Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.52 Menjadi Lelaki Sejati


__ADS_3

"Yank, kamu di kantor hari ini ada meeting ngga..?", sebuah notifikasi pesan di terima Devilito dari istrinya. "Jam 2 siang nanti, tapi bisa di wakili oleh Hendra, kenapa yank?", tanya Devilito mengkerutkan keningnya, tak biasanya Lorena menanyakan, oh ya...dia baru ingat, lalu segera menelpon.


"Apa kata dokter Hanna tadi yank..?", Ia baru ingat, lupa menanyakan tentang kabar sakit istrinya gimana. "Dia udah pulang, dia ngga nanyain kamu tuh..?, pengen yah di tanyain ?", jawab Lorena di seberang sana.


"Yee..maksudnya, di periksa tadi kamu itu lagi sakit apa kata dokter Hanna ?", Devilito mengusap wajahnya dengan kasar, maksud hati ingin buru-buru tahu tentang penyakit istrinya, malah dapat tanggapan lain.


"Yaa..itukan tinggal tanya 'kamu sakit apa yank kata dokternya', ngga seperti tadi", jawab Lorena. Devilito yakin wajah istrinya sekarang cemberut mengatakan kalimat itu.


"Iya..iya, nah sakit apa katanyaaa..", Devilito mengalah. "Yaa, makanya aku tanya kamu ada meeting atau ngga, nanti aku mau ke kantor kamu, ngasih tau".


"Loh, bukannya kamu lagi lemas yank?", Devilito bingung, apa salahnya di kasih tahu lewat WA aja atau di jawab aja sekarang ? ribet...Ia bermonolog sendiri di batinnya.


"Kamu lagi mengumpat aku yah..?", Lorena bertanya seolah mengerti apa kata hatinya. "Hah..?, ngga kok, yaudah kamu kesini aja kalo gitu", Devilito meletakkan ponselnya di meja setelah sambungan terputus, Ia menatap gawai nya tersebut seperti mengomeli orang di depannya.


Memang, akhir-akhir ini Lorena sering bertingkah aneh, ritual rutin kalau malam yang di lakukan istrinya itu menjelang tidur adalah Devilito harus terlihat tidak memakai baju di atas ranjang, ya..hanya tidak memakai baju tapi tetap memakai piyama, dan istrinya akan mengelus-elus perut nya sampai tertidur.


Dan, bukan hanya itu...


Libido istrinya yang meningkat, juga rasa cemburu yang terkadang berlebihan sukses membuat Devilito terperangah, Ia tidak boleh berlama-lama berbicara dengan wanita.


Tadinya Ia pikir sejak kejadian Cerlotta mengobrak-abrik rumahnya tempo hari istrinya menjadi paranoid, namun ini akan terlihat berlebihan ketika Devilito pun tidak boleh berdekatan atau mengobrol terlalu lama dengan Donita yang notabene kakak Lorena sendiri.


Padahal, karakter istrinya yang Ia kenal adalah, cuek dan percaya dengan suami.


Terakhir, tadi pagi...Ia di usir karena kedatangan dokter Hanna di rumah. Dokter Hanna..? hmm


--30 Menit Kemudian--


"Hai sayang...", suara Lorena masuk menyentak lamunan Devilito, sedikit kaget Ia menurunkan kaki sedang berselonjor di meja kecil. "Kamu melamun, yank..?", lanjut sang istri berikutnya sambil mengkerutkan dahinya, berjalan menghampiri.


"Ehh..kamu udah sampe? naik apa?"


"Bawa mobil, kamu mikirin apa sayang..?", Lorena langsung duduk di paha suaminya, bergelayut manja dan mencium pipi.


"Ngga apa-apa, tadi aku sempat kepikir sebentar lagi berangkat ke Melbourne", Ahh..Devilito harus berterima kasih pada otaknya yang secepat kilat dapat menemukan jawaban, karena kalau tidak Lorena akan mencecar dengan pertanyaan lain. "Oh ya, gimana tadi di periksa sama dokter..?", lanjutnya tetapi langsung menutup mulut, takut ngamuk kalau disebut nama.


"Ishh...", Lorena mencubit perut suaminya, bangkit dan berdiri di depan sang suami yang duduk di kursi kerja kebesarannya, "Sayang...aku hamil !", ucap Lorena berwajah gembira walau ada genangan air mata haru di pelupuk matanya, "Udah berjalan 5 mingguu..", Ia melanjutkan kalimatnya sambil menubruk memeluk leher Devilito.

__ADS_1


"Ahahahaha...", Devilito justru tertawa, ternyata ini penyebabnya istri gue sering bertingkah aneh akhir-akhir ini.


"Yes !!!...ternyata aku lelaki sejati sekarang !!", Devilito mengepalkan kedua tinjunya ke udara, masih dalam posisi duduk dan pelukan tangan Lorena di leher. Otomatis roda kursi kerjanya terdorong ke belakang, alhasil kepala Devilito terantuk tiang penyangga. "Aduh..!".


"Hahahaaha...", gantian Lorena yang tertawa.


"Hati-hati yank, perut kamu..!", Devilito kaget dan refleks menahan dada istrinya agar tidak kebentur badannya. "Ngga apa-apa yank, kan ketahan badan kamu", Lorena menarik badannya sedikit, lalu mengusap-usap kepala bagian belakang suaminya yang terbentur tiang.


"Iya tapi tetap ada goncangan di perut kamu", mereka berdua masih meributkan masalah kebentur tiang.


"Nah..tapi ini tangan kenapa masih disini ?", Lorena memberi isyarat dengan matanya. "Ehh..iya yah, kok tangan aku refleks yah ?", Devilito baru sadar kedua tangannya masih menempel di dada istrinya, setelah itu Ia tersenyum nakal dan sedikit memainkan jari²nya disitu.


Tiba-tiba pintu ruangan di ketuk. "Permisi pak Dev, ehh...maaf", Indri sudah berada dalam ruangan Devilito yang sedari awal tidak tertutup rapat oleh Lorena. Ia disuguhkan pemandangan yang tidak seharus dilihatnya. Ia berbalik badan, segera keluar kembali ke ruangannya.


Duuhh...bos gue ! ngga liat - liat tempat pak, ngenes nasib gue, bukannya di rumah aja


Indri duduk di kursinya sambil menggerutu, otaknya sudah traveling kemana-mana. Map yang tadinya ingin di kasih ke bosnya untuk di tanda tangani dibanting pelan ke mejanya.


"Kamu ih..!, sekretaris mu jadi mikir kemana-mana tuh", ujar Lorena mengatur nafasnya yang sempat tak beraturan. Ia sedikit terpancing libido oleh gerakan nakal suaminya. Lalu berjalan menuju sofa.


"Ngga apa-apa si Indri mah, biar dia cepat nikah !", jawab Devilito cuek.


"Ada Ibu negara, nanti aja..!", Indri menjawab pendek, wajahnya terlihat cemberut. "Sstt..udah lama?, ngapain?", suara Hendra berganti pelan, matanya melirik ke pintu ruangan Devilito. "Coba aja liat..hii mataku tercemar mulu", Indri mengangkat kedua bahunya, bibirnya sedikit maju, manyun.


"Yah, ada hal penting yang mau aku omongin, tentang proyek Melbourne, gimana yah ..?", Hendra minta pendapat sambil mengusap rambutnya dengan tangan. "Pak Hendra coba aja ketuk pintunya".


"Kan kamu sekretarisnya, kamu dong yang masuk"


"Ah ogah, pak Hendra aja", Indri menggelengkan kepalanya.


"Emang tadi lagi ngapain, kamu melihat apa?". Hendra mencondongkan badannya ke Indri, jiwa kepo nya terusik.


"Auk ah..", Indri mendelikkan matanya.


"Ehh..kamu kok ngambek gitu tambah cakep yah"


Indri ngga menjawab, Ia meraih map melakukan gerakan seolah mau memukul Hendra.

__ADS_1


Tiba-tiba...


"Indri, ke ruangan saya !" suara speaker phone meja sang sekretaris berbunyi. "Baik pak Dev..", Indri langsung berdiri. "Tuh, pak Devi manggil, udah selesai..", Indri mengajak Hendra sambil mengerlingkan matanya, Ia senyum-senyum membayangkan hal yang tidak sesuai dengan prasangka-an nya, sebenarnya.


Lorena duduk di sofa memainkan ponsel, Ia tidak begitu tertarik dengan pembicaraan mereka bertiga, cuma sesekali melirik.


"Jadi kapan saya berangkat ke Melbourne?", Devilito bertanya pada Hendra setelah 15 menit lamanya diskusi tentang proyek di Australia.


"Lima hari lagi pak Devi, nanti yang berangkat siapa aja pak?", tanya Hendra kemudian.


"Saya, istri saya...eh iya yank, kamu bisa ikut?, kalau iya harus tanya dulu sama dokter Hann..a", Devilito menurunkan intonasi suara ketika menyebut nama dokter, melihat ke arah istrinya, Ia baru ingat kalo sedang hamil muda. Lorena melirik tak suka ke arah suaminya, tapi mengangguk menyetujui.


"Trus, kamu..,kalo Linggar bukan urusan kita kan In ?", Devilito menunjuk Hendra lalu bicara mengarah ke Indri. "Iya pak, pak Linggar berangkat sendiri dengan timnya", jawab Indri.


"Yaudah, Indri nanti persiapkan semuanya ya", perintah Devilito selanjutnya sekaligus mengakhiri diskusi. "Siap pak Dev".


"Oh ya pak, maaf ..Ibu Rena lagi sakit?", Hendra baru ingat, tadi terdengar masalah dokter.


"Bukan sakit, saya mau menjadi lelaki sempurna, mau jadi bapak beneran !"


"Hah..?, maksudnya gimana ya pak Dev?", Indri sekarang yang berjiwa kepo.


"Saya lagi hamil Indri, baru lima bulan", Lorena yang menjawab sambil tersenyum pada Indri. "Nah..gitu maksudnya", lanjut Devilito.


"Oh ya..?, selamat ya buu eh Nyonyaaa", Indri menghampiri Lorena sedikit berlari, memeluk. Lorena menyambut pelukan Indri dan menyentil pelan jidat Indri, "Nyonya..nyonya, makasih ya In, do'ain semua lancar ya".


"Selamat ya bu Rena..", Hendra ikut menghampiri dan menjabat tangan Lorena. "Makasih pak Hendra".


"Makanya, kalian pada nikah..jangan ngenes mulu !", ucapan Devilito sukses membuat dada Indri dan Hendra nyesak.


"### Ah si Bapak...", Indri menunduk, mukanya merona malu.


"Yaudah, kita sampai disini dulu..saya mau pergi keluar kantor, kalau ada apa-apa, Hendra yang tangani", Devilito lalu berpaling ke istrinya,


"Yank, yuk.."


"Kemana..?", Lorena terkejut, Ia belum tau maksud ajakan suaminya. "Kita keluar, nyari sesuatu, yuk", Ia menganggukkan kepala mengajak.

__ADS_1


-


Bersambung...


__ADS_2