


***


Satu tahun kemudian...


Lorena sedang menunggu kedatangan sang suami dari kantor sore itu. Devilito sudah berjanji akan pulang cepat, dan berjanji akan menemaninya untuk membeli peralatan bayi mereka yang sekarang sudah berumur 9 bulan. Seorang bayi laki - laki, ganteng sangat. mewarisi wajah sang Papa dan Mamanya.


Lorena bersyukur, perjalanan hidupnya sampai hari ini, yang di warnai lika liku kehidupan yang seperti naik roller coaster dengan suami. Ia memaklumi, sang suami adalah sang penguasa, namun sangat lembut memperlakukan dirinya, dengan sangat baik.


Hihi..ia tersenyum sendiri, dialah sang Supreme Commander yang sesungguhnya.


Bukankah, lelaki harus seperti itu? Memperlakukan istri sebagai seorang ratu.


...--TAMAT--...

__ADS_1


__ADS_2