Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.9. Persiapan


__ADS_3

Lorena di dalam kamarnya mondar mandir sambil berpikir mengapa dirinya menjadi target penculikan, Ia masih beranggapan bahwa ini perbuatan Devilito namun sedikit ragu dengan sikap Devilito itu sendiri memperlakukannya.


Kalau dia nyulik gue, kan pasti udah di ikat atau mulut gue di lakban, kayak di film - film, atau...jangan - jangan ini perbuatan Robby ? ah..tapi ngga mungkin si Robby sampai nekat begitu , I


Ia masih berdialog dengan dirinya sendiri. Dia menepuk keningnya, ahh yaa..lupa...kenapa gue nggak nelpon kakak gue ? tapi Hp gue? kemana, tas gue? dia baru ingat dari tadi tidak bawa tas nya.


Diruang tengah, Devilito menceritakan rentetan kejadian mulai dari dirinya yang bermaksud membeli roti, melihat seseorang yang mirip dengan Kirana sampai dengan kejadian tembak menembak.


"Naahh, gue juga tadi pas melihat ini cewek kok mukanya familiar gitu tapi agak beda sih, ini lebih imut dan galak" Giring menambahkan.


"Justru itu, tadinya gue cuma mau menyelamatin dia doank, habis itu udah..gue turunin di jalan, tapi entah kenapa gue pikir ini cewek harus aman dulu, makanya gue bawa kesini". Devilito menjelaskan lagi.


"Mungkin ada hubungan juga sama orang tua nya sih, kalo menurut gue, elo udah tanya siapa orang tua nya kah?" Marcel menambahkan.


"Boro - boro, lo tau sendiri galaknya kayak apa"


"Ah tapi kalo gue liat, lo ngga peduli mau laki atau cewek kalau ngelawan pasti udah lo bungkam., contohnya sekretaris lo yang cantik aja kalo banyak omong, elo gebrak" Giring sedikit bernada sarkas.


"Skip .!, kita omongin tentang file film rontgen sekarang, gue yakin ada sabotase!" Devilito mengalihkan pembicaraan


Tiba - tiba pembicaraan terpotong, karena Lorena berteriak dari pintu kamar,


"Hp dan tas aku mana?" katanya tanpa basa basi.


"Hp kamu sudah hancur waktu jatuh di bassement tapi tas kamu ada di mobil, mungkin isi nya berantakan, karna tadi tas kamu terbuka waktu saya gendong kamu ke mobil" Devilito menjelaskan detil


"Sstt..sepertinya ada bau - bau suami takut istri ngga sih ?", Marcel berbisik pelan ke telinga Giring.


Muka Lorena memerah mendengar kata 'gendong' , malu.


"Kalo gitu, aku pinjam Hp kamu aku mau hubungi kakakku, biar bisa jemput aku" Lorena berjalan menghampiri sambil menyodorkan tangan meminta Hp.


Hah..? kakak ? Devilito membatin.


"Siapa nama kakak kamu?" tanya nya kemudian, apakah Kirana tapi gadisnya itu kan sudah meninggal ?


"Ehh ngga jadi hubungi kakak, ngga ingat nomornya., aku mau hubungi teman kampus aku aja, sini Hp nya !" Imbuhnya seperti perintah.


"Kamu kuliah dimana dan siapa nama kakak kamu itu?" tanya Devilito penasaran.


"Kamu ngga perlu tau dimana, dan nama kakakku siapa!". Jawabnya tegas.


"Saat ini aku ngga bisa percaya siapa pun", sambungnya dengan sikap menantang.


Devilito diam dengan raut muka kecewa.


Marcel duduk di sofa berpangku tangan dan Giring duduk di meja menopang dagu menikmati tontonan gratis.


"Sementara ini, kamu jangan hubungi siapa - siapa dulu, karena ini kemungkinan besar bukan penculikan biasa yang minta tebusan uang, ini mungkin lebih besar dari itu, sebaiknya kamu disini dulu, saya jamin dirimu dan keselamatan kamu, besok kamu saya antarkan ke rumah kamu" Devilito mencoba memberi pengertian .

__ADS_1


"Hah.? nginep disi...."


"Eits. tunggu..tunggu !" Marcel memotong pembicaraan.


"Kalian ini sebenarnya udah saling mengenal yah ?, kok ngomongnya kayak ngobrol orang yang sudah 'dekat' ", tangan Marcel membentuk tanda kutip sambil senyum.-senyum.


"Hah..ngga pernah !!", nada suara Lorena meninggi, Ia malu dan berbalik menuju kamar dan Kembali terdengar bantingan pintu.


"Gue belum pernah kenal, itu naluri penyelamatan doank!", Devilito membela dirinya.


"Lagian nanti juga gue anterin, kan besok kita harus berangkat, ayo ke ruangan induk kita bahas masalah sabotase dan nanti ada juga 'tamu' olahraga lagi"


"Ok.." Serentak Marcel dan Giring meng iya kan, sambil mengikuti langkah Devilito menuju ruang induk, mereka sudah paham olahraga apa yang dimaksud.


"Tapi gantian donk gue, udah lama nih ngga olahraga" Giring berkata lalu melakukan peregangan otot pinggang.


Di dalam kamar...


Kok gue bersikap gitu ya ama itu orang ? kan gue belum kenal? "


Arrggh...kesel gue!" Ia menjambak rambutnya.


Lorena membayangkan keluarga nya pasti sekarang sudah kebingungan, tapi dia bingung antara mau lari dari situ tapi tidak tahu jalan dan juga takut jika bertemu dengan penculik.


Atau bener gue disini dulu yah ? katanya kan besok gue dianterin pulang, sepertinya dia orang baik tapi baju ganti gue gimana ? masak ini aja sampai besok ?


Lorena mondar mandir di dalam kamar berpikir. Dia melihat kasur rapi...mendingan tidur aja ah, pusing gue!


--Di ruang induk jam 18.00--


Devilito sedang menerima laporan via telepon dari Tito, anak buahnya yang di beri tugas sebagai kepala eksekutor untuk penyitaan dan penjemputan karyawan yang melakukan tindak korupsi di kantor nya.


Oleh Tito, tim di bagi 2. Tim pertama bertugas sebagai penyitaan aset yang beranggotakan 25 orang dengan di dukung oleh para auditor berikut akuntingnya untuk penghitungan jumlah total uang yang di korupsi dengan jumlah total aset yang ada berdasarkan pembuktian terbalik. Penyitaan aset termasuk dengan pembekuan rekening bank. Pembekuan rekening ini dilakukan oleh anak buah Giring dari tim cyber.


***


*Pembuktian terbalik \= pertambahan nilai kekayaan setelah mulai bekerja di perusahaan di komperasi dengan jumlah pendapatan resmi selama bekerja di perusahaan tersebut. Total kelebihan nilai tersebut itulah yang akan disita.


*Di perusahaan nya, Devilito menerapkan aturan untuk level asisten manager sampai dengan jabatan direktur wajib menyampaikan harta kekayaan dan usaha lainnya terhadap perusahaan, dan itu wajib.


(Author)


***


Tim kedua, bertugas untuk melakukan penjemputan paksa terhadap karyawan yang melakukan korupsi. Penjemputan dilakukan dengan metode operasi senyap, tidak diketahui orang lain, yaitu melakukan penculikan.


"Jadi sekarang dua orang itu posisi nya ada dimana sekarang?" Devilito bertanya setelah mendengar laporan kronologi Tito.


"Sekarang masih dalam mobil ketua, menunggu perintah selanjutnya

__ADS_1


"Kalau begitu kalian bawa sekarang ke markas induk, bergerak memencar dan jangan beriringan ketika mendekati area sini, satu persatu"


"Baik ketua"


Devilito mengambil Hp nya di meja dan mematikannya, semua percakapan di loud speaker agar Marcel dan Giring ikut mendengarkannya. Sejenak Ia menyandarkan kepala ke kursi , hari - hari yang berat.


Setelah itu mereka fokus kembali, membahas tentang sabotase file film rontgen yang ditahan pihak bea cukai, Marcel berkesimpulan bahwa ini di lakukan salah satu jaringan kuat di negara ini.


"Mereka ini punya beberapa perbankan, gue udah selidiki siapa orang tersebut", kata Giring sambil memperlihatkan data dari laptop nya. Bertiga mereka mengamati profil dan jaringan orang térsebut.


"Kita masih bisa berpotensi untuk mengeluarkan barang dari cukai tapi akan mengeluarkan dana ekstra, jadi keuntungan tipis", Marcel buka suara.


"Kalo gitu kita akan balas tindakan mereka, dengan menghantam langsung dibagian perbankan", Devilito mengeluarkan ide.


"Caranya..?"


"Paksa nasabah-nasabah premium mereka yang menyimpan dana besar untuk melakukan rush , penarikan dana secara besar - besaran. Mungkin dengan sedikit tekanan, dan itu bisa di serahkan ke Tito"


"Naah, brilian, Ok.... nanti gue lacak siapa aja nasabah premium ini" Giring menyetujui ide tersebut.


"Ber...." tiba - tiba pintu diketuk dari luar lalu terbuka. Lorena !


"Aku belum makan, trus bajuku gimana?, masa harus pake baju ini sampai besok?, aku mau mandi, bau amis pula ada noda darah dibagian belakang", tanpa basa basi Lorena mengomel sambil memperlihatkan baju bagian belakangnya dengan muka cemberut bangun tidur.


Sejenak, Devilito dan kawannya bengong dan pembicaraan menjadi terhenti.


Cantik ! Devilito membatin.


"Disini ngga ada baju wanita, ada nya baju saya, kamu bisa pakai dulu sementara, mau ?"


"Ihh ngga mau !"


"Kalo gitu, kamu ikut saya kita keluar sebentar beli baju, disekitar sini mungkin ada distro yang jual busana wanita"


"Sob..lo lanjutin meeting kita, seperti rule yang dibicarakan tadi aja," Devilito berkata pada Marcel dan Giring sambil memainkan matanya sebagai kode untuk tidak banyak tanya.


Marcel tepuk jidat, Ia tak percaya seorang Devilito bersikap di luar kebiasaan nya sendiri. Devilito paling tidak suka jika Ia di ganggu jika sedang meeting. Devilito paling tidak suka di perintah oleh seorang wanita dan ini apa ? pikirnya. Jatuh cinta ? kepada wanita yang baru Ia kenal? yang nama nya tidak Ia ketahui?


"Elo kenapa ngeliatin gue begitu heh?" Devilito heran melihat tatapan Marcel, Ia berdiri untuk bersiap pergi dari ruang induk.


"Lo masih Devilito yang gue kenal kan yah, hahaha", Giring tertawa seolah mengerti jalan pemikiran temannya Marcel


"Diam lo..!" katanya melotot sambil berlalu, sementara Lorena menatap mereka bertiga masih di depan pintu tak mengerti.


"Ayo..!" katanya memberi kode pakai tangan pada Lorena untuk pergi dari situ.


Marcel menatap Giring yang mengangkat bahu nya tidak mengerti.


" Benar yah kata orang, seekor harimau jika bertemu pawangnya menjadi jinak" Marcel tersenyum mesem mesem.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2