
Devilito dan Giring sudah bersiap memasuki pesawat Boeing 777 malam itu untuk perjalanan panjang mereka menuju benua Eropa, tepatnya di Kepulauan Sicilia, Italia.
Kepulauan Sicilia dengan luas wilayah lebih kurang 25.710 Km persegi berpenduduk 4,9 juta jiwa sangat terkenal sebagai salah satu tempat paling mengerikan di Italia. Pulau nan indah di pesisir selatan tersebut mempunyai reputasi sebagai tempat beroperasi nya mafia - mafia besar.
Keberangkatan Devilito sendiri atas panggilan Ludwig Smith. Devilito memanggilnya Uncle Smith. Ludwig Smith berumur 60 tahun, Pria berdarah campuran Italia - Irlandia ini adalah pimpinan tertinggi jaringan mafia "Lidah Api" yang beroperasi di wilayah barat Eropa dan sebagian wilayah Timur Asia. Sepak terjang nya dalam dunia bawah tanah sangat di takuti, selain karena kekejamannya namun juga karena mempunyai organisasi yang sangat rapi. Ia mempunyai dua tangan kanan yang sangat handal yaitu Cerlotta Smith yang beroperasi di wilayah Eropa dan Devilito Arkansa di wilayah Asia.
Cerlotta Smith sendiri adalah seorang wanita, anak kandung dari Ludwig Smith, tidak seperti kebanyakan gadis - gadis mafia yang lain, Cerlotta selain berparas sangat cantik, anggun dan juga bertutur kata lembut, sehingga jika tidak mengenalinya orang akan terkecoh dengan perawakannya yang tenang dan kalem. Namun bagi para anggota yang mengenali akan bergidik ngeri dengan kekejamannya, Ia tidak akan segan - segan menembak orang dengan cara memasukan ujung laras pistol kedalam mulut musuh dan meledakkan kepalanya, dan itu di lakukan dengan tersenyum manis. Ia pun sangat menguasai ilmu bela diri.
Nama Devilito Arkansa, dalam dunia bawah tanah tidak begitu di kenal, baik oleh anggota jaringan "Lidah Api" sendiri maupun oleh jaringan mafia lain terutama di wilayah Asia.
Para pesaing mafia cuma mengenal tangan handal Mr. Smith tersebut dengan nama alias, yaitu "Klabang Mentari".
Nama Klabang Mentari sendiri sangat di takuti di wilayah Asia karena pernah menghancurkan jaringan mafia yang sangat terkenal di masa itu dengan nama sandi Lucifer. Tetapi siapa orangnya tidak banyak yang mengetahuinya.
Devilito dilatih, dibina dan di didik langsung oleh Ludwig Smith dari umur belasan tahun, sejak kedatangannya ke Italia di bawa papa angkatnya, Luigi Roberto yang pernah bekerja sebagai diplomat di Indonesia, juga merupakan kakak dari Ludwig Smith.
***
Devilito menghirup dalam - dalam udara siang kota Milan di pintu kedatangan setelah pesawat Boeing 777 sudah mendarat di bandara Intenasional Malpenza Milano, dengan perjalanan yang memakan waktu selama hampir 15 jam. Lalu Ia menghubungi uncle Smith memberitahukan bahwa Ia sudah mendarat di Milan sore ini serta menyampaikan bahwa malam ini Ia akan menginap dulu di kediaman papa Luigi di Milan, besok siang Ia baru meneruskan ke Sicilia.
Setelah mendapat persetujuan dari Mr. Smith, baru kemudian Ia dan Giring masuk ke dalam sebuah mobil Van yang sengaja menjemputnya atas suruhan papa angkat.
Luigi Roberto berusia 65 tahun, yang sehari sebelumnya sudah diberi tahu oleh Devilito bahwa Ia akan berangkat ke Italia malam itu sangat gembira. Ia sudah lama merindukan putra angkatnya inj karena ada suatu hal yang akan di sampaikannya.
Pukul 7 malam waktu setempat, mobil van memasuki area pekarangan rumah Luigi yang cukup luas dan di penuhi pepohonan kiri kanannya.
"Wow..figlio mio, bentornato"
(Wow...anakku, selamat datang kembali), Luigi merentangkan tangannya dan memeluk menyambut kedatangan Devilito dan Giring, dan mengusap-usap punggung mereka bergantian kemudian di ikuti istrinya dengan linangan air mata.
"Come stai, mama papa"
(Apa kabar, mama papa), jawab Devilito membalas pelukan dan mengusap air mata mamanya dengan jarinya, di ikuti Giring bergantian
Devilito dan Giring serta juga Marcel sangat di sayang oleh Luigi dan Istri nya karena mereka tidak mempunyai anak dan menganggap mereka bertiga sebagai anak-anak mereka. Terutama Devilito yang memang sudah di adopsi.
"Mana Marcel?", Papa Luigi bertanya karena Ia tidak melihat keberadaan Marcel.
"Oh Marcel tidak ikut pa, karena dia harus menangani pekerjaan yang disana"
"Tapi kalian masih tetap akur semua?" sambil merangkul Devilito dan Giring masuk ke dalam.
"Masih dong pa, kita kan Trio Musketeer hehe" jawab Devilito di iringi gelak tawa Luigi, istri dan Giring.
"Ya sudah, kalian istirahat dulu di kamar kalian masing - masing lalu sebentar lagi kita makan malam bersama", kata Nyonya Luigi sambil menunjukkan kamar yang saling berhadapan.
"Baik mama, trima kasih" Devilito memeluk kangen.
Malam itu mereka bersantap malam dengan barbeque di taman belakang sambil bercerita di iringi sesekali gelak tawa karena hal yang lucu diperbuat Giring.
Jam 10 malam, setelah acara makan-makan selesai, papa Luigi dan istri mengajak Devilito dan Giring untuk duduk di sebuah meja bundar di dekat kolam berenang,
"Kamu dan Giring di panggil oleh uncle Smith kesini dalam rangka apa?" papa Luigi bertanya menatap tajam.
__ADS_1
"Aku mendapat kabar bahwa disini ada suatu kendala di wilayah Asia" Devilito menjelaskan.
"Hmm..mungkin itu benar ada masalah , tetapi tidak krusial yang mengharuskan kamu datang",
Devilito terdiam heran...
"Yang papa dengar sendiri dari Ludwig, bahwa tujuan utama nya adalah untuk menjodohkan kamu dengan Cerlotta"
"Hah ??"
"Hah ??"
Devilito dan Giring serentak terkejut mendengar penuturan papa Luigi ini, karena Ia tidak di beri tahu sebelumnya. Memang, Devilito sangat tahu bahwa Cerlotta menyukai nya, namun Ia tidak pernah membalasnya, dan bersikap tetap sebagai kakak.
"Tapi, kamu jangan langsung bertanya pada Ludwig tentang hal ini, biar dia sendiri yang menyampaikan, karena Ludwig tidak ingin papa memberitahu kamu lebih dahulu", sambung Luigi kembali.
Devilito manggut-manggutkan kepalanya sambil mengusap - usap dagu terlihat seperti berpikir.
"Wah gawat sob.." Giring berbisik dengan muka sedikit tegang.
"Tetapi...papa dan mamamu menolaknya, walaupun bagaimana pun juga kami adalah orang tua kamu"
"Trus pa ?"
"Yaa, Ludwig marah sama papa, dan tetap bersikeras ingin menjodohkan dan secepatnya menikah"
"Cerlotta yang mau awalnya, Ludwig menyambut kemauan anaknya karena melihat dari sisi kepentingan!, organisasi kalian akan semakin kuat" imbuhnya menambahkan.
"Menurut papa, aku harus bagaimana?" Devilito meminta pendapat papa.
"Kamu sebaiknya menikah dengan pilihan kamu sendiri, satu rumpun mama sarankan, jangan yang terlibat dengan mafia, agar hidup kamu tenang nantinya" Nyonya Luigi angkat bicara memberi masukan.
"Setuju..!" Giring menyahut tiba - tiba sambil mengedipkan mata ke arah Devilito tetapi justru mendapat pukulan di bahu.
"Dan..., papa dan mama berharap kamu segera berhenti terlibat jaringan mafia, urus perusahaan kamu yang begitu banyaknya, itu sudah lebih dari cukup untuk kehidupan keluarga kamu nanti, juga...kamu tidak akan selamanya hidup sendiri, suatu saat kamu punya anak dan istri" Nyonya Luigi menambahkan memberi nasehat yang membuat Devilito termenung memikirkan omongan mamanya ini.
"Nanti akan aku pikirkan ma"
"Apa kamu sudah punya calon pengganti Kirana ?, atau ada yang lain yang kamu suka ?" sang mama langsung melontarkan pertanyaan beruntun.
Mendapat pertanyaan mendadak, Devilito menggelengkan kepala nya.
Ia terbayang wajah Kirana yang kini sudah menghilang entah kemana.
"Ada ma, bohong dia !" Giring angkat bicara lagi.
"Diem lo, nyamber aja kayak bensin"
"Hehehe tapi bener kan sob?" Giring meledek.
"Tapi papa sangat yakin pasti ada" papa Luigi terkekeh tidak percaya.
Seketika, Devilito terbayang wajah Lorena dan tanpa sadar dia tersenyum tipis.
__ADS_1
"Naaah senyum - senyum kaan" Giring tertawa meledek lalu berdiri ketika mendapat kode tangan dari mamanya Devilito untuk mengikutinya ke ruangan tengah.
Tinggallah berdua Devilito dan papanya disitu.
"Papa dan mama ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting buat kamu", papa Luigi membuka percakapan.
Lalu, sang mama kembali bergabung duduk dengan membawa sebuah kotak sangat kecil.
"Papa langsung bicara inti ya, begini..papa dan mama sepakat dan sudah membuat sebuah wasiat di depan pengacara untuk memberikan harta dari papa dan juga mama kamu yang rinciannya nanti ada dalam kotak penyimpanan di sebuah bank xx di kota Milan ini. Tetapi semua bisa kamu peroleh jika kami berdua atau salah satu dari kami meninggal dunia"
"Loh, kenapa pa ? harta dan uang aku kan juga banyak?, ini tidak perlu pa" Devilito kaget mendengar menuturan papa dan melihat mama nya, sang mama cuma tersenyum mengangguk.
"Tunggu, jangan kamu potong dulu.."
"Ini semua kami lakukan karena kami tidak punya keturunan, hanya kamu anak kami satu - satu nya walaupun bukan anak kandung, tetapi sudah kami anggap anak sendiri, kami menyayangi kamu"
Devilito termenung, lalu Ia memeluk erat kedua orang tua angkatnya.
"Aku juga menyayangi kalian"
"Satu lagi, carilah pendamping hidup kamu dan berhentilah menjadi mafia" papa Luigi lalu menyerahkan sebuah kotak kecil yang di dalamnya berisi kunci dan sebuah kertas kecil.
"Ambillah..!"
Devilito terdiam, dia tidak mungkin menolak lagi.
Instingnya tiba - tiba bekerja,
"Apakah mama dan papa merasa terancam akhir - akhir ini?", tanyanya dengan mimik wajah menegang.
"Ehh .tidak ada Nak!" papanya tergagap.
"Kalau kalian ada yang mengancam, akan saya habisi mereka !" Devilito menatap dingin kedua orang tuanya, dan keduanya terdiam.
-Pagi hari-
Suara ketukan di pintu depan membuat mama Devilito menghentikan kegiatannya memasak pagi itu, maid yang membantu segera berlari membuka pintu...
Seorang wanita cantik berpenampilan anggun langsung masuk setelah memberikan senyum kepada maid,
"Aunty ada ?" tanya nya sambil menuju ruang tengah.
"Ada di belakang nona muda" sang maid menunduk hormat.
Sang gadis segera menuju ke belakang,
"Cerlotta, kamu pagi - pagi sudah kesini?" tanya mama menyambut kedatangan gadis tersebut.
"Hi auntie, iya disuruh papa menjemput Mr. Arkansa", Memeluk mama Devilito.
-
Bersambung...
__ADS_1