Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.64 Perpisahan Devilito - Cerlotta


__ADS_3

--Di tempat lain--


Nun jauh disana 3.500 Km dari kota Melbourne, tepatnya di Jakarta, Donita seperti gelisah,


"Kak, kenapa sih dari tadi aku liat ngga tenang?", suara Lorena mengagetkan Donita, beberapa kali memperhatikan layar ponsel, hingga tak menyadari keberadaan adiknya. "Ehh..ngga, oh ya, kamu sudah ada kabar dari Devi ?", Donita melemparkan pertanyaan balik. Sejenak, Lorena mengernyitkan keningnya, lalu " Tadi pagi sih kasih kabar, cuma sore ini belum?, tumben nanyain Devi ?". Lorena menelisik.


Donita tersadar dengan pertanyaannya itu justru mengundang kecurigaan adiknya, pasti disangka ada apa-apa dengan Devi , "Maksud aku, kapan dia kembali dek ?, soalnya aku kan rencana mau pergi, nah papa sedang ke perkebunan, jadi yang nemenin kamu ngga ada".


"Ooh..kirain kangen hihi", Lorena membulatkan mulutnya, dan lemparkan senyum konyolnya pada kakaknya. "Aiish..kamu ini", Donita kemudian menjewer telinga adiknya, "Aku itu udah ngga punya perasaan apa - apa sama suami kamu, please deh !". "Massaaa..?", masih dengan senyum konyolnya, Lorena beringsut menghindari gerakan tangan kakaknya, seperti ingin mencubit mulut, "Ini mulut pengen di cabein yah ?".


Alexander, sejak pensiun dan membubarkan jaringan elPaso menikmati masa tua nya dengan mengurus perkebunan sawitnya yang luas di daerah Sukabumi. Ia menarik diri dari keramaian, hanya sesekali pulang ke rumah di Jakarta, dan lebih banyak menghabiskan waktu di perkebunan, di temani dua orang pengawal yang ikut kemana-mana atas perintah Devilito. Hanya ketika Lorena kali ini Ia tinggal di rumah selama kepergian Devilito, dan baru kembali ke perkebunan siang tadi, karena besok pagi, sang mantu sudah kembali dari Australia.


"Kak Nita kalo mau pergi, ngga apa-apa, aku dirumah aja", Lorena mengatakan itu ketika sang kakak dilihatnya seperti tak tenang, ingin pergi sepertinya.


"Ngga apa - apa kamu aku tinggal sendirian dek ?". Lorena menggelengkan kepalanya, "kan ada dua orang bibi yang nemenin aku di rumah".


"Kalo gitu aku tinggal kamu sebentar ya, kakak mau ke butik ada janji sama orang habis magrib nanti", Donita kemudian masuk kamarnya untuk segera bersiap pergi.


Lorena kemudian memainkan laptop di sofa ruang utama rumah papanya. Ia ada tugas kampus yang harus dikerjainnya, tentang skripsi.


"Dek, aku berangkat dulu ya", Donita dengan sedikit terburu-buru dari tangga langsung ke berjalan ke ruang samping tempat parkir mobilnya. "Ok, hati - hati kak", Lorena melirik sebentar dan kembali melanjutkan kerjaannya.


Ah lebih baik di kamar aja, Lorena lalu memindahkan pekerjaan kampusnya ke kamar. "Bik, tolong beresin meja dong, aku mau ke kamar, kak Nita pergi, juga jangan lupa kunci pintu nanti ya". Dengan tergopoh-gopoh, si bibi tiba di ruang utama, "baik Non, mau bibi bikinin minuman lagi ngga ?", tawar sang bibi. "Boleh bik, juice alpukat aja ya", ujar Lorena sambil berlalu dari situ.


Lorena kemudian mengganti bajunya dengan kemeja tangan panjang suaminya, kebiasaan rutin jika di kamar akhir-akhir ini yang Ia lakukan, sejak kepergian sang suami ke Melbourne. Lorena mematut dirinya depan cermin besar, melihat perubahan tubuhnya yang mulai berisi, pipi terlihat lebih chubby dan perut lebih menonjol. Satu hal lagi, p**u ***a nya mulai sesak, lebih besar. dan Ia membuka penutupnya.


Lorena berputar - putar sebentar di depan cermin, lalu mengancingkan kemejanya dan beranjak ke atas ranjang, melanjutkan pekerjaan kampus.


Setelah berkutat selama tiga puluh menit dengan tugas kampusnya, tiba-tiba gawainya berbunyi, ada panggilan masuk. My Husband , Lorena buru - buru jawab setelah baca nama yang terpampang di layar. "Halo sayang...", suara berat khas suaminya terdengar merdu di kuping. "Sayang..", Lorena menjawab sambil merebahkan kepalanya ke bantal yang di tumpuk dengan guling agar lebih tinggi. Seiring dengan itu, panggilan video masuk. Devilito mengubah panggilannya.


"Ishh..panggilan video ?", sebenarnya kali ini Ia tak ingin, karena sedang tidak pake bawahan, hanya memakai C***** D***m. Tapi tetap diangkat nya. Dan, menghubungkan sambungan panggilan video ke laptop.


"Naah, ini kan keliatan cantiknya seorang istri hehe..", senyum konyol sang suami terlihat di layar ketika melihat Lorena sangat sexy hari ini.


"Aku malu, kamu lagi dimana ini ?", tanya Lorena agak takut, Ia pikir Devilito sedang berkumpul dengan Marcel dan yang lainnya. "Aku lagi di kamar yank...tenang aja".


"Ooh, kirain lagi sama yang lain, gimana disana ?", tanya Lorena kemudian.

__ADS_1


"Disini lancar, aku besok kembali. Oh ya, papa Alex gimana kabarnya ?".


"Papa udah berangkat ke perkebunan tadi pagi yank, trus kak Nita barusan juga pergi, aku sendirian deh", Lorena seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ayahnya, bibir manyun.


"Oh ya ?, Kira pergi kemana emangnya ?", Devilito mengernyitkan keningnya, dan melirik jam tangan, tumben sore pergi keluar ?


"Tadi katanya mau ke butik karena ada janji apa, aku lupa...tumben tertarik pergi kak Nita kemana ?, ada apa ayooo...".


"Ya bukan, maksudnya kenapa sore begini pergi, kamu kan jadi sendirian, disana sekarang jam setengah enam kan ?", Devilito mengklarifikasi maksudnya, Ia maklum, dalam keadaan hamil ini, Lorena sangat sensitif. Harus jelas.


Lorena mengangguk, "Iya, kalo disana udah malam yah?, mmh jam setengah sepuluh kan?", Lorena mencoba menebak. "Trus, gimana dengan yang lainnya, Cerlotta gimana kabarnya ?", Lorena dengan pertanyaan menelisik, singkat tapi akan berubah panjang jika salah jawab. "Yang lain masih di luar mungkin, ngobrol dengan Robert, Cerry...ehh Cerlotta juga gabung disana, atau lagi sama Giring, aku ngga perhatiin tadi", jawab Devilito santai, dia harus menjelaskan sedetil mungkin, agar mood istrinya ngga berubah.


"Cerry..cerry, masih ??, hm..awas lho yank, jangan macem-macem, aku bisa lebih kejam dari Cerlotta loh !", Lorena melemparkan tatapan membunuhnya, tapi terlihat menggemaskan di mata Devilito, karena istrinya ngancam sambil cemberut. "Ya ampuun, hahahaha...".


"Yank, aku kangen...", dengan nada manja, Lorena memasang muka sedih, mendengar ketawa suaminya yang khas, perubahan mood yang drastis. Genangan air mulai terlihat dimatanya.


"Owhh..sayang, hug", Devilito membentangkan tangannya lalu membentuk pelukan. "Eh iya, coba liat tampilan kamu", Devilito mencoba mengalihkan pembicaraan, tak ingin istrinya bersedih.


"Ngga mauu..aku lagi ngga pake celana", muka Lorena memerah.


"Waah, sexy nyaa...". Devilito menunjukkan muka pengennya.


"Yaudah, ayoo cepat pulang..", Lorena memancing suaminya dengan sedikit gerakan erotis tipis-tipis. Tetapi justru itu boomerang buat dirinya sendiri, Ia lupa bahwa dirinya sedang hamil muda, eksotis libido nya akan cepat naik.


Obrolan suami-istri eksotis itu terus berlanjut, makin panas melalui sambungan video sampai akhirnya Lorena - Devilito menjerit tertahan. Dan, tugas kampus pun terbengkalai hari itu.


***


--Di Melbourne--


Di sebuah balkon kamar, Giring dan Cerlotta sedang dalam pembicaraan serius duduk berdua di sofa, hamparan langit, terlihat indah malam itu.


"Aku mau rencana langsung terbang ke Italia dari Melbourne ini, ngga ke Jakarta dulu", Giring kaget mendengar tuturan gadisnya itu, Ia tak menyangka Cerlotta akan memutuskan pergi secepatnya.


"Hah..!?, kenapa honey ?, kok seperti terkesan terburu-buru ?", Giring merangkul pundak Cerlotta, "Ada sesuatu yang ganggu pikiran kamu, hm ?", tanyanya kemudian.


Cerlotta diam sejenak, lalu.."Geri, aku mencintai kamu, aku ngga main-main dengan itu...", Cerlotta menjeda kalimatnya, lalu menarik nafas dalam-dalam, "Namun..jika aku berdekatan dengan Devi sekarang ini, aku merasa kamu belum terlepas dari bayang-bayangnya Devilito, hubungan kita masih baru, dan kamu akan selalu merasa canggung".

__ADS_1


Giring terdiam, dia membenarkan kalimat Cerlotta, dia belum terbiasa jika Devilito sahabatnya itu berdekatan dengan gadisnya, begitu pun juga jika dia sedang berdekatan dengan Cerlotta, tetapi ada Devilito, Ia merasa kikuk. Walau, sahabatnya tersebut sudah men-support nya.


"Juga, kemarin malam sebelum aku tidur, papa menghubungi aku, menyuruh aku untuk kembali ke Italia, tadinya dengan Devilito, tapi aku menolaknya dan aku memutuskan sendiri".


"Papa kamu menyuruh dengan Devilito, kembali ke Italia ?, ada apa ?", tanya Giring heran, menyelidik.


"Agar Devi menjelaskan secara langsung ke papa atas batalnya aku dengan Devi, serta pernikahan nya dengan Lorena".


Giring kembali terdiam, Ia tak menyalahkan keputusan Cerlotta. Ia harus berbuat sesuatu.


***


Pintu kamar Devilito di ketuk seseorang, untung saja dia selesai mandi, Ia berjalan ke pintu dan mengintipnya, terlihat ada Giring.


"Ada apa bro ?, Marcel mana ?", tanyanya ketika pintu kamar terbuka. "Marcel mungkin di kamarnya, ngga sama gue tadi"..


"Owhh...", Devilito ber O ria, Ia sudah paham. "Cerry udah tidur ?" tanya selanjutnya.


"Udah..", jawab Giring pendek dan duduk di kursi. Ia ingin berbicara sesuatu dengan sahabatnya ini.


"Ada apa sih ?, kok muka lo tegang begitu ?", Devilito menghentikan langkahnya menuju kulkas kamar untuk ambil minuman.


"Sob, gue ngga ikut ke Jakarta, gue mau ke Italia bareng Cerry", akhirnya Giring mengeluarkan kalimatnya yang sudah dia rancang dari tadi.


Devilito tertegun, dia memperhatikan mimik muka Giring dengan intens. "Lo serius Ger ?", Ia merubah panggilan ke Giring, itu pertanda serius. Devilito sudah tahu rencana Cerlotta yang ingin langsung kembali ke Italia berikut Dominique, tadi sore Cerlotta mengajaknya bicara. Tetapi Ia tak menyangka Giring sahabatnya ini akan mengambil keputusan untuk ikut.


Giring mengangguk, "Iya, gue udah bicarakan sama Cerry, sekaligus menemui papa nya".


Devilito kemudian menunduk melihat lantai, tangan berkacak pinggang. Seperti orang berpikir, lalu mengangguk kan kepalanya, "Oke, gue ngerti sama lo...memang saatnya lo harus mengisi hati Cerry, elo harus selalu berdekatan dengannya...", Devilito menjeda kalimat, dan menarik nafas perlahan, "ngga apa - apa Ger, gue dukung lo !", Devilito kemudian menepuk bahu Giring beberapa kali.


Ada perasaan sesak melihat kawannya ini, Giring sangat menginginkan Cerlotta, dan ini saatnya. Tadi, Cerlotta sudah menceritakan semuanya.


-


-


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2