Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.41 Perseteruan


__ADS_3

Jam 10.00 pagi menjelang siang, Devilito meninggalkan ruang rapat. Setelah mengantarkan tamunya sampai pintu lift, Ia mengajak Hendra Wijaya dan Indri sekretaris, ke ruangannya untuk membahas lanjutan hasil rapat yang di mulai dari jam 8.30 pagi.


Pagi ini, mereka baru saja selesai meeting dengan Wayan Group dari Bali, mengenai rencana penawaran 'take over' sebuah hotel resort di kawasan Legian.


"Hendra, menurut kamu gimana paparan pak Wayan Sudana tadi?" Devilito membuka bindel biru, data yang di serahkan oleh pak I Wayan Sudana, pemilik Wayan Group dari Bali.


Mereka bertiga berdiri mengelilingi meja bundar yang ada di ruangan Devilito.


"Menurut saya, masalah potensi hotel ini sangat menjanjikan pak Dev, lokasi nya di Legian sangat strategis untuk menghubungkannya dengan kawasan wisata Seminyak" Hendra menjelaskan tentang penawaran 'take over' dari pak Wayan tersebut sambil memberikan foto-foto tambahan dari map yang dia pegang.


"Benar sih pak Dev, hotel resort LuTuYe ini bertema keluarga, ada club kids nya juga, tidak jauh dari pusat perbelanjaan aksesoris jadi tempat ini merupakan prioritas pertama wisatawan lokal dan manca negara, karna akses ke bandara juga langsung" ujar Indri ikut memberikan pendapatnya.


Devilito manggut-manggut mendengar keterangan duo tangan kanan di perusahaannya ini.


"Tapi, kenapa mereka menjualnya?, padahal potensi income nya sangat besar loh..?"


"Iya pak Dev, saya sudah melacak informasi ke dalam, mereka ini pecah kongsi dengan group dari Prancis, tapi penyebabnya saya belum dapat info" jawab Hendra.


"Kalo gitu, kita terima aja undangannya untuk kunjungan kesana dulu?, sekalian liburan, gimana..?" Devilito sudah yakin anak buahnya ini pasti tidak akan menolak tawaran. " kalau dua hari lagi, bisa..?" lanjut nya kemudian mengarah ke Hendra


Wajah cerah terlihat dari keduanya, terutama Indri yang sudah lama tidak mendapat libur.


"Setuju pak Dev, dua hari lagi saya rasa persiapan kita cukup kok" Indri menjawab antusias. "Kenapa kamu yang jawab?, saya kan bertanya ke pak Hendra?".


"Ehh..maaf pak Dev, saya terlalu semangat" jawab Indri tersipu, pikirannya sudah berkelana di pulau Dewata.


"Hendra, kamu coba cek mereka menawarkan ini ke siapa saja, dan kalo kita cocok, cek juga harga minimum penawaran mereka ya"


"Baik pak Dev, sore ini data sudah ada di meja pak Devi"


"Yaudah kalo gitu, persiapkan semuanya, saya berangkat dengan istri saya..kalian silahkan dengan pasangan halal kalian, atau saudara bagi yang belum, awas ngga boleh dengan pacar!", Devilito menekankan kalimatnya mengarah ke Indri, tapi habis itu Ia senyum.


"Siap pak Dev!" jawab kedua serempak.


Lalu Hendra dan Indri pamit meninggalkan ruangan bosnya,


"Oh ya, pak Dev nanti malam ada undangan makan malam dengan pak Linggar, tidak ada perubahan kan pak?" tanya Indri berhenti di pintu. Devilito mengangkat tangannya membentuk huruf O.


Drrt..drrtt..drrt gawai Devilito bergetar di atas meja. Ia meraihnya, istri nya menelpon.


(Halo yank, aku berangkat ke kampus ya, kelas siang ini cuma sampe jam 2, nanti aku baliknya ke kantor kamu aja)

__ADS_1


(Yaudah aku jemput aja, ini udah hampir jam 11, nanti aku tungguin aja sampe jam 2 di kampus kamu)


(Ngga usah, aku naik taksi aja, kamu ngga usah ke kampus, nanti aku aja yang ke kantor kamu)


(Kalo gitu kamu bawa mobil yank? ngapain naik taksi) tanya Devilito, Ia tau kenapa istrinya tidak mau dia ke kampus.


(Aku males nyetir)


(Yaudah aku anterin aja ya..sekalian aku mau ngopi di kantin sebentar) ucap Devilito ketawa tanpa suara.


(Ih ngga usah !)


(Iya ajaa..) makin jail.


(Coba aja kalo brani!!! , Udah ah aku matiin, awas kalo ke kampus 😠..👊!) ,telepon langsung terputus.


Devilito tertawa terpingkal, tapi langsung menutup mulutnya, Ia lupa ini di kantor, untung ruangan kedap suara, Indri tidak mendengarnya.


--Di kampus--


"Lorena..ini ada surat panggilan ke ruang dekan!" Lorena yang baru saja menjejakkan pantatnya di bangku mengernyitkan keningnya, "Ada apa pak?" tanyanya pada staf TU yang memberikan surat panggilan, "Kamu temuin aja pak Dodit, nanti juga kamu tau", ujar staf sambil berlalu dari situ.


Lorena membuka dan membaca sebentar surat yang di berikan, pelanggaran berat..? kok...?, gue salah apa? Ia kaget mendapat panggilan dengan kategori itu.


"Rena, mau kemana?" teriak Dita bengong. "Ruangan dekan lah!".


Tok..tok..tok Lorena mengetuk ruangan dekan. Masuk! suara dari dalam mempersilakannya masuk. Permisi..


Wow ini biang keroknya nih, pasti masalah kemarin!, Ia melihat di situ sudah hadir pak Dodit, Ibu Shania, pak Sandi dan satu orang lagi perempuan staf TU.


"Lorena Sangaji, bener itu nama kamu?" tanya pak Dodit, sang dekan setelah mempersilahkannya duduk. "Benar pak, Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi Semester 7" jawabnya tegas dan lengkap.


"Kamu tahu kenapa kami panggil kesini?"


"Tidak pak"


"Baik, coba terangkan selengkapnya kejadian kemarin di kantin dengan seorang tamu dan dosen ibu Shania ini, pelanggaran kamu ada dua, tindakan tidak sopan terhadap tamu, dan penghinaan disertai ancaman terhadap dosen..kategori nya cukup berat!, silahkan.." tanya pak Dodit selanjutnya, Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kebesarannya, bersiap mendengarkan.


"Baik pak, maaf...saya menyangkal kedua tuduhan itu, pertama...saya tidak pernah melakukan tindakan tidak sopan terhadap tamu, karna bagi saya itu bukan tamu, itu suami saya namanya Devilito Arkansa. Kedua..saya justru memproteksi diri saya pak, suami saya yang menurut pak Dodit itu tamu, sedang berduaan dengan masa lalu nya, yaitu ibu Shania ini!" Lorena menunjuk dengan sopan wanita di sebelah kirinya, tapi tatapannya mematikan Shania.


"Hahh..?"

__ADS_1


Pak Dodit mukanya berubah pias, Ia merubah posisi duduknya, memajukan badan dan tangannya langsung di atas meja. Sandi melongo menutup mulutnya , jadi yang katanya mengantarkan istrinya itu Lorena ini?


Shania seperti di setrum listrik, wajahnya kaget, jadi ini istrinya Devi ??? Ia ingin pergi dari situ, malu.


"Mm..maksud kamu sebenarnya gimana?" pak Dodit sebenarnya kehabisan kata-kata,


"Ah bapak sebenarnya tau kok maksud saya.., ya kan bu Shania eh bu Sha sha??" katanya memberikan senyum paling manisnya.


"Devilito itu posisinya bapak Dodit kan tau sendiri yah..? ,Nah beliau suami saya, dan saya dapat surat tertulis dengan kategori pelanggaran berat siang ini, padahal saya belum duduk sempurna loh pak, di bangku saya..Sekarang, saya menyerahkan semuanya ke pak Dodit ,urusannya bagaimana.."


Pak Dodit terdiam...


Drrt..drrtt..drrttt, Hp Lorena berbunyi, "Panjang umur kan pak, suami saya menelepon?, mungkin ikatan batin kali yah, boleh saya angkat pak, soalnya dia pasti cek saya udah sampai atau belum, kalau belum, Ibu Shania kan tau yah, Devilito itu bagaimana ., hm?" Ia minta ijin sambil melihatkan Hp nya, dan memberikan senyum Smirk ke ibu Shania.


"Silahkan..." pak Dodit mempersilahkan Lorena menjawab panggilan. Sekarang Ia kesampingkan hubungan dosen - mahasiswa, yang ada sekarang ibu bos dan karyawan.


"Yank, udah sampe..?"


"Udah barusan aja, sekarang aku lagi sama pak Dodit", Lorena me-loudspeaker gawainya.


"Hahh..? ngapain? pak Dodit yang dekan kamu kan?"


"Iya" Lorena sengaja jawab pendek-pendek, jailnya kumat.


"Iya-iya aja, aku tanya ngapain? berdua aja?, ntar pak Dodit ngga bisa liat mata hari terbit besok lagi loh !"


"Hush!! cabein nih mulutnya, aku lagi sama pak Dodit, pak Sandi, ibu TU, dan ibu dosen cantik, ada yang di bahas , udah ah, aku matiin dulu ya..daaah" Lorena tidak memprediksi omongan suaminya tadi, ancaman mematikan.


"Maafkan omongan suami saya pak Dodit, dia hanya becanda, kita biasa bercanda soalnya" ujar Lorena tak enak hati.


"Oh..ehhm..ya ngga apa-apa bu, eh Lorena" pak Dodit ketakutan setengah mati.


"Kalau begitu, bagaimana sebaiknya masalah ini kita selesaikan saja disini pak Dodit dan rekan semuanya?" Ibu TU akhirnya menengahi dengan memberikan solusi bijak.


"Iya, sebaiknya seperti itu, ini cuma salah paham, pertemuan kita akhiri saja tanpa ada apa-apa, bagaimana bu Shania?, ada sanggahan?" Ibu Shania yang ditanya pak Dodit hanya mengangguk pelan, Ia belum terima kekalahannya.


"Maaf pak, lalu bagaimana dengan surat panggilan tertulis saya?, itu kan ada nomor suratnya, berarti saya tercatat pernah di panggil dalam kategori berat, bisa mengganjal kelulusan saya nanti" tanya Lorena.


"Oh, itu saya pastikan akan di hapus, yakinkan itu ya Bu, pak Sandi?" jawab pak Dodit mengarah ke Sandi. "Baik pak, segera!"


Gue tadi berlebihan ngga yah?? Hah! bodo amat, salah sendiri panggil pake surat, kategori pelanggaran berat pulak...

__ADS_1


-


Bersambung...


__ADS_2