
Hari sudah menjelang malam. Lorena dan Devilito sudah selesai bersih - bersih pondok dan menguburkan tulang - belulang.
"Kita tidur disini sementara ini"
"Kita ??" Lorena protes.
"Trus, dimana ?, atau saya tidur di tempat lain kamu di pondok ini aja gimana ?"
"Ihh ngga mau!"
"Yaudah makanya 'kita' " Devilito mengeluarkan senyum jahil nya.
"Aku mau bikin api unggun dulu" ujar nya menambahkan lalu turun kebawah.
"Aku ikut "
Devilito mencari kayu dan dedaunan kering di bantu Lorena lalu membuat api dengan menggesek batu api di atas tumpukan ranting dan dedaunan kering tersebut. Setelah api menyala Devilito memetik buah pisang yang masih setengah matang, lalu membakar di api.
Lorena hanya duduk di dekat api unggun menghangat badan, matanya tidak lepas memperhatikan Devilito yang sibuk mondar - mandir membenahi api dan membakar pisang.
Dia seperti sudah terbiasa survive di situasi seperti ini, Lorena berkata dalam hati
Setelah selesai semua, Devilito duduk di samping Lorena membawa beberapa buah pisang yang sudah di bakar.
"Ini kamu makan, lumayan buat ganjel perut, besok mudah - mudahan ada bantuan yang datang" lalu menyerahkan pisang bakar pada Lorena yang segera makan dengan lahap.
Devilito memperhatikan Lorena makan dengan tersenyum tipis...
"Kamu kenapa senyum - senyum ?", Lorena yang merasa di perhatikan menghentikan kegiatan makannya.
"Ngga apa - apa, kamu keliatan lucu kalau makan seperti itu, seperti orang belum makan berapa hari gitu"
"Oh ya, kamu kenapa sampai ada di dalam kapal pesiar dan kemudian mau di culik, kamu punya musuh ?" Devilito mengajukan pertanyaan dan dirinya merasa heran dengan gadis ini yang sudah mengalami percobaan penculikan sampai 2 kali.
"Aku di ajak untuk menemani papa menghadiri undangan bapak mentri atas usulan pamanku" sahut Lorena kemudian membersihkan tangannya.
"Trus kenapa sampai mau di culik?"
"Aku mau di jodohkan dengan anak rekan bisnis papa, kebetulan anaknya itu teman kampusku"
Lorena kemudian menceritakan awal mula di jodohkan, dimana papa nya sebenarnya tidak perjodohan itu namun karena sudah ada kesepakatan tidak tertulis antara pamannya dengan rekan bisnis, papa nya tertekan dan berniat membatalkannya.
"Kenapa harus ada kesepakatan seperti itu ?"
"Yaa, bisnis perbankan papaku hampir kolaps, karena terjadi penarikan dana besar - besaran dan rekan bisnis papa membantu mengucurkan dana nya tetapi dengan salah satu syarat aku harus menikah dengan anaknya" Lorena bercerita dengan raut wajah yang sedih.
Degg...!
Devilito terkesiap mendengar penuturan Lorena ...Ia terdiam sesaat,
"Siapa nama papa kamu?"
"Alexander Sudrajat, kamu kenal papa ku?"
__ADS_1
Devilito makin kaget mendengarnya, Ia sudah mengerti dengan situasi yang terjadi dan menemukan benang merahnya. Ia melihat Alexander dan Jimmy serta Raymond di satu meja sedang berbicara serius.
Mungkin di saat itu Alexander membatalkan perjodohan dan Jimmy tidak terima
"Saya sempat bersalaman dengan beliau, dikenalkan oleh bapak mentri"
"Dan nama pamanmu Raymond Iskandar?"
"Iya bener.."
"Nama rekan bisnis papa kamu Jimmy Ikusawek?"
"Sepertinya sih iya..aku juga baru di kenali oleh paman Raymond dengan pak Jimmy waktu di jamuan pak mentri itu".
"Hmm..sepertinya ada yang mau berkhianat terhadap papa kamu" Devilito melontarkan kesimpulan yang mampu membuat Lorena melongo.
"Siapa yang mau berkhianat?, paman Raymond kah?" Lorena memutar arah badannya ke samping menghadap Devilito dengan wajah gemas.
Muka nya yang menggemaskan itu, membuat perasaan Devilito sulit di artikan. Tanpa Ia sadari telapak tangan kiri nya menempel di pipi kanan Lorena..
"Aku akan selidiki nanti, dan akan membatalkan perjodohan kamu" kemudian tangannya berpindah mengusap kepala Lorena.
"Gimana caranya ?" entah mengapa Ia tidak menolak perlakuan Devilito yang menurutnya sangat berbeda kali ini.
"Nanti saya pikirin" jawabnya singkat lalu berdiri dan mengambil kayu dan memasukan ke dalam api.
"Perlakuan kamu non formal tapi bicara kamu masih formal gimana sih? , saya saya ", bibir Lorena mengerucut cemberut.
"Ehh iya, sini..sini duduk aku mau menanyakan sesuatu sama kamu" Lorena menepuk - nepuk tempat di sebelahnya memanggil Devilito yang menghampiri lalu duduk didekatnya.
"Ada apa.." mata Devilito melihat ke arah api unggun.
"Kamu dengan kak Donita...ehh Kirana sebenarnya seperti apa?" Lorena menatap intens kearah mata Devilito.
"Hah ?...kamu pasti sudah tau ceritanya dari Kira kan?" Ia gelagapan mendapat pertanyaan seperti itu sekarang.
"Aku mau dengar cerita dari versi kamu, karena kakakku ngga cerita banyak, keburu di panggil papa waktu itu"
"Saya..." Devilito belum menyelesaikan kalimatnya tiba - tiba tangannya di tepuk Lorena,
"Saya..saya" Lorena meledek.
"Aku mencintai kakak kamu Kira...dulu"
Tetapi entah kenapa, Lorena justru tidak menyukai jawaban Devilito dan Ia juga tidak mengerti..
"Dulu..?, kalo sekarang?"
"Sekarang kan Kira udah menikah oneeng" jawab Devilito sekenanya dan menyentil jidat Lorena.
"Menikah itu sebuah kondisi, kalau cinta itu masalah rasa, itu berbeda ya pak Devii" Lorena gantian menepuk bahu Devilito.
"Ada orang yang masih mencintai walaupun sudah menikah dengan orang lain!" imbuhnya menambahkan.
__ADS_1
"Tapi kan rasa bisa hilang karena sebuah kondisi juga" Devilito mendebat perkataan itu.
"Udah ah, nanti aja membahas itu, kita tidur aja udah malam" jawabnya menambahkan sambil beranjak pergi menuju pondok.
"Jawab duluuuu...ih"
"Kamu cemburu?"
"Diiihh..amit - amit " Lorena mengikuti masuk pondok.
Mereka bersiap - siap tidur tanpa bantal tanpa guling dan tanpa selimut, hanya beralaskan lantai papan. Devilito mengambil jas yang tergantung. Dan menggulungnya lalu Ia berikan pada Lorena yang sedang berusaha untuk tidur untuk dijadikan bantal.
Sebenarnya Lorena risih tidur dengan kondisi pakaiannya yang memakai dress selutut di dekat Devilito, juga Ia belum pernah tidur berdampingan dengan pria, dan pria ini baru di kenalnya.
Ia masih gelisah, udara malam berhembus menerobos ruangan yang tidak ada tertutup rapat, makin terasa dingin menembus kulitnya yang terbuka.
Devilito merasakan itu,
"Sini, kepala kamu tidur diperut say..ehh aku, nanti jas nya jadi selimut kamu" Devilito bergeser dan melintang arah.
"Ngga mau"
"Jangan takut, aku tau kamu kedinginan, ayo sini" katanya sambil menepuk perutnya sendiri.
Lorena akhirnya bergeser dan merebahkan kepalanya di perut Devilito, awal nya ragu - ragu tapi Ia pikir lebih baik dari pada Ia kedinginan.
Jadilah mereka tidur membentuk tanda tambah.
Ia juga bingung dengan dirinya sendiri kenapa merasa nyaman aja dekat pria yang baru beberapa bertemu kali bertemu. Tanpa merasa takut akan di lecehkan atau di perkosa misalnya, padahal kalau dipikir kesempatan itu sangat terbuka dalam situasi sekarang ini.
Pria ini tidak pernah sekali pun melakukan sikap melecehkan atau bersikap tidak senonoh. Justru Ia pikir pria ini terkesan melindunginya.
Apa dia menyukaiku ?? aiiihhh
Lorena senyum - senyum sendiri dengan muka merona merah tanpa diketahui oleh Devilito yang sudah tidur beralaskan kedua tangannya di kepala.
"Kamu sebenarnya siapa sih ?" Lorena mencoba mengajak ngobrol. Namun yang di ajak ngobrol memberikan jawaban dengan dengkuran halus tanda sudah tidur.
Ishh..udah tidur, bisa gitu tidur dalam kondisi begini dia?
"Selamat tidur orang baik.." bisiknya pelan.
Ia akhirnya mencoba untuk tidur.
Selang dua jam kemudian di waktu dini hari, Devilito terbangun karena di perutnya ada yang bergerak - gerak, Lorena sedang menggigil kedinginan. Ia pelan - pelan menurunkan kepala Lorena dan mengambil jas yang menutupi tubuh lalu menggulungnya membalut ke paha gadis ini.
Ia sendiri menggeser tubuh Lorena pelan - pelan agar tidak membangunkannya, lalu Ia memeluk dari belakang memberikan kehangatan dengan tangan sebagai tumpuan bantal.
Semua aktifitas Devilito tersebut di ketahui Lorena, Ia hanya tersenyum dan kembali melanjutkan tidur.
-
Bersambung lagi...
__ADS_1